Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 12. Kecelakaan


__ADS_3

Hanum yang mendapatkan ajakan dari temannya untuk berkumpul setelah lama tidak bertemu pun meminta izin kepada Alvin.


“Mas, apa boleh aku pergi dengan teman-teman kuliahku sebentar saja? Mereka terus memaksaku untuk pergi dengan mereka.” Ucap Hannum dengan wajah yang bingung sambil duduk di sambil Alvin yang sedang mengerjakan proyek di ruang tamu.


“Tentu saja, boleh. Pergilah! Apa mau Mas tambahkan uang jajanmu?” tanya Alvin dengan senyum yang lembut.


“Tidak perlu Mas. Aku tidak akan pergi belanja. Kami hanya akan makan-makan dan mengobrol!” ucap Hannum dengan senyum yang lebar.


Hannum yang mendapatkan izin dari Alvin pun menjadi sangat senang dan dengan cepat mengambil handphonenya lalu menghubungi teman kuliahnya dulu.


“Halo, Silvia. Aku sudah dapat izin dari Mas Alvin. Mau ketemuan langsung di tempat atau gimana?” tanya Hannum dengan semangat yang membara.


“Hmmm, aku harus pergi ke Bank dulu jadi kita langsung ketemu di tempat makan saja!” ucap Silvia dengan nada suara yang seolah sedang berpikir.


“Baiklah kalau begitu. Sampai berjumpa nanti!” ucap Hannum dengan wajah yang berseri-seri bahagia dengan senyum yang lebar.


Hanum yang tidak ingin meninggalkan Alvin dengan rumah yang masih berantakan dengan piring yang kotor serta tak ada makanan di meja makan pun bergegas menyelesaikan semuanya sebelum pergi.


“Aku akan membersihkan rumah dan memasak untuk makan siang dulu jadi saat aku pergi rumah sudah rapi dan ada makanan saat Mas Alvin lapar!” ucap Hannum dengan tekad yang kuat.


Hannum yang telah terbiasa melakukan semuanya sendiri bahkan tanpa bantuan Zarrah meskipun Zarrah ada di rumah pun dapat menyelesaikan semuanya hanya dalam waktu satu jam.


Hannum yang melihat waktu janjiannya dua jam lagi pun mulai bersiap-siap dan pergi meninggalkan rumah.


“Maafkan Mas yang tidak bisa mengantarmu pergi karena deadline pekerjaan Mas sedang menunggu!” ucap Alvin dengan wajah yang sedih.


“Tidak apa-apa, Mas! Aku bisa pergi sendiri.” Ucap Hannum dengan senyum yang menenangkan.

__ADS_1


“Hmmm, Mas! Rere pulangnya sore karena katanya ada tugas kelompok di sekolah dan Zarrah juga akan pulang sore jadi kalau Mas lapar. Mas ambil saja makanannya di meja makan. Semuanya sudah Hannum rapikan!” ucap Hannum dengan wajah yang terlihat buru-buru.


“Jangan khawatir. Mas bisa melakukan itu! Mas akan kembali ke kantor setelah urusan Mas selesai jadi pergilah!” ucap Alvin dengan senyum lembut sambil membelai jilbab Hannum.


Hannum yang mendengar perkataan Alvin pun memutuskan untuk pergi menemui Silvia meski secara tiba-tiba muncul perasaan cemas dan khawatir yang berlebihan di hatinya.


“Baiklah jika seperti itu! Aku pergi dulu ya, Mas. Assalamualaikum!” ucap Hannum sambil mencium tangan Alvin dan pergi menaiki taksi online yang telah menunggunya di depan rumah selama hampir lima menit.


Hannum yang sedang duduk di kursi belakang pun semakin lama semakin tidak tenang meninggalkan Alvin sendirian tapi Hannum yang percaya pada Alvin pun menepis perasaan tidak nyamannya.


“Hah! Ada apa denganku? Kenapa jantungku berdetak sangat cepat? Kenapa aku merasa sangat tidak tenang? Apa yang akan terjadi sebenarnya?” tanya Hannum pada dirinya sendiri dengan wajah yang tidak tenang hingga membuat Supir yang mengantarnya ikut cemas.


“Hmmm, tidak akan terjadi apapun. Aku harus tenang dan menikmati waktu tenangku!” ucap Hannum dalam hati dengan tekad yang kuat setelah memberi jawaban kepada Supir bahwa dirinya baik-baik saja.


Sementara itu, Zarrah yang sedang dalam perjalanan menuju kampusnya setelah selesai memfotokopi tugas kuliahnya secara tak terduga ada motor yang datang ke arahnya.


“Aaaarrrgghhhh!” teriak Zarrah dengan sangat keras tapi orang yang menabrak ternyata telah pergi meninggalkan Zarrah yang terluka.


Zarrah yang tidak mengalami luka yang serius pun tidak bisa berjalan dengan lancar akhirnya memutuskan untuk meminta izin untuk tidak kuliah kepada Dosen yang bersangkutan.


“Hah! Aku sudah menyelesaikan tugas ini dengan sangat baik tapi aku justru tidak bisa mengumpulkannya secara langsung karena pengemudi s*alan itu!” gumam Zarrah dengan wajah yang marah.


“Aarrgghh! Kakiku sakit sekali! Awas saja jika aku tau orangnya. Aku pasti akan membuat perhitungan dengannya!” ucap Zarrah dengan wajah yang meringis kesakitan.


Zarrah yang tidak ingin dibilang berbohong dan takut tidak masuk kuliah karena tidak mengumpulkan tugas pun mengirimkan foto saat dirinya terluka ke Dosen dan mengirimkan tugasnya dengan menggunakan jasa kirim.


Zarrah yang kesulitan berjalan pun memutuskan untuk pulang ke rumah dengan menggunakan taksi online karena tak ingin bersama dengan Andika.

__ADS_1


“Hmmm, sebaiknya aku pesan taksi online. Aku tidak mau merepotkan Mas Dika. Aku kan hanya memanfaatkannya untuk menipu Mbak Hannum tentang hubunganku dengan Mas Alvin!” gumam Zarrah dengan wajah yang cuek.


“Daripada bersama Mas Dika yang lemah seperti itu lebih baik dengan Mas Alvin yang tampan dan maco. Hmmm, tubuhnya yang besar itu pasti akan sangat kuat menggendong tubuhku ini!” ucap Zarrah yang membayangkan dirinya digendong Alvin di saat terluka seperti sekarang ini.


Zarrah yang terluka pun akhirnya sampai di rumah dan berjalan menuju kamarnya dalam kondisi kaki yang pincang.


Alvin yang masih ada di dalam rumah pun menjadi terkejut saat melihat Zarrah berjalan dengan kaki terpincang.


“Zarrah! Kamu kenapa? Kenapa jalanmu seperti itu?” tanya Alvin dengan nada suara dan wajah yang cemas.


“Agh, aku menjadi korban tabrak lari, Mas. Aku jatuh dan lututku menyentuh aspal. Rasanya sakit sekali, Mas!” ucap Zarrah dengan suara yang manja dengan wajah yang meringis kesakitan.


Alvin yang tidak tega melihat Zarrah yang menderita pun langsung datang menolong dengan mengambil tas Zarrah dan memapahnya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


“Hati-hati! Tunggu di sini! Mas akan ambil Kotak Obat P3K untuk mengobati lukamu!” ucap Alvin dengan terburu-buru lalu keluar dari kamar Zarrah.


Zarrah yang melihat Alvin mengkhawatirkannya pun menjadi sangat senang dan hatinya pun menjadi berbunga-bunga.


Alvin yang telah datang dengan membawa Kotak Obat P3K pun mengambil kapas dan meletakkan betadin di atasnya.


Namun saat Alvin ingin meletakkan obat merah itu di luka Zarrah, Alvin melihat Zarrah menaikkan rok panjangnya hingga ke atas paha dan menunjukkan paha mulus serta putih milik Zarrah.


Alvin yang sudah sangat tergoda sejak awal saat melihat kulit putih dan bersih milik Zarrah serta buah d*da yang besar yang selalu terlihat saat Zarrah menundukkan tubuhnya pun mendekati Zarrah dan mencium bibir Zarrah.


Zarrah yang mendapatkan c*uman mendadak dari Alvin pun menjadi terkejutt tapi kenikmatan setiap kecupan Alvin serta pelukan hangat Alvin membuat Zarrah tak bisa menolaknya hingga keduanya pun di mabuk asmara.


#Bersambung#

__ADS_1


Apa yang akan terjadi di antara Zarrah dan Alvin nantinya? Akankah niat Alvin menolong Zarrah hanya akan berakhir pada sebuah ciuman ataukah lebih? Tebak jawabannya di kolom komentar.


__ADS_2