Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 40. Melepaskan


__ADS_3

Hannum yang tidak ingin menunda keputusannya pun mengajak Alvin bicara empat mata dan mengatakan tujuan pembicaraannya.


“Ayo kita bercerai, Mas! Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan dalam rumah tangga kita! Aku mohon talak aku Mas!” ucap Hannum dengan wajah yang sangat tenang.


Alvin yang sudah bisa menduga bahwa Hannum pada akhirnya akan meminta cerai padanya atas semua yang terjadi pun menarik nafas panjang.


“Mas tau jika Mas salah. Mas minta maaf. Mohon maafkan Mas, Hannum!” ucap Alvin dengan wajah yang sedih dan menyesal dengan tatapan mata yang memelas.


“Hmmmm, aku sudah memaafkanmu, Mas. Bahkan sebelum kau meminta maaf tapi Pernikahan kita sungguh tidak bisa dipertahankan lagi! Terlalu sakit bagiku untuk melanjutkan Pernikahan ini!” ucap Hannum dengan wajah yang datar dengan sedikit sorotan mata kesedihan.


Alvin yang menyadari bahwa dirinya tak bisa berbuat apapun lagi untuk mengubah keputusan Hannum pun menuruti permintaan Hannum.


“Aku talak kamu, Hannum Salsabillah Ramadhani binti Komaruddin Wahab!” ucap Alvin dengan ekspresi wajah yang sedih.


Hannum yang menginginkan Alvin menalaknya ternyata tidak bisa menahan air mata yang jatuh ke pelupuk matanya lalu dengan cepat menghapusnya setelah talak selesai diucapkan Alvin.


Hannum yang sedih di awal tidak menyangka jika perasaannya sekarang berubah menjadi sangat lega dan hati yang sakit seakan sangat tenang dan damai.


“Aku akan kembali ke Ibukota untuk mengambil pakaianku dan juga Rere. Aku mohon pada Mas untuk tidak ikut masuk ke dalam! Biarkan aku sendirian di sana!” ucap Hannum yang menyadari bahwa dirinya tidak mungkin kembali ke rumah itu sendiri.


Alvin yang tidak bisa berkata apapun karena rasa bersalahnya hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.


Keesokan harinya, Hannum yang kembali ke Ibukota bersama Alvin untuk mengurus perceraiannya menolak untuk kembali bersama tapi Alvin tetap menunggu Hannum di Bandara untuk bersama ke rumah mereka.


“Saat ini Rere pasti sedang sekolah. Aku akan membiarkanmu sendirian di rumah!” ucap Alvin dengan ekspresi wajah yang sedih dan berniat mengatakan sesuatu tapi dengan cepat dihentikan Hannum.


“Terima kasih! Berikan kuncinya! Aku akan kesana sendiri! Tolong tepati janjimu kali ini Mas! Aku mohon untuk tidak masuk ke dalam rumah apapun yang terjadi!” ucap Hannum dengan suara yang tegas.

__ADS_1


Alvin yang terhenyuk hatinya mendengar permintaan Hannum pun menyerahkan kunci rumah pada Hannum.


Hannum yang tak ingin berlama-lama dengan Alvin pun bergegas menaiki taksi yang ada di Bandara dan pergi menuju rumah yang awalnya adalah Istananya.


Hannum yang sampai di depan rumah terdiam menatap rumah yang selama beberapa tahun ini menjadi tempat tinggalnya saat membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah bersama Alvin.


Hannum yang menarik nafas panjang pun membuka gembok pagar rumah dan masuk ke dalam rumah dengan perlahan.


Hannum yang meletakkan tasnya di sofa pun berjalan memasuki rumah secara perlahan dan menyusuri setiap sudut rumah sambil meneteskan air mata.


“Semua yang dikatakan Zarrah benar. Aku tidak akan pernah sanggup tinggal di rumah ini lagi ataupun melanjutkan Pernikahan dengan Mas Alvin!” ucap Hannum dengan tangan terkepal erat saat berdiri di depan pintu kamar pribadinya bersama Alvin.


“Aku tidak bisa tetap tinggal di rumah ini yang mana setiap sudutnya aku selalu terbayang akan perbuatan tidak bermoral yang dilakukan Zarrah dan Mas Alvin!” ucap Hannum sambil menggenggam erat dadanya sambil berlinang air mata.


Hannum yang terus berjalan menuju kamar Zarrah secara tak sadar memejamkan matanya karena dirinya bisa membayangkan Suami dan Adiknya melakukan hubungan int*m di tempat itu.


Hannum yang merasakan sesak dan sakit di dadanya pun berteriak dengan sangat keras lalu menangis sejadi-jadinya.


Alvin yang menyusul Hannum pun merasakan sakit dan sedihnya Hannum saat mendengar teriakan dan tangis Hannum yang ada di dalam rumah.


Alvin ingin sekali masuk ke dalam rumah dan memeluk Hannum yang sedang terluka tapi janjinya dan juga permohonan Hannum pada dirinya membuat Alvin mengurungkan niatnya.


“Maafkan semua kesalahan Mas, Dek!” ucap Alvin dengan suara yang lirih dan ikut meneteskan air matanya.


Hannum yang menangis untuk menumpahkan rasa sakit, kecewa dan kesedihannya pun perlahan merasa lebih baik dan kembali berdiri dengan perubahan.


Hannum yang telah berubah menjadi lebih kuat menatap lurus ke depan dengan pemikiran baru pun melangkahkan kakinya memasuki kamar pribadinya.

__ADS_1


Hannum yang mengambil dua koper besar yang ada di atas lemari pakaian pun perlahan memasukkan semua miliknya baik itu pakaian, sepatu, tas dan perhiasan serta tabungan pribadi yang dimilikinya tanpa sepengetahuan Alvin sebagai dana darurat jika sesuatu hal buruk terjadi.


“Aku akan memulai kehidupan baru setelah melangkah keluar dari rumah ini!” ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang serius dengan tekad yang kuat.


Hannum yang telah mengemasi semua miliknya pun meninggalkan satu koper lagi untuk meletakkan semua barang milik Rere dan setelah semuanya Hannum pun berjalan menuju pintu keluar dengan kepala terangkat ke atas.


“Aku kembalikan kuncinya padamu, Mas!” ucap Hannum dengan suara yang rendah sambil memberikan kembali kunci rumah kepada Alvin.


“Aku akan membawa Rere bersamaku. Aku akan menjemputnya sepulang sekolah. Aku harap Mas setuju untuk Rere tinggal bersamaku!” ucap Hannum dengan ekspresi senyum yang lembut yang membuat Alvin terdiam lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.


“Terima kasih! Aku sangat menghargainya, Mas!” ucap Hannum dengan senyum yang tulus yang membuat Alvin menggigit bibir bawahnya karena sedih.


“Jangan khawatir. Aku tidak akan membatasi pertemuan Mas dengan Rere karena bagaimanapun Rere adalah Putrimu dan Rere pun tak akan bisa berpisah dari Ayahnya!” ucap Hannum yang membuat Alvin tersenyum pahit membayangkan kehancuran Pernikahannya.


Hannum yang memutuskan keluar dari rumah Alvin pun memilih tinggal di Hotel sementara waktu demi kenyamanan Rere sambil mencari tempat tinggal baru.


Hannum yang tau jika Alvin tak akan pernah memasukkan gugatan cerai di Pengadilan pun memasukkannya sendiri dan perlahan menjelaskan situasi yang dihadapinya bersama Alvin kepada Rere.


Seiring berjalannya waktu, Hannum yang merupakan Ibu Rumah Tangga selama ini dan tak pernah bekerja setelah menikah dengan Alvin pun memulai kembali mimpinya yang tertunda.


Hannum mulai kembali menulis dan memasukkannya ke dalam Aplikasi Online dengan menceritakan pengalaman pribadinya sendiri dalam bentuk Novel.


“Aku harap orang-orang yang membaca Novelku dapat menarik pelajaran dari dalam Novelku untuk tidak pernah menerima wanita manapun di dalam rumahnya termasuk Adik Kandung sendiri!” ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang sedih.


#Bersambung#


Bagaimana karir Hannum di masa depan? Apakah Pengadilan memenuhi permintaan cerai Hannum? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..

__ADS_1


__ADS_2