After Tomorrow

After Tomorrow
Tamu


__ADS_3

Hujan


Seperti sebuah nyanyian alam yang menenangkan


Hujan mengingatkanku pada kenangan yang terlupa


Hujan yang membawamu kepadaku


****


Saat ini Ayana tengah duduk di teras belakang sambal menikmati suara rintikan air hujan yang menerpa tanah. Ditambah dengan bau hujan seolah menenangkan pikirannya. Sedari dulu ia sangat menyukai hujan , karena saat hujan ia merasa tidak sendiri. Suara hujan seperti sebuah nyanyian alam untuk menguatkannya. Sekali lagi tidak mudah bukan jika kamu hanya hidup sendiri dengan ibunya saja, tanpa adanya sosok Ayah. Walau sekarang ia bisa bersama kembali dengan Ayahnya, hanya saja ia masih merasa ada yang kurang.


Dalam hati kecilnya ia ingin merasakan masa kecil bersama sosok Ayah. Namun semua telah berlalu, tidak akan bisa diulang lagi.  Jikalau masa lalu, bisa saja ia tidak akan bertemu dengan suaminya. Ayana kemudian menengadahkan tanganya untuk merasakan tetesan air hujan, rasanya sangat sejuk sekali. Ada kesenangan tersendiri saat tetesan air yang mengenai tangannya.


Tadi siang Jonathan tidak sempat mampir ke rumah karena banyaknya pekerjaan. Jika dipikir-pikir memang sangat jauh antara kantor dan rumah, tentunya hal itu akan memakan waktu lama dan membuat Jonatahn cepat lelah. Mungkin untuk ke depannya Ia akan membawakan Jonathan bekal saja, jadi untuk makan siang tidak perlu pulang ke rumah. Lagipula besok Bik Nah akan ke sini untuk menemaninya, jadi ia tidak akan sendirian lagi di rumah ini.


Sudah jam 5 lebih, sayangnya suaminya belum pulang, Apakah pekerjaan kantor masih banyak jadi membuatnya pulang terlambat. Tiba-tiba ia mendengar suara mobil di depan, yang ia yakin adalah suaminya. Rasa senang langsung menghinggapi hatinya.


Dengan riang ia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu, namun senyumnya hilang saat mendapati Jonathan berdiri dengan perempuan yang sangat tidak ia sukai. Siapa lagi kalau bukan Clarissa.


“Kenapa mas Nathan membawa ia ke sini.” Pikirnya kesal.


Tapi ia mencoba menahan kekesalannya dengan senyuman palsu di wajahnya.


“Assalammu’alaikum Dek.”


“Walaikumsalam Mas.” Ia kemudian meraih tangan suaminya dan menciumnya, setelah itu membawa tas kerja Jonathan.


Jonathan mengelus pelan puncak kepala Ayana, ia sangat ingin mencium kening istrinya namun ditahan karena ada seseorang di sampingnya.


“Tamunya diajak masuk dulu Mas­­­.”  Ujar Ayana seramah mungkin, padahal di dalam hatinya ia ingin memaki-maki Jonathan, tapi ia harus bermain cantik.


“Iya, ayo Clarissa silahkan masuk.”


Ayana dan Jonathan lalu berjalan beriringan untuk masuk ke dalam, Clarissa kemudian mengikutinya.


Mereka lalu duduk di ruang tamu.


Suasan canggung seketika langsung menghingghapi ruangan itu,


Ayana memandang tajam kea rah Clarissa namun saat ditatap suaminya ia menampilkan ekspresi ramah. Sementara Clarissa merasa tidak enak dengan sambutan Ayana.


“Oh ya Clarissa, perkenalkan Ayana istriku tentu kamu sudah mendengarnya kan.”

__ADS_1


“Ayana, salam kenal ya.”


Ayana mengulurkan tangannua kea rah Clarissa, wanita itu kemudian menyambutnya. Mereka berjabat tangan dengan erat.


“Clarissa, maaf ya merepotkan suamimu.”


“It’s okay.” Balasnya ramah.


“Oh ya mau minum apa?”


Meskipun ia tidak menyukai tamunya, namun bukan berarti ia tidak menerapkan adab menerima tamu. Jadi demi kesopanan ia menawarkan minuman kepada Clarissa.


“Apa aja boleh…emmm tapi kalau bisa minuman yang hangat ya.”


“Mas, aku ke dapur dulu ya untuk menyiapkan minuman.”


Jonathan mencegah Ayana yang mau berdiri.


“Jangan biar Mas saja, kasihan kamu nanti kecapekan, nanti dedeknya ikut capek, Mas ke dapur dulu ya.”


Ayana menganggukkan kepalanya, kalau tidak sedang dalam keadaan seperti ini. Tentu ia akan berbunga-bunga mendapat perhatian dari suaminya. Hanya saja ia sekarang ia sedang merasa terancam dengan keberadaan wanita di depannya.


Setelah suaminya berlalu dari padangan, ia memberikan pandangan tajam ke lawan bicaranya. Saatnya interogasi.


Clarissa jadi begidik takut karena mendapat tanggapan seperti itu. Tapi dia akan memcoba menjelaskan, boleh diterima atau tidak. Walau dalam hati ia tersenyum geli karena sepertinya istri dari Jonathan menganggap dia sebagai musuh.


Yah walaupun dulu waktu kuliah mereka memang bersahabat, tapi hubungan mereka tak lebih dari itu. Sempat ia memiliki perasaan untuk Jonathan, namun sayangnya bertepuk sebelah tangan. Dan Jonathan memberitahunya kalau lelaki itu sudah punya orang yang ia cintai. Tak disangka temannya sangat beruntung dalam hubungan percintaan, karena bisa bersatu dengan orang yang dicintai. Tidak seperti dirinya, yang harus terjebak dengan hubungan yang sama sekali tidak ia inginkan.


“Ehemmm.” Suara deheman membunyarkan lamunannya.


‘Oh maaf-maaf, aku hanya datang berkunjung ke rumah teman lama.” Jawabnya tak yakin, karena tak mungkin ia mengungkapkan masalah yang sedang ia hadapi.


“Benarkah?” tanyanya tidak percaya.


Clarissa menelan ludahnya, yang ia dengar istri Jonathan itu sangat ramah. Kenapsa saat bertemu dengannya jadi seperti ini, seperti macan yang siap mengamuk. Padahal ia sengaja membalas pertanyaan Ayana dengan Bahasa Informal, agar suasana bisa sedikit mencair, sayangnya hal itu sama sekali tidak berhasil.


“Iya, lagipula kita seklompleks.”


Ayana membulatkan matanya,


“Apa-apaan ini, masa mereka tinggal berdekatan, astaga.” Batinnya panik, namun dia berusaha menutupinya,


“Oh iya, senang dong ya bisa mampir-mampir.” Sindirnya

__ADS_1


“Iya, hhahaha.” Balasnya dengan senyum canggung.


“Ini Jonathan mana sih, istrinya dah siap ngamuk.” Batinnya menjerit.


Ayana sudah mau menyerang lagi, namun suaminya telah kembali dari dapur, jadi dia mengeluarkan tawa yang dibuat-buat.


“Seru banget Dek ngobrolnya.”


Laki-laki itu membawa nampan yang berisi tigas gelas minuman, dari baunya bisa ditebak kalau minuman yang disajikan adalah jahe hangat.


“Ini Ay untukmu, susu jahe.” Jonathan menyerahkan minuman itu untuk Ayana, karena khusu untuk istrinya ia menambahkan susu.


“Makasih Mas.” Ia kemudian meraih tangan Jonathan dan merangkulnya, seolah sengaja menunjukkan kemesraan mereka di depan Clarissa.


Dan wanita itu hanya bisa mengernyitkan keningnya bingung.


“Mas, Ayana mau biskuit yang kemarin.”


Ayana meminta Jonathan untuk mengambilkan biskuit oats yang akhir-akhir ini menjadi makanan favoritnya.


“Oke, Mas ambilkan, sebentar ya.”


“Tapi Ayana ikuttttt.” Balasnya dengan nada yang dibuat manja


“Baiklah, Clarissa maaf ya kami tinggal sendirian di sini.”


Jonathan merasa tak enak karena harus meninggalkan temannya sendiri di ruang tamu.


“Tidak papa kok, santai saja.”


Wanita itu tersenyum, taoi senyumnya pudar saat mendapat tatapan tajam dari Ayana.


“Ayo ay, kita cari biskuit kesukaan kamu.”


“Oke deh.” Angguknya dengan senyuman lebar.


Sampai dapur, Jonathan langsung mengambil biskuit kesukaan istrinya dan memberikannya pada Ayana. Namun wanita itu menolaknya.


“Kenapa Ay?” tanyanya, apalagi saat mendapati raut wajah cemberut dari istrinya.


“Mas jelaskan kenapa membawanya kesini.” Matanya mulai berkaca-kaca karena membayangkan hal yang tidak-tidak.


Alamak salah lagi, Padahal niatnya baik untuk menolong temannya namun sepertinya disalah artikan oleh Ayana.

__ADS_1


*****


__ADS_2