
Hannum yang melihat Rere tertidur dengan cepat mengambil pakaian milik Rere dan meletakkannya ke dalam koper lalu membangunkan Rere untuk pergi bersamanya.
Hannum yang telah memesan taksi online bergegas pergi bersama Rere menuju tempat yang telah ditentukannya.
Alvin dan Andika yang melihat Hannum membawa Rere pergi dengan koper besar menjadi sangat terkejut.
Alvin yang tak ingin kehilangan Hannum dan baru saja menyadari kesalahan yang telah dibuatnya mencoba menghentikan Hannum tapi Hannum tidak menghiraukannya dan bergegas pergi.
"Dek, jangan pergi! Mas minta maaf! Maafkan Mas, Dek. Mas mohon jangan tinggalkan Mas!" ucap Alvin dengan wajah yang memohon dengan tatapan mata yang berkaca-kaca sambil memegang koper yang dibawa oleh Hannum.
"Lepaskan!" ucap Hannum dengan suara yang berat dan tegas serta tatapan mata yang tajam yang membuat Alvin terdiam seolah panah tajam mengarah arahnya disebabkan sorotan mata Hannum.
Rere yang bingung dan tak tau apapun yang terjadi mencoba menolak pergi tapi Hannum yang tak ingin meninggalkan Rere pada Alvin yang menurutnya tak pantas menjadi Ayah pun memaksa Rere ikut dengannya.
"Ngak mau! Rere ngak mau pergi! Rere mau tetap disini!" teriak Rere dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Rere harus ikut dengan Mama. Rere tidak boleh tinggal di sini!" ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang sedih.
Rere yang tidak senang dipaksa oleh Hannum hanya bisa menangis sepanjang perjalanan bahkan Rere pun tetap menangis meski telah sampai di tempat tujuannya.
Hannum yang memiliki tabungan di rekeningnya selama ini pun memutuskan untuk menginap di Hotel sementara waktu untuk menenangkan pikirannya.
"Rere tidak mau tinggal disini, Ma. Rere mau pulang! Rere mau pulang! Rere mau papa!" ucap Rere dengan teriakan yang keras dengan ekspresi wajah yang marah.
"Rere boleh marah, kesal, ataupun sedih tapi Mama tetap tidak akan membawa Rere kembali sama Papa. Sekarang Rere tidak akan mengerti tapi nanti Mama yakin Rere pasti akan mengerti!" ucap Hannum yang membiarkan Rere yang merajuk berlari menuju tempat tidur.
Hannum yang memilih kamar yang ada ruang tamunya pun terduduk di bawah sambil bersandar di sofa mengingat kembali semua yang terjadi padanya.
"Kenapa kamu tega sekali Mas? Apakah tidak ada perempuan lain selain Zarrah? Kenapa harus Zarrah, adik kandungkku sendiri, Maa?" tanya Hannum dengan hati yang hancur.
Hannum yang merasa dadanya sangat sesak karena tidak memiliki tempat lain untuk cerita pun menghubungi temannya dan menceritakan semuanya kepada Selviana.
__ADS_1
"Sel, aku keluar dari Rumah Mas Alvin!" ucap Hannum dengan suara yang tersedu-sedu dengan air mata yang mengalir ke pipinya.
"Tu-Tunggu! Maksud kamu apa, Num? Apa kamu sudah menemukan bukti yang kau cari itu?" tanya Selviana dengan ekspresi wajah yang penasaran.
"Ya, aku menemukannya dan kenyataannya sungguh menyakitkan!" ucap Hannum dengan suara yang bergetar dengan air mata yang tak berhenti keluar.
"Mas Alvin sungguh memiliki wanita lain di hatinya dan wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Zarrah, Adik Kandungkku sendiri!" ucap Hannum dengan air mata yang keluar semakin banyak.
"A-apa? Apa kau serius? Kau tidak salah lihat atau salah baca, kan?" tanya Selviana yang menunjukkan ketidakpercayaannya pada kenyataan yang sangat sulit diterima akal sehat.
"Aku tidak salah orang atau apapun itu. Aku bahkan menemukan foto dan video mereka berduaan dengan sangat mesrah bahkan tanpa busana!" ucap Hannum dengan suara yang menggebu-gebu.
Selviana yang bingung harus mengatakan apa pada Hannum pun meminta Hannum untuk memberitau keberadaannya dan menunggu kedatangannya.
Hannum yang percaya pada selviana pun tanpa pikir panjang memberitau alamat keberadaannya dan menunggu kedatangan Selviana sambil menemani Rere tidur.
"Maafkan Mama, Nak. Mama salah karena telah mengambil hakmu untuk memiliki keluarga yang utuh seperti temanmu yang lain!" ucap Hannum dengan suara yang perlahan dengan air mata yang tak kuasa di tahannya.
Hannum yang sangat sedih tapi tak ingin membuat Rere terbangun pun berlari ke ruang tamu dan terduduk di lantai sambil bersandar di sofa menangis sejadi-jadinya di sana.
Setengah jam berlalu, Hannum yang kehabisan tenaga karena menangis hanya terdiam dan termenung menatap langit kamar hotel yang disewanya.
"Kenapa nasibku seperti ini, Ya Tuhan? Aku yang tak bisa tumbuh dengan kasih sayang seorang Ayah karena Ayahku telah tiada akhirny menemukan sosok Seorang Ayah pada diri Mas Alvin!" gumam Hannnum dengan wajah yang datar.
"Aku hanya berharap dapat hidup bahagia bersama keluarga kecilku hingga maut memisahkan dan bisa memberikan kebahagiaan memiliki keluarga yang utuh untuk anakku agar mereka tak merasakan yang aku rasakan dulu!" ucap Hannum lagi dengan wajah yang sedih
"Lalu kenapa? Kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa kau hancurkan pandangan baikku padamu Mas? Kenapa kau hancurkan impian dan harapan kecilku?" tanya Hannum dalam hati dengan setetes air mata yang keluar dari pelipis mata Hannum.
Sementara itu, Zarrah yang kabur dari rumah Hannum dan Alvin tak disangka kembali ke Malang ke rumah orangtuanya tanpa membawa apapun.
Zarrah yang tak banyak bicara bergegas masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamarnya lalu menguncinya karena tak ingin ada siapapun yang mengganggunya.
__ADS_1
Ibu Wati yang terkejut melihat Zarrah pulang ke Malang sendirian tanpa ditemani Andika dan tanpa membawa apapun menjadi curiga.
"Nak, kenapa kamu pulang sendiri? Ada apa Nak? Apa kamu ada masalah dengan Nak Dika?" tanya Ibu Wati dengan suara yang pelan dengan wajah yang cemas sambil mengetuk pintu kamar Zarrah berulang kali.
"Hah! Ada apa ini? Kenapa Zarrah pulang tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu?" tanya Ibu Wati pada dirinya sendiri yang berhenti mengetuk pintu kamar Zarrah karena tak mendapatkan jawaban apapun bahkan setelah puluhan kali dirinya memanggil.
Ibu Wati yang mengetahui bahwa pernikahan Zarrah dan Andika terjadi tanpa ada restu dari Ibu Nissa yang merupakan Ibu Kandung dari Andika yang ternyata tidak menyukai Zarrah sejak awal.
"Apa Zarrah pulang ke Malang karena bertengkar dengan Ibu Nissa dan Nak Dika tidak membelanya sama sekali?" ucap Ibu Wati yang menduga-duga alasan kepulangan Zarrah secara mendadak.
"Aku tidak boleh diam saja. Jika benar itu yang terjadi maka aku harus memberitau Mertua Zarrah untuk tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga Zarrah dan Nak Dika! Aku tidak bisa melihat pernikahan yang baru seumur jagung kandas di tengah jalan!" ucap Ibu Wati yang membulatkan tekadnya.
Ibu Wati yang telah membuat keputusan pun mengambil handphonenya lalu menghubungi besannya untuk meminta penjelasan kepulangan Zarrah secara tiba-tiba.
Namun tidak disangka Ibu Wati yang telah berpikir negatif kepada besannya berubah menjadi sangat terkejut saat Ibu Nissa mengatakan kebenarannya.
"Hallo. Maaf mengganggu. Aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya ingin tau apa yang terjadi pada Zarrah. Kenapa dia pulang ke Malang sendirian tanpa bersama Andika?" tanya Ibu Wati dengan ekspresi wajah yang cemas.
"Bu, kita ini sudah tua dan anak kita sudah menikah. Bukankah lebih baik bagi kita untuk tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga anak kita? Aku tau bahwa Ibu tidak menyukai Zarrah sejak awal tapi sekarang mereka sudah menikah jadi sudah sebaiknya Ibu merasa lebih ikhlas dengan situasi ini!" ucap Ibu Wati yang mulai menggurui Ibu Nissa.
Ibu Nissa yang sudah mengetahui semua yang tejadi dan melihat semua bukti yang ditunjukkan Andika kepadanya tanpa memiliki rasa empati sama sekali dengan mudahnya tertawa dengan sangat keras saat mendengar setiap kata yang diucapkan Ibu Nissa.
"Jangan mencoba menceramahiku, wahai Ibu Besan yang terhormat! Daripada kau menceramahiku lebih baik kau tanyakan kepada Putri tersayangmu itu, ada hubungan apa dia dengan Kakak Iparnya?" sindir Ibu Nissa dengan kata-kata yang pedas.
"Sandiwara apa yang dimainkan Putrimu dan Kakak Iparnya selama ini? Lalu daripada kau memikirkan anakmu yang tidak tau diri itu lebih baik kau pikirkan Putri Sulungmu yang sedang hancur saat ini karena mengetahui perselingkuhan Zarrah dan Alvin yang bahkan telah sering berhubungan int*m!" ucap Ibu Nissa dengan wajah yang marah dan nada suara yang meninggi.
Ibu Wati yang mendengar perkataan dari Ibu Nissa pun tak bisa berkata-kata lagi hingga handphone yang ada di tangannya terlepas begitu saja dan kaki yang berdiri tegap tiba-tiba terasa sangat lemas hingga membuatnya terduduk di lantai dengan wajah tak percaya.
#Bersambung#
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apakah Ibu Wati pada akhirnya akan mengetahui kenyataan pahit itu? Sikap apa yang akan diambil oleh Ibu Wati nantinya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..
__ADS_1