After Tomorrow

After Tomorrow
Finale


__ADS_3

Jonathan POV


"Oekkkk oekkkk oekkk." Suara bayi mengusik


tidur lelapku.


Anak siapa yang menangis malam-malam, Ayana kan masih belum melahirkan. Aku kembali memejamkan mataku


Oekkk oekkk oekkk oekk."


Suara itu muncul lagi,


Deg


Seketika aku ingat, bahwa suara tangisan itu berasal dari anakku.


Ya putraku yang dilahirkan dua bulan yang lalu, astaga kenapa aku bisa lupa.


Tampaknya aku masih belum terbiasa menjadi seorang ayah siaga. Segera ku bangkit dari tempat tidur. Ayana masih tidur dengan lelapnya, sepertinya dia kelelahan karena mengurus putra kami sendirian.


Padahal aku sudah menawarinya untuk mempekerjakan Baby Sister.


Namun istriku tetap kekeh untuk mengurus anaknya dengan kedua tangannya sendiri. Katanya guru pertama anak adalah ibunya, dan dia tidak ingin kehilangan momen sedikit pun tentang perkembangan buah hati


kami. Rasanya aku sangat beruntung memilikinya.


Pelan-pelan aku turun dari ranjang agar tidak


membangunkan tidurnya. Kali ini biarlah aku yang bergantian mengurus putra


kami.


Aku melangkahkan kaki menuju box bayi yang ada di sebelah ranjang kami. Sebenarnya ada kamar bayi di sebelah kamar ini


Sayangnya istriku lebih memilih putra kami berada di kamar ini. Alasannya biar bisa mengawasi terus.


Ahhh Ayana, kalau soal dia aku kadang merasa menjadi nomor dua.


"Cup cup cup, anak Ayah haus ya?"


Aku menggendong putraku yang menangis lalu mencoba menenangkannya.


Dan berhasil, dia menjadi sedikit tenang.


Kutimang-timang dia sembari menyiapkan asi yang sudah disiapkan oleh istriku.


Anakku dengan rakus meminum asi itu. Kadang aku masih tak percaya, jika aku sudah menjadi orang tua. Melihat putra kami, sering membuatku takjub dan terharu.


"Mas, Revano bangun lagi ya?"


Ayana telah bangun dari tidurnya dan berjalan


menghampiriku. Dia mengisyaratkan kepadaku untuk memberikan Revano kepadanya.


"Biar Mas saja ya, kamu kelihatan capek


banget." Ucapku padanya.


Bibir Ayana langsung mengerucut sebal, tanda protes.


"Kenapa cemberut?" Tanyaku padanya.


Aku memberi usapan lembut pada tangannya sembari


sesekali aku mencium puncak kepala anakku.


"Mau gendong juga." Sungutnya kesal,


Bibirnya masih mencebik kesal. Ayana meskipun sudah jadi ibu, kadang-kadang sisinya yang seperti itu masih dia tunjukkan, hingga membuatku gemas sendiri. Jadi membuatku ingin.


Astaga Jonathan, apa yang kamu pikirkan. Istrimu baru saja melahirkan, jadi tidak mungkin melayani kemauanmu untuk sekarang.


"Mass." Desah Ayana kesal karena tak kunjung


memberikan putra kami.


"Iya-iya, biar dia habiskan susunya dulu."


Aku mencoba memberikan pengertian kepadanya.


Ayana akhirnya menganggukkan kepala tanda setuju. Dia semakin mendekat kepadaku, dan memberikan kecupan kecil di wajah Revano.


Ada binar bahagia yang bisa kukihat dari sorot matanya, meskipun aku juga bisa melihat kantung mata yang tebal di bawah


matanya. Wajar memang, karena dia mengurus Revano sepanjang hari, tapi hebatnya istriku dia sama sekali tidak pernah mengeluh.


Dia tidak pernah lupa untuk mengurusku, yang paling aku suka adalah wajah bahagianya saat menyambutku pulang ke rumah.


Dalam hati aku bersyukur, karena diberikan takdir yang indah ini. Untung saja aku tidak terlambat untuk mempersunting Ayana. Ya hampir saja aku terlambat. Tetapi ternyata Tuhan Maha baik kepadaku, setelah lulus

__ADS_1


dari kuliah S2ku ternyata aku kembali bekerja di kantor yang sama dengan istriku. Sehingga aku bisa dengan mantap memperistrinya.


Apakah dia tahu betapa besar aku mencintainya?


Mungkin dia belum tahu, jika saja dia tahu mungkin di awal pertemuan dia langsung menjauhiku. Eh tapi bukankah dulu, dia juga sangat antipati padaku.


Yahh mau bagaimana lagi, melihat ekspresinya yang mengerucut sebal adalah hiburan tersendiri bagiku.


Sempat merasa takut ditolak saat melamarnya, tapi ternyata semesta berpihak kepadaku. Ayana mau menerima lamaranku, dan tak butuh waktu lama untuk menikahinya. Karena aku tidak mau tertikung untuk kedua


kalinya. Apalagi Ali terlihat masih mencintai istriku.


"Mas Nathan, mau gendong." rengekan Ayana


membuyarkan lamunanku.


"Iya iya, kamu itu emang nggak bisa jauh ya dari Revano."


"Hemm, tu lihat Revan masih haus." kekehnya.


Matanya berbinar-binar melihat anak kami.


Setelah memastikan susu yang di dalam botol habis, aku lalu menyerahkan Revano kepada Ayana.


Dan tampaknya Revano memang masih haus, dia langsung mencari-cari sumber makanannya.


"Iya sabar ya sayang." Ucap Ayana penuh


keibuan, dia lalu memberikan apa yang diinginkan oleh Revano.


Masih dapat kulihat semburat merah di pipinya jika dia menyusui anak kami di depanku.


Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah


malu-malunya.


"Sambil duduk aja ya dek, kasihan nanti kamu


pegel."


Kutuntun Ayana agar duduk di atas ranjang.


Momen seperti ini sering membuatku terharu, dimana Ayana dengan keibuannya menyusui anak kami.


"Sttt." Ringis Ayana.


"Kenapa?" Tanyaku khawatir.


"Dia takut aku rebut mungkin." Godaku


padanya.


Aku melihat Revano menghisap kuat sumber makanannya, dan satu tangannya mencari-cari sumber makanan lain.


Glek.


Pikiranku malah fokus ke arah lain, sabar Jonathan.


"Hah kok bisa?" Tanya Ayana.


Aku hanya mengedikkan bahuku, istriku ini masih tidak paham dengan ucapanku.


"Mas, Revano sepertinya sudah kenyang."


Kulihat Revano melepaskan sumber makanannya, dan dia kini terlelap.


Lucu sekali anakku ini.


"Kita taruh di box bayi lagi."


Aku membantunya untuk meletakkan Revano ke box bayi.


"Revano Aidan Bagaskara." Celetuk Ayana


tiba-tiba.


Aku memandangnya dengan sebelah alis terangkat.


"Semakin lama, kenapa dia semakin mirip kamu ya Mas."


"Jelas, kan dia anakku."


Wajar dong dia mirip aku.


Wajah Ayana langsung cemberut saat mendengar kalimatku.


"Tapi kan aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, masak nggak ada satupun dariku yang dia ambil."


Aku tertawa kecil.

__ADS_1


"Matanya mirip kamu Ay." Hiburku padanya.


Wajah Revano memang copyanku, bahkan ibuku bilang kami seperti orang kembar tapi di masa yang berbeda. Gaya tidur anak kami pun sangat mirip denganku.


"Iya awalnya, tapi makin kesini makin mirip Mas, apa jangan-jangan gara-gara namanya yang mirip Mas Nathan jadi semuanya ikut


Mas."


Mana ada korelasi antara nama dan kemiripan wajah, istriku ini benar-benar lucu.


"Ihhh Mas Nathan malah ketawa, nggak asyik."


Ayana kembali mencebik kesal.


Aku jadi gemas ingin mencium bibirnya.


"La mau gimana Ay, tapi orang bilang kalau


anaknya mirip sama suaminya itu tandanya kamu cinta banget sama Mas."


Aku langsung mendapat pelototan mata tajam darinya, dengan pipi yang makin bersemburat Kutarik Ayana ke dalam pelukanku.


"Nggak papa dong cinta sama suami sendiri."


"Emang kelihatan banget ya, kalau Ayana Cinta sama Mas." akunya.


Rasanya jantungku meletup-letup saking bahagianya.


"Mas juga cinta banget sama kamu, bahkan lebih lama dari yang kamu bayangkan."


Mungkin saatnya aku jujur kepadanya.


"Maksudnya?"


Tanyanya lalu mendongakkan wajah ke arahku.


"Ada deh." Balasku akhirnya.


Ternyata aku masih terlalu malu untuk mengakui bahwa aku mencintainya sejak pertama kali melihatnya, dan itu bukan saat dia menemukan berkas punyaku tapi saat aku bertandang ke rumahnya waktu dia kecil.


Pertemuan itu sangat membekas ke dalam ingatanku dimana


seorang anak kecil memberikan mencium keningku yang saat itu terluka karena


jatuh.


Ayana dengan polosnya berkata, bahwa ibunya melakukanhal yang sama jika dia terluka. Dan dia berharap dengan melakukan hal itu,lukaku bisa sembuh.


Aku yang saat itu masih belum mengerti apa itu cinta langsung terkesima dan berjanji untuk menjadi pangerannya di masa depan. Kalaudiingat-ingat aku jadi ingin tertawa sendiri, betapa konyolnya aku.


Terlebih saat itu Ayana masih terlihat sangat kecil dengan gigi ompongnya.


Yah namanya cinta tidak memandang apapun dan butuh alasan bukan?


"Mas Nathan sukanya PHP, nanti aku tanya Mama aja deh, kan Mama yang pegang semua kartu As Mas Nathan." Ancamnya padaku.


Aku hanya terkekeh geli, untuk bagian itu sepertinya mamaku tidak mengetahuinya. Eh tapi, bukankah naluri seorang ibu itu sangat


kuat. Ya semoga saja Mama tidak tahu.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah istriku, menimang-nimang untuk meminta. Tapi kalau bukan sekarang, kapan lagi coba.


"Ay, sudah boleh belum?" Tanyaku was-was.


"Apanya?" Tanyanya, tapi saat melihat raut


wajahku, dia akhirnya mengerti.


Ayana tampak malu-malu kemudian dia menganggukan kepala.


Yesss akhirnya buka puasa.


"Ayo, kali ini kita buat yang mirip kamu."


"Masssss." Teriaknya malu.


Setelah itu hanya ada penyatuan cinta di antara kita.


"I love You till Jannah, my wife."


Aku hanya berharap semoga kisah kami bisa bahagia selamanya, ya walaupun dalam berumah tangga ada banyak liku-liku yang harus dihadapi. Tapi aku akan terus berusaha membuat wanita dalam dekapanku tersenyum bahagia, aku akan mengganti hari kesedihannya dengan hari penuh tawanya


tentunya bersama dengan keluarga kecil kamu.


Yang berlalu adalah sebuah pembelajaran, hari ini adalah sebuah anugerah, dan hari esok masih sebuah misteri. Sebuah misteri yang akan aku isi dengan tawa indahnya, begitu pula dengan hari-hari esok


setelahnya.


After Tomorrow, atau bahkan sampai kapan pun. Ayana adalah takdirku.

__ADS_1


End


****


__ADS_2