
Pagi yang dingin karena hujan
semalaman. Cahaya matahari tampak malu-malu menampakkan sinarnya. Laki-laki itu membuka gorden agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam ruangan. Ia mengamati
kebun yang masih basah setelah diguyur air hujan.
Laki-laki itu kemudian beranjak
mendekati ranjang untuk membangunkan istrinya. Setelah shubuh, Ayana memang
langsung tidur karena mengantuk. Sebenarnya tidur oagi setelah Shubuh itu tidak baik untuk kesehatan, namun apadaya seemnjak hamil istrinya memang suka
mengantuk jadi dia tak tega.
“Dek, bangun dik.”
Ayana hanya menggeliat, ia
semakin menggulungkan tubuhnya di dalam selimut.
Merasa taka da respon, Jonathan
membiarkannya untuk melnjutkan tidur, karena ia harus bersiap berangkat ke
kantor. Ada yang beda menurutnya saat menyiapkan pakaian sendiri, karena
biasanya Ayanalah yang menyiapkan. Jonathan tidak bisa membayangkan jika harus berjauhan dari Ayana. Semoga saja pekerjaannya tidak menuntutnya untuk pergi
jauh.
Setelah Jonathan menutup pintu
mata bergerak-gerak karena merasakan silau di wajahnya, kemudian ia membuka mata dan segera melihat jam meja yang menunjukkan pukul 06.30 pagi. Ia panik karena belum menyiapkan sarapan dan bekal untuk suaminya.
Ayana menyibak selimut dengan
cepat, oergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka lalu bergegas menuju dapu. Sampai sana ia sudah melihat suaminya dalam keadaan rapi dengan kopi dan sarapan yang lengkap di atas meja.
“Sudah bangun AY, sini duduk kita
sarapan.”
Jonathan meminta Ayana untuk duduk di sampingnya, wanita itu dengan patuh menuruti permintaannya. Matanya memindai ke meja yang sudah tersedia sarapan lengkap nasi goring dan telur mata sapi, kemudain juga da buah poting yang pasti ditujukan untuknya. Selain itu sudah tersedia segelas susu hamil di hadapannya.
“Mas Nathan yang menyiapkan semua
ini?” tanyanya heran.
Laki-laki itu terkekeh, dia memang bisa amsak tapi kalau meyiapkan ini semua mungkin akan sedikit keteteran.
“Bukan sayang, Bik Nah yang
menyiapkan,” jelasnya.
“Maksudnya Bik Nah yang ada di
rumah Mama?” tanyanya saat mendengar kalimat itu.
“Iya Ay, kan Mas sudah bilang
kalau mau bawa Bik Nah ke sini, kasihan kamunya hamil besar tapi masih mengerjakan semuanya sendiri, Mas nggak mau terjadi apa-apa sama kandunganmu.
__ADS_1
Oh ya, mulai hari ini kamar kita nanti berada di lantai satu.”
Ayana menatap suaminya sejenak,
merasa sangat disayang karena perhatian itu, karena tak semua laki-laki akan seperti itu. Banyak cerita dari temannya kalau suami mereka adalah tipe konvensional yang apa-apa harus dilayani tidak peduli dengan kondisi istrinya.
Beruntung Mas Nathan tidak seperti itu, ia sangat pengertian. Bahkan suaminya
tak malu untuk membantunya melakukan pekerjaan rumah. Kecuali untuk urusan
dapur, hal itu merupakan wewenangnya.
“Kenapa?” tanya Jonathan saat melihat
attapan tak biasa dari istrinya.
“Emmm, terima kasih ya Mas, karena begitu sayang sama Ayana bahkan memperhatikan pekerjaan rumah padahal itu tugas Ayana.”
“Seorang suami itu setealh mengucapkan akad tugasnya adalah memberi nafkah
untuk istri baik bersifat materi bahkan rohani. Jadi sebenarnya pekerjaan rumah
tangga seperti mencuci, memasak, dan lain sebagainya adalah tugas suami.
Jikalau istri mau membantu maka itu termasuk pahala baginya. Mas yang harusnya
berterima kasih sama kamu karena mau melakukan itu semua dan lagi Mas tidak
akan membiarkanmu terlalu banyak melakukan pekerjaan rumah, karena sedari awal Mas bilang kalau Mas itu cari istri untuk urusan lain kita bisa meminta tolong
orang lain contohnya Bik Nah.”
capeknya, jadi kangen Ibu Mas, dulu ibu membanting tulang untuk kehidupanku.”
“Sudah jangan sedih, Insya Allah ibu sekarang bahagia bersama ayah Damar.”
Ia membawa Ayana ke dalam pelukannya dan mengelus rambutnya pelan, jika membahas tentang Ayah atau ibunya, istrinya itu memang sering menampilkan raut wajah sedih, mengingat begitu banyak penderitaan yang sudah dialami oleh istrinya itu.
“Ehem, dunia serasa milik berdua ya Tuan dan Nyonya.”
Suara itu membuat Jonathan melepaskan rengkuhannya saat menyadari Bik Nah sudah memasang wajah tanpa bersalah ada di depannya.
“Bik Nah ngagetin aja.” Balasnya dengan senyum Jenaka.
“Habisnya nunggu Den Bagus selesai pasti akan lama, Bik Nah dicuekin terus dari dari.”
Ayana malu karena dipergoki oleh Biknah, Jonathan yang melihatnya hanya tersenyum geli.
Bik Nah adalah pengurus rumah tangga di rumahnya dulu. Beliau sudah mengabdi puluhan tahun bahkan sejak Jonathan kecil,jadi ia sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Komunikasi mereka pun cenderung santai tidak sekaku antara majikan dan pembantu biasanya. Perempuan paruh baya itu berusia pertengahan abad namun mempiunyai semangat yang sangat membara.
“Sudah Bik, Ayana jadi malu nih,kenalin Bik Istriku Ayana, Nathan minta tolong ya agar Bik Nah mau membantu dan menjaga Ayana.” Pintanya tulus.
“Ayana angkat wajahmu, agar Bik Nah bisa melihat wajah cantikmu.” Bisiknya yang membuat pipi Ayana langsung memerah.
“Lebih cantic aslinya daripada difoto, yang cowok ganteng yang cewek canti cocok deh.”
“Memang kemarin Bik Nah belum ketemu Ayana, kan Ayana berkunung ke rumah walau kami tidak menginap.”
Perkataan Jonathan mengingatkan Ayana tentang aksi kaburnya dulu dan kalau dipikir-pikir hal itu adalah tindakan yang sangat kekanak-kanakan.
“Oh iya ya Den, bibik lupa maklum faktor u alias faktor umur.”
__ADS_1
“Bibi ada-ada saja.”
“Bik Nah, salam kenal ya, saya Ayana minta tolong bantuannya ya,” ujar Ayana ramah.
“Siap Neng Ayana, akan laksanakan dengan penuh tanggung jawab.” Balasnya berapi-api dan hal itu membuat pasangan suami istri itu
tersenyum.
“Bik, nanti kalau Ayana nakal tinggal lapor ke Nathan aja, biar dijewer.”
“Mass ihhh, Ayana nggak nakal ya.”
Ia kemudian mencubit pinggang suaminya hingga membuat pekikan keras dan membuat Bik Nah tertawa.
“Awas kamu dek.”
Ayana hanya menjulurkan lidahnya membuat Jonathan hanya tersenyum gemas.
“Ini makanannya keburu dingin kalau dianggurin sama Den bagus dan Neng Ayana.” Goda Bik Nah,
“Iya-iya bik, habis ini kita sarapan kasihan Bumil nanti kelaperan.”
“kalau begitu saya ke belakang dulu ya Den, mau menjemur pakaian.”
“SIlahkan Bik,”
Setelah mendengar hal itu, Bik Nah langsung menuju ke halaman belakang untuk menjemur pakaian.
“Mas Nathan, malu sama Bik Nah.”
“Kenapa kan kamu memang suka makan.” Balasnya santai.
“Huhhh.”
“Sudah ayo sarapan, Mas pengen diambilin kamu nih soalnya rasanya beda.”
“Gombal Mukiyo Mas.” Balasnya ketus.
“Istilah apalagi itu dek, jangan kebanyakan main medsos kasihan dedek bayi nanti tercemar pikiran buruk para netizen.”
“Mas Nathan bohongin aku ya, dedek Bayi nggak akan tahu kok apa yang Ayana baca, lagian Ayana paling cuma lihat video lucu sama thread lucu.”
“Siapa bilang Dek, apa yang kita baca itu juga mempengaruhi perkembangan bayi di dalam kandungan, kalau yang Mas baca di google. Kalau kita membaca bacaan yang
poitif tentu akan membuat pikiran kita rileks dan tenang dan hal itu pasti juga
dirasakan oleh anak kita begitu pula sebaliknya. Lebih baik kamu banyak latihan
mengerjakan sola matematika biar anak kita nanti pintar.”
Mendengar matematika langsung membuat Ayana engerucut sebal.
“Nggak ada yang lain ya Mas, Ayana paling nggak suka sama matematika, pertanyaannya pendek tapi jawabannya panjang sekali sampai
berlembar-lembar.”
“Banyak sumber bilang seperti itu dan tidak ada salahnya mencoba bukan, tenang nanti kalau kamu nggak bisa tinggal tanya Mas, Mas kan jago matmatika.”
“Iya deh, sekarang sarapan ya Ayana udah laper banget nih, bau nasi gorengnya benar-benar menggoda, Nah ini buat Mas kita makan sepiring berdua ya.”
“Why Not.”
__ADS_1