
Zarrah yang menyadari posisinya yang sangat berat pun memutuskan untuk menerima pinangan dari Andika dan berencana memberi tau Alvin terlebih dahulu.
"Iya, Mas. Mas Andika melamarku kemarin saat dia mengajakku pergi. Dia ingin aku menjadi istrinya!" ucap Zarrah dengan wajah yang serius sambil terus mengamati tanggapan Alvin tentang keputusan yang dibuatnya.
"Lalu kau pun setuju untuk menikah?" tanya Alvin dengan nada suara yang meninggi dengan ekspresi wajah yang tidak senang.
"Aku belum menjawabnya. Aku meminta waktu untuk berpikir tapi aku berencana untuk menerima lamarannya, Mas." ucap Zarrah dengan tatapan mata lurus ke depan.
Zarrah yang berharap jika Alvin akan marah dan menenang keputusannya menjadi kecewa saat melihat Alvin tak mengatakan apapun.
Meskipun begitu tanpa diketahui Zarrah ternyata Alvin saat ini sangat marah dan kesal tapi tidak bisa mengatakan apapun.
"Kenapa kau memutuskan untuk menikah dengannya? Bukankah kau bilang jika kau tak tertarik pada Andika dan kau menjadikannya alasan agar Hannum tak curiga?" tanya Alvin dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Karena aku harus menutupi kenyataan jika aku tidak perawan lagi!" ucap Zarrah yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku pun merasa tidak nyaman saat melihat Mas Alvin bersama Mbak Hannum. Aku cemburu, Mas. Aku hanya ingin Mas bersama denganku! Menatap diriku!" ucap Zarrah yang tiba-tiba meninggikan suaranya.
Alvin yang merasakan hal yang sama saat Zarrah pergi bersama Andika saat meminta izin kepada Hannum pun menarik Zarrah ke dalam pelukannya.
"Maafkan! Mas yang tidak bisa menjaga perasaanmu tapi Mas tidak bisa melakukan apapun karena posisi Mas sangat sulit." ucap Alvin dengan wajah yang menyesal.
Zarrah yang mendengar ucapan Alvin pun menjadi sangat senang dan melepaskan diri dari pelukan alvin untuk mengatakan rencananya.
"Oleh karena itu, Mas aku memutuskan untuk menerima pernikahan dengan Mas Dika." ucap Zarrah dengan suara yang terdengar terburu-buru.
"Aku bisa mengelabui Mas Dika bahwa aku masih perawan nanti karena Mas Dika masih sangat polos dan aku pun bisa menutupi ketidakperawananku, Mas!" ucap Zarrah dengan semangat yang membara.
"Setelah menikah aku pasti akan keluar dari rumah Mbak Hannum dan kita bisa bertemu kapan saja Mas di luar karena Mas Dika sekarang bekerja di luar kota." ucap Zarrah dengan senyum yang lebar.
"Baiklah. Jika itu keputusanmu, Mas akan setuju." jawab Alvin dengan berat hati karena tau jika keputusan Zarrah demi hubungan keduanya.
Zarrah yang melihat waktu telah terbuang pun memutuskan untuk mandi pulang ke rumah dan keduanya pun mandi bersama hingga melakukan hubungan terlarang itu lagi di sana.
__ADS_1
Zarrah yang telah berpisah tempat dengan Alvin pun pergi membuat janji dengan Andika untuk memberikan jawaban untuk keputusannya.
"Mas, bisa datang ke Kafe A sekarang? Aku sudah membuat keputusanku untuk jawaban pertanyaanmu, Mas!" jawab Zarrah setelah menarik nafas panjang mencoba menenanngkan dirinya sendiri.
"Bisa! Mas akan kesana sekarang. Tunggu sampai Mas datang, ya!" ucap Andika dengan nada suara yang penuh semangat.
"Tentu saja. Aku akan menuggu sampai Mas datang!" jawab Zarrah dengan senyum lembut yang tak terlihat dari sambungan telepon.
Andika yang teburu-buru untuk menemui Zarrah dan tak sabar mendengar jawaban Zarrah akan lamarannya pun bergegas pergi keluar tapi dihentikan oleh Ibunya.
"Mau kemana kamu pergi, Nak? Buru sekali! Hati-hati nanti ada kecelakaaan!" ucap Ibu Nissa dengan wajah dan suara yang cemas.
"Aku mau pergi menemui Zarrah sekarang. Zarrah telah memutuskan untuk menjawab lamaranku jadi aku ingin segera menemuinya!" jawab Andika dengan senyum yang lebar.
*flashback
Andika yang langsung jatuh cinta dan tertarik kepada Zarrah saat pertama kali dikenalkan kepadanya pun telah memutuskan untuk mendapatkan Zarrah.
Perasaan ingin memiliki itu membuat Andika membuat keputusan untuk menikahi Zarrah padahal tau jika Zarrah masih kuliah dan mendapat pertentangan dari Ibu kandungnya.
"Aku ingin menikahi Zarrah, Ma. Aku ingin Zarrah yang menjadi Istriku!" ucap Andika kepada Ibunya dengan wajah serius dan nada suara yang tegas.
Apa? Menikah dengan gadis itu? Tidak! Ibu tidak setuju!" Ibu Nissa yang merupakan orangtua Andika dengan wajah yang tidak senang.
Ibu Nissa yang bisa merasakan jika Zarrah bukanlah wanita yang baik untuk Andika pun berusaha menentang keputusan Andika meskipun sulit.
"Kenapa Mama tidak setuju? Zarrah anak yang baik dan orangtuanya pun dari keluar baik-baik juga!" ucap Andika yang mempertanyakan keputusan Ibunya.
"Nak, kau itu baru mengenal Zarrah sebentar sekitar du bulan dan kau telah membuat keputusan untuk menikahinya. Apakah kamu tidak terburu-buru?" tanya Ibu Nissa dengan wajah yang cemas.
"Tidak ada yang terburu-buru, Ma. Aku tidak ingin berzinah dengan Zarrah. Aku mencintainya karena itu aku menikahinya!" ucap Andika yang telah membulatkan tekadnya.
*sekarang
__ADS_1
Ibu Nissa yang mendengar Andika ingin menemui Zarrah dengan wajah yang sangat bahagia menjadi serba salah dan dalam situasi yang sulit.
"Nak, tidak bisakah kau memikirkan ulang tentang rencanamu menikahi Zarrah? Mama memiliki perasaan Zarrah bukanlah wanita sebaik yang kau pikirkan!" ucap Ibu Nissa yang mencoba mengubah keputusan Andika.
"Kau tidak boleh terburu-buru mengambil keputusan tentang Pernikahan. Kau harus mengetahui dengan pasti wanita yang kau nikahi, Nak." ucap Ibu Nissa dengan tatapan mata yang khawatir.
"Istrimu adalah Ibu dari anakmu nanti dan orang yang akan selalu bersamamu hingga kau tua nanti!" ucap Ibu Nissa dengan suara yang melembut.
Namun Andika yang sangat keras kepala akan keputusan cepat yang dibuatnya untuk menjadikan Zarrah miliknya pun tidak menghiraukan penolakan Ibu Nissa.
"Tidak, Ma. Aku sudah melamar Zarrah dan menyatakan keseriusanku. Zarrah pun berkata akan memberikan jawaban sekarang jadi aku ingin pergi menenuinya sekarang!" ucap Andika yang dengan cepat pergi mengambil jaket dan kunci motornya.
Andika yang telah sampai di Kafe A pun bergegas masuk ke dalam dan pergi mencari keberadaan Zarrah yang dikatakannya telah sampai terlebih dulu.
"Dek sudah lama menunggu, ya? Maafin Mas yang datang terlambat. Di jalan sedang macet parah tadi!" ucap Andika yang memberikan alasannya kepada Zarrah agar Zarrah tidak marah.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku pun baru sampai." ucap Zarrah dengan senyum yang lembut dan wajah yang memerah karena malu.
Zarrah yang melihat penampilan Andika yang berbeda sekali dengan Alvin yang sangat stylish pun merasa kurang puas tapi tidak bisa berkomentar banyak karena hanya Andika yang nekat untuk menjadikannya Istri di posisinya yang sulit.
"Aku tidak boleh banyak memilih. Aku harus menerima pinangan Mas Dika dan mengubah penampilannya agar lebih nyaman dilihat nanti!" ucap Zarrah dalam hati.
Zarrah dan Andika yang telah memesan minuman dan makanan pun tidak mengeluarkan kata-kata apapun dan hanya diam sambil mengunyah makanan dan minuman keduanya.
Zarrah yang melihat Andika yang pendiam dan terlihat sedikit cemas menunggunya membuka pembicaraan pun menarik nafas panjang setelah makanan yang dipesannya habis.
"Mas, aku memutuskan untuk menerima pinanganmu. Aku bersedia menjadi Istrimu tapi dengan satu syarat!" jawab Zarrah dengan wajah yang serius.
"Syarat? Apa syaratnya?" tanya Andika dengan wajah yang senang di awal lalu berubah bingung dan cemas saat mendengar Zarrah mengajukan syarat untuk menikahinya.
#Bersambung#
Syarat apa yang diminta oleh Zarrah kepada Andika? Akankah pernikahan antara Zarrah dan Andika benar-benar terjadi? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..
__ADS_1