
Hannum yang telah menyadap handphone Alvin selama seminggu merasa sangat tidak tenang padahal dirinya tidak menemukan hal yang aneh sama sekali di handphone Alvin.
“Aku sebenarnya ingin mengajak Zarrah bertemu dan cerita padanya tapi setiap kali aku ingin menghubungi Zarrah selalu saja ada gangguan. Apakah Tuhan memintaku untuk tidak mengganggu Zarrah dulu sementara waktu?” tanya Hannum dalam hati sambil menggenggam erat handphone yang ada di tangannya.
“Jika aku tidak bisa cerita kepada Zarrah maka kepada siapa aku bisa cerita!” gumam Hannum dalam hati dengna wajah yang bingung.
“Agh, aku memiliki kontak Silvia. Bagaimana jika aku meminta bantuannya sekali lagi lagipula Silvia sudah tau masalah rumah tanggaku?” tanya Hannum dengan wajah yang bimbang.
Hannum yang membutuhkan teman untuk bicara pun memutuskan untuk meminta janji temu dengan silvia di tempat yang sama.
“Aku harus segera berganti pakaian dan pergi menemui Silvia sekarang karena saat ini Rere sedang ada les di luar dan akan pulang sore hari jadi aku rasa waktunya cukup tepat!” ucap Hannum dengan semangat yang membara.
Hannum yang merasa sangat cemas dan tidak tenang ternyata datang satu jam lebih awal dari pertemuan dan membuat Hannum memikirkan kata-kata yang ingin diucapkannya.
“Hah! Sekarang masih ada waktu satu jam lagi. Aku harap bisa bertemu dengan Silvia secepatnya!” ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang cemas dengan tangan yang gemetaran.
Silvia yang ternyata memiliki pekerjaan lain akhirnya datang lebih cepat setengah jam dan melihat Hannum telah duduk di tempat yang sama seperti beberapa hari yang lalu.
“Hannum? Kau sudah datang rupanya? Aku pikir jika aku yang datang lebih awal!” ucap Silvia dengan senyum yang canggung.
“Hmmm, aku ada keperluan di dekat sini jadi aku putuskan untuk datang lebih awal untuk istirahat dan menunggumu datang!” ucap Hannum dengan senyum palsu.
Silvia yang baru datang merasa sangat lelah dan kepanasan karena cuaca di luar sangat terik sehingga memutuskan untuk memesan minuman dingin kepada Pelayan yang berjaga.
Silvia yang merasa dahaganya telah terpuaskan dan dirinya telah nyaman serta santai kembali pun memfokuskan pandangannya ke arah Hannum.
“Ada apa? Apa kau menemukan sesuatu di handphone Suamimu?” tanya Silvia secara langsung tanpa ada tanya tanya sama sekali.
Hannum yang tidak ingin berbohong karena berharap memiliki jawaban untuk kegelisahannya pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Aku tidak menemukan apapun tapi aku merasa sangat gelisah seolah masih ada sesuatu yang mengganjal!” ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang bingung.
“Aku selalu melakukan terbangun dan melakukan shalat di sepertiga malam meminta petunjuk. Setiap kali aku melihat handphoneku yang telah aku sandingkan dengan milik Mas Alvin jantungku berdetak sangat cepat seolah ada hal buruk yang akan datang!” ucap Hannum yang gelisah.
__ADS_1
“Aku tidak tau apa itu dan aku pun ingin tau tapi aku tak menemukan apapun. Handphone Mas Alvin terlihat sangat bersih seolah tak pernah ada aktivitas yang menyimpang di handphonenya!” ucap Hannum sambil menggigit bibir bawahnya.
Silvia yang mendengar hal itu pun menarik nafas yang panjang lalu berganti posisi duduk dan memeluk erat Hannum.
“Tenanglah! Semuanya pasti akan baik-baik saja! Kau telah menempuh jalur langit dan aku yakin Tuhan pasti akan memberitaumu semua kebenarannya!” ucap Silvia yang mencoba menenangkan Hannum yang gelisah.
“Aku tau. Terima kasih. Terima kasih karena telah bersedia menjadi teman bicaraku!” ucap Hannum sambil tersenyum lebar menghilangkan kesedihan di wajahnya.
Silvia yang memiliki satu cara lain untuk mengetahui kebenaran yang disembunyikan Alvin dan untuk membuat Hannum menjadi tenang pun meminta Hannum memberikan handphonennya kepadanya.
“Apa yang ingin kau lakukan dengan handphoneku?” tanya Hannum dengan wajah yang bingung dengan tatapan mata yang penasaran.
“Sebenarnya aku tidak berharap memberitaumu tentang hal ini tapi kau terlalu baik dan polos sehingga sangat mudah ditipu, Hannum!” ucap Silvin sambil menghembuskan nafasnya perlahan.
“Jika kau merasa Suami benar-benar menyembunyikan sesuatu tapi kau tidak menemukan apappun meskipun telah menyadap handphonenya maka hanya ada dua jawaban untuk perdebatan batinmu!” ucap Silvia dengan ekspresi wajah yang serius.
Hannum yang mendengar perkataan Silvia pun ikut menjadi tegang hingga kedua tangannya mengeluarkan keringat yang sangat banyak.
“Suamimu memiliki handphone lain yang tidak kau ketahui untuk menghubungi selingkuhannya atau suamimu menggunakan aplikasi tersembunyi untuk melindungi semua pesan, panggilan dan galeri pribadinya bersama selingkuhannya!” ucap Silvia dengan tatapan mata yang tajam.
“Jika seperti itu maka hanya tersisa satu jawaban yaitu aplikasi tersembunyi. Suamimu memiliki aplikasi tersembunyi untuk menghubungi wanita simpanannya!” ucap Silvia dengan ekspresi wajah yang percaya diri.
Hannum yang tidak mengerti maksud ucapan Silvia pun menatap bingung karena baginya handphone Alvin terlihat baik-baik saja dan tidak ada aplikasi yang tidak dikenalnya di dalam sana.
Silvia yang sudah menduga bahwa Hannum tak akan mudah untuk percaya jika tidak diberikan bukti yang nyata dan kongkrit pun menunjukkan aplikasi tersembunyi yang memungkin ada di handphone Alvin tapi tidak akan dicurigasi oleh Hannum.
“Kalkulator! Jika suamimu memiliki dua kalkulator di handphonenya maka curigalah karena salah satunya adalah aplikasi tersembunyi yang menyimpan rahasia gelap Suamimu, Hannum!” ucap Silvia dengan percaya diri sambil meminum jus strawberry yang dipesannya dengan anggun lalu bersandar di kursi.
Hannum yang bingung pun akhirnya mendapatkan pencerahan setelah Silvia menjelaskan semuanya kepadanya.
Hannum yang sangat bersemangat pun memutuskan untuk mengecek handphone Alvin lagi nanti saat Alvin pulang bekerja.
Namun kesempatan yang ditunggu oleh Hannum tidak kunjung datang, Alvin yang dipikir akan langsung tidur setelah pulang bekerja ternyata melanjutkan pekerjaannya di rumah.
__ADS_1
Hannum yang kecewa tidak ingin membuat Alvin curiga sehingga memutuskan membuatkan kopi kemasan untuk Alvin untuk menemaninya bergadang malam itu.
“Mas, aku sudah buatkan Capucinno hangat! Minumlah Mas!” ucap Hannum dengan suara yang lembut sambil menatap layar laptop Alvin yang dipenuhi dengan tulisan dan angka yang tidak dimengerti dirinya.
“Mas, aku mengantuk sekali! Aku tidur duluan, ya!” ucap Hannum yang sadar jika kesempatannya sangat kecil pun memilih untuk tidur.
Keesokan harinya yang merupakan hari minggu menjadikan Alvin untuk tetap berada di rumah dan tidak pergi keluar untuk bekerja.
Hannum yang melihat Alvin sedang bermain sepeda dengan Rere di lorong depan rumah pun melihat handphone Alvin tergeletak di atas meja.
“Bukankah itu handphone Mas Alvin? Mas Alvin sedang bermain dengan Rere. Sebaiknya aku lihat isi handphonenya sekarang sebelum acara bermain mereka selesai.” Ucap Hannum dengan ekspresi wajah yang serius dengan kecepatan tangan yang tinggi.
Hannum yang mendapatkan kesempatan yang ditunggunya pun mengambil handphone Alvin dan mencoba mencari aplikasi kalkulator seperti yang dikatakan Silvia kepadanya.
Hannum yang berharap semua yang dikatakan Silvia tidak pernah terjadi menjadi sangat terkejut saat melihat bahwa di dalam handphone Alvin terdapat dua kalkulator.
“Dua? Mas Alvin sungguh punya aplikasi kalkulator dua di dalam handphonenya?” gumam Hannum dengan suara yang rendah dengan tangan yang mulai gemetaran.
Hannum yang menjadi semakin gelisah, cemas, dan takut pun merasakan jantungnya berdetak semakin cepat dan keringat pun mengalir sangat banyak ke pipi Hannum.
“Tenanglah Hannum! Kau harus tenang! Kau harus mengendalikan dirimu! Kau tidak boleh membuat Mas Alvin curiga dan mengambil handphonenya sebelum kau menemukan bukti apapun!” ucap Hannum sambil menarik nafas yang panjang.
Hannum yang mengetahui bahwa aplikasi kalkulator yang menyimpan rahasia gelap membutuhkan tiga angka sebagai kata sandinya.
Hannum yang telah tenang kembali pun mencoba satu per satu kata sandi yang menurutnya menjadi kunci dan pada saat Hannum mengetikkan tanggal dan bulan hari lahir Rere aplikasi kalkulator itu berubah fungsi.
Hannum yang masih belum percaya dengan yang dilihatnya pun menjadi sangat terkejut tapi keterkejutan itu tidak seberapa dengan kenyataan pahit yang telah ada di depan matanya.
Hannum yang tidak bisa menguasai dirinya yang telah dikendalikan oleh perasaan sedih, kecewa, dan marah pun berlari masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dengan sangat rapat.
“Hah! Hah! Aaaarrgghhh! Hah! Hah! Huuuhh! Huuuhhh! Huuuhhh!” ucap Hannum yang tidak bisa menahan air matanya dan karena perasaan terkejut itu membuat Hannum menjadi kesulitannya dalam bernafas.
#Bersambung#
__ADS_1
Apa yang sebenarnya kenyataan pahit yang diketahui Hannum? Akankah Hannum akan dapat bersabar menerima ujian rumah tangganya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...