
Hanum yang harus pergi ke Sekolah Rere karena akan ada rapat orangtua setiap tiga bulan sekali pun meminta izin kepada Alvin.
“Mas, kamu belum pergi kerja apa?” tanya Hanum sambil merapikan pakaiannya dengan wajah yang bingung.
“Mas masih ada pekerjaan yang belum selesai mungkin sekitar dua jam lagi Mas akan pergi ke kantor!” ucap Alvin dengan santai sambil tetap memandang layar laptop yang ada di depannya.
“Hmm, aku harus pergi ke Sekolah Rere. Mas tidak masalah apa di rumah sendirian?” tanya Hanum dengan wajah yang cemas.
“Zarrah sudah berangkat kuliah dan pulangnya sore. Aku akan pulang siang nanti setelah rapatnya selesai!” ucap Hanum dengan terburu-buru.
“Mas tidak apa-apa. Kamu pergi saja. Setelah urusan Mas selesai, Mas akan langsung berangkat kerja!” ucap Alvin dengan nada suara yang mencoba menenangkan Hanum yang sedang cemas.
“Agh, baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu ya, Mas!” ucap Hanum yang telah rapi dan siap untuk pergi ke Sekolah Rere.
Satu jam berlalu, saat Hanum pergi ke Sekolah Rere tiba-tiba Zarrah yang sedang kuliah pulang ke rumah dan melihat Alvin yang sedang duduk di ruang tamu.
“Mas kok ada di rumah di jam segini. Mas tidak berangkat kerja apa?” tanya Zarrah dengan wajah yang penasaran.
“Mas masih ada sedikit pekerjaan yang belum selesai. Nanti Mas akan segera ke kantor setelah semuanya selesai.” Ucap Alvin dengan nada suara yang lembut.
“Kamu kenapa pulangnya cepat sekali? Kata Hanum, kamu pulangnya sore.” Ucap Alvin dengan wajah yang bingung.
“Agh, tugas kuliahku ketinggalan jadi aku pulang dulu ke rumah mumpung jam kuliahnya dimundurkan di siang hari!” ucap Zarrah dengan wajah yang penasaran.
__ADS_1
Zarrah yang melihat Alvin duduk di depan layar laptopnya pun menjadi semakin kagum pada Alvin sehingga membuat Zarrah ingin bicara dengan Alvin selalu.
“Hmmm, Mas aku tadi belajar tentang investasi. Benar tidak Mas kalau Emas itu sebagai Investasi yang merugikan jika dijual dalam waktu kurang dari satu tahun?” tanya Zarrah dengan wajah yang bersinar dengan rasa ingin tau yang tinggi.
Alvin yang tidak memiliki pikiran buruk pun melayani semua rasa ingin tau Zarrah dan menjawab semua pertanyaan.
Zarrah yang menyadari bahwa Alvin adalah pria yang sangat pintar dengan wawasan yang tinggi pun semakin kagum.
Zarrah yang sangat ingin selalu di dekat Alvin pun memajukan wajahnya hingga akhirnya keduanya pun berc*uman.
C*uman itu awalnya hanya c*uman singkat tapi berlanjut semakin mesrah hingga akhirnya membuat Alvin mendorong Zarrah menjauh darinya.
“Astaghfirullah! Apa ini Dek? Ini salah! Kita tidak seharusnya melakukan ini!” ucap Alvin dengan suara yang tinggi lalu mengelap bibirnya dengan lengan pakiannya.
Alvin yang merasa takut dan bersalah kepada Hanum karena telah berc*uman dengan Zarrah pun mengambil laptop dan semua pekerjaannya lalu pergi ke kantor meninggalkan Zarrah di tempatnya.
Zarrah yang ditinggal sendirian di rumah oleh Alvin pun langsung menutup pintu pagar dan rumah lalu masuk ke dalam kamarnya.
“Aaarrgghhh! Kenapa aku bisa melakukan itu dengan Mas Alvin?” tanya Zarrah dengan wajah yang bersalah sambil memeluk bantal tidurnya.
“Bagaimana pandangan Mas Alvin tentangku sekarang? Kenapa aku memberikan c*uman pertamaku kepada pria lain yang bukan Suamiku tapi Suami Kakakku?” ucap Zarrah dengan air mata yang mengalir di pipinya.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tau ini semua salah tapi perasaan ini tidak bisa aku kendalikan!” ucap Zarrah yang mencoba membenarkan tindakannya sebelumnya.
__ADS_1
“Aku tidak bisa menahan diriku untuk jatuh cinta kepada Mas Alvin yang begitu baik hati, sholeh dan bertanggung jawab. Aku menemukan sosok Ayah pada diri Mas Alvin!” ucap Zarrah dengan wajah yang sedih hingga akhirnya tertidur di dalam kamar.
Di siang hari, Hanum yang telah pulang ke rumah pun menyadari bahwa rumahnya tidka di kunci tapi tidak ada mobil Alvin di rumah pun menjadi penasaran.
“Kenapa pintu pagar dan pintu rumah tidak dikunci tapi tidak ada mobil Mas Alvin di rumah? Apa Zarrah sudah pulang kuliah tapi katanya akan pulang sore hari ini?” tanya Hanum dengan wajah yang penasaran.
Hanum yang bingung dan penasaran pun berjalan menuju kamar Zarrah dan mengetuk pintu kamarnya beberapa kali tapi tak ada jawaban sama sekali.
“Aneh sekali! Kenapa Zarrah tidak membalas panggilanku atau membuka pintu? Apa terjadi sesuatu pada Zarrah?” tanya Hanum dalam hati dengan wajah yang cemas.
“Dek! Apa kamu ada di kamar sekarang?” tanya Hanum dengan suara yang lembut lalu menarik nafas panjang dan menyerah kemudian pergi membiarkan Zarrah sendirian.
Sementara itu, Zarrah yang bingung dengan perasaannya dan sulit untuk bertemu dengan Hanum saat ini memilih untuk diam di dalam kamarnya sehari semalam.
Hanum yang penasaran dengan kondisi Zarrah pun meminta Rere untuk memanggil Zarrah untuk makan malam bersama tapi saat Rere datang jawaban yang sama yang didapatkannya.
“Tante tidak menjawab panggilan Rere, Ma. Rere sudah panggil lebih dari lima kali bahkan Rere sudah mengetuk pintu hingga tangan Rere sakit tapi tidak ada balasan, Ma!” ucap Rere dengan wajah yang sedih lalu duduk kembali ke tempatnya.
“Ya sudah. Nanti biar Mama yang datangi Tante Zarrah. Sekarang Rere makan saja, ya!” ucap Hanum dengan bujukan yang lembut.
“Ya, Ma!” jawab Rere dengan singkat lalu melanjutkan makannya dengan tenang.
Alvin yang ada di satu meja makan yang sama dan melihat Hanum menjadi sangat cemas hanya bisa menundukkan kepalanya dan pura-pura tak tau apapun.
__ADS_1
#Bersambung#
Apakah Zarrah dan Alvin menyesali perbuatan mereka? Bagaimana hubungan antara Alvin dan Zarrah ke depannya?