Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 34. Menekan Ego


__ADS_3

Hannum yang menyadari bahwa kondisi Ibunya semakin parah seiring berjalannya waktu membuat Hannum memikirkan ulang keputusan Ibunya.


"Apakah sebaiknya aku menghubungi Zarrah untuk kembali? Aku tidak bisa melihat Ibu menderita setelah kepergian Zarrah!" ucap Hannum dengan wajah yang bingung.


"Aku adalah seorang Ibu dan aku pun tak bisa jauh dari Rere. Apakah aku terlalu egois membuat Ibu kehilangan satu Putrinya?" ucap Hannum lagi.


"Tapi apakah aku sanggup bertemu dan melihat wajahnya? Peselingkuhannya dengan Mas Alvin sungguh membuatku hancur!" ucap Hannum dengan wajah yang sedih.


Di saat Hannum sedang terduduk memikirkan semuanya tiba-tiba terdengar suara Ibu Wati yang sangat keras dari dalam kamarnya sehingga membuat Hannum berlari mencaritau.


"Ibu! Ada apa?" tanya Hannum yang buru-buru berlari ke kamar Ibu Wati dengan wajah cemas dan suara yang meninggi.


"Ibu tidak sengaja menjatuhkan benda. Ibu sedang mencari uang simpanan Ibu. Ibu mau pergi ke pasar. Ibu lihat Zarrah nafsu makannya kurang jadi Ibu mau belikan makanan kesukaannya jadi nafsu makannya bisa kembali lagi!" ucap Ibu Wati dengan wajah yang bahagia.


"Ibu tidak perlu ke pasar karena Zarrah tidak akan pernah memakannya lagi!" ucap Hannum dengan suara yang tegas sambil menggigit bibir bawahnya menahan emosinya.


"Apa maksudmu Zarrah tidak kembali lagi? Zarrah pasti kembali, Zarrah hanya pergi bermain dengan temannya atau jangan-jangan kamu mulai mengajak Adikmu itu bertengkar lagi jadi Zarrah ngambek tidak mau pulang!" ucap Ibu Wati dengan nada suara yang meninggi dan wajah yang marah.


Hannum yang melihat Ibunya semakin marah setelah mendengar perkataannya menjadi takut tapi Hannum yang tak ingin Ibunya tetap berada dalam ilusinya memberitau kenyataannya.


Ibu Wati yang bingung antara kenyataan dan kepalsuan memukul kepalanya dengan tangannya sendiri yang membuat Hannum ikut kebingungan.


"Ibu! Tenanglah! Ibu! Aku mohon!" ucap Hannum dengan nada suara yang terdengar memelas dengan air mata yang terus mengalir ke pipinya tanpa henti.


Ibu Wati yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Zarrah yang merupakan Putri tersayangnya telah diusir dari rumah ternyata memberikan pukulan berat pada Ibu Wati yang membuatnya menjadi anak kecil.


Ibu Wati yang telah menjadi orang yang pikun tidak bisa mengendalikan diri waktu buang air besar dan buang air kecil sehingga membuat Ibu Wati selalu ngompol sehingga membuat Hannum memberikan Ibu wati pempers orang dewasa.

__ADS_1


Namun Ibu Wati yang tidak nyaman menggunakan pempers dewasa selalu melepaskannya sehingga membuat Hannum terpaksa harus membersihkan tempat yang menjadi kebocoran Ibu Wati.


Sementara itu, Alvin yang berjauhan dari Hannum ternyata tidak berhenti menghubungi Hannum meminta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan mereka tapi Hannum yang belum bisa melupakan semua penghianatan dengan cepat mengalihkan pembicaraan.


"Maaf Mas. Aku sibuk. Ibu memanggil. Aku tutup dulu. Jangan lupa lihat apakah Rere ada tugas atau pekerjaan rumah dari sekolahnya setiap hari!" ucap Hannum dengan suara dan wajah yang datar lalu mematikan telepon sebelum mendengar jawaban dari Alvin.


Hannum yang tidak bisa percaya sepenuhnya pada Alvin mengenai urusan mengurus Rere pun meminta bantuan Mbak Yura.


Mbak Yura yang merasa bersalah karena tidak mengatakan yang dilihatnya lebih awal dengan cepat mengiyakan permintaan Hannum.


“Terima kasih banyak, Mbak. Hannum sangat berhutang budi!” ucap Hannum dengan suara yang lembut dan meneduhkan.


“Apa yang kamu katakan, Num? Mbak tidak merasa terbebani sama sekali. Mbak justru merasa bersalah karena tidak mengatakan ini padamu sejak awal! Maafkan Mbak!” ucap Mbak Yura dengan wajah yang merasa sangat bersalah.


“Aku tidak pernah menyalahkan Mbak dan semuanya juga sudah terjadi. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi sekarang!” ucap Hannum yang telah ikhlas menerima semua takdir yang datang padanya.


“Hannum minta tolong jagain Rere selama Hannum ada di Malang!” ucap Hannum dengan suara yang merendah seolah sungguh-sungguh meminta pertolongan.


Hannum yang merasa sangat lega mendengarnya pun mematikan telepon dan menarik nafas panjang.


Sementara itu, Ibu Nissa yang merasa Hannum adalah wanita shalehah yang akan sangat cocok jika bersama Andika memutuskan untuk mengajak Andika pergi ke Malang mengunjungi Hannum.


Andika yang simpati dengan semua masalah yang dihadapi Hannum dengan cepat mengiyakan permintaan Ibunya.


Ibu Nissa yang tidak ingin menjadi tamu yang tiba-tiba datang dan tak diundang pun memutuskan untuk memberitau Hannum akan niatnya itu.


Hannum yang merasa menemukan sosok Ibu di saat masa tersulitnya saat ini dengan senang hati menerima kehadiran Ibu Nissa.

__ADS_1


“Hannum, Andika saat ini sedang libur dan Mama juga sedang tidak sibuk. Apa boleh Mama ke Malang melihat kondisi Ibumu?” tanya Ibu Nissa dengan suara yang lembut.


“Silahkan, Ma. Hannum akan siapkan kamarnya untuk Mama dan Mas Dika!” ucap Hannum dengan suara yang terdengar ceria.


Ibu Nissa yang datang dengan menggunakan pesawat terbang pun akhirnya sampai dengan cepat dan segera meluncur menuju kediaman Hannum di Malang.


Ibu Nissa yang melihat sendiri kondisi Ibu Wati yang terlihat sangat depresi karena kepergian Zarrah pun merasa kasihan pada Hannum.


“Hannum, Mama tau ini adalah masa yang sulit bagimu tapi Mama harap kamu tidak lupa kalau kamu tidak sendiri!” ucap Ibu Nissa dengan suara yang lembut sambil menggenggam tangan Hannum dengan Andika yang duduk tak jauh dari keduanya


“Mama tau jika hubungan kita ada karena Pernikahan Andika dan Zarrah tapi Mama tidak mau jika hubungan ini ikut putus karena Pernikahan ini juga harus diputuskan!” ucap Ibu Nissa lagi sambil menguatkan Hannum.


“Mama sudah anggap Hannum sebagai anak perempuan Mama jadi Hannum jangan sungkan sama Mama ya!” ucap Ibu Nissa yang tanpa sadar membuat hati Hannum terasa hangat dan tersentuh.


Hannum yang merasakan ada orang lain yang menyayanginya selain Ayahnya yang telah tiada tanpa sadar meneteskan air mata di dalam pelukan Ibu Nissa.


Ibu Nissa yang tau seberapa berat beban yang harus dihadapi Hannum saat ini hanya bisa mendoakan dan menguatkan Hannum.


“Andai kamu yang menikah dengan Andika. Mama pasti akan sangat senang!” ucap Ibu Nissa dalam hati sambil menahan perasaan marahnya mengingat semua yang dilakukan Zarrah pada Andika dan Hannum.


Ibu Nissa yang tidak bisa tinggal di Malang lebih lama lagi pun kembali ke Ibukota dan membuat Hannum berdua kembali dengan Ibu Wati.


“Hati-hati di jalan, Ma. Semoga sampai dengan selamat!” ucap Hannum yang mengantar kepergian Ibu Nissa dan Andika dari depan halaman rumah.


Hannum yang sendirian di rumah bersama Ibu Wati pun mulai memikirkan tindakannya selanjutnya setelah melihat kondisi Ibu Wati semakin memburuk hingga akhirnya membuat Hannum membuat keputusan sulit dengan menekan perasaannya demi kebaikan wanita yang telah melahirkannya.


“Aku harus membawa Zarrah kembali! Aku tidak boleh egois! Ibu membutuhkan Zarrah! Ibu membutuhkan anaknya!” ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam dan tekad yang kuat.

__ADS_1


#Bersambung#


Apa yang akan dilakukan oleh Hannum untuk membawa Zarrah kembali? Apakah Ibu Wati akan kembali pulih setelah bertemu dengan Zarrah? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...


__ADS_2