After Tomorrow

After Tomorrow
Cerita Lama


__ADS_3

Mana ada, sudahlah Mas, ayo siap-siap untuk sholat.”


"Mas Nathan pekanya kalau ada yang nggak beres dari Laporan Keuangan, giliran sama Ayana zonk."


"Hahaha, kamu bisa aja dek."


Mereka mengambil wudhu dan membaca Al-Qur'an sembari menunggu adzan.


Saat adzan berkumandang, Ayana sudah siap dengan mukenahnya menjadi makmum dari Jonathan


Laki-laki itu tidak menjalankan sholat berjamaah di Masjid seperti biasanya dikarenakan hujan yang belum kunjung reda. Diperbolehkan seorang laki-laki tidak berjamaah di masjid jika ada alasan yang disyariatkan misalnya hujan deras seperti ini.


Setelah selesai sholat mereka kembali ke ruang tamu, Ayana mencium punggung tangan suaminya dan dibalas dengan kecupan di keningnya. Mereka kemudian berdo'a bersama.


“Mas, Ayana ke dapur dulu ya menyiapkan makan malam ajak Clarissa juga.”


Ayana bergegas melepas mukenahnya dan melenggang pergi ke dapur, sampai di sana ia hanya tinggal menghangatkannya saja.


“Boleh aku membantu Ayana?”


Sebuah suara mengntrupsi gerakannya saat memanaskan sup di atas panci, ia agak sedikit kesulitan karena perutnya yang mulai membuncit.


“Oh Clarissa, apa tidak merepotkan lagipula kamu tamu kami.” Ujarnya tak enak.


“Ayolah, mana mungkin aku membiarkan perempuan hamil kecapekan, lagipula aku ingin sedikit mengenal dapur. Kau tahu dari kecil semua kebutuhanku langsung terpenuhi, mana pernah aku menyentuh dapur, kalau mau apa tinggal minta tapi setelah menikah aku punya keinginan untuk bisa masak.” Akunya dengan diakhiri tawa kecil.


“Baiklah kalau kamu memaksa, kamu panaskan sup ini ya, kalau sudah mati tinggal matikan kompornya, kamu bisa kan?”


Kemudian di respon dengan gelengan kecil, Ayana menghela napas sepertinya wanita di hadapannya harus benar-benar belajar dari nol.


“Emmm, kau tunggu saja kalau sudah mendidih, panggil aku ya, aku mau menyiapkan nasi dulu.”


“Ok.” Clarissa memberikan tanda ok di tangannya.


Ayana kemudian meninggalkannya sebentar, untuk menyiapkan nasi yang sudah matang untuk ditaruh di atas meja.


“Ayana, sepertinya sudah mendidih.”


"Sebentar."


Ayana melihat sup yang sudah dipanaskan dan ternyata sudah mendidik, ia mencontohkan kepada Clarissa cara mematikan kompor.


Setelah itu menuang sup di atas mangkuk besar.


“Wow hebat sekali Ayana, aku kagum denganmu yang serba bisa.” Puji Clarissa, wanita itu hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


“Tidak ada yang perlu dikagumi, nanti kau juga bisa kalau banyak belajar, oh ya bisa minta tolong untuk menaruh ini di atas meja, aku mau mengambil piring dulu. ”


“Oke-oke, oh ya usia kandunganmu berapa bulan?” tanyanya tiba-tiba.


“Baru menginjak empat bulan. Jawabnya sembari mengelus perut buncitnya


“Aku jadi ingin segera merasakannya, tapi sampai sekarang belum diberi kesempatan."


Ia berkata dengan raut wajah sendu, Ayana menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Clarissa.


“Tenanglah, mungkin memang belum waktunya, barangkali kalian maish diberi waktu untuk berdua, yap acara setelah menikah.” Hiburnya.


“Masalahnya suamiku itu apa ya, dia itu kulkas banget lebih kulkas dari Jonathan. Kupikir dulu orang yang paling cuek itu suamimu ternyata masih ada lagi. Tapi kulihat Jonathan agak sedikit mencair setelah menikah denganmu.”


“Hahaha, kau bisa saja, tapi tingkat pekanya itu masih nol tidak ada peningkatan sama sekali.”


“ Sama dengan suamiku, sejujurnya kau juga belum terlalu mengenalnya, kami menikah tiba-tiba dan kondisi ini maish belum bisa kuterima.”


Ayana sendiri juga merasa belum terlalu mengenal suaminya dengan dalam, karena terkadang Jonathan menyembunyikan banyak hal darinya yang sering membuat dia salah paham. Walau sebenarnya ia tahu kenapa Jonathan seperti itu, tak lain tak bukan karena ia tidak ingin membuat Ayana kepikiran


Clarissa membicarakan masalahnya dengan lancar pada Ayana tidak merasa canggung lagi, apalagi dengan sikap ramah gadis itu


“Ayana, sepertinya kita bisa jadi teman baik, kamu mau kan?” tanyanya hati-hati.


“Baiklah.” jawabnya dengan senyuman.


“Terserah kau sajalah, tunggu saja nanti tiba-tiba ada tagihan yang datang ke rumahmu."


"Hahahaha." Clarissa tertawa ternyata Ayana orangnya sangat asyik dan mudah mencairkan suasana.


Tak salah jika ia sementara mengungsi di sini. Mendinginkan kepalanya sejenak dari permasalahan yang menimpa rumah tangganya.


"Maaf ya Jonathan dan Ayana sudah melibatkan kalian." sesalnya dalam hati.


Tapi pilihannya tidak salah, di sini ia menemukan sedikit ketenangan.


"Emmmm, boleh aku bertanya kamu tidak ada hubungan apa-apa kan dengan suamiku?" Tanya Ayana tiba-tiba.


Sebenarnya ia masih penasaran dengan hubungan Clarissa dan Ayana.


"Tenanglah kami tidak ada hubungan apa-apa, sewaktu kuliah aku, Jonathan dan Anggit terbiasa satu kelompok, jadi kami sering bersama. Mungkin itulah yang membuat kabar burung tentang kami."


"Kenapa bukan Anggit yang digosipkan denganmu?"


Wanita itu memandang Ayana, kagum dengan sikap kritisnya.

__ADS_1


"Kau tahu sendiri Anggit itu dulu Playboy kelas kakap, mana nggak ada ngganteng-nggantengnya pula jauh banget sama Jonathan yang dari dulu banyak fansnya namun tidak ada satu pun yang ia terima, dulu aku sempat kagum dengan dia, digaris bawah ya hanya sebatas kagum saja, lagipula susah menyentuh hatinya yang sekelas es batu itu."


Ia memperhatikan raut wajah Ayana yang berubah tak suka.


"Dulu saat kutanya mengapa ia tidak menjalin hubungan dengan wanita, katanya mau mengejar seseorang, See aku tahu sekarang siapa yang dia kejar."


"Hahhh, memangnya seperti itu."


Balas Ayana gugup, padahal hatinya sedang berbunga-bunga. Ia pun lega karena memang benar suaminya dengan Clarissa tidak ada hubungan apa-apa.


Ting Tung Ting Tung


Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi.


“Siapa yang bertamu malam-malam, sebentar ya Clarissa.”


Ayana kemudian berlalu pergi, saat mau menuju ruang depan ternyata suaminya sudah mendahuluinya.


"Biar Mas saja ya Ay, kamu makan duluan saja, kasihan anak kita nanti kelaparan."


Ia meminta Ayana untuk kembali ke dapur untuk makan duluan karena tidak mau istrinya itu telat makan. Bisa-bisa asam lambungnya bisa kumat.


"Iya Mas."


Jawabnya patuh, namun dia nanti juga tidak akan makan duluan, karena kalau makan sendiri dia kurang berselera.


“Siapa Ayana?”


“Entahlah, Mas Nathan yang menemuinya dan ia menyuruh kita untuk makan duluan. Kamu makan dulu saja, aku mau menunggu Mas Nathan saja."


"Mana boleh seperti itu, sebagai tamu aku cukup tahu diri, kita tunggu suamimu saja oke."


Ayana membalasnya dengan anggukan kecil.


Sementara itu di ruang depan, Jonathan bergegas membuka pintu rumahnya. Dan matanya membelalak kaget saat melihat siapa yang bertamu.


“Selamat Malam Jonathan, boleh saya masuk?” tanyanya membuyarkan kekagetannya.


“Baiklah silahkan masuk.” Balasnya dengan sopan.


Jonathan berjalan sambal memikirkan sesuatu, untuk orang itu datang ke rumahnya, karena seingatnya pekerjaannya tidak ada kendala.


“Silahkan duduk, ada apa Pak Roy bertamu malam-malam.”


Ya benar, tamu mereka adalah Pak Roy atasan mereka.

__ADS_1


“Aku menjemput istriku.”


****


__ADS_2