
Ayana POV
Hari ini tepat kandunganku berusia 9 bulan. Itu artinya tinggal menunggu 2 minggu lagi untuk kelahirannya. Aku tak sabar untuk
menantikan kehadiran buah cinta kami. Tendangannya semakin hari semakin sering
saja, hingga membuat suamiku yakin kalau dia adalah laki-laki.
Mas Nathan belum pulang, dia masih bekerja di kantor Auditor itu ya setidaknya sampai kontraknya habis. Ia memilih keluar karena
tidak ingin kejadian waktu itu kembali terjadi.
Dituduh berbuat hal yang tidak dilakukan, tentu itu sangat melukai egonya. Ia lelaki yang berprinsip dan tegas lalu lembut di saat
bersamaan, dan hal itulah yang kusukai darinya. Meski terkadang ia akan
terlihat sangat pecemburu.
Tapi aku senang, itu tandanya dia amat sangat mencintaiku. Meski terkadang aku merasa ini semua adalah mimpi, karena betapa besar kebahagiaan yang kuterima.
"Mas Nathan mana sih, katanya mau pulang
cepet."
Gerutuku saat tak kunjung mendapati suamiku di rumah. Memang akhir-akhir ini dia sering pulang terlambat karena mengurus usaha yang dirintisnya. Ia sekarang Mas Nathan mencoba membuka outlet martabak di samping dia juga menanam saham di perusahaan Alvaro.
Kalau mengingat nama itu, aku jadi kepikiran tentang Airi. Mereka itu seperti anjing dan tikus, tapi disisi lain saling melindungi.
Apalagi disaat Airi terpuruk, Alvaro dengan setia mendampinginya. Jangan-jangan
mereka mempunyai hubungan lebih, entahlah aku tidak ingin menduga-duga terlalu
jauh.
"Hayoo, Bunda ngelamunin apa?"
Sebuah suara membuatku terkesiap, ternyata suamiku sudah ada disampingku.
"Nggak ngelamunin apa-apa."
"Beneran, tadi Ayah manggil-manggil nggak
nyahut." Goda dia.
"Udah Ah, sana mandi dulu, katanya mau Ajak Bunda Jalan-jalan."
Ya sejak kehamilanku yang semakin membesar, kami sepakat untuk mengganti panggilan menjadi Ayah dan Bunda. Tentunya untuk membiasakan Anak kami nantinya. meskipun kadang aku masih beraku kamu, atau memanggil namanya.
"Jalan-jalannya cancel aja gimana,
Ayah takut Bunda kenapa-napa."
"Tapi Ayana pengen." Ucapku sambil mengeluarkan ekspresi puppy eyes, biasanya dia akan luluh kalau melihatku seperti ini. Tapi sepertinya kali ini tidak berhasil.
"Yang lain saja ya." Bujuknya.
"Huhhh, aku mendengus sebal dan tak menggubris ucapannya.
Dasar Mas Nathan pembohong.Langsung saja aku menjauh darinya.
"Kamu ini, udah mau jadi ibu masih aja
__ADS_1
ngambekan."
Jonathan menggelengkan kecil kepalanya.
"Kenapa, nggak terima karena aku masih anak
kecil?" Tanyaku sebal, aku ngambek kan juga karena dia.
"Bukan itu sayang."
Sayang, nggak salah Mas Nathan memanggilku dengan sebutan
itu, tidak biasanya.
"Ayana, kamu harus mengerti. Mas nggak mau kamu kenapa-napa di jalan, apalagi ini mendekati kelahiranmu, kamu sabar ya. Nanti
habis kamu lahiran, kita jalan-jalan sepuasnya."
"Dari dua bulan lalu, Mas ngomong gitu."
Nah kan dia tidak bisa membalas ucapanku.
Dasar Mas Nathan pembohong, dia bilang akan mengajakku
jalan-jalan. Tapi sampai sekarang hal itu tidak terlaksana, padahal aku sangat
ingin keluar.
Apalagi aku sekarang sangat ingin memakan cilok yang berada di dekat Universitas Abdi Luhur. Ciloknya ada dua rasa, isi daging dan
isi telur. Tapi aku lebih menyukai yang isi daging, apalagi ditambah sausnya
Biasanya dulu aku sering ke sana menggunakan busway, tapi semenjak menikah, aku belum pernah kesana lagi.
Membayangkannya saja sudah membuat air liurku menetes.
"Mas Nathan boleh ya, cuman beli cilok aja,
janji."
"Kamu kayak lagi ngidam aja."
Aku mengangkat bahu, memang fase ngidamku sampai sekarang
tidak hilang, kadang aku kasihan sama suamiku yang kesusahan menuruti keinginan
anaknya.
"Nggak tahu Mas, Ayana pengen banget, nih."
Langsung saja kukeluarkan jurus andalanku, dengan puppy
eyes. Biasanya Jonathan tak tega dan langsung menuruti semua keinginanku.
"Iya iya, ayo kesana, dan ingat nggak boleh
makan caos."
"Siap Suamiku tercinta."
Aku memberikan kecupan singkat di pipinya, lalu bergegas masuk mobil.
__ADS_1
"Kamu tunggu sini aja ya, biar mas yang beli." Ucapya saat kami tiba di tempat tujuan.
"Siap Mas."
Aku melihatnya yang sedang mengantri, kaos polo dengan celana pendeknya membuat dia terlihat seperti anak kuliah. Lihat saja mahasiswi itu yang tidak mengalihkan pandangannya ke suamiku.
Tahu begitu aku ikut, biar mereka tahu, kalau Jonathan adalah suamiku.
"Ini, cilok untuk bunda."
Jonathan memberikan sebungkus cilok kepadaku.
"Yey. " Teriakku senang, aku tak sabar untuk
mencicipinya. Akhirnya setelah sekian lama.
"Makasih, Ayah."
Langsung kulahap makanan ini, hemm rasanya tidak berubah, malah semakin enak.
"Pelan-pelan makannya, Mas nggak akan rebut kok." ia mengusap lembut kepalaku. Akupun menyandarkan tubuhku di
bahunya.
"Habisnya enak Mas, Mas haru nyoba, sini Aaaa."
Jonathan langsung membuka mulutnya dan menerima suapanku.
"Hemmm, so Yummy." Ia bertingkah seolah sedang melakukan adegan iklan.
Aku terkekeh geli, suamiku bisa juga bertingkah seperti itu.
Tiba-tiba kurasakan sakit di perutku.
"Sstttt." Aku meringis karena sakitnya semakin menjadi-jadi.
"Ayana, kamu kenapa?" Tanya Jonathan panik.
"Mas, perutku sakit." aku sangat kepayahan
menjawab kalimatnya.
Sungguh rasanya sakit sekali, seperti ada sesuatu yang ingin keluar.
"Mas, basahhh." Saat aku merasakan bagian
bawahku basah, apakah air ketubannya pecah. Jangan bilang aku akan melahirkan.
Melihat itu Jonathan langsung panik.
"Ya Allah, bertahanlah istriku."
Dia terus mengenggam erat tanganku.
"Ssttt, Mas, cepat, Ayana sudah nggak kuat."
"Iya sayang kamu tenang ya."
Jalanan memang sedang ramai, Jonathan mencoba secepat yang dia bisa.
****
__ADS_1