
Ayana POV
Tenang Ayana, kamu harus bisa berpikir positif. Nama Clarissa itu sangat banyak. Jadi belum tentu Clarissa Staff baru itu adalah Clarissa yang kemarin. Seandainya Mas Nathan mau menjawab pertanyaan tentu aku tidak menjadi parno sendiri.
Tuhan sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Dan tentu saja aku tidak ingin berpikiran negatif, tapi mau bagaimana lagi rasa tidak menyenangkan itu hadir dalam benakku.
Apa aku gunakan kekuatan stalker. Karena banyak orang bilang, bahwa wanita adalah mata-mat terbaik. Kita bisa bisa mengetahui sesuatu hanya dari satu gambar foto di media sosial. Jadi jangan berani-berani untuk berbohong dengan perempuan, karena instuisi kami sangat tajam.
Segera kubuka akun media sosialku, walaupun Mas Nathan melarangku untuk bermain media sosial, namun kali ini aku mengindahkannya. Kita memang harus bijak dalam menanggapi berita di media sosial, pastikan dulu sumbernya apakah benar atau tidak. Jangan sampai termakan hoaks. Seringkali aku melihat ada beberapa berita yang sebenarnya tidak benar dan sayangnya televisi pun ikut memeberitakannya bahkan sampai membuat petisi ke presiden. Beruntung aku termasuk netizen yang pasif dan tidak suka berkomentar, jadi jejak digitalku aman-aman saja.
Pencarianku dimulai dari orang yang mengomentari foto Mas Nathan dengan nama wanita itu. Aku mulai meng-klik user namanya. Muncul sebuah bio yang sayangnya kali ini di private. Tak hilang akal, aku kembali menggulir layar komentar dan kubuka satu persatu sayangnya di private semuanya. Tampaknya teman Mas Nathan ini sangat menjaga privasi di dunia maya.
Oh seandainya aku punya kenalan hacker pasti lebih mudah untuk mengetahui orang itu. Tunggu, apa aku minta tolong Widi saja, dia kan staff IT pasti bisa. Namun sepertinya aku harus membuang jauh-jauh niat itu, karena Ia adalah orang yang sangat pelit dan susah dimintai tolong. Kalian tentu ingat kan saat Mas Nathan pertama kali masuk kantor, dia langsung menolak mentah-mentah permintaan Mas Nathan untuk menstel komputer agar siap pakai.
Dulu aku bisa menertawakan suamiku karena ditolak Widi, sekarang aku baru menyadari ternyata sifat Widi yang satu itu sangat menyebalkan. Kenapa sih dia tidak mau bekerja di luar jam kerja, atau nggak berkenan menolong temannya yang kesusahan, dasar.
Aku mengetuk-ngetukkan jariku di dagu tanda berpikir. Kira-kira siapa teman Mas Nathan yang sudah menjadi temanku di dunia maya.
Oh iya Anggit, dia kan pernah cerita kalau Mas Nathan adalah teman semasa kuliahnya. Jadi pasti dia juga berteman dengan teman Mas Nathan. Segera aku pindah ke akun Anggit yang masih nol postingan, padahal sebelum menikah dia kerap mengabadikan momen saat travelling. Kebanyakan gambar yang di post saat dia mendaki gunung atau diving.
Sekarang aku ingin melihat siapa yang mengikuti Anggit. Aku mendesah kesal karena harus memilah dari ratusan yang dia ikuti, search by name pun tidak ketemu. Seandainya aku bisa masuk akunnya Mas Nathan tentu akan sangat mudah bagiku.
"Apa aku coba dulu ya." Gumamku sendiri saat memikirkan kalau password akunnya sama dengan ulang tahunku.
Ku mainkan jari-jariku di gawai ini, aku terpekik senang saat tebakanku benar. Padahal kemarin Mas Nathan bilang kalau hanya aku yang menggunakan password yang sama di semua akun, dia sendiri pun memakainya. Sekarang mencari akun Anggit yang pastinya tertulis followers bla-bla and others.
__ADS_1
Ada puluhan akun yang diikuti bersama, dan tak ada satupun yang berinisial C. Baiklah aku akan mengecek satu-persatu akun ini.
"Semangat Ayana."
Aku mencoba untuk memberikan semangat pada diriku karena melihat begitu banyak akun yang sama-sama diikuti oleh Anggit dan suamiku.
Tunggu, kenapa aku tidak mencoba melihat dari foto bersama mereka, mungkin saja ada yang ditandai. Beruntung tidak banyak foto yang terpasang hanya ada beberapa foto. Kupilih doro secara acak dan mengkliknya. Langsung terlihat beberapa akun yang ditandai, pandangan terfokus pada sosok perempuan yang berada di foto Mas Nathan.
Aku memberanikan diri untuk melihat akun itu, mengantisipasi sesuatu yang tidak ingin kulihat. Namun sayangnya harapanku tidak terjadi, di postingan akun itu terdapat foto mereka. Meskipun diambil dari belakang, dari postur tubuhnya aku tahu kalau dia adalah Mas Nathan.
Rasa sesak menyergap dadaku, ternyata Clarissa memang masa lalu dari Mas Nathan. Apakah mereka sampai saat ini masih berhubungan mengingat suamiku yang tidak menjawab pertanyaanku.
Ya Tuhan,
Ku tarik napasku dalam-dalam untuk membuang segala pikiran buruk ini. Kupejamkan mataku sejenak untuk menenangkan segala gundahku.
Semoga saja mereka hanya berteman.
Semangatku dalam hati, aku mencoba percaya pada Mas Nathan.
Kulihat jam di gawai menunjukkan pukul 11, itu tandanya aku harus bergegas menyiapkan makan siang. Terlalu asyik berselancar membuatku hampir lupa. Kalau menyiapkan makanan yang terlalu ribet bumbunya pasti akan lama, jadi aku memilih memasak makanan yang sederhana saja. Sop ayam dan telur dadar menjadi pilihanku. Setidaknya ada sayur di masakanku.
Semua masakan telah selesai kuhidangkan di meja tepat jam 12 siang. Sembari menunggu Mas Nathan sampai, aku memilih menunaikan sholat Dhuhur di mushola rumah ini. Biasanya setelah selesai melaksanakan Sholat, Mas Nathan sampai rumah. Sayangnya sudah lebih dari setengah jam aku menunggu di meja makan, ia tak datang. Sebenarnya Mas Nathan kemana. Apakah dia terjebak macet.
Makanan yang kusajikan di atas meja sudah mendingin, aku jadi tidak berselera untuk memakannya. Padahal saat ini perutku terasa sangat lapar, namun aku menahannya karena ingin makan dengan Mas Nathan.
__ADS_1
Sesekali kulirik ke arah pintu berharap Mas Nathan muncul. Pesan yang kukirim tidak dibalas olehnya.
Mas kamu kemana?
Ting
Sebuah suara menandakan pesan masuk ke gawaiku, aku bersemangat membukanya karena mengira itu adalah Mas Nathan. Sayangnya pesan itu dari Isna, dia mengirim sebuah foto kepadaku. Aku pun langsung melihatnya.
Isna
Yana kita lagi makan-makan penyambutan staff baru nih, sayang kamu nggak ikut.
Aku tersenyum getir bukan karena kalimat itu melainkan apa yang ditampilkan di foto itu. Di sana terlihat Mas Nathan duduk berdampingan dengan Clarissa. Ya aku bisa menebaknya karena wajah itu jelas-jelas wajah wanita di akun tadi.
Mas Nathan kenapa kau tega? Setidaknya kabari aku jika kamu tidak pulang, jadi aku tidak sia-sia untuk menunggumu
Air mataku meluncur tanpa bisa dikomando, kupandangi makanan yang mendingin ini. Keinginan untuk makan pun telah lenyap. Apakah aku memang belum mengenal suamiku.
Kuelus perutku sayang, semoga kesedihan yang kurasakan tidak membuat anak kami sedih.
Aku sedang ingin sendiri saat ini. Tapi kemana, karena saat ini aku benar-benar tidak ingin bertemu dengan Mas Nathan. Masa bodoh nanti dia mencariku, tapi memangnya dia akan mencariku kalau aku tidak ada di rumah. Sepertinya tidak, aku hanya bisa tersenyum miris.
****
__ADS_1