After Tomorrow

After Tomorrow
She


__ADS_3

Author POV


Jonathan sudah sampai di kantor walau agak terlambat, karena di jalanan yang sangat macet. Sampai di kubikelnya ia mengernyitkan dahinya saat mendapati tempat itu lebih ramai dari biasanya.


Kebingungannya terjawab saat mendapati sosok itu di kubiklenya dulu.


“Clarissa.” Serunya kaget.


“Oh hi Jo.” Sapa dia balik


Kerumunan yang menyerubunginya pun menghindar saat mendapati sosok wanita cantik ini menyapa Jonathan.


“Ngapain kamu disini?” Tanya Jonathan.


Clarissa adalah Teman Jonathan dan Anggit semasa kuliah, gadis itu berpewakan tinggi bak model. Ditambah dengan kuliah putihnya, rambutnya terurai panjang sepinggang. Hidungnya kecil tapi mancung.


“Kamu tidak tahu Jo, sekarang aku bekerja di sini,” Balasnya antusias


“Hah.” Jonathan belum bisa menghilangkan keterkejutannya, karena setahunya Clarissa masih menempuh pendidikannya di luar negeri.


“Kenapa kaget begitu, kamu tidak senang aku disini?” Tanya Clarissa sembari menaikkan sebelah alisnya.


“Bukan seperti itu Cla, hanya saja. . . . sudahlah selamat datang di kantor kami, aku harap kamu nyaman dan betah di sini.”


“Pasti.”


Clarissa mendekat kearah Jonathan dan mencoba untuk memeluknya, namun Jonathan reflek mundur.


“Inget Jo, ada Ayana di rumah.” Celetuk Anggit.


Ia tidak terlalu suka teman kuliahnya itu ada di sini, sangat mencurigakan sekali tiba-tiba bekerja di kantornya, mungkin dia harus mengawasinya agar tidak ada pihak yang tersakiti.


“Siapa Ayana?” Tanya Clarissa


Ia baru mendengar nama itu.


“Ayana Istriku, kapan-kapan aku akan memperkenalkannya kepadamu.” Balas Jonathan santai, dia tidak melihat ada perubahan ekspresi lawan bicaranya.


“Jadi kamu sudah menikah? Kenapa tidak mengundang kami?”


Kami yang dimasksud adalah teman kuliah mereka, karena walaupun mereka telah menjadi alumni. Hubungan silaturahmi tetap terjalin walau hanya melalui grup Whatsapp. Yang biasanya digunakan mereka untuk saling mengabari entah pernikahan, kelahiran anak, atau melanjutkan studi ke luar negeri.


“Seingatku sih aku sudah mengabari kalian.” Ujar Jonathan sembari mengingat-ingat.


“Emang iya?” ledek Anggit.


Seingat Anggit, temannya satu ini memang tidak menyebarkan berita itu ke grup alumni mengingat betapa mendadaknya pernikahan mereka, justru Anggitlah yang mengabarkan pernikahan dua sahabatnya ini di grup Alumni.


“Iya, iya kamu yang share berita pernikahanku.” Tunjuk Jonathan kea rah Anggit.


“Kok aku nggak tahu, kupikir waktu itu resepsi pernikahannya Anggit.” Sahut Clarissa.


Anggit menggaruk rambutnya yang tak gatal, sampai sekarang dia bahkan belum mengadakan resepsi pernikahannya, karena istrinya yang belum mau hubungan mereka terkuak. Nasib-nasib.


“Berarti aku telat ya, balik-balik kamu sudah tidak sendiri lagi.” Lanjut Clarissa sendu.


Deg


Perasaan tak enak langsung masuk ke dalam benak Jonathan, apakah gadis di hadapannya menaruh rasa lebih padanya.


“Oh hai, kakak-kakakku selamat pagi.”


Tiba-tiba suara cempreng datang mengagetkan mereka, siapa lagi kalau bukan adik kecil mereka, Airi Pelipur Lara. Dia datang ke kantor dengan sangat bersemangat tanpa kesedihan di raut wajahnya.


“Tunggu, kakak ini siapa?” Tanya Airi saat mendapati sosok asing di kubikel ini, siapa lagi kalau bukan Clarissa.


“Oh hai, adik nama kakak Clarissa, aku staff baru disini.”


“Yess, akhirnya nggak sendiri lagi.” Sahutnya senang, teriakannya bahkan mengganggu auditor lain.


“Airi, tolong dikondisikan ya.” Teriak pak Refian dari balik kubikel,

__ADS_1


"Asemmm.” Gerutunya dalam hati.


Airi mengamati wanita di hadapannya, cantik sih tapi nggak lebih cantik dari dirinya, jiwa percaya dirinya langsung muncul. Namun dia melihat kalau wanita ini terlihat mencurigakan karena berdiri sangat dekat dengan Bang Jo, jangan-jangan dia suka sama suami kakak kesayangannya.


“Jadi namamu Airi ya, semoga kita bisa partner kerja yang kompak.”


“Siap kakak.”


Dia mengalihkan pandangannya kea rah Jonathan, tapi lelaki itu malah menatap tajam dirinya. Seketika ia ingat dengan janjinya tempo hari.


“Oh hi Bang Jo.” Sapanya takut-takut.


“Kamu masih berani masuk kantor.” Katanya dengan nada tajam.


“Ya iyalah Bang Jo, kan itu kewajiban kita sebagai pekerja.” Sahutnya asal.


Meskipun Airi takut, dia masih bisa menjawab asal.


“Termasuk kewajiban untuk menepati janji.” Selidiknya


Airi hanya bisa nyengir kuda, kemarin dia memang berjanji saat makan siang akan memasakkan masakan spesial untuk kak Ayana, hanya saja ada keperluan mendadak sehingga membuatnya tidak bisa berlama-lama di kantor.


“Maaf bang Jo.” Airi menyesal karena tidak bisa menepati janji.


“Tahu nggak Ri, gara-gara kamu Ayana marah..” dan dia tidak memperbolehkanku masuk ke dalam kamar. Lanjutnya dalam hati.


“Ya maaf Bang Jo, next time lah kita atur waktu lagi.”


Jonathan hanya diam, Airi ini memang susah sekali ditebak.


“Terserahlah.” Sahutnya dengan nada kesal.


Airi menunduk, dia merasa bersalah pada seniornya itu.


“Hey sudahlah jangan bertengkar.” Clarissa ikut menimpali.


Airi hanya tersenyum kecil kemudian berkata.


Airi kembali ceria seolah melupakan permasalahan tadi.


***


Seperti biasa, kalau ada pegawai baru Divisi Auditor mengadakan makan-makan, namun bedanya kali ini mereka makan di luar kantor, Tempat makan All you can eat menjadi pilihan mereka.


“Waaahhh bisa makan sepuasnya ini, boleh nggak ya dibawa pulang lumayan buat anak kosan.” Celetuk Airi yang membuat teman sedivisi menggelengkan kepalanya gemas.


“Mana boleh adik kecil, kamu jangan malu-maluin deh.” 


“Huh, dasar kak Anggit paling nggak seneng kalau aku bahagia.” Keluhnya.


“Tenang aja, kau kan paling kecil di divisi kita, jadi semisal kau pengen makan disini tinggal bilang aja sama kita, ya nggak guys.”


“Yoi bro.” Sahut mereka


“Horeeee, asyikkk.”


Tawa Airi membuat mereka ikut tertawa.


“Sudahlah ayo kita makan.” Ajak Anggit.


Mereka lalu menempati tempat duduk yang sudah di reservasi.


Airi memilih duduk di dekat jendela, karena dia sangat suka mengamati lalu lalang kendaraan dan kalau beruntung bisa melihat tetesan air hujan.


“Segini aja lo Makan, adik kecil.”


Celetuk Anggit saat melihat makanan yang sedikit di atas piringnya.


“Nanti, ambil sedikit-sedikit tapi sering.”


“Nahkan nggak mungkin adik kecil kita makannya sangat sedikit, minimalnya itu porsi kuli.”

__ADS_1


“Biarin, kan masih masa pertumbuhan.” Elaknya.


“Pertumbuhan dari mana, umur kamu sudah 21 tahun udah nggak bisa tumbuh tinggi lagi.”


“Mana ada, manusia berhenti tinggi di usia 30 tahun, dan masih ada waktu Sembilan tahun ke usia itu , jadi masih bisa tinggi.”


“Paling-paling cuman tambah setengah senti doing.”


“Enggak ya, tambah 10 senti juga bisa.”


“Iya paling-paling karena kamu pakai heels.”


Huhhhh.


Pandangan Airi langsung teralih pada wanita yang baru masuk ke restoran.


“Kak Isna.” Panggilnya antusias.


“Ohh, Airi kenapa kalian disini?”


Tanyanya saat mendapati se-divisi berada di restoran ini.


“Biasa makan-makan penyambutan pegawai baru, sini kak duduk di sampingku biar kak Anggit nggak ganggu aku.”


“Iya nggak ganggu kamu Airi, tapi dia yang bakal ganggu aku.” Balasnya dalam hati.


“Huuuu, dasar.” Sahut Anggit.


"Kamu duduk sini aja Is."


Anggit menarik tangan Isna untuk duduk di sampingnya, ia menggeser sedikit tubuhnya ke samping. Tempat duduk mereka memang berbentuk sofa memanjang.


"Ihhh dasar ya, nggak Bang Jo nggak Kak Anggit, semuanya sama-sama genit udah punya istri tapi masih caper sama cewek lain." kesalnya.


"Mana ada, Isna ini kan... Eh tunggu emang si Jonathan caper sama siapa?" Tanya Anggit penasaran.


"Itu."


Tunjuk Airi ke arah Jonathan yang duduk bersampingan dengan Clarissa. Anggit hanya meresponnya dengan gelengan kecil, karena mereka hanya teman saja.


Anggit kemudian menaruh daging di piring Isna yang masih kosong.


"Ini Isna makan yang banyak karena baik untuk.."


"Awww." Teriaknya tiba-tiba.


Ternyata kakinya diinjak oleh Isna, ia mendapat pelototon tajam dari wanita itu.


"Kak Anggit kenapa kok berteriak?" Tanya Airi bingung.


"Enggak papa, adik kecil tadi ada semut betina gigit kaki gue."


"Nah loh, emang kakak tahu caranya bedain semut jantan sama betina? Setaku ya, semut betina kan nggak pernah keluar dari sarang."


"Kayaknya lo harus banyak baca-baca buku deh, ada semut betina yang keluar dari sarang dan sekali gigit hiii serem sekali."


Airi mengangkat bahunya acuh, ia kemudian melanjutkan makannya yang tertunda. Tidak sadar bahwa kedua orang di hadapannya sedang melakukan bahasa isyarat yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.


*****



 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2