Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 31. Semua Berkumpul


__ADS_3

Andika tau jika dirinya menceritakan semua kenyatan itu akan membuat Ibu Wati jatuh pingsan atau bahkan kemungkinan lebih buruk bisa saja terjadi sehingga membuat Andika memilih mundur.


"Maafkan Dika, Bu. Dika tidak bisa mengatakan apapun karena sebenarnya Dika belum mengetahui pasti yang telah terjadi!" ucap Andika dengan ekspresi wajah yang menyesal.


"Akan lebih baik jika semuanya berkumpul dan menyelesaikan semuanya dengan baik!" ucap Andika dengan sangat bijak.


"Tapi jika ibu penasaran maka aku hanya bisa bicara bahwa semua yang Mamaku bilang itu benar bahwa Zarrah telah berhubungan dengan Mas Alvin bahkan sebelum kami menikah!" ucap Andika dengan wajah yang serius dan tatapan mata yang lurus menatap Ibu wati.


Ibu Wati yang mendengar kata-kata yang tidak ingin didengarnya secara langsung merasakan lemah pada seluruh tubuhnya lalu bersandar di tempat tidur.


Ibu Wati yang melihat Besannya tidak menerimanya dengan baik karena perbuatan tercela yang dilakukan oleh Zarrah pun menjadi sangat malu dan memutuskan untuk kembali ke rumah Alvin.


Beberapa hari berlalu, Hannum yang terpuruk karena perselingkuhan Zarrah dan Alvin pun kehilangan nafsu makannya dan semakin tertekan saat melihat Rere yang terus berteriak meminta untuk pulang.


Namun siapa sangka pintu kamar hotel yang jarang terdengar suara orang datang tiba-tiba diketuk dengan pelan dan Hannum yang mendengarnya tiba-tiba merasa jika jantungnya berdetak semakin kencang dan tak karuan.


"Ada apa ini? Kenapa aku merasa cemas lagi?" tanya Hannum pada dirinya sendiri dengan wajah yang bingung dan detak jantung yang berdetak tak menentu.


Hannum yang berpikir positif pun menarik nafas panjang dan berjalan menuju arah pintu lalu membuka pintu tersebut secara perlahan lalu menemukan hal yang sangat mengejutkan.


"I-Ibu....! Ma-Mas Alvin! Sil-Silvia!" ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang terkejut dan mata yang terbuka lebar.


Alvin yang melihat Hannum sungguh telah ditemukan dan berdiri di hadapannya menjadi sangat senang dan lega di saat bersamaan.


Alvin yang bergerak ingin memeluk Hannum langsung terdiam di tempatnya karena Hannum dengan cepat menghindarinya dan menepis kasar tangan Alvin.


Silvia yang juga ada di tempat itu melihat Hannum melakukan itu menggigit bibir bawahnya dan dengan cepat meminta maaf kepada Hannum.

__ADS_1


"Ha-Hannum! Maaf! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk melanggar janjiku tapi tidak bisa menolak permintaan Ibumu yang ingin sekali bertemu denganmu!" ucap Silvia dengan wajah yang menyesal sambil menggenggam erat tangannya..


Hannum yang mendengar perkataan maaf dari Silvia langsung mengalihkan pandangannya ke wanita tua yang telah melahirkannya dan membesarkannya tersebut.


Hannum yang melihat Ibunya menatapnya dengan wajah yang sedih dan siap menangis kapanpun tidak bisa mengatakan apapun dan hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan erat.


"Silvia! Maaf! Bisakah kau tinggalkan kami?" tanya Hannum dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak isi di hatinya dengan suara yang lembut.


Silvia yang menyadari posisinya pun menganggukkan kepalanya dengan pasti lalu berpamitan kepada semuanya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Hannum yang tidak ingn ada orang lain yang mengetahui masalah dalam rumah tangganya lebih banyak lagi pun meminta Alvi dan Ibunya masuk ke dalam.


Rere yang melihat Ayah yang sangat dirindukannya muncul di hadapannya menjadi sangat senang yang membuat Hannum merasakan sakit yang teramat dalam dihatinya.


Ibu Wati yang dapat merasakan rasa sakit yang dialami Hannum pun dengan cepat meminta maaf kepada Hannum dan menyadari kesalahannya.


Hannum yang memiliki hati yang lembut menjadi semakin saat melihat Ibunya menangis dan hal yang sangat ditakutkannya akhirnya terjadi pun merasa semakin sakit.


"Ini bukanlah kesalahan Ibu. Ibu tidak perlu meminta maaf ataupun menangis karena ada orang lain yang benar-benar bersalah yang harus melakukan itu!" ucap Hannum yang dengan cepat memeluk Ibu Wati dan menenangkannya.


Hannum yang melihat Rere masih ada di sana dan menatap bingung karena tak tau yang sebenarnya terjadi membuat hati Hannum sebagai Ibu hancur.


Hannum yang belum sanggup membuat Rere mengetahui kenyataan pahit yang harus ditanggungnya karena kesalahan dari Ayahnya pun meminta tolong kepada Alvin.


"Rere masih kecil dan aku tidak ingin dia menjadi hancur sepertiku karena mengetahui hal ini!" ucap Hannum yang telah melepaskan pelukannya pada Ibu Wati lalu berdiri tegap menatap datar ke arah Alvin.


"Minta tolonglah pada Mbak Yura untuk menjaga Rere selama beberapa hari dan kita semua ke Surabaya menemui Zarrah! Aku ingin mendengar semua penjelasannya!" ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang serius.

__ADS_1


Ibu Wati yang menyadari Hannum sangat sakit hati dengan perbuatan Zarrah mencoba memberikan saran pada Zarrah tapi dengan cepat ditolak oleh Hannum.


"Nak, Ibu tau kamu sangat sedih dan kecewa dengan semua yang terjadi apa tidak sebaiknya kamu tenangkan dirimu dulu lalu kamu...." ucap Ibu Wati dengan suara yang lembut dan wajah yang teduh.


"Tidak! Aku ingin segera bertemu dengan Zarrah! Aku ingin mendengar semuanya dengan jelas!" ucap Hannum dengan suara yang sedikit meninggi dan tegas serta tatapan mata yang tajam yang membuat Ibu Wati terdiam dan tak bisa mengatakan apapun lagi karena Hannum telah membuat keputusannya.


Alvin yang menyadari kesalahannya dan tak bisa menghindari yang telah dilakukannya pun menuruti perkataan Hannum.


Hannum yang tidak ingin Ibunya semakin sedih setelah mengetahui kebenarannya pun meminta Ibu Wati untuk tetap tinggal di Ibukota untuk menjaga Rere tapi Ibu Wati yang tidak ingin menjadi orang bodoh yang tak tau apapun yang terjadi pada Putrinya memaksa untuk tetap ikut ke Malang.


Hannum yang tidak berniat berdebat ataupun menghentikan pun menyerah lalu menghubungi Andika untuk ikut menyusul ke Malang untuk menyelesaikan masalah itu dengan baik-baik.


Ketiganya pun kembali ke Malang dengan menggunakan jalur darat dimana Alvin pergi mengendarai mobil karena khawatir tidak menemukan tiket pesawat di waktu yang terdesak.


Tak hanya Alvin, Hannum dan Ibu Wati yang pergi. Andika yang juga pergi menuju Malang bersama Ibunya yang memaksa untuk ikut pun pergi dengan membawa mobil.


Hannum yang hanya diam di dalam mobil selama perjalanan tidak melakukan interaksi apapun dan hanya duduk melihat pemandangan di luar memikirkan kenyataan menyakitkan apa lagi yang akan diketahuinya.


Hannum yang tidak banyak bicara membuat Alvin dan Ibu Wati ikut diam karena tak tau harus bicara apa sehingga membuat suasana di dalam mobil menjadi canggung.


"Ya Tuhan, kuatkanlah aku! Aku ikhlas menerima semua ujianmu!" ucap Hannum dalam hati seraya berdoa dengan sungguh-sungguh.


Keesokan harinya, Hannum yang telah sampai di Malang langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya sampai Andika dan Ibunya sampai di Malang.


"Nduk, Nak Andika dan Ibunya sudah sampai lalu Zarrah juga sudah duduk di Ruang Tamu. Ayo keluar, Nduk. Kita selesaikan semuanya!" ucap Ibu Wati dengan suara yang lembut dan perlahan sambil mengetuk pintu kamar Hannum beberapa kali.


#Bersambung#

__ADS_1


Apa saja yang akan dikatakan Zarrah kepada Keluarga Besarnya dan Keluarga Suaminya? Apakah Alvin akan mengakui kesalahannya di hadapan semua orang? Bagaimana sikap yang akan diambil oleh Hannum dan Andika nantinya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..


__ADS_2