After Tomorrow

After Tomorrow
What?


__ADS_3

Berbuat baik itu harus


Namun jangan seperti lilin


Menyinari tempat lain


Namun habis tak bersisa


-Anonim-


****


Jonathan menghela napasnya kecil sebelum menjelaskannya pada Ayana.


Masih ingat kan cara menghadapi perempuan yang sedang marah. Kembali ke peraturan dasar perempuan selalu menang. Jika perempuan salah maka kembali peraturan dasar tadi.


Istrinya sekarang sedang menyilangkan tangannya di depan dada dengan pandangan menatap ke arah lain. Ia sangat enggan menatap wajah suaminya yang terlihat sangat mengesalkan dan tengil.


Tangan Jonathan memegang pundak Ayana dan diputar untuk menghadap ke arahnya. Namun wanita itu masih memalingkan muka.


"Tenang Ay, Mas akan menjelaskan, lagipula tadi pas ke sini Clarissa duduk di kursi penumpang, tidak di depan." Jelasnya perlahan.


Tadi saat Clarissa meminta tolong sebenarnya ia ingin menolak, tidak baik dua orang yang bukan muhrim berduaan di dalam mobil pula. Meskipun ia sendiri tidak punya niat seperti itu.


Namun tetap saja untuk menghindari adanya fitnah dan godaan setan, ia meminta temannya untuk duduk di belakang. Seperti supir Taksi yang sedang mengantarkan penumpamgnya.


"Tahu nggak Mas, dengan Mas membawa dia ke sini, sama saja. Menorehkan luka ke hatiku Mas. Sudah tahu Ayana tidak suka dengannya, tapi Mas nekat membawanya ke sini."


Ucapnya dengan suara sedikit bergetar, ia sangat menyayangkan sikap suaminya itu. Kenapa tidak mau belajar dari kesalahan.


" Bukan begitu Dek, Mas hanya mau berbuat baik."


Laki-laki itu tak putus arah untuk memberi pengertian. Sebenarnya semua ini memang salahnya sendiri.


"Iya Mas memang berbuat baik kepada orang lain, tapi perbuatan baik itu malah menyakiti istri Mas sendiri, Mas kita boleh berbuat baik kepada orang lain tapi jangan sampai menggerogoti diri sendiri. Jangan seperti lilin menyinari tempat lain, namun dirinya habis tak bersisa."


Ayana benar-benar meluapkan semua kemarahnnya.


Jonathan mengacak rambutnya kasar, sungguh dalam hatinya ia sama sekali tidak punya niatan seperti itu. Dan selain itu kenapa istrinya mendadak menjadi filosofis sekali, dapat dari mana coba kata-kata itu.


"Tenanglah Mas akan bercerita"


Laki-laki itu kemudian memulai ceritanya.


Flashback


Kantor mulai sepi, semua pegawai sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal Jonathan yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia masih berjibaku dengan satu perusahaan yang ternyata mempunyai cabang di daerah lain. Apalagi PPNnya tidak dilakukan secara terpusat, jadi mau tidak mau ia harus meminta data tambahan ke client.


Sebelum menerima data tambahan, ia harus mengubah beberapa hal di beberapa item yang tampaknya tidak sesuai dengan peraturan.


"Sudah jam segini, apa aku lebih baik pulang saja, kasihan Ayana menunggu sendirian di rumah, mana hujan lagi, nanti kalau mati lampu bagaimana." Pikirnya khawatir.


Beberapa terakhir ini memang sering terjadi pemadaman listrik saat hujan deras seperti ini, dikarenakan ada tiang listrik di beberapa titik yang terpendam banjir.


Ia sebenarnya sudah memasang genset di rumahnya. Namun akan sangat tidak bijak apalagi ia membiarkan Ayana dalam keadaan hamil berjalan di tengah kegelapan untuk menyalakan genset.

__ADS_1


Betapa kejamnya dirinya.


Untuk itu setelah mematikan komputer, ia memutuskan untuk pulang. Sebelumnya ia menaruh berkas client di lemari yang terkunci takut berkasnya dicuri oleh orang dan bisa di salah gunakan.


"Jo, syukurlah kamu belum pulang."


Tak disangka ternyata Clarissa masih ada di kantor. Padahal setahunya rekannya sudah pulang sejak tadi. Ia terlihat sedikit kacau dengan mata yang sebab. Perasaan tadi pagi tidak ada apa-apa.


"Ada apa?"


Ia bertanya karena merasakan ada sesuatu yang tak beres pada temannya.


"Emmm bolehkah aku menumpang pulang denganmu, karena saat ini aku sedang berselisih paham dengan suamiku."


"Tak kusangka kau sudah menikah."


"Ya begitulah, biasa perjodohan keluarga." Balasnya enggan.


"Hidupku sangat rumit, jadi bolehkan aku nebeng kamu, aku mohon Jo bantu aku." Pintanya memelas.


"Aku sudah ditunggu istriku."


Jonathan memikirkan Ayana yang menunggu sendirian di rumah.


"Ayolah Jo, aku minta tolong, lagipula kita tinggal di kompleks yang sama."


"Benarkah, aku baru tahu."


Jonathan tidak mengira kalau sebenarnya Clarissa sudah menikah, mengingat akhir-akhir ini dia seperti sedang mendekatinya. Itu dari yang dikatakan oleh Airi kepadanya, entahlah dirinya sendiri juga tidak tahu.


Dan Jonathan pun paham dengan hal itu, sehingga ia tidak mau membahasnya lagi


“Kenapa tidak naik taksi online saja?”


Laki-laki itu mencoba menawarkan opsi, banyak jalan menuju Roma bukan?


“Ayolah Jo, kau jangan pelit sama temanmu ini, lagipula mana ada taksi online yang mau menerima jika hujan lebat seperti ini. Daripada aku nggak pulang-pulang.”


Laki-laki itu menimbang bimbang, ia juga tidak tega jika meninggalkan temannya sendirian di kantor.


Semua orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing hanya tinggal beberapa Cleaning Service dan Security yang berjaga.


"Baiklah, kau boleh ikut tapi duduk di kursi penumpang."


"Siap Abang Gopek." ujarnya dengan tawa.


"Eh tapi boleh numpang di rumahmu sebentar ya."


"Terserahlah yang penting jangan buat istriku Marah."


Clarissa mengedikkan bahu, karena setahunya istrinya Jonathan adalah orang yang ramah. Dan semua ituterjawab saat ia sampai di rumah mereka.


Akhirnya Clarissa menebeng mobil Jonathan


***

__ADS_1


“Jadi gitu Dek, kamu jangan salah paham lagi ya.


Jonathan mencoba membujuk istrinya yang masih merajuk.


“Kalau Mas nggak mau aku ngambek jangan lakukan hal yang tidak kusuka, apalagi kalian tadi berdua yang ketiganya pasti setan,” ujarnya bersungut-sungut.


Ia benar-benar tidak suka dengan tindakan Jonathan meskipun mereka tidak ada hubungan apa-apa tetap saja ia merasa cemburu.


Melafalkan kata itu membuat pipinya memanas.


"Semua ini pasti karena hormon Kehamilan." batinnya mengelak.


Jonathan tersenyum gemas saat melihat pipi istrinya yang merona merah.


"ini pipi minta dicubut, ketiganya bukan Setan Ay, tapi kamu."


Laki-laki itu mencoba mencairkan suasana, ia kemudian mengajak Ayana untuk ke depan menemani Clarissa.


“Mas Nathannnnnnn, jadi Ayana itu setan.” Kesalnya


"Mas Nathan itu yang makhluk astral, suka muncul tiba-tiba dari dulu."


Ia tak mau mengalah.


"Jadi itu julukanmu untuk suamimu, dasar kau ini."


"Jadi nggak marah lagi kan?"


"Tahu, sudahlah ayo kembali ke depan kasihan Clarissa kalau duduk sendirian."


Ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, Jonathan mengikutinya dari belakang.


Di ruang tamu Clarissa masih duduk sambal beberapa kali mengecek handphonenya kemudian menaruhnya, hal itu ia lakukan berulang kali.


“Gimana suamimu bakal jemput kan dari sini?” Tanya Jonathan menghentikan gerakannya.


“Emmm ya begitulah, tapi entahlah.”


Pandangannya mengarah ke Ayana yang kali ini tidak menatapnya garang, ia akhirnya bisa tenang. Sepertinya Jonathan mampu menyelesaikan kesalahpahaman ini. Begitu pikirnya.


“Sudah mau masuk waktu magrib nih, kami mau sholat dulu ya, silahkan tunggu di sini saja karena hujan masih turun dengan deras.” Ujar Ayana dengan nada ramah, ia sekarang tidak punya alasan lagi untuk bersikap ketus dengan Clarissa.


“Baiklah, terima kasih Ayana.”


“Ayo Mas.” Ajaknya kepada Jonathan.


Sampai di depan mushola Ayana menarik tangan Ayana dengan raut wajah tanya, karena waktu sholat masih 15 menit lagi, kenapa istrinya buru-buru meninggalkan ruang tamu.


“Begini Mas, sepertinya ia sedang gelisah dan yah tidak salah jika kita memberinya waktu untuk sendiri lagi.”


“Maksudnya?” tanyanya penasaran.


“Dasar Mas Nathan kalau soal perempuan nggak pernah peka.”


“Aku pekanya kalau sama kamu doang Dek.”

__ADS_1


****


__ADS_2