
Ibumu juga ibuku
Jadi aku harus memperlakukannya sebaik mungkin
Karena dalam pernikahan
Bukan hanya kita
Tapi tentang bersatunya dua keluarga
-Ayana-
****
Ting Tong
Suara bel mengganggu tidur nyenyak Ayana. Dia sudah kembali ke rumah setelah seminggu di rawat di rumah sakit. Karena sudah tidak bekerja, dia memilih untuk bermalas-malasan di rumah. Lagipula akhir-akhir ini dia sering merasa sangat mengantuk.
"Ting Tong"
Ayana sudah tidak tahan lagi dengan suara bel itu, akhirnya dia mengambil kerudung instan dan memakainya, celana rumahannya dia ganti menggunakan rok. Suaminya melarang dia menggunakan celana sekarang,
alasannya kasihan dedek bayinya merasa sesak kalau pakai celana.
Ada ada saja tingkah suaminya.
"Ceklek."
Mata Ayana membola saat melihat ibu mertunya datang.
"Mama." cicitnya pelan.
"Menantuku." Teriak Ibu mertuanya girang.
Grace langsung memeluk menantunya erat, Ia sangat bahagia mendengar kabar kehamilannya. Tapi ia tak langsung menemui Ayana karena berada di luar kota, dan sekarang urusannya sudah selesai jadi ia bisa menemui menantu cantiknya.
Saat Jonathan bilang kalau dia ingin menikah, Grace hanya tertawa dan menganggap semua itu lelucon. Ayolah anaknya itu terlalu kaku dan tidak dekat dengan satu wanita pun.
Tapi ketika ia menunjukkan kesungguhannya untuk melamar sang Pujaan Hati. Mau tak mau akhirnya Grace percaya, apalagi menantunya ternyata anak dari sahabatnya sewaktu kuliah. Ahh ternyata duni itu sempit sekali, setiap orang pasti berhungan dengan satu orang lainnya.
"Ma, ayo masuk."
Ajakan Ayana membuyarkan lamunannya, ia lalu masuk ke dalam rumah anaknya yang terbilang besar.
Ayana sebenarnya agak kurang nyaman dengan mertuanya,
karena memang mereka sangat jarang bertemu.
"Mama, mau minum apa, biar Ayana buatkan."
"Nggak usah, Mama cuma mau liat kondisimu, katanya kemarin masuk rumah sakit, dan maafkan Mama ya tidak mengunjungimu disana."
"Nggak papa Ma, Ayana dan dedek bayi baik-baik saja." Ucapnya seraya mengulas senyum.
"Tapi. .., Mas Jonathan sekarang tambah over protektif, Ayana nggak boleh ngapa-ngapain."
"Hahahaha." Grace tertawa lepas, karena tak menyangka anaknya bisa sangat perhatian seperti itu.
"Ya wajar, itu artinya dia sangat mencintaimu."
Rona merah langsung muncul di pipi Ayana.
"Mama, udah makan belum, kalau belum Ayana masakin."
"Kamu nggak perlu repot, kalau tahu kamu kerja berat, bisa-bisa Mama diomelin sama anak itu."
Ayana mengulas senyum lagi, suaminya memang tidak membiarkan dia melakukan aktivitas, sekarang semua pekerjaan rumah dia yang pegang, memasak pun dia tidak diizinkan. Padahal Ayana sangat ingin memasak.
Ah dia jadi cemberut ketika mengingat larangan suaminya.
"Jangan cemberut gitu, gimana kalau hari ini kita masak bareng, udah lama Mama nggak masakin masakan kesukaan Nathan."
Nathan
Ayana baru ingat kalau suaminya dipanggil dengan nama Nathan di keluarganya, dan hanya orang tertentu saja yang memanggilnya seperti itu. Panggilan itu berubah ketika suaminya bertemu dengan dirinya saat pertama kali
"Boleh Ma, Ayana mau."
"Kalau gitu kamu mandi dulu gih, dan pakai pakaian longgar aja, Mama dulu waktu hamil suka kegerahan soalnya."
"Siap Ma." Pipi Ayana memerah malu, sepertinya dia ketahuan belum mandi oleh Mama mertuanya.
Tapi siapapun dapat menebaknya bukan, jika penampilan Ayana terlihat kuyu.
****
Sekarang Ayana dan Mama mertuanya telah siap untuk memasak. Mereka memutuskan untuk memasak Sop Iga masakan kesukaan Jonathan. Untuk pelengkapnya adalah perkedel, tahu dan tempe.
"Kamu nggak ngidam makan gitu Ayana, biar Mama sekalian masakin."
Ayana yang ditanya seperti itu hanya diam, sebenarnya dia ingin memakan cap jay, tapi dia tidak ingin merepotkan Mama mertuanya.
"Kalau pengen apa-apa jangan ditahan, kasihan dedek bayinya nanti ileran."
Ileran, sebenarnya Grace juga tak percaya mitos seperti itu. Tapi sungguh dia ingin sekali membuatkan masakan untuk menantunya.
"Ayana pengen makan cap jay Ma." sahut wanita itu kemudian.
"Oke Mama buatkan, sekarang kamu masukkan sayuran ini ke panci ya, Mama ambil bahan untuk buat cap jay."
Ayana mengangguk, dalam hatinya dia bersyukur karena mempunyai Ibu mertua yang sangat menyayanginya. Ditambah suaminya yang makin sweet aja.
Mereka memasak dan saling bercanda ria, ternyata menghabiskan waktu dengan mertua sangat menyenangkan.
"Ayana, Mama ke dalam dulu ya, kamu teruskan masaknya, sebentar lagi suamimu datang."
"Iya Ma."
Jarum jam memang menunjukkan jam istrirahat, Ayana tak menyangka suaminya akan pulang hanya untuk makan siang.
__ADS_1
Padahal jarak antara kantor dan rumah lumayan jauh.
Grep
Hampir saja Ayana menjatuhkan sendok, saking kagetnya
Sebuah lengan kekar memeluk erat tubuhnya dari belakang, dan Ayana langsung tahu kalau ini adalah suaminya.
"Mas Nathan."
"Hemm."
Jonathan hanya berdehem sambil mengendus leher jenjang istrinya, dia sibakkan rambutnya lalu memberikan kecupan lembut.
"Mas, ada Mama."
Sungguh Ayana takut dipergoki ibu mertuanya.
"Nggak papa, salah siapa kamu dibilangin bandel."
Ayana memberengut kesal.
"Habisnya, anaknya Mas pengen masak." balas Ayana tak mau kalah.
"Maunya anak kita apa maunya kamu."
Jonathan membalikkan tubuh Ayana untuk menghadapnya.
Ayana hanya bisa menunduk kecil.
"Jawab Mas, hemmm."
Tangan Jonathan mengangkat dagu istrinya. Melihat Ayana yang malu-malu kucing membuatnya ingin menghabiskan waktu di kamar saja. Sungguh dia benar-benar tidak tahan.
"Nathan, kamu sudah pulang Nak."
Langsung saja suara itu membuat Jonathan langsung melepaskan rengkuhannya.
Berdiri canggung karena ketahuan oleh ibunya.
Sementara Ayana, pura-pura mengaduk sayur.
"Iya Ma." Jonathan langsung menghampiri ibunya dan mencium tangannya.
"Aduh aduh." Tiba-tiba Jonathan memekik sakit.
Ternyata ibunya sedang menjewer kupingnya.
"Lepaskan Ma, sakit."
Ayana yang melihatnya hanya terkekeh geli, suaminya
terlihat takut dengan ibunya.
"Sudah mau jadi Bapak, masih saja bermesraan nggak tahu tempat, kalau ibu nggak datang, bisa-bisa dapur ini berantakan."
Grace yang melihat tingkah anaknya jadi kangen dengan suaminya yang saat ini masih mengurus bisnisnya di luar negeri. Sifatnya sebelas dua belas dengan Jonathan. Buah durian memang jatuh tak jauh dari pohonnya.
Mamanya mengulas senyum tipis, dia langsung membantu Ayana menata masakan di meja.
"Ayo Nathan, kita makan."
"Siap Mamaku tercinta."
Matanya langsung berbinar saat melihat masakan di atas meja. Ada Sop Iga makanan kesukaannya.
"Makasih Mama, dan istriku."
"Iya sekarang makan."
Ayana langsung mengambilkan nasi dan lauk ke piring suaminya. Lalu dia baru mengambil makanannya sendiri.
"Hmmm, enak banget, kalian memang Top deh." Ucap Jonathan.
Sungguh rasa Sop Iganya memang enak sekali, mungkin karena dibuat oleh orang tercinta.
Ibunya dan Ayana hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan makan.
Ayana yang melihat suaminya makan, tiba-tiba ingin makan makanan yang ada di piring Jonathan.
Kenapa, makanan itu terlihat sangat enak. Pikir Ayana dalam hati.
Tapi Ayana malu untuk memintanya, apalagi sekarang ada ibu mertuanya.
Jonathan menghentikan makannya saat melihat Ayana hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Kenapa tidak dimakan, tidak enak?"
"Enggak Mas, enak kok."
Ayana mencoba memasukkan makanan ke mulutnya tapi dia tak sanggup entah kenapa tidak berselera.
"Kenapa nggak jadi dimakan, kamu harus makan banyak, biar kamu sama dedekbayinya sehat."
Wanita hamil itu hanya diam, dia mau untuk mengutarakan keinginannya.
"Dek, atau mau Mas suapi?"
Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Jonathan langsung menyendok makanan dari piringnya dan menyuapkannya ke Ayana.
Mata Ayana berbinar-binar, dia langsung melahap makanan yang disodirkan oleh suaminya.
"Lagi?"
Wanita itu menganggung sambil tersenyum malu-malu.
Jonathan mengulangnya lagi, menyuapi istrinya lalu bergantian dengan dirinya dari piring dan sendok yang sama, sampai makanan itu habis.
Sementara makanan di piring Ayana masih tak tersentuh.
__ADS_1
"Mau nambah?" Tanya Jonathan kepada istrinya.
Dia hanya mengangguk, tapi tangannya menahan tangan Jonathan saat mau mengambil piringnya.
Pria itu mengangkat alis bingung, seolah bertanya.
"Mau dari piringnya Mas Nathan saja."
Astaga, jadi selama ini Ayana ingin makan dari piring yang dia gunakan. Celetuk Jonathan dalam hati.
Sepertinya kehamilan Ayana membuatnya semakin tak bisa jauh dari Jonathan.
"Iya, tapi makan sendiri ya."
"Nggak mau." Mata Ayana berkaca-kaca.
Nah lo, niatnya hanya ingin menggoda istrinya. Ayana malah menampilkan ekspresi mau menangis.
"Iya-iya Mas suapin lagi, sekarang buka mulutnya."
Wajah Ayana langsung berubah ceria, cepat sekali perubahan mood ibu hamil ini.
Sementara Grace tersenyum melihat anak dan menantunya yang terlihat sangat bahagia.
****
"Mama pamit dulu ya, Ayana jaga kesehatan baik-baik, dan Nathan kamu harus memenuhi semua permintaan istrimu."
Grace memberikan tatapan lembut kepada menantunya, tapi dia memberikan tatapan mengancam pada anaknya.
Jonathan mendengus kecil.
"Iya Ma."
"Salam buat Papa ya Ma, Mama baik-baik di jalan."
"Siap menantuku yang cantik."
Grace lalu berlalu pergi menaiki mobilnya tentunya dengan supir pribadi karena suaminya melarangnya untuk menyopir sendiri.
"Mama Mas lucu." Kata Ayana saat masuk ke dalam rumah.
"Aku berasa jadi anak tiri, Mama lebih sayang sama kamu daripada aku." Keluh Jonathan.
"Udah mau jadi Ayah, nggak boleh cemberut."
"Habisnya Mama kayak gitu."
"Bagus dong, berarti Mama menerimaku, dan menganggapku sebagai anak kandungnya, Mama itu sayang sama Mas."
"Iya Mas tahu kok, cuman sebel aja dan makasih kamu sudah memperlakukan Mama dengan baik."
"Harus karena Ibumu juga ibuku, pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua insan, tapi juga menyatukan dua keluarga."
"Dapat dari mana kata-katanya, Ibunya anakku so sweet banget."
Ayana tertawa renyah, sementara Jonathan menurunkan kepalanya sejajar dengan perut Ayana.
"Hi jagoan Ayah, sehat kan disana, jangan nakal ya, jangan bikin bundamu kesusahan."
Ia lalu mencium perut Ayana yang masih rata.
Wanita itu tersenyum haru sambil mengelus sayang kepala suaminya.
"yakin banget mas, anak kita cowok?"
"Yakin, anak kita sendiri yang bilang kepadaku." Jelasnya percaya diri.
"Mana ada, Mas Nathan ngawur."
"Anak kita sendiri yang bicara kepadaku, dan hanya aku yang bisa mendengarnya."
Wanita itu hanya bisa mendengus geli.
"Kalau tebakan Mas salah bagaimana?"
"Tinggal, kita buat lagi, beres."
"Ya Ampun Mas, yang ini saja belum keluar sudah minta anak lagi."
"Banyak anak banyak rezeki, hahahaha."
"Iyain aja deh, asal Mas senang."
Jonathan mencubit gemas pipi istrinya.
"Oh ya, Mas nggak ke kantor?"
Tanya Ayana, karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul 2 siang itu artinya jam istirahat sudah selesai, akan tetapi suaminya masih betah berada di sini.
"Nggak hari ini Mas ada tugas keluar, dan itu sudah selesai mas lakukan, jadi aku free."
"Yey, berarti boleh jalan-jalan dong." Ayana memperlihatkan puppy eyesnya mencoba untuk merayu suaminya.
"Enggak boleh." Balas Jonathan dia tidak ingin istrinya kenapa-napa.
"Tapi Adek bayi pengen jalan-jalan."
Kalau sudah membawa Anak, Jonathan jadi susah menolaknya.
"Ya sudah mau kemana?"
"Emmm, ke Lotte belanja." Jawabnya senang.
"Belanja lagi?"
"Kulkas kosong mas, ya bolehlah, Adek pengen masak-masak, demi dedek Bayi."
"Iya-iya, apasih yang enggak buat kamu."
__ADS_1
*****