
"Mau kemana Son?" Tanya Lucas ketika melihat Nathan membawa sepedanya.
"Ke rumah Ana Pa, kan Papa meminta Nathan untuk meminta Maaf."
Lucas mengangguk paham, hari Sabtu kemarin dia memang hanya memberikan hukuman berupa permintaan maaf saja. Semoga saja kali ini ankanya tidak berbuat ulah lagi, kadang ia heran kenapa Nathan suka menjahili Ana hanya karena ingin menarik perhatian. Benar-benar copyannya.
"Sudah pamit dengan Mamamu?" Tanyanya.
Grace pasti akan panik jika tidak mendapati Nathan di rumah, karena itulah dia sekedar memastikan bahwa putra semata wayangnya sudah berpamitan. Pernah sekali anaknya tidak pulang sampai sore, istrinya menangis tersedu-sedu kahwatir Nathan diculik oleh
orang. Ternyata anaknya sedang bermain bola dengan teman-temannya di lapangan.
"Papa tenang saja, Nathan sudah pamit kok, yah walaupun Mama sepertinya masih kesal dengan Nathan, tapi nggak papa lagipula itu karena salah Nathan sendiri." Ucapnya lesu.
Lucas mencermati kalimat yang diutarakan anaknya, dan dia mengerti kalau Nathan mau mengakui kesalahannya.
" Baiklah, hati-hati ya salam buat Adik kecil kesayangan kamu, ingat pulangnya jangan
lama-lama."
" Laksanakan komandan, Assalammu'alaikum Wr. Wb."
"Wa'alaikumsalam Wr. Wb."
Ketika Nathan sudah hilang dari pandangan, Lucas memutuskan untuk masuk ke dalam rumah menemui istrinya yang terlihat sedang bersantai di depan televisi.
"Nathan sudah berangkat Pa?" Tanya Grace tanpa melepaskan pandangannya dari
televisi.
Saat ini dia sedang menonton tayangan drama korea.
"Lebih penting televisi itu ya Ma dibanding Papa." sahutnya dengan nada merajuk.
Grace mengernyitkan dahinya saat mendengar nada merajuk dari suaminya. Lucas memang tidak suka dengan hobinya yang satu ini, katanya buat apa mengagumi laki-laki lain kalau sudah punya seorang suami yang sempurna seperti dirinya.
"Tanggung Pa, lagi seru-Serunya nih."
Istrinya saat ini sedang melihat drama terbaru Crash Landing on You yang bercerita tentang seorang perempuan yang terjebak di Korea Utara. Grace sangat menyukai drama itu karena bisa melihat kehidupan di Korea Utara seperti apa, yang ternyata sangat berbanding
180 derajat dengan Korea Selatan. Sangat tradisional sekali seperti sebuah pedesaan yang ada di Indonesia. Walau pun di kota besar, sudah tersentuh teknologi namun tak semua warga negara mereka bisa menikmati hal itu.
“Tu lihat Pa, Kapten Ri ngganteng banget.” Pujinya tanpa memperdulikan raut wajah suaminya yang cemberut.
“Nggantengan juga aku, apalagi aku bisa buat kamu hamil terus punya anak Nathan.” Mulai lagi sifat mesumnya.
Grace memutar bola matanya malas, meskipun ia akui kalau suaminya tergolong tampan tapi sifat ketusnya sering membuat ia kesal.
__ADS_1
Lucas lalu duduk disebelah istrinya, dia merapatkan tubuhnya dan sesekali mencium pipi Grace.
"Pa, geli jangan ganggu."
"Mama fokus nonton saja biar Papa yang bekerja, ini bayaran kemarin karena Mama menyuruh Papa tidur di kamar Nathan."
Grace mencoba menolak, tapi tetap saja kalah dengan tenaga suaminya, alhasil mereka melakukannya di depan televisi yang masih menyala.
Kalau kata Lucas mumpung mereka hanya berdua.
Dasar.
****
Sementara itu, saat ini Nathan sedang menahan kesal karena melihat Ana bermain dengan orang lain, yang tak lain adalah Dimas. Tetangga Ayana yang berusia 5 Tahun.
Nathan mendengus kecil “Pasti anak itu belum bisa makan sendiri, bisa-bisanya Ana mau dengan dia, beda dengannya yang semua sudah bisa lakukan sendiri.” Begitu pikirnya.
Dengan hati dongkol. Ia segera mendekati mereka.
“Ana, jangan bermain dengannya.” Ujarnya dengan nada marah.
Ana yang sedang asyik bermain dengan Dimas hanya memberengut, dia tidak mau lagi bermain dengan Nathan. Dimas pun memberikan senyuman mengejek ke arah Nathan, hingga membuatnya semakin kesal.
“Ana, dengarkan aku.” Tambahnya.
Namun Ana masih diam tidak menggubris dan menganggap seolah Nathan benar-benar tidak ada di sampingnya.
“Aku sedang ngomong sama Adek kecil ya, kamu tukang ngompol diam saja.”
Mendengar ejekan itu membuat anak kecil itu menangis.
“Dimas bukan Tukang Ngompol ya, hiksss.”
Nathan hanya memutar bola matanya malas, jelas-jelas anak itu masih memakai popok. Anak itu tidak sadar bahwa dulu pun dia juga seperti itu.
“Dimas Tukang Ngompol.” Ejeknya lagi dan itu semakin membuat tangisannya semakin kencang, anak itu kemudian berlari meninggalkan Ana dan Nathan berdua.
“Nah sekarang adek kecil hanya boleh main dengan kakak.” Senyumnya puas.
Ana memandangnya tak suka.
“Kak Nathan jahat, kata Ibu kita tidak boleh menjelekkan orang lain.” Kesalnya marah, namun di mata Nathan, gadis itu terlihat sangat lucu.
“Pokoknya Ana nggak mau bermain dengan kakak lagi, lebih baik kakak pulang.”
Gadis kecil itu langsung berlari ke dalam rumah tanpa menghiraukan teriakan Nathan yang memanggilnya. Melihat Ana yang tidak menggubrisnya, ia kemudian menyusulnya.
__ADS_1
“Pagi Tante.” Sapanya saat melihat ibu Ana,
“Pagi, sudah kesini saja kamu.” Balasnya ramah.
“Iya mau ketemu Ana, tapi dia nggak mau sama aku,” gerutunya.
Santi tersenyum maklum, anaknya memang masih marah dengan Nathan.
“Nanti juga marahnya hilang, mungkin sekarang dia ada di halaman belakang.
“Kalau gitu Nathan susul dia ya Tan.”
“Baiklah, semoga kalian lekas berbaikan.
Benar saja, saat ini Ana memang sedang berada di taman belakang tepatnya ia tengah bermain ayunan.
“Ana, ana.” Panggilnya.
Namun Ana sama sekali tidak menggubrisnya, tak menyerah Nathan lalu mendekat ke arahnya.
“Pergi Kak, Ana nggak mau sama kakak lagi.” Usirnya.
“Harus bagaimana adek kecil, agar kamu mau memaafkanku?” tanyanya tak putus asa.
Ana terlihat berpikir kemudian pandangannya mengarah ke bonekanya yang tersangkut di atas pohon. Sebuah ide langsung muncul di kepalanya.
“Kalau begitu Kakak bisa ambilkan bonekaku yang berada di sana?” pintanya.
Nathan meneguk ludahnya susah payah, sudah lama dia tidak memanjat pohon karena larangan ibunya. Namun demi Ana semua akan dia lakukan.
“Baiklah.” Jawabnya yakin.
“Nanti kalau kakak bisa ambil boneka itu, kamu benar-benar memaafkan kakak ya, janji.”
“Janji.”
Jari kelingking mereka saling bertautan.
Nathan segara menuju ke
pohon itu. Tingginya sebenarnya tidak terlalu tinggi bagi orang dewasa seperti Papa Lucas. Namun jika dibandingkan dengan Nathan, pohon itu terlihat sangat tinggi. Dengan perlahan-lahan ia memanjat pohon itu, posisinya sudah sangat dekat dengan boneka itu. Nathan mengulurkan tangannya untuk mengambilnya, sayangnya ia tak sadar kalau dahan yang menjadi tumpuan kakinya tidak terlalu kuat. Tiba-tiba.
Brak,
Nathan terjatuh dan tak sadarkan diri, sebelum dia menutup mata ia sempat mendengar teriakan dan tangisan Ana.
“Kak Nathan bangun kak, Ana maafin kakak.”
__ADS_1
Samar-samar mendengarnya dan berharap itu bukan mimpi.
****