After Tomorrow

After Tomorrow
Anjing dan Kucing


__ADS_3

Kamu nggak boleh makan pedas Ay, ingat kandungan kamu.” Jonathan langsung mendekat ke arah istrinya mencoba memberikan pengertian.


“Tapi Adek pengen Mas.” Rajuknya manja seolah lupa ada orang lain di ruangan itu.


“Izinin aja Bang Jo, lagipula cuman sedikit nggak takut anaknya ileran.” Celetuk Ayana.


Jonathan memandang tajam ke arah gadis itu, seolah menyalahkan. AIri jadi begidik di tatap seperti itu. Dia lalu duduk agak menjauh dari Ayana. Lebih tepatnya di seberang pasangan itu.


“Ehemmmm.” Airi merasakan tubuhnya merinding saat mendengar suara itu, dia menolehkan kepalanya ke sumber suara dan gadis itu langsung kaget.


“Setan.” Teriaknya kaget, membuat semua orang memandang ke arahnya.


“Tidak ada hantu di sini Airi.” Ujar Jonathan tajam, dia sangat kesal dengan Airi karena secara tidak langsung adalah penyebab istrinya merajuk.


Ayana meberi isyarat kepada suaminya bahwa setan yang dimaksud adalah laki-laki yang duduk di samping Ayana.


“Astaga.” Batin Jonathan


BIsa-bisanya gadis itu mengatai CEO salah satu perusahaan besar di dunia dengan sebutan Setan.


“Ada kak.” Balas Airi seru.


“Iya kamu setannya.” Celetuk laki-laki di sampingnya.


Airi menepuk jidatnya, lupa kalau Alvaro bisa berbahasa Indonesia. Habislah dia.


“Iya, hehehehehe.” Balasnya mencari aman sembari tertawa.


“Kak Ay, kok nggak bilang akan ada tamu?” Tanya Airi dengan nada sedikit kesal mungkin.


“Kakak lupa, maaf ya.” Balas perempuan hamil itu.


“Huhhh, iya aku maafin , sekarang waktunya makan.” Airi berseru senang dan membuat Ayana gemas.


“Selamat datang Mr. Alvaro silahkan dinikmati hidangan kecil dari kami.” Sambut Ayana ramah.


Sementara Airi tampak tidak peduli, dia mulai mengambil lauk dan nasi ke piringnya tak lupa sambal di piringnya. Saat sudah selesai, laki-laki di sampingnya malah mengambil piringnya. Dan hal itu membuatnya kesal.


“Terima Kasih.” Ujar lelaki itu dengan raut tanpa merasa bersalah.


“Minumnya nggak sekalian?” Tanya Airi dengan nada yang dibuat seramah mungkin, padahal dalam hatinya sudah banyak mengeluarkan umpatan untuk laki-laki di sampingnya.


Alvaro menanggapinya dengan anggukan kecil.


Di seberang sana, Ayana menyiapkan makanan untuk suaminya, kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


“Kita seperti mereka.” Bisik Alvaro di telinga Airi.


Airi hanya mendengus kecil, dia ingin memprotes namun mulutnya terkunci.


Satu suapan masuk ke dalam mulut Alvaro. Pasangan suami itu harap-harap cemas, apakah lelaki itu akan menyukai hidangan yang disajikan. Mengingat Alvaro bukan orang Indonesia, meraka takut makanannya tidak cocok dengan lidah lelaki itu.


Tapi tidak ada satu ekspresi yang ditunjukkan oleh Alvaro. Membuat mereka bingung, apakah makanannya memang tidak enak atau bagaimana. Airi pun juga tak kunjung makan karena dia menunggu Tuan Rumah untuk makan.


"Kenapa kalian tidak makan?” Tanya Alvaro saat menyadari yang di meja tak kunjung makan.


“Emmmm, kami menunggu pendapatmu, apakah makanannya enak, karena sedari tadi Anda tidak mengatakan apa pun.” Balas Ayana.


Alvaro menghentikan kunyahannya. Dia meletakkan alat makannya kemudian minum.


“Enak.” Balasnya singkat.


Ayana mendesah lega, setidaknya tamunya menyukai masakannya. Dia mulai memakan makanannya.


“Syukurlah kalau Anda suka.” Tambah Jonathan.


“Siapa yang membuat saus ini?” Tunjuk Alvaro ke arah sambal yang dibuat oleh Airi.


“Apakah Anda tidak menyukainya?” Tanya Jonathan.


Deg.


Airi jadi panik sendiri, tapi apa hubungannya dengan suka tidaknya Alvaro dengan masakannya.


“Tidak.”


“Tidak?” ulang Jonathan, matanya memandang tajam ke arah Airi.


Airi yang ditatap seperti itu jadi merasa bersalah.


“Bukan maksud saya, ini juga enak, saya belum pernah memakannya.”


Jonathan mendesah lega mendengar pernyataan itu.


“Kenapa, dia makan pakai tangan?” Tanya Alvaro tiba-tiba menunjuk ke arah Airi.


Airi yang ditunjuk, sontak menghentikan kegiatan makannya.


“Makan pakai tangan jauh lebih nikmat daripada pakai sendok.” Balas Airi sekenanya.


Alvaro terlihat berpiki, dia lalu menggulung kemejanya hingga ke siku. Dan mengikuti cara makan Airi. Dia terlihat ragu saat menyentuh makanan itu.


Airi yang gemas, langsung mengambil makanan dan lauk dengan tangannya kemudian menyuapkannya kepada Alvaro.


Alvaro yang tak siap mau tak mau menerima makanan dari gadis itu. Jonathan dan Ayana yang melihatnya hanya bisa menggelenghkan kepalanya, antara gemas dan kesal dengan apa yang dilakukan oleh Airi. Semoga saja tamu mereka tidak marah.


“Not Bad.” Komentarnya diikuti senyuman kecil yang tidak kentara dan hal itu hanya sepersekian detik, hingga orang di ruangan itu tidak menyadarinya.


“Lagi.” Ujar Alvaro setelah menghabis suapan darinya.


Airi bergeming, ini maksudnya Alvaro setan minta disuapi.


“Airi.” Tambahnya.


Gadis itu mendengus kesal, lalu mau tak mau menurutinya.


“Mas Nathan mau juga dong disuapi.” Ujar Ayana saat melihat mereka.


Akhirnya mereka berakhir dengan saling menyuapi.

__ADS_1


****


“Mas, Mr Alvaro dan Airi lucu.” Ujar Ayana tiba-tiba.


Saat ini mereka sedang berada di ruang santai sembari melihat film “Before Sunset” yang diputar. Posisi Ayana menyender pada jonathan, dengan kedua tangan suaminya yang setia berada di perutnya.


“Mereka mengingatkanku pada kita dulu yang nggak pernah akur.” Tambahnya yang diiringi dengan tawa.


Jonathan memandang lekat ke wajah istrinya, dia semakin terpesona dengan Ayana. Kemudian dia mencuri ciuman kecil di kedua pipinya.


“Masssss.” Rengek Ayana kesal.


Jonathan tidak menggubrisnya, dia malah semakin memberikan kecupan ke wajah istrinya. Terakhir memberikan lumatan kecil di bibir mungilnya.


“Mukamu memerah Ay.” Goda Ayana.


“Malu tahu. . . . “ Dia menenggelamkan wajahnya di dada suaminya sembari menghirup aroma yang sangat disukainya akhir-akhir ini. Mungkin karena kehamilan.


“Astaga.” Batin Jonathan.


Istrinya masih malu-malu saja, padahal mereka sering melakukan hal yang lebih dari pada ini.


Bahkan sudah ada hasilnya di perut Ayana.


"Mas belum jawab pertanyaan Ayana." Ayana mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya.


Tangannya mengelus rahang bawah Jonathan yang ditumbuhi rambut-rambut halus.


"Yang mana?"


"Mas Nathan, sebel, yang Mr Alvaro dan Airi." kesalnya tapi tidak menghentikan elusan tangannya.


"Tadi kamu tidak bertanya sayangku." balasannya sambil terkekeh kecil.


Tangannya menggenggam tangan Airi yang ada di dagunya, kemudian membawanya ke bibirnya untuk dikecup.


Ayana semakin merona malu.


"Oh Iya, Adek lupa." balasnya


"Mas, tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka, tapi Mas harap semua baik-baik saja."


Jonathan sangat tahu Alvaro adalah orang yang paling berbahaya. Sekali terjebak dengannya, maka dia tidak akan melepaskannya.


"Memangnya kenapa?" tanya Ayana penasaran.


"Entahlah."


"Huhhh." Muka Ayana berubah menjadi cemberut karena tak puas dengan jawaban suaminya.


"Cup."


Lelaki itu menciumnya secara tiba-tiba, Ayana yang tak siap langsung mendorongnya. Sayangnya Jonathan tidak bergeser sedikitpun. Dia semakin melumat bibir mungil itu dengan rakus.


"Massss,ahhhh." Desahnya.


"Balas aku Ay." Geram Jonathan lirih.


Mereka berciuman seolah tak kenal waktu.


Jonathan menghentikan ciumannya setelah kehabisan napas.


Tangannya mengusap bibir Ayana yang mulai membengkak kemudian memberikan kecupan kecil.


"Mas, apa itu tadi?"


Tanya Ayana yang merasakan ciuman itu lebih daripada biasanya.


"Hukuman untukmu karena memberikan ekspresi seperti itu."


Ya Tuhan, Ayana mendesah dalam hati.


Suaminya semakin hari semakin mesum saja, dan anehnya dia menyukai hal itu.


"Kalau kau tidak segera menutup mulutmu, Aku tidak bisa mencegah kalau kita akan melakukannya disini." Netra itu kini dipenuhi oleh kabut gairah. Dia sangat menginginkan istrinya saat ini.


"Disini Mas?"


"Ya."


Ayana menimbang-nimbang, dia sendiri juga menginginkan suaminya.


"Malu."


"Tenang Ay, tidak ada orang lain disini selain kita." ujarnya sembari mengangkat Ayana di atas oangkuannya.


Bibirnya menyesap. Leher istrinya, tangannya pun tak tinggal diam bergerilya ke titik-titik sensitif istrinya.


"Masssss." Rengek Ayana.


"Kenapa Ay." Balas ya tanpa menghentikan gerakannya.


"Aku mau disini, sekarang." Ujarnya keras, sungguh dia teramat sangat malu.


Jonathan terkekeh, dia sudah melepaskan pakaian istrinya dan pakaiannya sendiri. Hingga mereka menjadi polos.


Ciumannya merembet kemana-mana.


"Berhenti Mas, aku sudah tidak tahan, Please."


Jonathan menghentikan Ciumannya, dia membalik posisi Ayana untuk membelakanginya dengan kedua siku yang menumpu pada sofa. Setelah itu memposisikan bagian bawahnya untuk masuk ke dalam tubuh Ayana.


"Ahhh." Erang mereka bersamaan


Jonathan kemudian menggerakkan tubuhnya serileks mungkin takut menyakiti anaknya. Setelah itu terdengar lenguhan dan erangan dari ruangan itu. Lelaki itu seolah tak puas menggauli istrinya.


****


Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh Malam. Namun gadis itu tak juga beranjak keluar dari kantor. Dia sangat takut untuk pulang ke kosannya, di sisi lain ia tak ingin tidur kantor.

__ADS_1


Ting


Sebuah pesan masuk ke gawainya


Keluarlah, aku tahu kau di dalam.


Alvaro


Airi mengernyit kan kening ya saat nama itu muncul di ponselnya.


Bagaimana Setan itu bisa tahu kalau dia ada di kantor. Dia sedang malas bertemu dengannya. Selain karena masih kesal, ia juga teramat malu jika mengingat kejadian tadi siang saat ia menyuapi Alvaro makan.


Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu.


Keluar atau aku yang akan masuk


Pesannya muncul lagi


"Iya iya." Teriaknya kesal.


Airi bergegas menuruni tangga dan menuju pintu keluar.


Ia langsung masuk ke sebuah mobil yang teroakir di depan gerbang. Lagipula siapa yang memakai mobil sport disini kecuali Alvaro.


Orang kaya mah bebas.


"Setelah memastikan Airi memakai sealtbetnya, Alvaro mulai mengendarakan mobilnya.


"Pak Alvaro, ini bukan jalan menuju kosanku."


"Alvaro, atau kamu lebih suka menerima hukuman dariku, sudah cukup kamu tadi siang memanggilku dengan panggilan itu."


Airi mencebik kesal, orang disampingnya sekali ngomong panjangnya seperti jalan tol.


Ckitttt


Lelaki itu tiba-tiba menghentikan laju mobilnya, lalu tiba-tiba mencium Airi tetap di bibirnya.


"Jangan, acuhkan aku Ai." bisiknya setelah melepaskan ciumannya.


Airi terlalu syok untuk menanggapi, hingga dia hanya diam dan tanpa sadar mengangguk.


"Bahaya." gumannya.


Dia merasakan jantungnya berdetak karuan, apa dia punya penyakit jantung.


Sementara Alvaro dengan cuek kembali mengemudikan mobilnya.


"Al, ini bukan jalan ke kosanku."


"kita menuju penthouseku."


"Apa?" Serunya kaget


"Aku tidak mau Al, antarkan aku pulang ke rumah."


Sayangnya apa yang diucapkan Airi sama sekali tidak didengarkan oleh Alvaro.


****


Ayana masih betah bergelung di pelukan suaminya. Mereka masih berada betah berada di ruang santai. Dengan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Kepalanya berbantalkan lengan Jonathan.


"Mas, tidak pernah seperti tadi." Ujar Ayana tiba-tiba. Tangannya membentuk pola abstrak di dada suaminya.


"Aku sudah berkonsultasi dengan dokter, mengenai posisi yang aman untuk ibu hamil, apa aku menyakiti kalian."


Tangannya mengusap lembut perut istrinya.


"Tidak Mas."Balasnya malu, dia menyembunyikan kepalanya ke dalam dada suaminya.


"Jangan memancingku Ay, kamu tidak boleh kelelahan."


"Siapa yang memancing." cebiknya.


"Minta dicium?" Goda Jonathan.


"Mana ada?" sungutnya


Lelaki itu hanya tertawa kecil.


"Jadi Mas, Airi dan Mr Alvaro sebenarnya ada hubungan apa?"


Pertanyaan itu lagi, sepertinya Ayana sangat penasaran akan hal itu. Apalagi ini menyangkut adik kesayangannya.


Wanita itu penasaran sekaligus khawatir.


"Entahlah Ay, Mas tidak tahu, tapi kamu tenang saja, meskipun bocah kecil itu sangat menyebalkan, dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri, kamu tenang oke."


Balasnya mencoba menenangkan istrinya.


"Entahlah, di sisi lain, aku gemas dengan mereka, seperti anjing dan kucing yang selalu bertengkar, tapi di sisi lain aku..."


"Sudah jangan dibahas lagi Ay, nanti dedek bayinya malah jadi sedih."


"Huhh, Mas bisa saja." Balasnya dengan senyuman kecil kemudian memberikan kecupan kecil di bibir suaminya.


Jonathan kaget, baru kali ini Ayana menciumnya duluan.


"Sepertinya, aku harus menarik kata-kataku, aku akan membuatmu kelelahan malam ini." Ujarnya sembari memberikan kecupan bertubi-tubi di tubuh Ayana.


"Hentikan Mas." Rengek Ayana.


Sayangnya Jonathan tidak menghentikannya dan terus membuat istrinya mendesah malam ini.


****



****

__ADS_1


Tbc


__ADS_2