After Tomorrow

After Tomorrow
Gosip


__ADS_3

Kita tidak bisa menyenangkan semua mata


Namanya orang tidak suka


Mau bagaimana pun


Kamu akan dianggap buruk sama mereka


Jadi biarkan saja mereka lelah


Jangan kamu hiraukan


Karena membuatmu marah


Adalah kesenangan mereka


-Anonim-


****


"Mas, udah jam 7!" Teriak Ayana karena suaminya tak kunjung keluar dari kamar mandi.


Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Berharap suaminya segera keluar, mereka bisa terlambat.


"Ceklek." Suaminya akhirnya keluar.


"Perut Mas, sakit banget Dek."


Deg


Itu pasti karena bakso kemarin, Ayana jadi merasa bersalah.


"Maafin Adek ya Mas, Adek udah buat mas sakit, hiks hikss huwaaa."


Jonathan mengernyit heran, kenapa istrinya malah menangis.


"Ssttt, sudah sudah, Adek nggak salah kok, Mas memang nggak bisa makan pedas."


"Tuh kan, gara-gara kemarin, hiks hiks huwaaa." Tangisnya malah semakin menjadi-jadi.


"Jangan menangis Dek, Mas nggak papa kok, kasihan dedek bayinya liat bundanya sedih."


"Hiksss hiksss, tapi Mas sakit gara-gara Adek."


"Udah nggak papa, Mas sudah baik-baik saja kok."


Tepat setelah menyelesaikan ucapannya, rasa sakit kembali muncul di perutnya.


Dia langsung melepaskan pelukannya dan bergegas kembali ke kamar mandi.

__ADS_1


"Mas Nathan, Mas, huwaaaa."


Jonathan mendengar tangisan istrinya semakin menjadi-jadi. Tapi dia tidak bisa keluar sekarang. Karena perutnya tidak bisa diajak berkompromi.


****


"Sudah Ayana, kamu kembali bekerja ya, Mas sudah nggak papa." Pinta Jonathan kepada istrinya.


Ayana sedari tadi tidak mau lepas dari Jonathan, entah kenapa dia tidak ingin berjauhan dan lagi dia masih khawatir kepada suaminya karena sakit perutnya tadi bagi.


Bahkan pekerjaannya dia tinggalkan semuanya.


"Mas Nathan." Rengek Ayana.


Sekarang di malah menyenderkan kepalanya ke bahu Jonathan.


Sementara Jonathan hanya bisa pasrah, mereka menjadi tontonan di divisi ini. Lihat saja Anggit yang melemparkan ekspresi mengejek.


"Ya sudah kita pulang saja ya." Pinta Jonathan akhirnya.


Sepertinya keputusan dia untuk tetap bekerja salah, tapi sakit perutnya memang sudah hilang. Terlebih hari ini dia sedang ada closing dengan klien terkait dengan pemeriksaannya. Tapi ketika melihat Ayana yang sepertinya tidak bisa jauh dari dia, lebih baik dia pulang saja. Lagipula dia juga tidak bisa konsentrasi memikirkan Ayana.


"Nggak mau pulang." Bantah Ayana


"Terus maunya gimana?"


"Sabar Nathan, Ayana sedang mengandung anakmu, jadi wajar dia bersikap seperti ini." Batinnya


Nah, maksudnya, Ayana ingin duduk santai saja dengan Jonathan, disini?


Di kubikel ini? Nggak salah. Bisa-bisa mereka jadi bulan-bulanan auditor lain.


"Kerjaan kamu?" Tanya Jonathan mencoba mencari


alasan.


"Ada Airi kok."


Perlu diketahui Airi adalah staff baru di divisi itu, dia baru magang saat Ayana mengambil cuti. Ayana tentunya senang karena dia tidak sendiri lagi.


"Nggak kasihan sama Airi?" Tanya Jonathan.


"Hari ini kerjaan lagi nggak banyak kok, jadi nggak papa."


Susah sekali membujuk istrinya, sebentar lagi kliennya datang dan tentu dia tidak bisa meninggalkan Ayana. Sebenarnya closing hari ini cuman tanda tangan berita acara saja, kalau klien setuju dengan semua audit


yang telah dia lakukan. Karena minggu lalu, kliennya sudah setuju.


Apa dia minta tolong sama Airi saja ya, kalau minta tolong sama auditor lain rasanya tidak mungkin, mereka terlihat sangat sibuk.

__ADS_1


"Dek dengerin Mas ya, lebih baik kita pulang saja, biar mas izin sama Pak Refian oke, Mas juga nggak bisa bekerja kalau kamu terus seperti ini. Dan sepertinya anak kita pengen kamu males-malesan saja."


Anggit yang sedari tadi memasang telinganya baik-baik langsung tersedak.


Anak, jadi Ayana sedang hamil pantas saja. Karena istrinya yang saat ini sedang hamil juga manja seperti ini.


"Uhuk uhuk, uhuk."


Suara batuk Anggit lantas membuat Jonathan menatap tajam


ke arah dirinya.


"Peace Mas Bro." Ucap Anggit sambil nyengir kuda.


Anggit berpikir sejenak, tokcer juga temannya itu. Atau jangan-jangan yang digosipkan ibu-ibu di bawah benar. Tapi masa sih?


Enggaklah, dia mengenal baik Ayana dan Jonathan, mereka tidak mungkin melakukan hal itu. Terlebih yang selama ini dia tahu, kedua rekannya itu seperti anjing dan kucing kalau sedang berada di kantor.


Lagipula, dia juga tahu kalau setiap pasangan memang berbeda-beda diberi kepercayaan untuk mendapat momongan. Dan Jonathan adalah salah satu yang cepat.


"Anggit, aku sama Ayana mau pulang dulu, nanti kamu ingatkan Airi ya untuk closing sama klien."


Kehadiran Jonathan menyentak lamunannya.


"Owh iya iya, oke."


Jonathan dan Ayana lalu berlalu pergi.


"Eh, tapi tadi Jonathan bilang apa ya? Tau ah."


Akhirnya Anggit kembali bekerja tanpa tahu kalau hal yang dilupakannya membuat seorang gadis terkena masalah.


****


"Eh, tahu nggak sih, si Ayana ternyata bener hamil duluan, kemarin aku liat mereka ada di RSIA." Ucap Hesti.


"Eh beneran Hesti, nggak nyangka ya ternyata Ayana kayak gitu, padahal kelihatannya polos banget."


"La siapa yang tahu, pernikahannya saja mendadak kan, tahu-tahu mereka menikah, jelaslah hamidun duluan." Sahut pegawai lain.


"Ya itu, bener banget." sahut yang lainnya.


Sementara Hesti hanya bisa tersenyum licik, jujur saja dia sangat tidak menyukai Ayana. Apalagi saat wanita itu menikah dengan Jonathan, yang jelas-jelas disukai oleh keponakannya. Yang tak lain adalah teman kuliah Jonathan.


****


*Closing = semacam pembahasan akhir untuk


mencapai kesepakatan, ya kayak rapat biasa

__ADS_1


Kalau di kantorku sih nyebutnya closing ya, nggak tahu


kalau di kantor lain.


__ADS_2