
Kamu
memang nggak mau
Tapi kalau dia adalah jodohmu
Kamu bisa apa
-Anggit-
****
Tidak terasa pernikahan mereka telah berjalan hampir sebulan. Jonathan memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
"Mas, kita jadi balik hari ini?"
"Iya Dek, mau bagaimana lagi, cutinya kan cuman sampai besok, sampai Jakarta nanti istirahat sehari baru masuk kerja seperti biasanya."
"Tapi males Mas, maunya di sini aja." Ayana kini menggelayut manja ke arah suaminya.
"Mas juga maunya seperti itu, tapi ya mau bagaimana lagi, kita harus masuk kantor."
"Tapi Mas, nggak mau jauh dari Ibu dan Ayah."
Jonathan mengulas senyumnya kecil, istrinya itu semakin hari semakin manja kepada dirinya. Ia bersyukur karena tidak ada suasana canggung di antara keduanya.
"Nanti kalau kangen, kita bisa kesini lagi, ya."
"Mas Nathan, hiks hiks."
Loh loh, kok istrinya malah nangis. Apakah ada ucapan darinya yang membuat istrinya menangis.
"Sayang, kenapa menangis hem."
Ucapnya seraya menghapus air mata di pelupuk mata istrinya.
"Nggak mau balik kerja." Aku Ayana.
Jonathan tersentak kaget. Maksud perkataan istrinya, dia mau resign dari kantor. Ya saat awal pernikahan mereka, Jonathan memang meminta Ayana untuk resign, karena dia ingin istrinya bisa menjadi ibu rumah tangga saja. lagipula dia kadang kasihan melihat istrinya yang sering kerja lembur. Dan lagi ia merasa mampu untuk menafkahi Istriny itu.
"Ayana, apa maksudnya?" Tanya Jonathan memastikan.
"Adek mau berhenti bekerja."
"Adek yakin dengan perkataan Ay? Nggak sayang sama
kuliahnya?" Jonathan bertanya lagi.
Karena waktu itu Ayana belum setuju karena sayang dengan pendidikan yang telah dia jalani, tapi saat mendapat wejangan dari ibunya dia akhirnya tahu. Bahwa menjadi ibu rumah tangga bukan berarti pendidikannya selama ini tidak terpakai, justru seorang ibu adalah guru pertama bagi anaknya. Dan dia ingin selalu ada waktu untuk anak-anaknya nanti dan juga dengan suaminya.
"Ayana yakin Mas, Adek mau berhenti kerja."
Jonathan bernapas lega, Alhamdulillah akhirnya istrinya menuruti kemauannya.
"Tapi Ayana masih boleh kuliah lagi kan?" tanyanya.
Ayana memang berencana melanjutkan studi S2nya, jadi dia meminta izin kepada suaminya.
"Tentu saja boleh, kalau kamu mau, yang penting keluarga adalah prioritas."
"Makasih ya Mas, tapi Ayana kan nggak bisa langsung mutus kontrak kerja masih harus nunggu 3 bulan lagi baru habis kontraknya."
Kantor mereka memberlakukan kontrak kinerja selama setahun kepada setiap pegawai. Dimulai dari awal Januari sampai akhir Desember, dan bila mengakhiri di tengah waktu, maka pegawai akan kehilangan hak uang saku dan jaminan pensiun.
"Nggak papa, kamu habiskan masa kontraknya saja, kalau Adek maunya seperti itu."
"Siap Mas Nathan."
Jonathan mengusap gemas kepala istrinya. Semakin hari dia semakin mencintai istri mungilnya.
"Emm Mas Nathan lihat gawaiku tidak?" Tanya Ayana tiba-tiba.
"Emmm, Mas enggak tahu Ayana, ada apa?"
"Mau ngabari Divisi kalau kita besok balik."
"Biar Mas aja yang kabarin."
Ayana tampak berpikir sejenak.
"Tapi nanti mereka tahu dong kalau kita sudah menikah?"
__ADS_1
Jonathan tersenyum kikuk, dia lupa bilang sesuatu kepada Istrinya
"Mas sudah mengumumkan pernikahan kita di group Watsapp kantor."
"Owh iya kapan?" tanya Ayana bingung.
"Kok Adek nggak tahu?"
"Sebenarnya bukan Mas sih yang kasih tahu, tapi Pak Roy dan Anggit."
"Loh memang mereka datang mas?"
"Datang kok, kamunya aja yang nggak nyadar."
"Aihhh, malu." gerutu Ayana.
"Kenapa?" Tanya Jonathan.
"Udahlah lupakan."
Pikiran Ayana langsung melalang buana pada kejadian di kantor.
"Ciyeee setiap hari bawain bekal buat Mamas Jonathan." ejek Anggit
"Udah kaya pasutri aja kalian." lanjutnya sambil terus tertawa
"Amit-amit deh, berjodoh sama Jonathan." Balas Ayana percaya diri.
"Hati hati lo Ayana, kamu emang bisa bilang enggak, tapi kalau dia jodoh kamu, kamu bisa apa?"
"Ya menghindarlah." sahutnya cuek
Sial, Anggit pasti akan menertawakannya habis-habisan.
Cup.
"Jangan ngelamun." Ucapnya sembari mengecup pipi Ayana.
"Mas Nathan sukanya main sosor aja, huhhh. "
"Tapi kamu suka kan, buktinya sering minta nambah."
Awhhhh
"Rasain, siapa suruh isinya pasir semua."
"Hahahaha, liat kamu bawaannya pengen. . . .
"Apa?" Ayana menatap tajam ke arah suaminya.
"Emmm, udahlah sekarang tidur, karena perjalanan hari Esok sangat panjang."
Ayana akhirnya mulai memejamkan matanya.
Jonathan yang melihat istrinya tertidur, langsung mengecup keningnya dan ikut memejamkan mata.
Hahh sebenarnya ada sesuatu yang belum dia ceritakan kepada Ayana, tentang betapa hebohnya kantor saat tahu kabar pernikahan mereka. Semoga saat mereka kembali, semuanya menjadi seperti semula.
Semoga saja
****
Ayana mempercepat langkah kakinya. Sebenarnya ini hanya perasaannya saja atau bagaimana. Sejak menginjakkan kaki di kantor. Semua orang menatapnya.
Ada yang melihat dengan tatapan tersenyum, penasaran, dan benci. Nah sejak kapan dia punya haters di kantor. Ya kecuali Ibu-Ibu lantai dua yang sering memborbadir dengan pertanyaan kapan nikah?
Mas Nathan sedang memarkirkan mobilnya di belakang kantor ini, alhasil dia turun di lobi, karena jarak tempat parkir sangatlah jauh.
Tapi jika tahu akan seperti ini, tentu dia lebih memilih bersama dengan Jonathan.
"Ayana."
Teriak Isna berlarian saat mendapati Ayana sedang berdiri di tempat absen lantai dua
Thank You
Suara mesin absen saat berhasil mendeteksi wajah Ayana.
Dia lalu berbalik menghadap sahabatnya.
"Kenapa sih, teriak-teriak?" Gerutu ayana sebal, dengan sedikit senyum.
__ADS_1
"Pura-pura nggak tahu, kamu hutang cerita kepadaku ya."
Tahu yang dimaksud Ayana hanya diam saja sembari tersenyum.
Isna lantas menarik tangan Ayana untuk duduk di kubikelnya,
"Jadi gimana, kok bisa sih? Nggak ada angin nggak ada hujan, bisa tiba-tiba gitu."
"Namanya juga takdir, siapa yang tahu juga?"
"Kamu nih, tapi selamat ya, aku turut senang, semoga samawa, do'ain aku segera nyusul."
"Makannya cowokmu suruh cepat lamar, cantik-cantik kok dianggurin." Goda Ayana.
"Tau Ah."
"Sudah ya, aku mau ke atas dulu."
"Sippp."
Ayana bergegas ke lantai tiga, bisa-bisa Jonathan akan kelimpungan mencarinya karena tak mendapainya di sana.
"Ayana." Isna berlari kecil ke arah Ayana, dia membisikkan sesuatu ke telinganya.
Dan kalimat itu langsung membuat moodnya jatuh seketika.
****
"Ay, kenapa dari tadi melamun terus?"
Jonathan bertanya kepada Istriny yang lebih pendiam dari biasanya. Padahal tadi pagi dia baik-baik saja. Jangan-jangan dia buat salah lagi, Eh tapi dia tidak merasa melakukan hal yang salah.
"Dek."
Panggilan itu langsung membuayarkan lamunan Ayana.
"Kenapa Mas?" Tanya Ayana.
"Kenapa melamun terus?"
Jonathan menarik kursi lalu duduk di depan Ayana.
"Emmm, nanti aja Adek cerita."
"Janji ya, jangan bikin Mas khawatir."
"Hu'um." Ayana mengangguk kecil.
Jonathan lalu mengusap lembut kerudung istrinya.
"Uhuk, uhuk."
Jonathan mendengus kecil lalu melirik tajam ke arah Anggit.
"Apa?" Tanyanya ketus.
"Nggak papa, cuman kurang minum." Cicit Anggit lalu segera minum air botol di depannya.
Jonathan meskipun terlihat lembut kepada istrinya kepada orang lain dia sering bersikap ketus.
Ayana terkekeh geli melihat interaksi keduanya.
"Sudah ya Ay, Mas ke bawah dulu, dipanggil Kepala Kantor nih, baik-baik ya disini."
"Iya mas."
Jonathan lalu beranjak meninggalkan divisinya.
"Cie ciee." Suara suitan langsung terdengar di lantai tiga.
"Yang pengantin baru, beda ya auranya."
Lah sekarang Anggit berani meledeknya.
"Biar." balas Ayana.
Tadi pagi, divisi auditor sudah memberikan selamat kepada mereka. Tapi tidak ada yang berani meledeknya, mungkin karena takut dengan Jonathan.
Sekarang setelah Jonathan tidak ada di tempat, mereka malah habis-habisan meledek Ayana.
Asal mereka bahagia sajalah
__ADS_1
****