
Hannum dan Andika yang telah mempersiapkan semuanya dengan sangat cepat akhirnya dipertemukan di hadapan penghulu.
“Saya terima nikah dan kawinnya Hannum Salsabillah Ramadhani binti Komaruddin Wahab dengan emas kawin Sepuluh Gram Logam Mulia dibayar tunai!” ucap Andika dalam satu kali tarikan nafas di hadapan Wali Hakim.
“Bagaimana para saksi? Sah? Sah? Sah?” tanya Penghulu yang melepaskan jabat tangannya lalu mengalihkan pandangan ke kedua saksi yang ada di sisi kiri dan kanannya.
Tepat setelah kedua saksi mengatakan “Sah” sambil menganggukkan kepalanya. Penghulu dengan cepat meresmikan Pernikahan keduanya.
Hannum yang akhirnya resmi menjadi Istri Andika pun mencium punggung tangan Andika dengan wajah yang memerah karena malu.
Sementara itu, Alvin yang telah menceraikan Zarrah secara langsung dan telah memasukkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama teryata membawa mobil menuju rumah Hannum.
Alvin yang tidak pernah bisa melepaskan bayang-bayang Hannum di dalam hatinya merasa sangat menyesal dan sangat ingin memperbaiki hubungan mereka.
Alvin yang sangat ingin rujuk kembali bersama Hannum berniat datang menemui Hannum dan bersujud di hadapan Hannum.
“Maafkan Mas, Dek! Mas sangat menyesal!” gumam Alvin dengan wajah yang sedih dan mata yang memerah karena kurang tidur.
Alvin yang berharap masih ada kesempatan untuknya menjadi sangat bingung saat terbentang tenda biru di depan rumah Hannum.
“Tenda biru? Ada acara apa ini?” tanya Alvin dengan suara yang rendah dengan wajah yang bingung dengan jantung yang berdebar sangat kencang.
Alvin yang merasakan ada sesuatu yang terjadi mencoba menyangkal semua pikiran dan perdebatan hatinya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Alvin yang melihat banyak orang yang datang sambil menyantap makanan dengan wajah yang gembira semakin gelisah.
“Apa ini? Acara apa ini?” tanya Alvin pada dirinya sendiri di dalam hati dengan tangan yang terkepal erat dan langkah kaki yang berat.
“Apakah Hannum menikah lagi? Tidak! Itu tidak mungkin! Ini pasti adalah Acara Peringatan Ibu Mertua!” ucap Alvin yang mencoba meyakinkan dirinya.
Namun keyakinan itu runtuh saat melihat Hannum duduk bersanding di Pelaminan bersama Andika dengan Rere duduk di tengah dengan wajah yang bahagia.
Alvin yang melihat Hannum menikahi Pria lain dengan kedua matanya merasakan sakit di hatinya.
Alvin yang menyadari bahwa semua harapannya telah sirna dan tak ada lagi kesempatan baginya untuk bersama Hannum membangun rumah tangga yang sakinnah, mawaddah, dan warrahmah pun kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Kaki yang awalnya dapat berdiri tegap pun menjadi lemas hingga Alvin terpaksa bersandar di dinding dengan wajah terkejut.
“Mas? Apa kau baik-baik saja?” tanya salah seorang tamu undangan dengan wajah yang khawatir.
“Agh, a-aku baik-baik saja. Terima kasih!” jawab Alvin dengan senyum palsu lalu menggigit bibir bawahnya.
“Tidak! Aku tidak baik-baik saja! Bagaimana aku bisa baik-baik saja setelah menyaksikan wanita yang aku cintai menikah dengan pria lain!” ucap Alvin dalam hati dengan mata yang berbinar seolah siap meneteskan air mata.
Alvin yang tak ingin terlihat lemah di hadapan Andika yang telah berhasil menaklukan Hannum dan menjadi Suami Sah Hannum saat ini pun mengumpulkan kembali kekuatannya dan berdiri tegap lalu berjalan keluar menuju parkiran mobilnya.
Tanpa disadari Alvin ternyata Ibu Nissa yang berdiri tak jauh darinya sudah melihat kedatangannya dan mengamatinya sejak awal.
“Penyesalan akan selalu datang terlambat! Kau sungguh telah membuang berlian demi batu kerikil!” ucap Ibu Nissa dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang dingin.
__ADS_1
“Hannum telah menjadi menantuku dan Rere telah menjadi cucuku! Tak akan aku biarkan kebahagiaan Putraku diambil kembali untuk kedua kalinya!” ucap Ibu Nissa dengan suara yang tegas.
Alvin yang meninggalkan rumah Hannum merasa hidupnya telah hancur hingga air mata yang terus ditahannya akhirnya jatuh ke wajahnya.
“Kenapa semua ini terjadi? Keluarga bahagia itu harusnya adalah kita!” ucap Alvin dengan wajah yang sedih.
Setelah Pernikahan, Ibu Nissa yang tak ingin Hannum kembali bersama Alvin dan meninggalkan Andika pun mengajak Hannum bicara.
“Hannum!” panggil Ibu Nissa dengan wajah yang lembut sambil menggenggam tangan Hannum.
“Ya Ma?” tanya Hannum dengan wajah yang bingung dengan tatapan mata yang penasaran sambil duduk di ruang tengah berdua saja.
“Mama tak ingin menyembunyikan apapun darimu karenanya Mama mengatakan ini padamu!” ucap Ibu Nissa dengan ekspresi wajah yang serius.
“Di hari Pernikahanmu dengan Andika, Mama melihat Alvin datang tapi berhenti di depan pintu saat melihatmu bersanding dengan Andika di Pelaminan!” ucap Ibu Nissa sambil memperhatikan perubahan raut wajah Hannum.
Hannum yang telah memutuskan untuk melupakan masa lalu dan melanjutkan hidupnya bersama Andika pun menudukkan kepalanya lalu menarik nafas panjang kemudian balik menggenggam tangan Ibu Nissa dengan erat.
“Ma! Aku tau alasan Mama mengatakan ini dan aku sadar akan kekhawatiran Mama tapi jangan khawatir Ma. Semua yang khawatirkan tak akan pernah terjadi!” ucap Hannum dengan senyum yang menenangkan.
“Aku telah berteka melupakan Mas Alvin dan membuka lembaran baru bersama Mas Dika! Saat ini Mas Dika adalah masa sekarang dan masa depanku dan Rere sementara Mas Alvin adalah masa laluku yang akan aku tutup rapat!” ucap Hannum yang mencoba menghilangkan kekhawatiran Ibu Nissa.
Ibu Nissa yang mendengar ucapan Hannum menjadi sangat senang dan menyadari bahwa pilihannya tidaklah salah.
Ibu Nissa yang sangat bahagia sampai meneteskan air mata lalu memeluk Hannum dengan sangat lembuh penuh kasih sayang.
Hannum yang merindukan kasih sayang seorang Ibu merasa sangat senang dan membalas pelukan itu.
“Kau yang menjadi penyebab kehancuran Pernikahanku bersama Hannum maka aku akan tunjukkan Neraka Rumah Tangga sebenarnya padamu!” ucap Alvin dengan pemikniran yang telah jernih dan keputusan yang bulat.
Alvin yang mencabut gugatan cerainya di Pengadilan pun kembali ke rumahnya bersama Hannum dulu lalu merobek surat pengadilan yang pernah diberikannya kepada Zarrah.
Alvin yang menarik kembali talaknya dan berniat rujuk dengan Zarrah pun menarik Zarrah ke kamar dan mengg*ulinya dengan sangat kasar dan melupakan kenyataan bahwa Zarrah baru saja melahirkan.
“Aaarrggh! Sakit Mas! Aaarrggghhh!” teriak Zarrah dengan wajah yang menahan kesakitan tapi tak dihiraukan oleh Alvin sama sekali dan tetap melakukan semua sesuka hatinya.
Alvin melampiaskan kemarahannya, kekesalannya, dan kesedihannya karena Hannum menikah dengan Andika kepada Zarrah.
Alvin yang telah merasa puas pun masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya lalu mengabaikan tangisan Zarrah dan teriakan Putrinya yang menangis.
Zarrah yang awalnya sangat senang melihat Alvin kembali dan merobek surat pemanggilan pengadilan itu tiba-tiba menyesali tindakannya.
Zarrah yang tidak bisa diam saja melihat Putrinya menangis pun bergegas memakai pakaiannya dan menyusui Lyla yang ternyata lapar setelah terbangun.
“Tenang ya, sayang! Bunda ada di sini! Kamu lapar, ya?” tanya Zarrah yang mencoba tetap tersenyum di hadapan Putrinya meskpun rasa sakit akibat perbuatan kasar Alvin masih tetap terasa.
Lyla yang akhirnya tenang di dalam pelukan Zarrah membuat Zarrah yang awalnya sedih merasa sedikit kebahagiaan saat melihat Putri semata wayangnya tersenyum bahagia.
Alvin yang selesai mandi dan melihat Zarrah tersenyum bahagia saat menggendong Lyla menjadi sangat marah sehingga dengan kasar dan sengaja membanting pintu kamar mandi yang menyebabkan Lyla menangis sangat keras.
__ADS_1
Zarrah yang panik melihat Lyla menangis pun bergegas menenangkannya tapi sebelum Lyla kembali tenang Alvin yang muncul di hadapannya tiba-tiba melemparkan beberapa lembar uang ke wajah Zarrah.
“Diamkan Putrimu atau aku yang akan diamkan!” ancam Alvin dengan mata yang menyala merah dengan wajah yang marah.
Zarrah yang mendengar perkataan Alvin menjadi panik lalu berusaha menenangkan putrinya yang saat ini ada di dalam gendongannya.
Alvin yang ingin membuat Zarrah menderita di Pernikahan yang dipaksa olehnya ternyata bermain api dengan berselingkuh dengan beberapa wanita.
Zarrah yang mengetahui Perselingkuhan Alvin menjadi tidak terima tapi Alvin yang tidak ingin diatur pun memukul Zarrah dan mengancamnya.
“Jangan mengaturku! Sebagai Istri, kau harus patuh dan melayaniku dengan baik! Bukankah itu yang membuatmu percaya diri dapat memuaskanku?” sindir Alvin sambil memegang dagu Zarrah dengan sangat keras.
“Jika kau tidak bisa melakukan tugasmu melayaniku dengan baik maka jangan salahkan aku berselingkuh!” ucap Alvin sambil melepaskan dagu Zarrah dengan kasar.
“Jangan coba-coba mengatakan apapun pada orang lain tentang rumah tangga kita jika tidak aku akan menceraikanmu dan memukulmu lebih keras lagi lalu membuat Putri kesayanganmu itu cacat!” ancam Alvin yang kemudian keluar meninggalkan rumah.
Zarrah yang takut akan ancaman Alvin pun hanya bisa menangis dan memeluk Lyla dengan sangat keras dan menyesali keputusan dan perbuatannya dulu.
“Kenapa seperti ini, Mas? Kenapa kau berubah jahat seperti ini?” ucap Zarrah dalam hati dengan air mata yang terus mengalir.
Zarrah terpaksa bertahan dalam Pernikahan yang seperti Neraka itu karena Lyla yang masih kecil dan membutuhkan sosok Ayah pun terpaksa menerima semua perbuatan buruk Alvin.
Alvin yang tidak hanya selingkuh tapi juga bermain tangan saat emosinya tidak stabil ternyata selalu memberikan uang dalam jumlah sedikit sehingga membuat Zarrah terpaksa menjadi buruh cuci untuk memenuhi kebutuhannya dan Putrinya.
Penikahan bagai Neraka yang dirasakan oleh Zarrah ternyata berbanding terbalik dengan Hannum yang saat ini telah pindah ke Jerman bersama Andika dan Rere.
Ketiganya memulai kehidupan baru disana. Menempati rumah baru yang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk ditinggali bersama dalam Keluarga kecil.
Hannum yang sangat bahagia karena Andika ternyata adalah suami yang sangat bertanggung jawab dan menjadikan Istrinya sebagai Ratu dan memperlakukan Rere seperti Putri kandungnya.
“Terima kasih, Mas!” ucap Hannum dengan wajah yang bahagia dan senyum yang lembut sambil duduk di santai di halaman rumah melihat Rere dan Andika sedang bermain lari-larian bersama kucing kecil peliharaan mereka.
Hannum yang telah tinggal di Jerman selama tiga bulan menyadari bahwa telah terjadi perubahan pada tubuhnya dan saat sebuah kejutan tak disangka datang, Hannum memberitau Andika dengan wajah yang bahagia.
“Mas, I have something for you!” ucap Hanum dalam bahasa inggris sambil menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Andika di malam hari saat keduanya duduk santai.
“What’s this?” tanya Andika dengan wajah yang bingung dan alis yang mengkerut lalu membuka kotak yang ada di tangannya.
Andika yang melihat sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis merah di tengahnya menjadi sangat terkejut dan bahagia di saat bersamaan.
“Is this real? Are you pregnant?” tanya Andika yang mempertanyakan kebenaran tentang kehamilan Hannum dengan ekspresi wajah tak percaya.
Hannum yang dengan tegas menjawab “Yes” dengan kepala terangguk beberapa kali membuat Andika sangat bahagia.
Andika yang sangat senang akan kehamilan Hannum pun mengangkat Hannum dan memutarnya dengan tawa lebar bahagia yang tak lepas dari wajahnya.
“Mas, aku pusing!” ucap Hannum yang menyatakan keluhannya yang dengan cepat diturunkan oleh Andika.
“Terima kasih! Terima kasih! Ini adalah hadiah terbaik yang aku terima! Terima kasih!” ucap Andika sambil memeluk erat Hannum.
__ADS_1
#TAMAT#