After Tomorrow

After Tomorrow
Mall


__ADS_3

Flashback On


Jonathan menyesal telah berjanji pada Ayana untuk melakukan apa pun yang gadis itu inginkan.


Alhasil dia sekarang sedang mengikuti kemana langkah gadis itu pergi untuk berbelanja kebutuhan divisi.


Argghh sial, dia malas sekali untuk berbelanja. Selain lama, dia bahkan juga tidak tahu di mana letak makanan-makanannya. Karena itu selama ini jika perlu apa-apa dia tinggal beli ke indomart atau alfamart.


Lagipula kenapa sih Ayana tadi tidak mau diajak kesana, kenapa lebih memilih ke Swalayan. Dan dia dengan pedenya bilang, karena harganya lebih murah.


Eitts murah sih murah, tapi tempat ini luas sekali dan sangat jauh dari kantor.


Oke kantor terletak di Jakarta Selatan sementara toserbanya ada di Bintaro.


"Jo, kamu dorongnya lama sekali."


Jonathan hanya bisa menghela napas, gimana gk lama. Belanjaannya saja banyak sekali.


"Iya-iya." jawabnya acuh.


"Kok kamu kayak nggak bersemangat gitu, kan katanya kamu mau nurutin keinginan aku."


Yah Ayana malah mengingatkannya tentang hal itu.


"Tapi aku nggak suka belanja."


"Harus suka dong, nanti masak kamu biarin istrimu belanja sendiri." goda Ayana.


"Kalau istrinya kamu sih nggak papa, aku selalu siap sedia."


Ayana kaget, ini Jonathan nggak salah bicara.


"Apanya siap sedia, sekarang aja malas-malasan." Balas Ayana pura-pura tak acuh.


"Kan sekarang kita belum jadi suami istri, kalau kamu jadi istriku aku semangat kok."


Nah looo, Jonathan malah makin ngawur ngomongnya.


Ayana malah jadi sebel sendiri. Jonathan itu nggak ada malu-malunya sama sekali.


Sementara di sisi lain, Jonathan malah harap-harap cemas. Entah kenapa dia sangat suka sekali membuat kesal gadis itu. Lihat saja bibirnya yang mengerucut sebal,  membuat dia jadi pengen.


Astaghfirullahaladzim,


Jonathan melafalkan dalam hati. Semakin lama dia malah semakin terperosok dalam pesona gadis itu. Dan dia tidak ingin hal terjadi di luar keinginannya.


"Jo, Bangjo ayo kesana." suara Ayana membuyarkan lamunannya.


Ayana berjalan ke arah makanan ringan, dia mengambil beberapa makanan dengan telaten.


Jonathan yang melihatnya tersenyum, Ayana terlihat sangat cekatan.


"Hikss hiksss hikss."


Ayana menghentikan gerakan tangannya saat mendengar suara anak kecil menangis.


Tanpa ba bi bu, dia langsung mendekatinya.


"Hey, adik."


Ayana memberikan sebuah permen kepada gadis kecil itu.


Jonathan mengernyit bingung sejak kapan, Ayana membawa permen, perempuan di depannya memang ajaib.


"Kenapa menangis?" Tanya Ayana pelan-pelan saat mendapati anak kecil itu sedikit tenang.


"Ibu, ibuku nggak ada."


"Cup cup cup,  sini sama kakak." Ayana lalu menggendong gadis kecil itu, dia mencoba bicara hal lucu dan menampilkan wajah konyol agar gadis kecil dalam gendongannya tertawa.


Tapi saat melihat ke arah Jonathan, Ayana memberi isyarat untuk membawa tasnya dan mendorong trolynya.


Hahhh, Jonathan menghela napas.  Akhirnya mengikuti langkah kecil Ayana.


Saat berjalan dia mendengar bisik-bisik.


"Wahh, couple idaman banget ya, suaminya mau nemenin


istrinya belanja, mana anaknya lucu lagi."


Nah lo


Suami

__ADS_1


Istri Anak


Dia celingak celinguk mencari pasutri tapi tidak ada.


Namun bisikan itu semakin banyak, dan mengarah kepadanya


Jadi yang mereka maksud itu Ayana dan Aku.


Aamiin


Semoga saja ada malaikat yang lewat dan mengabulkan do'aku.


Flashback Off


****


"Ayo Mas, kita kebagian rak sana, kenapa bengong aja, ngelamunin apa?"


Ayana menarik lengan suaminya.


"Mas, jadi inget waktu kita belanja buat divisi, ada anak ilang terus kamu menenangkannya, dan mengantarnya ke bagian informasi."


Saat itu Jonathan terpesona seperti melihat sosok istri idaman, dan syukurlah sekarang Ayana sudah menjadi istrinya.


"Terus?" Tanya Ayana sambil mendongakkan wajahnya melihat suaminya.


"Waktu itu banyak yang mengira kita pasangan, ya terus Mas Amini deh, nggak nyangka Allah mengabulkan do'a Mas."


Ayana tersipu malu, suaminya makin lama makin membuat dia diabetes.


"Sudah Ah, ayo belanja, bisa-bisa kita nggak selesai-selesai."


"Siap, Nyonya, tapi jalannya pelan-pelan ok."


"Siap Bosqueee." Balas Ayana tertawa.


Saat ini mereka sedang memilih sayuran dan buah-buahan.


Jonathan dan Ayana saling melempar candaan.


Seperti Jonathan yang memasang selada di kumisnya pura-pura jadi bapak-bapak, lalu memasang wortel di hidungnya tanda dia sebagai unicorn. Ayana pun tak mau kalah, dia mengambil buah apel dan pura-pura memakannya.


Orang-orang yang melihatnya hanya bisa memandang iri, betapa sweetnya mereka. Tapi ada satu orang yang memandang tak suka ke arah Ayana.


"Ternyata kamu disini mantan menantu."


Deg


Suara itu, suara yang sangat dikenali ayana,


Dia langsung beringsut mendekati suaminya.


Kalau wanita paruh baya itu orang lain, mungkin dia akan mencium tangan sebagai tanda bakti, tapi Sekar adalah mantan mertuanya yang sering melontarkan kalimat pedas.


"Apa kabar Tante?" Tanya Ayana basa-basi.


Sekar hanya melengoskan kepalanya.


Jonathan bingung dia merasa tak mengenal wanita di depannya.


"Kamu enak-enakan disini, sementara anakku harus terpuruk."


Kepala Jonathan langsung menangkap, jangan-jangan wanita di depannya adalah ibunya Ali. Sungguh kebetulan yang tidak mengenakkan.


"Putra anda seperti itu karena kesalahannya sendiri, beruntung saya tidak melaporkannya ke polisi."


"Jangan memutarbalikkan fakta, jelas-jelas Wanita ini pembawa sial. "


Jonathan tidak tahan lagi, tidak boleh ada orang yang menghina istrinya.


"Berhenti, anda jangan menghina istri saya lagi, harusnya tante intropeksi diri, kenapa anak tante seperti itu. Bukan Ayana yang menyebabkan Ali menderita, tapi Tante sendirilah penyebabnya."


Jonathan sudah muak bertemu dengan Ibunya Ali, dia langsung menarik tangan Ayana meninggalkan wanita itu.


Sungguh kalau bukan orang tua dan wanita, ia pasti akan menghajarnya. Seenaknya saja menghina istrinya.


Sekar yang ditinggalkan begitu saja tentu saja tak terima. Lihat saja, dia akan buat perhitungan.


Sementara Jonathan dia menghentikan langkahnya saat menyadari wanita paruh baya itu tidak mengikutinya. Dia melihat istrinya yang kini terlihat rapuh, wajahnya sendu.


Sungguh pria itu tak sanggup melihat wajah itu.


"Ay, tidak papa kan?" tanyanya hati-hati.

__ADS_1


Ayana masih diam, dia masih sangat syok tentang pertemuan ini.


"Ay, bicaralah jangan buat Mas khawatir."


Jonathan mendekap erat tubuh mungil itu.


"Hiks, hikss, hikss." Isakan keluar dari bibir istrinya.


"Hey, jangan menangis istriku, nanti dikira suamimu yang paling ngganteng sedunia, ngapa-ngapain kamu lagi."


Tangan Jonathan menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


"Ayana takut Mas, adek bukan pembawa sial."


"Sstt, jangan bicara seperti itu, kasihan dedek bayinya liat Bundanya sedih."


Jonathan kembali mendekap tubuh istrinya. Seolah memberikan kekuatan, dalam hati dia mengutuk sifat Ali yang pengecut. Eh tapi karena Ali yang pengecut dia bisa bersama dengan Ayana.


Harusnya Ali sebagai seorang lelaki bisa move on, apalagi dia yang memutuskan hubungannya dengan Ayana. Dia harus bisa menerima semua konsekuensinya, bukan malah terus menganggu Ayana. Dan membuat Ibu Ali semakin berpandangan buruk kepada istrinya.


"Sudah Ay, mending kita belanja lagi, katanya mau masak yang sehat buat anak kita."


Ayana mendongakkan wajahnya menatap suaminya, seketika senyum cerah terbit di bibirnya.


Bolehkah dia mengabadikan momen ini untuk dirinya sendiri. Senyum Ayana laksana Oase di padang pasir.


"Boleh beli apa aja?" tanya Ayana takut-takut.


"Iya-iya boleh, apasih yang enggak buat istri cantikku."


Senyum Ayana semakin lebar, dan dia akan memanfaatkan persetujuan suaminya sebaik mungkin.


****


Jonathan jadi menyesal saat memberi persetujuan kepada istrinya untuk membeli apa saja, nyatanya istrinya membeli barang sangat banyak. Astaga makanan sebanyak ini siapa yang akan memakan dan memasaknya.


Kulkasnya saja bahkan tidak muat menampung semua belanjaan ini.


Jangan bilang Ayana yang akan memasak semuanya, tentu dia tidak akan membiarkan istrinya kecapekan.


"Ay, ini semua mau kamu apain?" Tanya Jonathan akhirnya.


Saat ini mereka sedang menata semua belanjaan di dapur.


"Mau dimasak."


"Enggak boleh, Mas nggak akan biarin kamu kecapekan."


Bibir Ayana mengerucut sebal. Jonathan jadi ingin menciumnya, dia malah jadi ingat kalau sudah lama tidak dapat jatah.


"Besok pagi-pagi Mas bawa ke kantor biar dimasakin sama Mbak Sisi, terus makanannya dibagi ke kantor, itung-itung syukuran karena aku dah balik dari rumah sakit."


Mbak Sisi adalah penjaga kantin di kantor auditor, Ia memang sering membuat pesanan untuk makanan pegawai baik untuk makan siang maupun untuk acara.


"Nggak salah?" Tanya Jonathan ragu.


"Enggak, Mbak Sisi pasti mau, ini keinginan dedek Bayi, nanti Mas ikut masak juga ya, dan harus kasih liat fotonya ke aku."


Hah


Rasanya Jonathan ingin ditenggelamkan saja, memasak. Sungguh dia tidak bisa memasak, bukannya tidak bisa tapi kalau memasak makanan berat dia tidak mampu.


"Tapi. . . "


"Nggak ada tapi-tapian, pokoknya harus mau."


Terpaksa Jonathan menyanggupinya.


"Ini baru suami Idaman."


Ayana lalu melanjutkan menata barang belanjaan, dalam hati dia terkikik geli. Suaminya penurut sekali.


"Ayana tunggu di kamar ya Mas."


Ayana lalu berlalu meninggalkan Jonathan yang masih diam mematung.


Tunggu di kamar


Kata-kata itu terngiang di benaknya, Sepertinya istrinya sedang mengundangnya.


Yess waktunya buka puasa,  Jonathan lalu segera berlari menyusul istri tercintanya.


Malam yang indah untuk pasangan yang halal.

__ADS_1


****


__ADS_2