
Waktu berlalu, hari pernikahan Zarrah dan Alvin pun terlaksana dan Hannum yang tak ingin terhubung dengan keduanya memutuskan untuk liburan di Yogyakarta bersama Ibu Nissa dan Andika.
"Makasih ya Hannum, sudah izinin Mama ikut liburan bersama. Sejujurnya Mama sangat bosan di rumah terus dan Mama juga sangat lelah dengan perkataan tetangga yang terus mengatakan tentang Zarrah!" ucap Ibu Nissa yang mengeluhkan pengalamannya.
Hannum yang secara tak langsung telah menjadikan Ibu Nissa pengganti Ibunya yang telah tiada tidak bisa menolak permintaan Ibu Nissa.
"Sama-sama Ma. Hannum ikut senang karena ada Mama jadi Hannum dan Rere tidak akan kesepian di tempat asing!" uca Hannum dengan senyum lembut.
"Jangan khawatir. Andika lama tinggal di Yogyakarta karena kuliah disini jadi Andika pasti tau dengan baik tempat ini jadi kita tidak mungkin menyasar apalgi dibohongi orang!" ucap Ibu Nissa dengan percaya diri yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Hannum.
Hannum yang menghabiskan satu minggu hari liburan sekolah Rere di Yogyakarta tanpa sadar telah melupakan semua masalahnya bahkan Hannum tak pernah lagi memikikan tentang Zarrah ataupun Alvin.
Rere yang menemukan sosok Seorang Papa pada Andika menjadi semakin dengan Andika selama liburan yang membuat Ibu Nissa sangat bahagia.
"Rencanaku berhasil. Jika Rere sudah menjadikan Andika sebagai pengganti Papanya maka akan mudah bagi Andika sungguh-sungguh menjadi Papanya Rere!" ucap Ibu Nissa dalam hati dengan senyum yang lebar.
Hannum yang melihat Ibu Nissa tersenyum bahagia pun bertanya lalu melihat Andika sedang bermain bersama Rere dengan bebas pun ikut tersenyum.
"Andika adalah anak tunggal. Dia tidak memiliki saudara pia maupun saudara perempuan tapi Andika sangat menyukai anak kecil. " ucap Ibu Nissa dengan senyum yang miris.
"Oleh karena itu, Andika memutuskan segera menikah dengan Zarrah sebelumnya tapi tidak disangka ternyata ini yang terjadi! Sungguh disayangkan!" ucap Ibu Nissa lagi dengan wajah yang sedih.
Semenjak saat itu, Hannum yang awalnya memberikan jarak antara Andika dan dirinya serta Rere perlahan memberikan jalan yang membuat Ibu Nissa sangat bahagia.
Setelah liburan berakhir keempatnya pun kembali ke aktivitas semula tapi komunikasi keempatnya tetap terjalan lancar.
Ibu Nissa yang sangat menyukai Hannum dan ingin Hannum menjadi menantunya pun mempertegas hal itu kepada Andika.
"Mama mau tanya. Apakah kau memiliki perasaan yang berbeda pada Hannum?" tanya Ibu Nissa secara langsung saat Andika sedang terduduk mengerjakan pekerjaannya.
Andika yang mendengar nama Hannum disebutkan pun menghentikan pekerjaannya dan menatap mata Ibu Nissa dengan seksama.
__ADS_1
"Bohong jika aku katakan tidak ada ketertarikan pada Mbak Hannum tapi sangat sulit menembus pertahanannya!" ucap Andika sambil menarik nafas yang panjang.
"Aku bertemu dan menikah dengan Zarrah waktunya sangat sebentar tapi Mbak Hannum memiliki waktu dan kenangan yang banyak bersama Alvin terlebih sudah ada Rere di antara mereka!" ucap Andika dengan wajah yang datar.
"Kesedihan, sakit hati, dan kekecewaan itu masih terlihat sangat jelas di sorot mata Mbak Hannum. Aku ingin menjadi obat lukanya tapi aku khawatir Mbak Hannum masih belum siap menerima orang baru!" ucap Andika dengan wajah yang berubah sedih.
Ibu Nissa yang mengetahui perasaan Putranya dan menyadari kegelisahannya pun tersenyum bahagia lalu memberikan sebuah saran.
"Wanita seperti Hannum sangat jarang di dunia ini. Jika kau menyerah maka akan ada orang lain yang akan memperjuangkannya! Saat kesempatan tak ada lagi maka hanya penyesalan yang akan datang." ucap Ibu Nissa yang kemudian berdiri meninggalkan Andika sendiri.
Sementara itu, Zarrah yang telah resmi menikah dengan Alvin seperti yang diinginkannya baru menyadari sifat dan sikap buruk Alvin selama ini.
"Mas kenapa uang bulanannya hanya segini? Uang segini hanya cukup untuk memenuhi sehari-hari dan tidak untuk kebutuhanku!" ucap Zarrah yang protes dengan uang yang diberikan Alvin padanya.
"Aku telah berhenti bekerja di tempat yang lama dan sekarang aku bekerja di tempat yang baru. Gajiku tidak sebesar dulu dan selama ini Hannum baik-baik saja dengan sebesar apapun uang yang aku berikan!" ucap Alvin yang lagi-lagi membandingkan Zarrah dan Hannum.
"Itu Mbak Hannum. Aku ya aku, Mas. Kamu tidak bisa sama kami berdua!" ucap Zarrah dengan nada suara yang meninggi.
"Jangan melawan! Aku tidak suka istri yang membangkang! Kau sendiri yang ingin menjadi istriku maka terimalah itu! Jangan banyak protes!" ucap Alvin yang menarik dagu Zarrah ke depan dengan mata melotot lalu mendorongnya ke belakang hingga terjatuh ke sofa.
Zarrah yang berpikir bahwa Alvin adalah pria yang baik dan penyayang serta dapat menjadikan dirinya Ratu dalam rumah tangganya seperti Alvin membuat Hannum sebagai Ratu menjadi sangat kecewa.
"Kamu berubah Mas! Kenapa kamu jadi sekasar ini sama aku Mas?" tanya Zarrah dengan suara rendah degan air mata yang mengalir ke pipi sambil mengelus lembut bayi yang ada di dalam kandungannya.
Di sisi lain, Andika yang tidak bisa tenang memikirkan ucapan Ibu Nissa pun melaksanakan shalat istiharah untuk menentukan langkah yang harus diambilnya selama tiga hari berturur-turut.
Andika yang tak mendapatkan mimpi ataupun petunjuk apapun justru merasa keyakinannya untuk menikahi dan meminang Hannum sangatlah besar.
Andika yang tau jika dirinya tak boleh menunda niat baik seperti itu pun mengambil handphonenya dan menghubungi Hannum meminta bertemu.
"Mbak Hannum telah melewati masa iddahnya maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai semuanya kembali!" ucap Andika dengan keyakinan dirinya.
__ADS_1
Sementara itu, Hannum yang baru saja menjemput Rere pulang sekolah pun membawa Rere bersamanya untuk bertemu dengan Andika karena Hannum khawatir akan ada fitnah jika dirinya bertemu berdua saja.
"Mama mau pergi bertemu Om Dika. Rere mau ikut Mama, tidak?" tanya Hannum dengan ekspresi wajah yang penasaran.
"Om Dika? Mau mau mau!" jawab Rere dengan cepat dan wajah yang polos sambil mengembangkan senyum lebar di wajahnya.
"Baiklah. Kalau begitu ayo kita pergi!" ucap Hannum sambil menggandeng tangan Rere menuju mobil lalu pergi menuju tempat yang telah dijanjikan.
Andika yang sudah datang duluan pun duduk disana menunggu kedatangan Hannum dengan ekspresi wajah yang cemas dan tidak tenang.
Namun kecemasan itu seketika hilang saat melihat Rere memanggil namanya dan berlari memeluk Andika dengan wajah yang bahagia.
"Om Dika!"
Andika yang melihat Rere yang begitu polos dengan senyuman khas anak-anak tanpa sadar mengingat perbuatan hina yang dilakukan Alvin dan Zarrah.
"Anak sepolos ini bahkan tak dipikirkan oleh Mas alvin saat berselingkuh! Aku tidak bisa membiarkan anak kecil kehilangan sosok seorang ayah yang akan menjadi panutan dan juga pelindung baginya!" ucap Andika dalam hati yang dengan tegas membulatkan keputusan.
Hannum yang melihat kedekatan antara Andika dan Rere merasa bahagia dan juga sedih di saat bersamaan karena Alvin yang seharusnya mengambil peran Ayah sebagai orangtua kandung justru tidak bisa melakukan itu.
"Ini semua sungguh tidak adil bagi Rere tapi aku pun tak bisa bersama Mas Alvin. Hati dan juga hidupku telah hancur. Harapan dan impianku pun telah sirna! Maafkan Mama, Rere!" ucap Hannum dalam hati dengan wajah yang sedih.
Hannum yang tak ingin terlihat terpaku pada masa lalu pun menarik nafas panjang dan mengendalikan perasaannya lalu duduk di tempat yang kosong sambil membiarkan Rere duduk di samping Andika.
Hannum yang tau jika Rere pasti lapar pun mencoba memesan makanan kesukaan Rere tapi tiba-tiba Andika mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan Hannum.
"Mbak! Izinkan aku mengkhitbahmu! Aku ingin menjadi obat atas luka hatimu dan aku ingin menggantikan sosok Ayah yang baik untuk Rere! Aku sungguh-sungguh Mbak!" ucap Andika dengan ekspresi wajah yag serius.
Hannum yang tidak percaya jika dirinya langsung dilamar tepat setelah masa iddah selesai pun terdiam di tempat dengan wajah kebingungan.
#Bersambung#
__ADS_1
Apakah Hannum akan menerima lamaran Andika? Apakah Andika akan menjadi obat untuk luka hati Hannum? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..