
Jika kamu menatap mata seseorang lebih dari tiga detik
Kamu bisa jatuh cinta padanya
-Anonim-
*****
Flashback.
"Dimana ya aku tadi taruh mapnya." Tanya Jonathan sembari mengingat-ingat.
Dia merutuki kebodohannya karena bisa ceroboh melupakan map pentingnya. Padahal map itu berisi persyaratan beasiswa ke luar negeri, dan tentunya dia harus menemukannya.
Jonathan memeriksa semua tempat yang kira-kira dia singgahi hari itu. Masjid nihil, Ruang rapat nihil, aula nihil, lapangan nihil, toilet nihil. Jonathann mendesah frustasi.
Sekolah tampak sepi, karena semua penghuninya tentu sudah pulang, karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Kemana ya?" Jonathan menimbang nimbang.
"Sebentar, masak aku harus mengecek semua ruang kelas yang kusinggahi?" Dia mengacak rambutnya kasar, karena hampir semua ruang kelas dia singgahi dan itu ada 20 kelas, haruskah dia mengecek satu-persatu. Terlebih ruang kelas sudah ditutup oleh Tukang Kebun.
"Tapi nggak ada opsi lain." keluh Jonathan. Tentu dia tidak mau bersusah payah membuat semua persyaratan itu.
Sampai pandangannya bertemu dengan ruang kelas yang masih terbuka, aneh memang padahal semua ruangan sudah tertutup kecuali ruang kelas itu. Dia merasa tidak pernah masuk ke dalamnya, jadi tidak mungkin kan kalau
berkasnya ada di sana. Tapi daripada menduga-duga, lebih baik dia mengeceknya
sendiri.
Jonathan perlahan membuka lebar pintu ruangan itu, dia kaget saat mendapati seorang siswi tidur di atas meja.
"Kenapa dia masih disini, bukankah seharusnya dia sudah pulang?" Tanyanya dalam hati.
Jonathan seharusnya dia menggubris perempuan itu, tapi rasa penasarannya mengubah dirinya. Kakinya tanpa di komando mendekat ke arah gadis itu.
Sementara gadis itu yang sebenarnya tidak tertidur karena mendengar suara langkah kaki. Dia memutuskan untuk mengangkat kepalanya.
Pandangannya yang masih buram melihat sosok laki-laki di depannya, dia mengernyit bingung karena tidak mengenal orang itu.
Tapi tunggu, wajahnya sepertinya tidak asing. Gadis itu mencoba mengingat-ingat.
Dimana ya? Tanyanya dalam hati.
Oh iya, ia ingat bahwa wajah laki-laki itu sama seperti profil yang tadi dia baca. Jangan salahkan dirinya saat masuk kelas, dia mendapati ada berkas yang berada di atas menjanya. Karena penasaran, ia akhirnya
membukanya untuk tahu siapa pemilik map itu. Dan ternyata orang itu ada di depannya.
"Emm, Mas Nathan ya?" tanya dia akhirnya.
"Hah?" Balas Jonathan kaget.
Kalau boleh jujur, dia tadi sangat terpesona dengan wajah gadis di depannya yang terlihat polos.
Dan lagi Nathan, belum ada orang yang memangillku dengan nama itu, tapi mendengar suaranya memanggil namanya, membuat hatinya dilingkupi bahagia.
"Arggg sial." umpatnya dalam hati.
Jangan bilang dia telah jatuh cinta pada wanita di depannya, apa karena tadi dia telah menatap mata gadis itu lebih dari tiga detik.
__ADS_1
"Waduh." kenapa dia malah memikirkan hal konyol yang sering dikoar-koarkan oleh adiknya. Yang sangat menyukai drama korea. Di salah satu film ada teori yang mengatakan, jika kamu menatap mata seseorang lebih dari tiga detik. Kamu bisa jatuh cinta padanya. Dan apakah sekarang dia sedang mengalaminya.
"Haloo, ini mas Nathan bukan?" tanya gadis itu sekali lagi karena tak mendapat respon dari lawan bicaranya.
"Eh, iya benar namaku Nathan."
Biarlah gadis itu memanggilnya dengan nama itu.
Gadis itu masih memakai atribut mos. Kerudung berpita, kalung nametag, dan rompi aneh di bajunya. Tapi entah kenapa malah terlihat menggemaskan di matanya.
"Alhamdulillah akhirnya ketemu pemiliknya."
"Hah." Pekik Jonatham sekali lagi.
"Maksudnya ketemu Jodoh dek?' Tanyanya dalam hati
Tapi akhirnya dia paham, ternyata berkas yang dia cari ada di atas meja.
"Ini punya mas kan?" kata gadis itu seraya menyerahkan sebuah map.
"Alhamdulillah, terima kasih."
Jonathan bisa bernapas lega akhirnya mapnya ketemu.
"Sama-sama, kalau begitu saya pulang dulu."
Mendapat tatapan bingung dari laki-laki di depannya akhirnya gadis itu menjelaskan.
"Saat mau pulang, saya menemukan map itu di kelas, tapi karena nggak ada pemiliknya saya memutuskan untuk mengamankannya, mau menitipkan sama pak Satpam, mereka sudah pulang. Jadilah saya menunggu disini,
barangkali pemiliknya akan datang."
Jonathan terperangah, gadis ini mau-maunya mengamankan mapnya.
Gadis itu terdiam sejenak.
"Maka saya akan mengirimkannya di alamat yang tertera di berkas itu, karena tidak ada nomor telepon."
Jonathan terdiam sejenak. Setengah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Gadis dihadapnnya ini emmm entah apa istilahnya berhasil membuat dirinya terkagum.
"Rumah kakak jauh lo dik."
Gadis itu tampak mengangkat alos tanda berpikir.
"Ya siapa bilang mau antar ke Yogya, kan bisa dikirim lewat JNE."
Hahahaha, astaga. Jonathan untuk pertama kalinya bisa tertawa sekeras ini.
Dia pikir gadis itu akan mengantarkannya sampai ke rumahnya. Ternyata mau dikirim lewat kurir.
Gadis itu terdiam, memang apa yang salah dari ucapannya.
Jonathan menghentikan tawanya, karena ekspresi menggemaskan gadis itu mengalihkan perhatiannya.
"Jadi siapa namamu?" Tanya Jonathan akhirnya.
Gadis itu terdiam, dia malah menyerahkan map di atas meja. Jonathan mau tak mau menerimanya.
"Nggak tahu." Jawab dia malas.
__ADS_1
"Masak nggak tahu sama nama sendiri?" Tanya Jonathan geli.
"Hemmm." Gadis itu menggelembungkan pipinya.
"Sudah, saya mau pulang." ucap gadis itu.
Tanpa menunggu balasan dari Jonathan, gadis itu beranjak dari kursinya dan meninggalkan Jonathan yang masih terpekur sendirian.
Jonathan ingin menyusulnya akan tetapi ada sesuatu yang mengalihkan pandangannya. Sebuah buku. Dia yakin, buku ini pasti milik gadis itu.
Karena penasaran, Jonathan membukanya
"Halooo, namaku Ayana Santiana."
Begitu yang tertulis di lembaran pertama.
"Jadi namanya Ayana."
"Aduh, gadis itu sudah pergi."
Sebentar dia harus mengembalikan buku ini kepada pemiliknya.
Jonathan setengah berlari untuk mencari Ayana, tapi dia tak kunjung melihatnya.
"Kira-kira kemana ya?" Tanyanya.
Karena hari beranjak sore, akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Dan dia berjanji untuk mengembalikan buku ini kepada gadis itu. Tapi ternyata keinginannya tidak tersampai karena besok dia harus meninggalkan kota
itu untuk mengikuti seleksi beasiswa di Ibu Kota.
Flashback off
"Jadi mas Nathan yang ambil bukuku?" Tanya Ayana malu.
Dia tidak menyangka bahwa laki-laki cinta pertamanya adalah suaminya sekarang. Saat itu dia sebenarnya terpesona kepada laki-laki itu, tapi sayangnya dia juga takut karena tidak mengenalnya.
"Bukan mengambil, aku hanya menyimpan, lah siapa salah adik kabur, tapi karena pertemuan itu aku bisa mengenalmu."
"Jangan bilang Mas Nathan udah baca semuanya?"
"Emmm, baca nggak ya?" Jonathan berusaha menahan tawa.
Isi bukunya bahkan sudah dia hapal di luar kepala.
"Aku ingin punya suami yang menyayangiku. Terus dia nanti panggil aku Adek, karena aku nggak punya kakak." ucap Jo menirukan suara anak kecil.
"Ihhh, malu tahu."
"Umur segitu kamu sudah mikirin kayak gitu ya, hehe."
Ayana segera membalikkan tubuhnya karena malu. Kalau bisa dia ingin menghilang sekarang juga di hadapan Jonathan. Buku yang dumaksud oleh suaminya adalah buku diarynya waktu SMP. Dimana isinya itu sangat memalukan untuk dirinya. Sebenarnya dia tidak ingat, tapi saat Jonathan membaca salah satu tulisan dalam buku ini. Dia jadi ingat kalau bukunya itu berisi tentang impiannya.
"Adek, jangan ngambek." Bujuk Jonathan.
Ayana tidak menggubrisnya.
Jonathan mencium puncak kepala istrinya sambil mengelus rambutnya.
"Kamu jangan malu, mungkin memang sudah takdir, karena pertemuan itu aku bisa mengenalmu. Aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama saat itu. Dan dengan adanya buku itu membuatku ingat, bahwa di suatu tempat ada seorang wanita yang menungguku untuk membahagiakannya. Dan itu kamu Ayana. Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, tapi yakinlah Ayana, bahwa kamu adalah cinta sejatiku."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Ayana semakin mengeratkan pelukannya. Dia merasa sangat beruntung memiliki lelaki ini, Si Makhluk Astral.
*****