Adikku, Penghancur Pernikahanku

Adikku, Penghancur Pernikahanku
BAB 36. Kebencian yang Tersembunyi


__ADS_3

Zarrah yang pergi keluar sebentar karena ingin membeli sesuatu menjadi sangat kesal saat mendengar beberapa orang membicarakannya dari belakang.


"Apa sih? Beraninya bicara di belakang! Menyebalkan! Dasar tukang gosip!" ucap Zarrah dalam hati dengan wajah yang kesal dan ekspresi yang seolah menahan emosi.


Orang-orang yang tinggal di sekitar rumah Ibu Wati ternyata telah mengetahui semua yang terjadi antara Zarrah dan Alvin sehingga saat melihat Zarrah muncul mulut Ibu-Ibu tetangga tidak dapat dihentikan.


Meskipun Zarrah telah pergi dari pandangan mereka, pembicaraan mereka tak berhenti disana terutama saat mengetahui bahwa orang yang terlibat dalam hubungan terlarang itu ada dalam satu tempat.


Zarrah yang sangat kesal dengan kejadian yang menimpanya menjadi semakin emosi saat melihat pintu kamarnya terbuka dengan Hannum di dalamnya memegang barang pribadinya.


"Mbak Hannum!" teriak Zarrah dengan sangat keras dengan wajah yang marah sambil menarik komik dewasa miliknya dengan kasar.


Hannum yang terkejut dengan sikap Zarrah yang sangat kasar padanya menjadi tidak terima dan dengan mudah tersulut emosi.


"Apa maksud semua ini, Dek? Sejak kapan kamu punya komik-komik itu?" tanya Hannum dengan nada suara yang ditinggikan.


"Itu bukan urusan Mbak. Keluar dari kamarku sekarang!" usir Zarrah dengan wajah yang murka sambil menunjukkan jarinya ke arah pintu.


"Tidak! Mbak tidak akan keluar. Mbak harus tau masalah ini! Sejak kapan kamu mulai membaca komik-komik dewasa ini?" tanya Hannum dengan tekad yang kuat.


"Mbak tidak percaya ternyata selama ini kamu membaca komik dewasa seperti ini. Jika Mas Alvin tidak pernah bicara maka mbak selamanya pasti tidak akan tau. Sebenarnya apalagi yang kamu sembunyikan, Dek?" tanya Hannum dengan wajah yang tidak percaya.


Zarrah yang sudah terlanjur tersulut emosi sebelumnya karena perkataan orang-orang menjadi semakin emosi saat mendengar ucapan Hannum.


"Cukup! Mbak tidak perlu ikut campur urusan pribadiku karena aku tidak butuh saran ataupun nasehat dari Mbak!" ucap Zarrah dengan mata yang melotot tajam.


"Aku lelah. Aku lelah karena selama ini selalu dibandingkan dengan Mbak! Kenapa Mbak selalu dipuji dan aku selalu dituntut untuk lebih dari Mbak?" tanya Zarrah yang seketika membuat Hannum terdiam.

__ADS_1


"Aku tidak senang saat tetangga atau orang-orang membandingkan kita dan Mbak selalu saja diam seolah menikmati pujian itu! Apa Mbak tau kalau aku sangat membenci Mbak?" ucap Zarrah yang meluapkan emosinya.


Hannum yang tidak menyangka jika selama ini Zarrah menyimpan dendam dan amarah padanya seketika itu hati Hannum menjadi sangat sedih.


Zarrah yang sangat senang melihat Zarrah menderita ataupun bersedih mengingat rasa sakit hati dan bencinya kepada Hannum yang sangat besar membuat Zarrah tak berhenti disana saja.


"Apa Mbak tau jika aku dan Mas Alvin telah sering berhubgan int*m di belakang Mbak bahkan kamar Mbak dan Mas Alvin sering menjadi tempat kami berdua melepaskan benih-benih cinta kami berdua!" ucap Zarrah dengan senyum penuh kemenangan.


"Tak hanya kamar bahkan ruang tamu, ruang keluarga, dapur bahkan kamar mandi Mbak dan Mas Alvin telah menjadi tempat kami berc*nta!" ucap Zarrah lagi tanpa rasa malu.


Hannum yang mendengar perkataan Zarrah seketika mengingat kembali foto dan video perselingkuhan keduanya yang tak memakai busana apapun.


"Cukup! Hentikan! Aku tak mau mendengarkan apapun lagi!" ucap Hannum dengan suara yang keras dengan wajah yang sangat terkejut.


"Kenapa dihentikan? Mbak memasuki kamarku karena ingin tau semua yang aku sembunyikan, bukan? Jadi aku akan mengatakan semuanya!" ucap Zarrah dengan senyum licik.


"Apa Mbak tau apa yang kami lakukan disana? Tentu saja kami menghabiskan waktu yang indah berdua. Mas Alvin memperlakukanku dengan sangat baik dan lembut!" ucap Zarrah yang dengan sengaja bersikap seolah terbuai dengan kasih sayang Alvin padanya karena ingin membuat Zarrah semakin sedih.


"Apa Mbak tau jika Mas Alvin pernah bilang bahwa aku lebih memuaskan untuknya daripada Mbak Hannum karena Mbak Hannum tidak pernah berganti gaya dalam berc*nta! Monoton!" ucap Zarrah yang dengan sengaja menekankan pada kata terakhir.


Hannum yang sangat sakit hati atas perkataan Zarrah karena dibandingkan oleh suaminya dalam urusan ranjang membuat Hannum tak bisa menahan air mata yang keluar dari pelipis matanya.


Hannum yang menangis dengan wajah tidak percaya dengan pendengarannya tanpa sadar berjalan mundur beberapa langkah lalu terduduk dengan kaki tertekuk menahan kesedihan dan kekecewaannya.


Sementara itu, Ibu Wati yang berada di dalam kamarnya bergegas ke kamar Zarrah saat mendengar berteriak dengan kata-kata yang kasar.


Ibu Wati yang melihat Hannum terduduk dengan kaku tertekuk sambil menangis lalu melihat Zarrah tersenyum bahagia melihat Hannum menderita ikut merasa sangat angat sedih dan kecewa akan sikap Zarrah kepada Hannum.

__ADS_1


"Hentikan! Hentikan semua ini! Cukup! Jangan bertengkar lagi!" teriak Ibu Wati dengan suara yang keras sambil berdiri di tengah-tengah antara Hannum dan Zarrah.


Hannum yang melihat Ibunya datang sambil menangis pun ikut sedih dan menyesali perbuatannya tapi hal itu berbanding terbalik dengan Zarrah yang cuek seolah tidak peduli dengan teriakan Ibu Wati.


Ibu Wati yang sudah tua dan lemah tiba-tiba merasa kepalanya sangat pusing dan pandangannya mulai mengabur lalu jatuh pingsan.


"Tidak! Ibu! Ibu..... Sadar, Bu!" ucap Hannum dengan wajah yang sangat cemas sambil bergerak menangkap tubuh Ibu Wati yang akan jatuh ke lantai.


Alvin yang mendengar teriakan Hannum bergegas menuju sumber suara dan menggendong Ibu Wati yang pingsan di dalam pelukan Zarrah.


Alvin menggendong Ibu Wati ke kamarnya lalu membaringkannya dengan perlahan sementara Hannum dengan sigap mengambil minyak kayu putih dan meletakkan wewangiannya di dekat hidung Ibu Wati.


Ibu Wati yang telah mendapatkan kesadarannya kembali pun mencoba membuka matanya dan menatap Hannum yang ada di sampingnya dengan sangat fokus.


"Ada apa, Bu? Apakah ada sesuatu yang ingin bicarakan?" tanya Hannum dengan ekspresi wajah yang cemas dan nada suara yang terdengar buru-buru.


Ibu Wati yang ingin mengatakan sesuatu langsung terhenti saat melihat Zarrah ada di ruangan itu juga bersama Alvin dan membuat Ibu Wati mengurungkan niatnya.


Setelah kejadian itu, kondisi Ibu Wati semakin memburuk padahal kondisinya baru saja membaik dan hal itu membuat Hannum semakin sedih.


Ibu Wati yang kehilangan nafsu makannya pun menolak untuk makan meski telah dimasakkan ataupun dibelikan makanan kesukaannya membuat Ibu Wati lemas dan hanya terbaring di kamarnya.


Hannum yang tidak ingin melewatkan apapun tetap berada di sisi Ibu Wati bahkan memutuskan untuk tidur, shalat, dan mengaji di kamar Ibu Wati.


"Ibu! Kau harus segera pulih kembali! Hannum ingin terus bersama dengan Ibu!" ucap Hannum dengan wajah yang sedih dan sorot mata yang terluka


#Bersambung#

__ADS_1


Apa yang akan dikatakan Hannum pada Zarrah, ya? Akankah Hannum menyerah akan pernikahannya atau akan terus bertahan hingga akhir? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..


__ADS_2