Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 47. Perceraian Zarrah


__ADS_3

Waktu berjalan sangat cepat, Hannum yang mempersiapkan Pernikahan keduanya bersama Andika serta kepindahannya bersama Rere ke Jerman menjadi sangat sibuk.


"Mas! Aku, Rere dan Mama mau ke tempat catering siang ini untuk mencicipi menunya. Apakah Mas mau ikut?" tanya Hannum dengan malu-malu.


"Mas sangat ingin pergi tapi Mas ada urusan yang tidak bisa ditunda. Mas akan percayakan masalah catering padamu dan Mama!" ucap Andika dengan senyum lembut.


"Baiklah. Aku mengerti. Mas, hati-hati di jalan." ucap Hannum yang mengantar kepergian Andika setelah mengantar Ibu Nissa.


Sementara itu, Zarrah yang sudah tiga hari tidak bisa bertemu dengan Putri yang dilahirkannya setelah Putrinya dibawa ke ruang inkubator merasa sangat sedih.


"Putriku! Bertahanlah! Kita akan segera bertemu!" ucap Zarrah dengan wajah yang sedih lalu meneteskan air matanya.


Alvin yang datang membawakan beberapa barang keperluan Zarrah merasa sangat tidak nyaman jika berdua bersama Zarrah tapi Alvin yang sadar jika Zarrah baru saja melahirkan memutuskan untuk menahan diri.


"Apa ada lagi yang kau perlukan? Aku akan mengambil atau membelinya nanti!" ucap Alvin dengan suara dan wajah yang datar.


Zarrah yang sedih karena terpisah dari Putrinya merasa sedikit bahagia karena Alvin merawatnya dan selalu memenuhi permintaannya.


"Tida ada, Mas. Aku tidak membutuhkan apapun. Semuanya sudah cukup!" ucap Zarrah dengan senyum tersipu malu di wajahnya.


"Sepertinya Mas Alvin telah melunak sekarang. Dugaanku benar bahwa anak yang aku lahirkan akan menjadi pengikat antara aku dan mas Alvin!" ucap Zarrah dalam hati dengan penuh harap.


"Aku tidak boleh kehilangan kesempatan emas ini. Aku akan membuat Mas alvin mencintaiku dan membangun rumah tangga sakinah, mawaddah dan warrahmah bersama!" ucap Zarrah dengan tekad kuat.


Alvin yang sudah lama tidak bertemu dengan Hannum dan Rere pun berniat mengunjungi Hannum tapi sebelum Alvin bisa melangkah pergi Zarrah memanggilnya.


"Mas, apakah Putri kita akan baik-baik saja? Aku sangat takut dan cemas, Mas." ucap Zarrah dengan wajah yang sedih mencoba mencari simpati Alvin.


"Jangan khawatir. Lyla pasti akan baik-baik saja dan sehat kembali." ucap Alvin sambil mengeluarkan beberapa barang dari kantong plastik yang dibawanya.


"Lyla? Apakah itu nama anak kita yang Mas berikan?" tanya Zarrah dengan wajah penasaran dan mata yang berbinar.


Alvin yang melihat Zarrah menatapnya penuh harap pun menarik nafas panjang lalu berjalan mendekati Zarrah yang wajahnya semakin bahagia.


"Benar. Nama yang aku berikan adalah Lyla Syakilla dan aku harap kau tidak banyak berharap Zarrah dalam Pernikahan ini!" ucap Alvin dengan tatapan mata yang tajam.

__ADS_1


"Aku menikahimu hanya karena Hannum. Hannum memintaku menikahimu karena tak ingin Ibu dan Ayahnya menderita di alam kubur karena perzinahan kita!" ucap Alvin dengan ekspresi wajah yang dingin.


"Aku tidak berniat berumah tangga denganmu. Aku hanya ingin hidup bersama Hannum dan hanya Hannum yang akan menjadi Istriku!" ucap Alvin dengan suara tegas.


Zarrah yang mendengar perkataan Alvin merasa sangat marah dan kesal dan tak bisa menyembunyikan perasaannya.


"Apa maksud ucapanmu, Mas? Mas, dirimu dan Mbak Hannum tak akan bisa bersama. Kalian telah bercerai!" teriak Zarrah dengan suara yang meninggi.


"Mbak Hannum hanya masa lalu, Mas. Sadar, Mas. Aku dan Lyla adalah masa depanmu!" ucap Zarrah sambil memukul beberapa kali dadanya untuk menunjukkan keberadaan dirinya pada Alvin.


Alvin yang mendenge perkataan Zarrah pun tertawa dengan sangat keras lalu tersenyum menghina ke arah Zarrah.


"Kau bukanlah masa depanku, Zarrah! Kau adalah masa kelamku! Kau adalah kesalahan dan penyesalan terbesar yang aku buat!" ucap Alvin dengan wajah yang datar.


"Jangan salah paham! Aku melakukan ini semua bukan karena aku peduli padamu ataupun anak yang kau lahirkan!" ucap Alvin dengan wajah yang berubah dingin.


"Aku melakukan ini semua agar kau bisa segera pulih dan hadir di sidang perceraian kita! Aku akan segera menceraikanmu secara agama dan negara!" ucap Alvin tanpa basa-basi.


Zarrah yang sangat terkejut dan tak bisa menerima perkataan Alvin yang ingin menceraikannya pun melakukan protes.


"Apa maksud ucapanmu, Mas? Kau tidak bisa menceraikanku, Mas!" ucap Zarrah dengan suara yang meninggi dengan wajah yang siap menangis kapanpun.


Zarrah yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Alvin masih mengharapkan Hannum menjadi sangat marah dan kesal.


"Aaarrrrgghhh! Kenapa selalu Mbak Hannum? Kenapa aku tidak pernah bisa lebih baik dari Mbak Hannum? Apa kurangnya aku?" teriak Zarrah sambil melemarkan bantalnya ke pintu


"Aku tidak mau bercerai! Mas Alvin harus selalu bersamaku!" ucap Zarrah dengan tatapan mata yang tajam dan berwarna merah.


Zarrah yang tau jika Alvin akan selalu mendengarkan Hannum pun mengambil handphonenya dan menghubungi Hannum tapi berapa kalipun Zarrah menghubungi tak satupun teleponnya yang diangkat.


"Sial! Kenapa Mbak Hannum tidak mengangkat teleponku sama sekali?" umpat Zarrah dengan wajah marah.


Sementara itu, Hannum yang tau jika handphonenya berbunyi mencari tau yang menghubunginya dan saat tau jika yang menghubunginya adalah Zarrah wajah Hannum berubah dingin.


"Kenapa Zarrah menghubungiku sekarang? Dia telah menikah dengan Mas Alvin lalu kenapa masih menggangguku?" ucap Hannum dalam hati dengan wajah yang merasa terganggu.

__ADS_1


Ibu Nissa yang mengintip layar handphone Hannum langsung mengangkat alisnya ke atas dan mengkerutkan dahinya.


"Hannum, apa kau masih berhubungan dengan adik tidak tau dirimu itu?" sindir Ibu Nissa dengan wajah yang tidak senang.


Hannum yang bingung dengan pertanyaan aneh dan tiba-tina dari Ibu Nissa pun terdiam sementara lalu menyadari alasan dari kalimat itu diucapkan.


"Hmmm, kenapa Mama mengatakn itu? Agh! Hmmm, Tunggu! Apa jangan-jangan Mama melihat jika Zarrah menghubunginya." gumam Hannum dengan suara rendah.


"Tidak! Aku tidak pernah menghubungi Zarrah dan ini adalah kali pertama aku melihat Zarrah menghubungiku sejak pernikahannya dengan Mas alvin digelas!" ucap Hannum dengan wajah yang serius.


"Mama senang mendengarnya mengingat perbuatan Zarrah yang sangat tidak berperasaan tapi Mama sedih melihat hubungan dua saudara menjadi hancur!" ucap Ibu Nissa sambil menarik nafas panjang.


Hannum yang mendengar perkataan Ibu Nissa pun menundakkan kepalanya dan memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas.


Seminggu berlalu, Zarrah yang mengetahui bayinya telah boleh dibawa pulang merasa sangat senang dan bahagia dengan harapan Alvin mau memperbaiki Pernikahan mereka demi bayi mereka yang masih merah.


"Sayang, kamu harus bersikap imut dan baik di depan Ayahmu agar Ayahmu menyayangimu dan tetap bersama kita!" ucap Zarrah sambil menyusui bayinya.


Namun kenyataan tidak seindah harapan, Alvin yang mengetahui Zarrah dan bayinya telah kembali dari Rumah Sakit segera menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada Zarrah.


"Amplop apa ini, Mas?" tanya Zarrah dengan wajah yang bingung dengan mata penasaran sambil membuka perlahan isi di dalam amplop cokelat tersebut.


Zarrah yang tidak percaya jika Alvin melayangkan surat gugatan cerai ke Pengadilan dan memintanya datang ke Persidangan menjadi sangat terkejut.


"Apa maksud semua ini Mas? Mas, apa salahku? Kenapa kau melakukan ini padaku dan anak kita?" tanya Zarrah dengan wajah yang sedih dan air mata yang tak bisa tahannya.


"Kesalahan? Kau tidak melakukan kesalahan sendiri karena aku pun bersalah tapi aku tidak bisa menerimamu. Sulit bagiku menerima kenyataan ini!" ucap Alvin dengan wajah yang sedih.


"Kau adalah Adik kandung Hannum dan kau telah melahirkan anakku. Aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja!" ucap Alvin dengan ekspresi wajah yang simpati.


"Aku akan memenuhi kebutuhanmu dan kau pun boleh tinggal di rumah ini tapi dengan beberapa syarat setelah Perceraian. Maaf. Aku sungguh tidak bisa menjalani Pernikahan denganmu!" ucap Alvin dengan wajah menyesal lalu berjalan keluar meninggalkan Zarrah.


Zarrah yang ditalak oleh Alvin hingga sampai ke Pengadilan menjadi sangat terpukul hingga kakinya terasa sangat lemas dan tak bisa berjalan.


"Kamu kejam, Mas. Kamu tega sekali padaku, Mas!" ucap Zarrah dengan wajah depresi dengan air mata yang mengalir tanpa henti.

__ADS_1


#Bersambung#


Apa yang akan dilakukan Alvin setelah bercerai dari zarrah? Akankah Zarrah diam saja saat diceraikan Alvin? Tebak jawabannya di kolom komentar..


__ADS_2