
*Mama ihhh, malu tahu bukan itu.” Jawab Ayana dengan pipi merona merah.
“Iya-iya terus menantu mama ini mau Tanya apa*?”
****
Akhirnya Mama Grace serius juga. Ia kini memandang lekat menantunya yang lebih terlihat berisi semenjak hamil.
“Emmm itu Ma, mas Nathan pernah dekat sama perempuan nggak ya dulu?” Tanya Ayana hati-hati, sebenarnya ia malu menanyakan ini, takut terlihat seperti isti yang posesif.
“Sebentar Mama ingat-ingat dulu, kalau yang suka sama anak Mama sih banyak, tapi dasar anak mama yang nggak peka, semuanya dicuekin.” Mama Grace berusaha menggali ingatannya tentang anaknya yang seingat dia tidak pernah dekat dengan wanita kecuali satu orang.
Mendengar hal itu kenapa memunculkan rasa tak suka di dalam hatinya, ia tak rela suaminya dikagumi wanita lain meskipun dalam masa lalu.
“Tapi kamu tenang saja, cintanya Nathan itu udah pakem ke kamu kok.” Tambahnya.
Pipi Ayana memerah malu, mamanya memang suka menggodanya
“Itu, jangan lupa ayamnya dibalik, nanti gosong looo.” Ingat mama Grace.
“Eh iya maaf Ma.”
Ayana kemudian membalik ayam yang sedang digorengnya.
“tapi masak sih Ma, kok Ayna agak kurang percaya ya, soalnya tadi Mas Nathan makan siang sama perempuan itu bikin Ayana kesel.” Gerutunya, dia tidak sadar mengeluarkan uneg-unegnya.
Masih terbayang jelas Jonathan dan Clarissa yang ada di foto itu.
Mama Grace hanya mengulas senyum tipis, menyadari kalau menantunya sedang cemburu sepertinya. Tapi tak biasanya Jonathan melewatkan makan siang bersama istri cantiknya. Karena anaknya pernah bercerita kalau setiap jam istirahat akan pulang sebentar ke rumah untuk makan siang. Terlebih dia khawatir dengan Ayana yang sendirian di rumah, sepertinya setelah ini dia benar-benar akan mengutus Bik Nah untuk bekerja di sana sekaligus sebagai mata-mata untuk rumah tangga Jonathan.
“Memangnya namanya siapa?” Tanyanya penasaran dengan sosok wanita itu.
Ayana mau tak mau menjawabnya, walau sebenarnya enggan menyebut namanya.
“Clarissa Ma namanya dan berdasarkan penelusuran Ayana, ia adalah teman kuliah Mas Nathan, dan waktu Ayana menanyakannya Mas Nathan malah diam saja, kan itu malah buat Ayana semakin curiga.”
Saat menjelaskan hal itu ia tak sadar bahwa tubuh mertuanya menegang sebentar kemudian tertutupi dengan senyuman tipisnya.
“Wah Mama nggak tahu sayang, lebih baik tanyakan pada Masmu saja, itu ayamnya sudah matang sepertinya bisa diangkat.”
Ayana sebenarnya agak kecewa karena ternyata mertuanya sama-sama tidak mengenal Clarissa begitu pikirnya, namun setidaknya dia jadi sedikit lega karena mengeluarkan sebagian isi hatinya.
“Ma, ini langsung kutaruh di atas piring ya nanti.” Ucapnya sembari meniriskan ayam yang sudah matang.
__ADS_1
“Iya sayang.” Jawab Mama Grace.
Setelah meletakkan ayam goreng yang sudah matang, tiba-tiba rasa lapar langsung mendera Ayana. Dan lebih spesifik lagi, ia sangat menginginkan puding susu yang baru dibuat tadi. Terlihat menggiurkan apalagi kalau diberi sirup di atasnya, namun dia malu kalau meminta mertuanya.
“kenapa Ayana, ada yang kamu inginkan?” Tanya mama Grace saat melihat gerak-gerik Ayana yang aneh.
“Emmm, itu Ma, Ayana pengen makan pudding susunya.” jawabnya dengan menahan malu.
“Mama kira kenapa, tinggal ambil saja.”
“Ayana maluuuu, “ akunya, nanti dikira menantu yang rakus lagi.
“kenapa mesti malu kamu kan makan buat dua orang jadi wajar kalau lapar, Bik Nah minta tolong ambilkan puding yang sudah jadi ya.”
Bik Nah yang mendengar itu langsung bergegas mengambil puding dari dalam kulkas.
‘Ini Nya.” Ia meletakkan pudding di atas piring kecil yang masih dengan cup kecilnya.
Ayana merasa ada yang kurang dari pudding itu.
“Ma, ada sirup jeruk tidak?” Tanya Ayana.
“Ada kok, sebentar ya, Bik Nah minta tolong ambilkan sirup yang ada di kulkas ya.”
Ayana langsung menuang sirup itu di atas puding susu.
“Nah kalau gini rasanya jauh lebih enak.” Kata Ayana senang.
“Ohh jadi menantu mama ini menuang sirup ke puding susu, memangnya enak Ayana?”
Ayana yang sudah memakan suapan pertama mengangguk senang.
“Wahhh Mama jadi kepengen nih, Mama mau coba Ahhh kayaknya enak.”
Mama Grace melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Ayana.
“Wahhh, enak sekali Mama tidak menyangka kalau puding susu diberi sirup jeruk rasanya menjadi tambah enak.
“Iya Ma, Ayana juga baru tahu, ini tadi keinginan dedek bayi,”
Mama Grace mengulas senyum mendengar jawaban itu.
"Nanti Ayana minta resepnya ya Ma, barangkali kalau di rumah nanti bisa bikin ini lumayan bisa buat cemilan hehe."
__ADS_1
"Siap sayang, anything for you." Balas mertuanya.
****
Setelah berkutat selama dua jam, akhirnya semua makanan sudah siap dihidangkan di atas meja.
"Mama senang sekali punya menantu yang punya hobi yang sama kayak Mama." Ujar Mama Grace tiba-tiba.
"Ayana juga baru belajar kok Ma, masih harus banyak belajar dari Mama hehe, apalagi masakan western Ayana sama sekali tidak bisa." Akunya jujur.
"Kalau makanan Western Papa Lucas jagonya, hanya saja ia sudah jarang mau memasak makanan itu, karena sudah jatuh cinta dengan masakan Indonesia."
Papa Lucas memang bukan orang Indonesia, beliau berasal dari Australia. Namun memilih menetap di sini karena bertemu dengan Grace. Tak heran jika perawatan Jonathan seperti bule yang tinggi.
"wahhhh, keren kapan-kapan Ayana mau dong dimasakin."
"Beres, nanti Mama bilang ke Papa dulu ya."
"Oh ya itu kan sebenarnya juga bisa Masak Ayana, dia waktu kuliah kan tinggal terpisah dengan kami, jadi mau nggak mau belajar mandiri, nggak kalah enak kok sama Papa Lucas." tambahnya memberi tahu.
"Wah Ayana baru tahu, soalnya Mas Nathan belum pernah masakin Ayana, jadi pengen masakannya Mas Nathan."
"Tapi anak itu bisanya masak makanan western kalau masakan Indonesia nggak terlalu banyak, katanya ribet racik bumbunya, padahal kan bisa beli yang langsung jadi. Tapi saat Mama jawab itu, dia malah jawab, Aku nggak mau bumbu instan nggak baik Ma buat kesehatan kasihan istri sama anakku nanti."
"Ngomong-ngomong, ini mereka kenapa belum datang ya."
Mereka, Ayana menebak-nebak siapa yang dimaksud oleh Mama mertuanya.
"Iya Papa Lucas dan Nathan, tadi Mama menyuruhnya untuk cepat datang ke sini. Dan kamu tahu nggak Ayana, Mama seperti mendengar nada panik darinya saat menyebut namamu, anak itu kenapa lagi, kan kamu sudah bilang kan kalau mau mampir ke sini." Tanyanya penuh selidik.
Ayana hanya tersenyum kecil menanggapi, Mamanya mertuanya seperti punya indra keenam saja, kalau ada sesuatu yang tidak beres dari mereka berdua.
" Nggak kok Ma, kami baik-baik saja."
"Alhamdulillah kalau begitu, mungkin sebentar lagi Nathan datang."
"Iya Ma." Balas Ayana enggan, karena sebenarnya dia masih sedikit kesal dengan suaminya itu.
*****
__ADS_1