After Tomorrow

After Tomorrow
Dinner


__ADS_3

Saat ditanya mau apa


Jawabannya terserah


Saat dipilihkan


Pasti bilang nggak suka


Aku bukan cenayang


Yang bisa langsung tahu isi pikiranmu


Bicaralah agar aku tahu apa yang kamu inginkan


-Jonathan-


****


"Mas, temen mas nyebelin semua, masak pada ledekin aku sih."


Adu Ayana, saat mereka menaiki mobil.


"Haha, biarkan saja,  itu artinya mereka ikut senang atas pernikahan kita "


"Tapi mereka beraninya ledekin aku, kalau sama Mas diam aja."


Ayana bersidekap, di kursi penumpang. Jonathan menoleh ke arah istrinya. melihat Seatbelt yang belum dipasang, dia berinisiatif memasangkannya.


Ayana menahan napas karena terlalu dekat dengan suaminya. Kenapa dia masih malu-malu seperti ini.


Cup


Dia tak bisa menahan diri untuk mengecup pipi istrinya yang terlihat menggemaskan.


"Udah, jangan ngambek."


"Sekarang mau makan apa?"


"Emmm apa ya enaknya?"


"Mau masakan Jepang." Seru Ayana senang.


Jonathan mengulas senyum\, istrinya itu cepat sekali berubah *mood-*nya.


"Jepang terus nggak mau yang lain?" Tawar Jonathan.


"Nggak mau."


"Baiklah, Mas akan bawa kamu kesana.


Ayana berpikir, Jonathan akan membawanya ke Gandaria City atau Pondok Indah Mall. Akan tetapu Jonathan memberhentikan mobilnya di pinggir Jalan depan Gandaria City.


Saat akan bertanya, Jonathan sudah keburu mengajaknya untuk turun.

__ADS_1


"Mas?" Tanya Ayana.


"Kenapa, katanya mau masakan Jepang?"


Mata Ayana lalu menemukan sebuah kedai kaki lima dengan hiasan lampion bertulis huruf hiragana. Bahkan dia baru tahu tempat ini, padahal dia sudah lama berada di Jakarta.


"Disini Mas?"


"Iya, masakan Jepang kan, nggak papa ya


disini."


"Irrasshaimase." Teriak penjualnya saat mendapati mereka datang. Suara mereka tampak lantang, jelas karena semua pegawai kedai tersebut adalah laki-laki.


"Dek, kamu tunggu disini dulu ya, mas mau bilang sama penjualnya dulu."


Ayana menganggukkan kepala tanda paham.


Meskipun kedai tersebut terletak di pinggir jalan, pengunjungnya sangat ramai. Kalau dari cerita suaminya. Hal itu disebabkan karena harga yang ditawarkan lebih murah daripada yang dijual di Mall.


Jonathan sudah kembali, dia langsung mengajak Istrinya untuk duduk di tempat yang sudah disediakan.


"Nah sekarang Adek mau makan apa?" Tanya Jonathan.


"Terserah mas aja."


Jonathan tersenyum.


"Jangan gitu dong, kalau terserah takutnya kamu nggak suka dengan pilihan Mas."


"Yasudah, Mas yang pesan dan jangan protes."


Sekarang, makanan sudah dihidangkan di meja. Pemanggangnya pun sudah disiapkan tinggal memanggangnya saja.


Jonathan dengan telaten memanggang daging yang sudah disediakan.


"Mas, ini terlalu banyak." Saat mendapati banyak makanan yang dibeli suaminya.


Banyangkan ada sukiyaki, daging yang banyak, nasi. Dia tidak sanggup menghabiskannya.


"Katanya terserah, lagipula kamu harus banyak makan, biar punya tenaga untuk nanti malam." Bisik Jonathan di telinga istrinya.


Ayana tersipu malu,


"Lain kali jangan bilang terserah, Mas nggak akan tau keinginanmu kalau kamu tidak bicara. Mas bukan cenayang."


Ayana hanya diam tanpa membalas, karena perutnya sudah berteriak keroncongan.


Dia memakan daging yang sudah matang.


Astaga, rasanya enak sekali. Meskipun dijual di pinggir jalan rasanya tidak kalah dengan yang ada di restoran.


"Ini lagi."

__ADS_1


Jonathan menyuapkan daging yang sudah matang ke Ayana, karena ayana sudah menghabiskan daging yang ada di piringnya.


Ayana menggelengkan kepalanya.


"Mas belum makan, gantian."


"Liat kamu makan udah buat Mas kenyang."


Lah ini Ayana nggak salah dengar, suaminya makin lama makin pintar ngegombal.


"Makan Mas, nanti mas sakit." Ujar Ayana.


"Kalau sakit kan sekarang sudah ada kamu yang bisa ngerawat Mas."


"Maunya."


Mereka tertawa lalu menghabiskan makanan yang tersaji.


Tanpa mereka sadari seseorang memotret mereka.


****


Mereka sudah pulang ke rumah. Ya Jonathan memang sudah memiliki rumah di daerah Tangerang, jaraknya pun tak jauh dari kantor mereka. Karena memang kantor auditor itu terletak di pinggiran kota Jakarta.


"Ngantuk?" Tanya Jonathan.


"Iya Mas." jawab Ayana.


Saat ini mereka sedang berbaring di tempat tidur, dengan Ayana berada di dalam dekapan Jonathan.


"Tadi adek belum cerita tentang yang tadi."


"Cerita yang mana?"


Ayana pura-pura tidak tahu, sungguh dia tidak ingin membahasnya. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya.


"Jangan mencoba menghindar, dan nggak boleh lo membelakangi suami."


Ayana mau tak mau membalikkan lagi tubuhnya untuk menghadap Jonathan, wajahnya cemberut.


"Emm, Ayana belum siap Mas, besok saja ya." pinta Ayana enggan.


"Kalau kamu tidak mau ya sudah, tapi janji ya mau cerita, karena dalam hubungan itu sangat perlu komunikasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman."


"Iya Mas, udah ngantuk mau tidur."


"Masak langsung tidur, kita nggak ngapa-ngapain dulu?" Goda Jonathan dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Emmm, nggak mau, sebel sama Mas Nathan."


Lalu membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya.


Loh kenapa istrinya yang ngambek, harusnya kan dia.

__ADS_1


Ada-ada saja


****


__ADS_2