After Tomorrow

After Tomorrow
De Javu


__ADS_3

“ Pokoknya Ayana nggak mau ikut Mas.”


Ayana menghentakkan kakinya karena kesal karena tidak mau mengabulkan permintaan Jonathan untuk datang ke acara reuni. Ia duduk menghadap mnghadap cermin di hadapannya mengusapkan toner yang sudah diberi kapas ke wajahnya. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai tampak berkilau di bawah cahaya lampu.


Sementara Jonathan menatapanya dengan kening berkerut, ia masih melihat undangan Reuni yang sudah di share di grup angkatan, acara tersebut akan diadakan minggu depan. Niat hati ingin mengajak istrinya namun ternyata istrinya menolaknya. Ayana memang tidak terlalu suka tempat ramai apalagi di sana akan banyak sekali teman suaminya. Dia merasa tidak terlalu kenal dengan meraka semua.


“Ayolah dik, sebentar saja di sana, lagipula Clarissa dia juga mengajak pak Roy ke sana. Jadi kamu nggak akan bosan di sana bisa ajak ngobrol Clarissa.


Ayana menggembungkan pipinya, dia sama sekali tidak berminat ikut ke acara itu dan lagi di sana pasti banyak sekali orrang-orang yang mengidolakan suaminya.


“kenapa dia menjadi sangat posesif sekali?” gerutunya dalam hati.


“Dedek bayi juga mau lo bundanya ikut ayah, nggak enak Dik kalau nggak datang apalagi posisi Ayah kan di Jakarta, masa kalah sama teman lain yang dari luar negeri, Mereka mneyempatkan waktunya untuk datang,” ujarnya sambil mengelus pelan perut Ayana.


Wanita itu tampak berpikir, dia memepertimbangkan beberapa kemungkinan. Benar kata suaminya kalau tak datang jadi merasa tidak enak pada teman-teman yang lain. Tapi hatinya sangat enggan.


“hemmm, baiklah Ayana ikut tapi hanya sebentar ya, dan Mas Nathan nggak boleh ninggalin Adek sendiri di sana.”


“Nggak mungkinlah dek, Mas tinggalin kamu sendirian, nanti aku gandeng terus tangan kamu,” balasnya dengan menggenggam erat tangan istrinya.


“Biasanya kan kalau sudah ketemu teman lama suka lupa sama istrinya.”


Laki-laki itu mengacak gemas rambut istrinya,


“Kamu ada-ada saja dek, kamu tenang saja.”


“Hari ini jadi ke dokter kan?” tanyanya mengingatkan


Ayana mengangguk semangat, hari ini memang jadwal mereka periksa lagi ke dokter. Jonathan bisa mengantarnya karena hari ini memang libur, mereka memeriksakan kandungan Yana di rumah sakit daerah Bintaro.


“Mas mau siap-siap dulu, jangan lupa nanti bawa buah untuk cemilan kamu kan sering lapar biar nggak jajan sembarangan.”


Wanita itu memberengut, dirinya sering merasa lapar kan karena adanya bayi dalam kandungannya karena sebelum hamil dia termasuk orang yang sangat jarang makan.


“Tadi udah minta tolong Bik Nah kok Mas untuk siapin buah. Tapi nggak ada manga mudanya padahal Ayana pengen baget manga muda.”


Jonathan menaikkan sebalh alisnya, sebenarnya ia sudah melarang istrinya untuk memakan buah yang asam hanya saja wanita itu tidak mengindahkannya.


“Makan buah yang lain saja ya, yang lain nggak kalah enak kok,” bujuknya


“Yah Mas, ini keinginan Dedek bayi lo nanti kalau nggak diturutin ileran.”


“Itu hanya mitos sayang, sudah ya ayo bersiap-siap.”


“Oke deh Mas.”


Ayana mengambil kerudung phasmina yang berwarna mocca dipadukan dengan gamis berwarna pink miliknya. Sementara Jonathan seperti biasa memakai kemeja hitam dengan celana jeansnya dan jangan lupakan jaket kulitnya.


Ia memeperhatikan penampilan suaminya yang kadang masih sama urakannya, walaupun masih terlihat tampan tapi ia kadang sedikit merasa terganggu.


“Mas, rambutnya udah waktunya potong nih, sudah gondrong banget.”


“Tumben kamu minta potong dek, biasanya kan memang seperti ini.”


Ayana gelagapan bingung menjawab apa, namun tanpa sadar bibirnya menyuarakan isi hatinya


“kayak preman pasar Mas, potong pendek ya,” pintanya dengan puppy eyes, ia menyisir rambut panjang suaminya dengan jari-jarinya.

__ADS_1


“Nanti Mas pikirin lagi lagi ya, sekarang ayo berangkat.”


"Bik Nah titip rumah dulu ya, kami mau ke rumah sakit, kalau ada tamu atau apa silahkan kabari saya," ucapnya kepada asisten rumah tangganya.


"Siap laksanakan Den Bagus, ini sudah Bibik siapin buah untuk Neng Ayana dan Susu di Tumbler."


Wanita paruh baya itu menyerahkan paperbag ke Ayana dan Diterima dengan senang hati.


"Wahh, makasih ya Bik."


"Kembali kasih Neng."


"Ayo Ay, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam Wr.Wb,"


Jonathan dan Ayana segera memasuki mobil untuk berangkat ke rumah sakit.


Suasana pagi ini tampak cerah tidak mendung seperti biasanya. Jalanan pun terlihat lenggang meskipun hari weekend. Jonathan memilih melewati Tol karena akan lebih cepat untuk sampai di bintaro.


"Tumben Mas, nggak minta periksa pagi-pagi lagi."


Ayana membuka percakapan, suaminya masih fokus menyetir.


"Bunga marah-marah kalau aku minta pagi lagi, apalagi yang terakhir itu kita terlambat, sementara ia sudah datang pagi buta."


"Mas sih aneh memilih ke dokter pagi-pagi, kasihan Dokter Bunga."


"Habisnya Mas nggak mau kamu capek antri, hehe, maaf ya nggak diulangi lagi deh."


"Mas, Stop It, Ayana pengen makan buah yang tadi."


Ayana segera mengambil paperbag yang ada di belakang dan mengeluarkan kotak makannya. Pekikan senang muncul dari mulutnya saat melihat ada buah mangga muda di kotak itu.


"Wah Bibik baik sekali, Ayana suka,"


Ia segera memakan buah itu dengan senyuman riang.


Jonagthan yang melihatnya hanya menghela napas kecil, karena kecolongan. Bagaimana bisa buah mangga itu ada di dalam kotak bekal Ayana?


"Adek kalau diomongin nggak pernah dengerin, bukannya Mas melarang tapi kan kamu ada asam lambung tidak boleh makan yang asam-asam."


Diamati istrinya yang tampak lahap embgunyah buah itu, dia sendiri yang melihatnya merasa ngilu. Namun istrinya malah tampak baik-baik saja.


"Biar Wekk, habisnya enakkk."


Karena terlalu bersemangat, ia berbicara dengan mulut yang masih penuh. Membuat Jonathan yang melihatnya menjadi khawatir.


"Pelan-pelan makannya, telan dulu baru bicara."


Jonathan memberikan minum kepada Ayana. Wanita itu langsung meminumnya untuk membantu menelan makanan yang masih ada di dalam mulutnya.


"Makasih Mas, hehe maaf ya,"


"Iya, tapi jangan diulang lagi ya, Mas ngeri kalau lihat kamu tersedak."


Balasnya dengan masih fokus melihat jalanan.

__ADS_1


Sementara Ayana menghentikan makannya karena sudah kenyang, ia kemudian memasukkan kotak bekal itu ke paperbag lagi.


Pandangannya mengarah ke luar jendela. Terlihat pepohonan di pinggir jalan yang menyebutkan mata sesuatu yang sangat jarang terlihat di kota Metropolitan.


Tiba-tiba pandangannya mengarah ke seorang wanita yang mirip dengan orang yang dia kenal.


"Raina," ucapnya tanpa sadar.


Mendengar hal itu membuat Jonathan menoleh, Ia tahu siapa Raina. Yang tak lain adalah istri dari orang yang pernah mencelakakan istrinya. Dan satu fakta yang enggan ia akui, orang itu adalah mantan calon suami Ayana.


"Siapa Dik?" Tanyanya memastikan, ia yakin nama yang disebut Ayana adalah Raina namun ia pura-pura bertanya.


"Aku seperti melihat Raina Mas," akunya jujur.


Entah kenapa Ia merasa yakin kalau sosok itu adalah Raina.


"Sepertinya tidak mungkin Dek, setahu Mas Laki-laki itu dipindahkan ke cabang di luar Jawa dan sudah pasti Raina ikut dengan suaminya."


Jonathan sendiri tak yakin dengan ucapannya, dan satu hal lagi ia sangat enggan menyebut nama laki-laki itu. Kalau mengingatnya sering membuatnya mendidih.


"Tapi dia sangat mirip dengan Raina Mas, Mas yakin mereka tidak ada disini?" tanyanya pada suaminya, kalau Raina disini apakah Ali juga ada di sini, dia sangat ketakutan jika bertemu dengan lelaki itu.


"Entahlah, semoga saja Ayana."


Ujarnya menenangkan.


***


"Perkembangannya sangat bagus sekali, sudah bisa terlihat wajahnya, lihat dia seperti menghisap jempolnya."


Bunga meletakkan alat Usg ke perut Ayana sambil menjelaskan ke orang tua baru itu, dapat terlihat raut wajah binar dari keduanya. Pemandangan yang sangat ia sukai saat menjadi dokter kandungan. Bagaimana melihat wajah bahagia dari pasangan yang menantikan buah kecil mereka.


"Untuk jenis kelaminnya, bagaimana dokter?" Tanya Jonathan antusias, ia tak sabar menantikan anaknya.


Panggilan itu lagi, meskipun mereka teman, mereka memang harus tetap menjaga profesionalitas.


Hanya saja ia seperti merasa kalau kekakuan Jonathan sedikit berkurang.


"Sebentar kita cek dulu, lihat anaknya masih malu-malu, belum mau menunjukkan jenis kelaminnya, jadi kita belum bisa tahu, mungkin bulan depan sudah bisa lihat," Jelasnya.


"Mas, biar jadi suprise saja, anak laki-laki maupun perempuan sama saja kok, yang penting sehat,"


Ayana melihat ke manik mata suaminya.


"Mas yakin sekali kalau anak kita itu cowok, dia yang bilang sendiri kok sama Mas, jadi nggak sabar untuk tahu."


Bunga memutar bola matanya malas mendengar ungkapan Jonathan, mana ada bayi yang bisa ngomong dalam kandungan. Fix temannya sedang oleng. Tapi suka-suka dialah, perilakunya memang wajar untuk calon orang tua, tak sedikit yang berperilaku seperti dirinya. Jadi Bunga sudah maklum dengan kondisi-kondisi seperti itu.


"Suka-suka Mas sajalah."


“Kamu ini nggak percayaan sama suami, tebakan Mas itu nggak pernah salah,


"Baik Ibu dan Bapak pemeriksaannnya sudah selesai," ujarnya menghentikan pertengkaran pasangan tersebut.


Ayana merona malu karena berdebat di depan dokter Bunga. Walau wanita itu terlihat fokus dengan pekerjaannya mungkin dalam hatinya ia membatin.


***

__ADS_1


__ADS_2