
Hannum yang tak ingin menolak orang yang melamarnya karena pesan dari Ibunya sebelum meninggal pun meminta waktu pada Andika untuk berpikir.
"Aku mengerti Mbak. Mbak bisa menggunakan waktu sebanyak apapun untuk memikirkannya!" ucap Andika dengan senyum yang lembut.
"Aku akan menunggu jawaban Mbak Hannum karena Mbak Hannum pantas untuk diperjuangkan!" ucap Andika lagi dengan penuh percaya diri.
Hannum yang tak tau harus bicara dan bersikap seperti apa di hadapan Andika pada akhirnya lebih banyak diam dan mengamati interaksi antara Rere dan Andika.
Hannum yang melihat matahari telah berpindah posisi pun memutuskan kembali ke rumah bersama Rere dan Hannum yang melihat Rere tertidur dengan nyaman setelah bermain dengan Andika pun termenung.
"Hatiku hampa! Aku tak memiliki ketertarikan menjalin hubungan dengan pria lain lagi ataupun sampai menikah karena rasa sakit yang diberikan Mas Alvin padaku!" ucap Hannum dalam hati dengan senyum getir di bibirnya.
"Aku ingin memulai berusaha sendiri untuk diriku dan Rere tapi aku tak bisa egois lalu melupakan kenyataan bahwa Rere membutuhkan sosok seorang Ayah!" ucap Hannum sambil menatap sedih ke arah Rere yang tertidur.
Setengah tahun berlalu, Hannum yang tak menolak ataupun menerima Andika hanya memilih menjalani hidupnya sambil belajar membuka hati dan belajar menerima kenyataan bahwa Rere butuh Ayah.
Andika yang berpikir dapat menunggu Hannum dalam waktu yang lama sambil perlahan mengobati hati Hannum yang terluka sehingga dapat menerima dirinya tidak menyangka jika keadaab tak mengizinkannya.
"Mbak, aku dapat tawaran kerja di Perusahaan Asing dengan gaji yang cukup menggiurkan dan aku berencana untuk menerimanya." ucap Andika yang duduk berdua bicara empat mata dengan Hannum.
"Aku tidak ingin menarik ucapanku sebelumnya dan aku pun tak ingin memaksa Mbak Hannum tapi keadaan yang membuatku terpaksa harus mengatakan ini!" ucap andika yang merubah suasana menjadi semakin serius.
"Aku tidak bisa menunggu jawaban Mbak Hannum lebih lama lagi. Aku harap Mbak Hannum akan memberiku jawaban minggu depan karena aku harus segera mempersiapkan dan mengurus kepindahanku!" ucap Andika dengan wajah yang sedih.
Hannum yang menyadari bahwa akan berpisah dengan Andika dan Ibu Nissa yang merupakan orang baik yang selalu mendukungnya di masa sulit menjadi sedih.
"Apakah aku sedih karena Rere harus kehilangan sosok Ayah yang dibutuhkanya atau karena hal lain?" tanya Hannum pada dirinya sendiri sambil menundukkan kepala memikirkan semuanya sendiri.
Andika yang tak ingin mengganggu Hannum yang tenggelam dalam pikirannya sendiri pun berdiri dan bermain bersama Rere.
Sementara itu, Zarrah yang telah memasuki bulan melahirkan tiba-tiba merasa perutnya terasa sangat sakit seperti sedang kontraksi melahirkan.
"Aaargghh! Perutku! Sakit! Perutku sakit sekali!" ucap Zarrah dengan suara yang rendah sambil bersandar di jendela dengan wajah yang kesakitan.
__ADS_1
Zarrah yang menyadari bahwa dirinya akan segera melahirkan pun menghubungi Alvin yang tidak pulang ke rumah sejak semalam.
"Mas, kamu dimana? Kenapa teleponku tak kamu angkat?" tanya Zarrah sambil terus menahan sakit tanpa henti menghubungi Alvin.
"Aaarrrgghhh! Mas angkat! Angkat Mas! Anakmu mau lahir, Mas!" ucap Zarrah sambil merintih kesakitan dengan wajah yang mulai kesal karena Alvin tak menjawab teleponnya sama sekali.
Sementara itu, Alvin yang tak pernah bisa melupakan Hannum dan tak bisa menerima Zarrah sebagai Istrinya saat ini merasa sangat tidak nyaman saat melihat Zarrah di depannya.
“Aku menyesal tapi semua penyesalan itu tidak berari karena semua telah terlambat!” ucap Alvin dengan ekspresi wajah yang sedih.
Alvin yang tidak lagi merasa rumah yang dibelinya sebagai tempatnya kembali memutuskan untuk menyewa rumah lain sebagai pelarianya.
Alvin yang terduduk sambil bersandar di dinding dengan rokok yang masih hidup di tangannya melihat handphonenya yang terus berbunyi tanpa henti.
Alvin yang melihat Zarrah menghubunginya dengan cepat mematikan handphonenya sehingga membuat Zarrah tak dapat menghubunginya kembali lalu pergi ke klub malam menenangkan diri dengan minuman disana.
Sementara itu, Zarrah yang dapat menghubungi Alvin beberapa menit lalu merasa tidak percaya bahwa handphone Alvin ternyata tidak lagi dapat dihubungi.
Zarrah yang lagi-lagi merasakan sakit pada perutnya pun mengeram kesakitan dan mengambil handphonenya berniat meminta bantuan Hannum tapi segera dihentikannya karena perasaan malu yang mencekik lehernya.
“Tidak! Mbak Hannum tidak boleh tau jika Mas Alvin mengabaikanku!” ucap Zarrah dengan tekad yang kuat.
“Aku tidak ingin kalah dari Mbak Hannum. Aku tidak ingin Mbak Hannum puas melihat pernikahanku hancur seperti pernikahannya!” ucap Zarrah dengan tangan tergenggam erat.
Zarrah yang tidak punya pilihan lain selain berjuang sendiri tanpa ada orang yang membantunya tiba-tiba merindukan sosok Ibunya yang selalu ada di saat dirinya susah.
"Ibu... Aku harap Ibu ada disini sekarang!" ucap Zarrah dengan suara yang merintih dengan air mata yang tak bisa tertahan.
“Kenapa Ibu pergi begitu cepat? Zarrah sendirian sekarang, Bu. Zarrah membutuhkan Ibu!” ucap Zarrah dengan ekspresi wajah yang sedih.
Zarrah yang pergi ke rumah sakit sambil memesan taksi online pun meminta pengemudi untuk mengangkat semua yang dibutuhkannya.
"Terima kasih banyak, pak!" ucap Zarrah dengan sangat ramah sambil tersenyum lembut dengan keringat yang mengalir sangat banyak.
__ADS_1
Zarrah yang duduk di belakang kursi penumpang merasakan sakit yang teramat sakit sehingga membuat Pengemudi menginjak gas untuk mempercepat laju mobilnya.
Sopir yang khawatir bahwa Zarrah akan meninggal di dalam mobilnya bersama bayi yang ada di dalam kandungannya pun bergegas memanggil orang-orang di rumah sakit untuk meminta bantuan.
Zarrah yang telah dipindahkan ke ruangan menyadari bahwa ketubannya telah pecah yang artinya bahwa dirinya akan segera melahirkan.
Di saat kritis seperti itu, Zarrah yang masih terus mencoba menghubungi Alvin ternyata sia-sia karena saat ini Alvin sedang bersenang-senang di tempat lain.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, Ibu harus segera dioperasi karena tidak memungkinkan untuk melakukan proses persalinan normal!” ucap Dokter dengan ekspresi wajah yang serius.
“Lakukan apapun Dokter. Aku mohon selamatkan bayiku!” pinta Zarrah dengan ekpsresi wajah yang menyerah dengan wajah yang sembab karena telah terlalu banyak menangis.
“Baik, kalau begitu silahkan hubungi pihak keluarga yang akan menjadi penanggung jawab dalam proses dan biaya persalinan nanti!” ucap Dokter dengan wajah yang datar.
Zarrah yang mendengar kata keluarga diucapkan memberikan luka tak berdarah pada hatinya yang saat ini tak memiliki siapapun.
“Mas Alvin yang merupakan suamiku telah mengabaikanku! Ibuku telah meninggal dan tak tak akan pernah kembali! Kakak perempuan yang begitu menyayangiku dulu sekarang membenciku!” ucap Zarrah dalam hati dengan kepala tertunduk ke bawah.
“Aku sendiri! Tak memiliki siapapun di dunia ini!” ucap Zarrah dengan mata terpejam sesaat dan menatap pilu ke arah Dokter yang menanganinya.
Dokter dan Perawat yang melihat Zarrah yang seperti itu pun merasa kasih tapi prosedur tetaplah prosedur dan tak bisa dilanggar.
“Jika seperti itu maka maukah Ibu menandatangani surat bahwa apapun yang terjadi selama proses. Ibu tidak akan menyalahkan rumah sakit sama sekali!” ucap Dokter dengan ekspresi wajah yang dingin.
Zarrah yang mendengar itu tanpa sadar memeluk bayi yang ada di dalam kandungannya dengan erat.
“Lalu membayar deposit untuk biaya persalinan sebelum tindakan dilakukan mengingat tidak ada orang lain yang dapat kami minta pertanggungjawaban jika sesuatu terjadi!” ucap Dokter tersebut dengan mata yang tajam.
Zarrah yang tak punya pilihan lain pun mengangguk setuju dan melakukan semua yang dikatakan Dokter sambil menahan rasa sakit di bagian perutnya.
#Bersambung#
Apakah jawaban Hannum nantinya? Bagaimana hasil persalinan Zarrah? Dapatkah bayi Zarrah lahir dengan selamat? Tebak jawabannya di kolom komentar...
__ADS_1