
Hah, maksudnya?”
Pertanyaan itu spontan keluar dari mulutnya.
“Clarissa istriku.”
Jonathan tercengang tidak menyangka dengan fakta ini, bagaimana ceritanya mereka bisa menikah. Jadi Pak Roy, laki-laki yang dijodohkan dengan temannya itu.
“Clarissa ada di ruang makan Pak, mungkin bapak berkenan untuk makan malam dengan kami.”
Ia membalasnya dengan anggukan, kedua tangannya saling mengenggam di atas pahanya.
Jonathan kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke dapur, di sana sudah menunggu Ayana dan Clarissa.
"Siapa Mas tamunya, Oh pak Roy, apa kabar Pak?"
Ayana mengatupkan kedua tangannya di depan dada tanda menyambut atasannya dulu. Karena tidak boleh laki-laki dan perempuan bersentuhan jika bukan muhrimnya.
"Baik, kuharap kalian juga dalam keadaan baik."
Mata lelaki itu memindai sekeliling sampai pandangannya mengarah ke istrinya yang sedang menunduk enggan menatap wajahnya. Ia bisa melihat istrinya tengah meremas kedua tangannya tanda gugup.
"Alhamdulillah baik."
Suara itu membuat ia mengalihkan pandangannya.
"Jadi gini Dek, pak Roy ke sini mau menjemput istrinya."
Jonathan menjelaskan kedatangan Pak Roy yang mendadak ke rumahnya kepada Ayana.
Memang siapa? tanyanya dalam hati.
Kalimat itu membuat kening Ayana mengernyit bingung. Jonathan yang melihat itu langsung menjelaskan.
"Jadi Pak Roy ini suaminya Clarissa."
"Apa?" namun pertanyaan itu tidak keluar dari mulutnya melainkan kalimat lain.
"Mari pak Roy, silahkan duduk untuk ikut makan malam bersama kami."
Jonathan mempersilahkan atasannya untuk duduk di samping Clarissa.
Tubuh Clarissa mendadak kaku sebentar , saat mendengar derita kursi yang tergeser. Ia belum berani melihat sosok di sampingnya.
Suasana makan malam berubah menjadi canggung, tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka. Hanya terdengar suara dentingan alat makan yang beradu dengan piring.
"Terima Kasih Jonathan dan Ayana untuk makan malamnya, kami langsung pamit pulang."
Setelah selesai makan malam, Pak Roy langsung mengajak Clarissa untuk pulang. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada Jonathan dan Ayana.
Setelah mengantar mereka ke depan, kedua orang itu langsung masuk ke dalam kamar. Sementara luar rumah, hujan masih turun dengan derasnya.
" Aku benar-benar tidak menyangka Mas, kalau ternyata suami Clarissa itu Pak Roy, makannya tadi dia sempat bilang kalau suaminya itu lebih kulkas dari kamu, dan sejauh ini orang yang paling kulkas yang pernah kutemui memang pak Roy," katanya sambil membaca buku tentang kehamilan dengan punggung yang menyender di ranjang.
Ia sangat fokus dengan buku bacaannya hingga tidak sadar kalau suaminya sudah ada di sampingnya.
"Jahat sekali kau Ay, mengatai suami sendiri kulkas." ujarnya pura-pura marah.
"Fokus banget sampai suami sendiri dicuekin." rajuknya.
Ayana tidak membalas ucapan suaminya, ia masih fokus dengan buku di tangannya. Namun tiba-tiba, keningnya mengernyit karena mencium bau yang tidak enak hingga membuatnya mual.
"Kenapa Ay?" tanyanya khawatir apalagi saat melihat wajah Ayana yang seperti itu.
Wanita itu mencari-cari sumber bau itu dan ternyata aroma itu berasal dari suaminya.
__ADS_1
"Ini Mas Nathan belum mandi ya, kok baunya nggak enak sih," protesnya.
"Hah Masa sih Dek, tadi habis sholat magrib mas udah mandi kok." akunya jujur.
"Tapi baunya nggak enak Mas bikin Ayana mual, Mas pakai sabun apa sih."
Jonathan mengernyit bingung, biasanya istrinya tidak mempermasalahkan wangi sabun yang ia pakai kenapa sekarang malah jadi seperti ini.
"Mas pakai yang biasanya Dek." jawabnya jujur.
"Wangi kok, biasanya kamu juga suka, malah kalau nggak nyium wangi ini kamu nggak bisa tidur," akunya jumawa.
Wanita itu memang tidak bisa tidur jika tidak berdekatan dengan suaminya
"Tapi sekarang, Ayana nggak suka Mas, mual banget nih, Mandi lagi atau tidur di luar."
Ancamnya final.
Mendengar hal itu mau tak mau Jonathan menurutinya, walau harus mandi di malam yang sangat dingin ini. Memang sih, pakai air pas namn tetap saja ia akan kedinginan. Siapa yang tidak merasa kedinginan jika mandi di jam 8 malam dengan hujan yang sangat deras.
"Baiklah, tapi sabun Mas kan wanginya itu semua, kamu mau Mas pakai sabun apa biar nggak mual?" tanyanya mencoba sabar.
Wanita itu berpikir sejenak sebelum bersuara,
"Pakai sabun Ayana saja Mas, wangi Lavender Ayana suka."
What, masak dia mandi pakai sabun itu, tidak Manly sekali tapi demi Ayana akan ia lakukan.
"Baiklah demi tidak bobok di luar, pokoknya nanti nggak ada alasan lagi kamu menolak pelukan Mas."
"Aye Captain."
Jonathan akhirnya mandi lagi demi menuruti keinginan istrinya. Lebih baik dia kedinginan karena mandi malam daripada tidur di luar. Setengah jam kemudian ia selesai mandi, lebih cepat dari waktu biasa ia mandi.
Ceklek
Laki-laki itu mendekat ke arah Ayana.
"Mas Nathan pakai baju dulu, nggak malu apa pakai handuk doang."
kesalnya, pipinya kini merona merah..
Saat ini ia memang hanya menggunakan handuk saja.
"Kenapa, sama istri sendiri kok." elaknya tak mau ngalah.
"Cepat pakai baju atau..."
Waduh, ancaman itu lagi. Demi kemaslahatan bersama ia tidak akan mengganggu istrinya lagi.
"Siap bu Komandan."
Jonathan mengambil pakaian tidur di lemari. Dengan sengaja ia memakai pakaian di depan istrinya. Yang membuat Ayana memalingkan mukanya.
"Gimana Ay, udah wangi kan?" tanyanya memastikan, ia sudah berbaring lagu di dekat istrinya.
Ayana mencium wangi Lavender yang mebguar dari tubuh suaminya, dan berhasil wangi itu tidak membuat mual.
"Iya Mas, Terima Kasih ya." Balasnya dengan senyuman Riang.
Jonathan bisa bernapas lega, karena dia tidak akan diminta untuk mandi lagi apalagi tidur di luar.
"Anything for you, My Dearest," Balasnya dengan senyum manisnya.
"Dasar tukang gombal." ledeknya
__ADS_1
"Kan mas mencoba untuk lebih peka sayang."
Ayana menggembungkan pipinya, ada saja balasan dari suaminya. Nasib berdebat dengan auditor, jadi serba salah.
"Baca apa Dek asyik banget sih."
"
" Ini Mas. "
Ayana terlihat malas menjawab pertanyaan suaminya, karena ia tengah asyik membaca. Ia hanya menunjuk ke arah judul yang ada di sampul buku bertuliskan" Calon Ibu."
" Dasar kamu nih, suami sendiri dicuekin."
Laki-laki itu kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Ayana. Matanya melihat wajah istrinya dari bawah yang terlihat serius.
"Mas mau tahu juga dong apa yang dibaca, tapi dari suara kamu."
"Males banget Ayah ini."
"Habisnya suara kamu itu lebih mujarab daripada obat tidur apalagi kalau digunakan untuk men..."
"Awwwww, sakit Dek."
Ia memekik sakit karena Ayana menimpuk wajahnya dengan buku, walaupun pelan dan tidak berasa sama sekali.
"Habisnya mulutnya kalau ngomong lama-lama nggak difilter, jangan-jangan aslinya Mas kayak gini ya suka berpikiran seperti itu."
Laki-laki itu hanya terkekeh geli melihat wajah galak Ayana.
"Hahaha, cuma sama kamu doang Ayana sayang."
Blush
Pipi Ayana langsung merona merah karena mendengar kata itu.
"Mas ih, jangan panggil sayang terus dong." gerutunya.
"Kenapa, kan Mas mencoba untuk belajar romantis sayangku biar tidak kamu katain kulkas terus."
"Terserah deh, Ayana mau tidur nih ngantuk."
Jonathan lalu membawa Ayana ke pelukannya.
Jedar Jedarrr
"Mas, takut ada petir." akunya takut ia semakin mengerahkan pelukannya.
"Tenanglah, ada Mas di smapingmu."
Jonathan mencoba menenangkan ia mengelus rambut istrinya.
"Tapi nggak bisa tidur."
Wajahnya mendongak ke arah Jonathan.
"Hahhh, apa yang harus mas lakukan agar kamu mau tidur?" tanyanya mencoba bernegosiasi.
"Nyanyiin Twinkle-Twinkle Little Star ya, Ayana suka sekali dengan lagu itu." Pintanya.
"Baiklah, tapi kamu harus tidur ya, dedek bayi nggak boleh begadang."
"Hehehe, Aye Captain Nathan."
Jonathan kemudian menyanyikan lagu itu sambil menepuk punggung istrinya pelan.
__ADS_1
Terdengar deru napas teratur dari Ayana, dan Jonathan yakin kalau istrinya sudah tertidur. Ia pun ikut memejamkan mata menuju alam mimpi.