
Alvin yang terkejut mendengar suara ketukan dari luar saat dirinya baru saja melepaskan hasratnya bersama Zarrah dengan cepat memakai kembali celana dan pakaiannya.
Alvin yang melihat Zarrah terbaring di tempat tidurnya dengan santai sambil memainkan handphonenya merasa takut dan cemas tapi memutuskan untuk keluar menemui Zarrah.
Alvin yang khawatir Hannum akan mengetahui bahwa Zarrah ada di dalam kamarnya langsung menutup pintu sesaat setelah dirinya berada di luar.
"Ha-Hannum... A-Ada apa?" tanya Alvin dengan suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata yang khawatir.
"Kamu br*ngsek, Mas! Beraninya kamu menyembunyikan wanita lain di dalam kamar saat aku masih berstatus Istri Sah-mu bahkan kau tega melakukan itu saat aku ada disini!" ucap Hannum dalam hati dengan ekspresi wajah yang datar dengan tangan terkepal erat menahan emosi.
Namun keinginan dan harapan Alvin hancur begitu saja saat Zarrah dengan sengaja keluar dari kamar Alvin sambil menunjukkan beberapa sisa dari pergulatan mereka.
"Agh, ada Mbak Hannum disini! Ada apa Mbak? Mau bicara dengan Mas Alvin, ya? Aku pergi saja kalau begitu!" ucap Zarrah yang tiba-tiba keluar dengan wajah yang cuek yang dengan cepat mengubah wajah Alvin menjadi putih pucat.
Hannum yang melihat zarrah keluar dari kamar Alvin sambil memakai gaun malam yang mini dengan rambut yang berantakan serta bebeapa c*pang di lehernya membuat Hannum merasa sangat jijik.
"Tunggu! Aku juga perlu bicara denganmu!" ucap Hannum dengan suara yang datar sambil menatap lurus ke arah Zarrah.
Zarrah yang ingin melihat Hannum menangis ataupun marah-marah padanya karena melihatnya tidur bersama Alvin segera mengerutkan alisnya saat melihat respon Hannum yang datar.
"Aku ingin memberitau bahwa Ibu sudah tidak ada lagi di dunia ini! Ibu sudah tiada!" ucap Hannum dengan suara yang bergetar berusaha kuat mengabarkan berita duka itu.
Alvin yang sangat terkejut dengan kabar yang diucapkan Hannum berlari menuju kamar dan melihat selimut telah menutupi seluruh tubuh Ibu Wati.
"Ibu...!" panggil Alvin dengan suara yang lirih dengan ekspresi wajah yang sedih sambil menggenggam tangan Ibu Wati dengan sangat erat.
Alvin yang telah kehilangan Ibunya sejak kecil dan menjadi yatim piatu saat dirinya masih SMA merasa sangat bahagia saat mendapatkan Ibu Wati yang baik hati sebagai mertuanya karena menemukan sosok Ibu yang sangat diharapkannya sehingga meninggalnya Ibu Wati membuat alvin ikut merasa sedih.
Namun hal itu berbanding terbalik dengan Zarrah yang tidak meneteskan air mata apapun saat kepergian Ibu Wati dan hanya berdiri di belakang Alvin yang menangisi kepergian Ibu Wati.
__ADS_1
Alvin yang masih merupakan menantu keluarga itu pun bergegas ke Masjid terdekat untuk mengumumkan kepada masyarakat tentang kepergian Ibu Wati dan membantu semua persiapan penguburan.
Ibu Nissa yang bergegas ke Malang akhirnya sampai bersama Andika dan dengan cepat membantu semua yang dibutuhkan sebagai keluarga terdekat.
Hannum yang telah kehilangan dua tumpuan dalam hidupnya merasa sangat kosong dan sedih sehingga secara tak sadar Hannum kehilangan selera makannya dan sering melamun.
Ibu Nissa yang melihat Hannum sangat terpukul karena kehilangan Ibunya tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa menguatkan dan mendoakan.
"Yang sabar ya, Nak. Mama yakin kamu kuat." ucap Ibu Nissa dengan suara yang lembut sambil menepuk punggung Hannum dengan perlahan.
Hannum yang tidak bisa menahan air matanya pun menangis di dalam pelukan Ibu Nissa yang membuat Ibu Nissa merasa sangat tersentuh akan kebaikan Hannum.
"Ibumu sudah tenang disana. Ikhlaskan dan doakan dirinya!" ucap Ibu Nissa yang memberikan saran kepada Hannum yang masih berduka.
Tiga hari berlalu, Ibu Nissa yang ada di Malang selama Acara Takziah pun kembali pulang ke Ibukota karena Andika yang harus seger kembali bekerja.
“Nak, maaf ya. Mama harus kembali ke Ibukota. Jika Andika ada Istri yang shaleha seperti kamu. Mama tidak perlu kembali dan mengurusnya tapi semua terjadi seperti ini. Mungkin ini sudah takdir dari yang Maha Kuasa!” ucap Ibu Nissa dengan ekpsresi wajah yang sedih.
“Terima kasih, Ma. Hannum senang ada Mama di sini!” ucap Hannum yang kembali memeluk Ibu Nissa seperti menemukan sosok Ibu pada Ibu Nissa.
Andika yang melihat interaksi antara Hannum dan Ibu Nissa di depannya merasa sangat senang dan tersentuh.
“ Mbak Hannum adalah wanita yang sangat baik dan juga lemah lembut! Tega sekali Mas Alvin mengkhianati Mbak Hannum dengan menusuknya dari belakang bersama Zarrah yang merupakan Adik Kandung Mbak Hannum!” ucap Andika dalam hati dengan ekspresi wajah yang marah.
“Andai Mbak Hannum adalah Istriku. Aku pasti akan merasa sangat bahagia dan begitu pula dengan Ibuku yang sangat menginginkan Anak Perempuan!” ucap Andika dalam hati yang dengan cepat membuat Andika menggelengkan kepalanya merasa jika pikirannya tidaklah pantas.
“Apa yang aku katakan? Aku masih belum bercerai secara Negara dan Mbak Hannum masih bertatus Istri orang lain. Aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak!” ucap Andika dalam hati yang tiba-tiba berdiri menuju pintu keluar mencoba menenangkan pikirannya yang rumit.
Setelah kepergian Ibu Nissa dan Andika, Hannum yang ada di rumah itu bersama Zarrah dan Alvin pun memikirkan kembali yang dikatakan Ibu Nissa padanya.
__ADS_1
“Aku tidak bisa mengambil keputusan untuk semua yang dilakukan Mas Alvin dan Zarrah di belakangku bahkan perbuatan mereka saat Ibu sedang sekarat!” ucap Hannum yang terduduk di tempat tidurnya sambil menatap keluar jendela.
“Aku tidak ingin memikirkan masalah ini karena sangat berduka atas meninggalnya Ibu tapi Ibu sudah tiada dan telah dikuburkan juga. Sekarang adalah waktu yang tepat menyelesaikan ini semua!” ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang dingin.
Di saat Hannum telah membulatkan pikirannya tiba-tiba Zarrah masuk ke dalam kamar Hannum tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Mbak!” teriak Zarrah dengan suara yang meninggi dengan ekspresi wajah yang sombong dengan tangan terlipat di dada.
“Apa kau tidak belajar etika kesopanan? Apakah kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk?” sindir Hannum dengan tatapan mata yang tajam.
“Apakah itu penting sekarang?” jawab Zarrah dengan ekspresi wajah yang cuek dengan sikap yang sangat tidak peduli dengan protes Hannum.
“Aku datang karena ingin meminta Mbak Hannum untuk segera bercerai dari Mas Alvin karena aku ingin segera naik ranjang!” ucap Zarrah dengan ekspresi wajah yang serius.
Hannum yang mendengar perkataan Zarrah pun tertawa dengan sangat keras karena tidak menyangka jika Zarrah sangat murahan.
“Hahaha.... Segera naik ranjang? Bukankah kau sudah naik ranjang Mas Alvin bahkan saat kami masih sepasang suami istri? Kau bahkan tidak malu melakukan hubungan int*m saat Ibu sedang sakit dan menghadapi sakaratul mautnya?” sindir Hannum yang dengan cepat membuat wajah Zarrah merah padam antara marah atau malu.
“Tapi jangan khawatir. Aku tidak berniat melanjutkan pernikahan dengan seorang Pezinah. Aku akan segera menceraikan Mas Alvin!” ucap Hannum yang berdiri berhadapan dengan Zarrah dengan tangan yang juga terlipat di dada.
“Kau sudah mendengar pernyataanku jadi sebaiknya kau keluar sekarang! Aku tidak ingin melihat wajahmu di sini!” ucap Hannum dengan kata-kata yang kasar.
Zarrah yang tidak ingin berdebat dengan Hannum karena tak ingin Hannum mengubah keputusannya pun berbalik arah dan keluar dari kamar Hannum sambil membanting pintu dengan sangat keras.
Hannum yang melihat sikap Zarrah padanya dan sorot mata Zarrah yang tak pernah diketahuinya selama ini merasa sangat sedih.
“Maafkan Hannum, Bu. Semoga Ibu dan Ayah tenang disana!” ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang sedih dengan tangan di kepala karena rasa sakit yang menyerang kepala Hannum secara tiba-tiba.
#Bersambung#
__ADS_1
Bagaimana langkah Hannum untuk bisa bercerai dari Alvin? Akankah Alvin setuju menceraikan Hannum? Tebak jawabannya di kolom komentar...