After Tomorrow

After Tomorrow
Memberi Pengertian


__ADS_3

Ayana sedari tadi diam tidak seperti biasanya, pandangannya selalu mengarah ke luar jendela. Sementara Jonathan di balik kemudinya menampilkan raut wajah khawatir. Dia mengerti kenapa wajah istrinya tampak muram hal itu pasti karena perkataan dokter Bunga.


Ayana pernah bercerita kalau dia sangat ingin melahirkan secara normal, agar bisa menjadi ibu yang sesungguhnya. Padahal apapun cara Sang Ibu melahirkan baik normal maupun tidak mereka tetap akan menjadi the Real Mother. Jadi ibu atau tidak bukan dilihat dari cara melahirkan melainkan dari cara mendidik Anak.



Jonathan meraih tangan Ayana dan menggenggamnya. Hal itu membuat istrinya menoleh.


"Kamu kenapa?" Tanya Jonathan lembut.


"Nggak papa Mas." Ayana menarik tangannya.


Jonathan menghela napas kecil, dia kembali fokus menyetir.


Kamu mau makan apa Ay?"


Tanya Jonathan mengalihkan pembicaraan.


"Nggak tahu Mas." Jawabnya pelan.


Nah kan, kalau diajak bicara soal makanan pasti Ayana akan


menanggapinya.


"Jangan gitu Ay, kamu mau apa Makanan Jepang, Korea apa Indonesia atau Western."


Ayana menggeleng kecil sepertinya pilihan yang dia berikan terlalu umum.


"Kalau begitu kamu mau Makan Bakso, Mie Ayam, Sate, Padang, Pecel, Bebek goreng, Soto Mie, Soto Nasi uduk."


"Itu Mas yang terakhir."


"Yang mana, Nasi uduk?"


Ayana menggeleng kecil,


"Bukan, tapi Adek mau Soto Mie." Teriaknya antusias.


"Baiklah, kita ke Soto Mie dekat kantor saja ya." Usul Jonathan,


Karena laki-laki itu hanya tahu satu penjual Soto Mie, dan itu terletak di dekat kantor mereka.


"Nggak mau yang itu, maunya yang ada di Cipinang."


Pernyataan itu membuat Jonathan menghela napas. Saat ini mereka berada di Jakarta Selatan, dan Cipinang berada di Jakarta Timur. Jika dilihat jaraknya memang dekat. Tapi ini Jakarta yang penuh kemacetan, tentunya akan sangat membutuhkan waktu yang lama.


"Nggak mau yang lain Ay." Bujuk Jonathan.


Istrinya kembali menggeleng.


"Nanti kamu keburu lapar lo." Tawar Jonathan.


"Nggak, Ayana maunya makan disana nggak mau makan di tempat lain." Kekehnya.


Jonathan tidak bisa berbuat apa pun lagi kecuali menuruti permintaan istrinya. Sebagai suami teladan, kita harus menuruti apa pun permintaan istri bukan?


"Baiklah, jika itu maumu, tapi jangan salahkan Mas, jika kita lama sampai ke sana."


Ayana hanya mengangguk tanda setuju. Membayangkan kuah Soto Mie yang segar membuat dia menelan air liurnya. Sungguh dia tak sabar untuk memakannya.


****


"Ay, bangun Ay."


Ayana merasakan tepukan di pundaknya. Dengan susah payah dia membuka matanya.


"Ay, kita sudah sampai."


Wanita itu mengucek matanya menyesuaikan pencahayaan.


"Maaf ya Mas terpaksa membangunkanmu, karena tokonya sudah mau tutup."


Ayana mengernyitkan dahinya, bukannya tokonya buka sampai jam 12.


"Memangnya berapa lama, Adek tertidur Mas."


Jonathan menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian menjawab.


"Kalau dihitung dari perjalanan hampir 3 jam dik."


Ayana membelakkan matanya, selama itukah dia tertidur. Rasanya seperti hanya lima menit. Dia melihat suaminya yang tampak meringis kecil.


Ada rasa haru dalam hatinya mengingat apa yang dilakukan Jonathan. Laki-laki itu dengan sabar menunggunya tidur, tanpa ada raut wajah marah sedikitpun.


"Masih mau makan kan, ayo keluar."


Jonathan melepas seatbelt yang dipakai Ayana, kemudian keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Ayana.


"Pak, pesan dua porsi ya." Ujar Jonathan kepada penjual.


Setelah itu mereka duduk di bangku yang disediakan. Pedagang Soto Mie memang hanya pedagang kaki lima, namun jangan salah, tempat ini sangat ramai dan antriannya berjibun.


Anehnya, saat ini tempat ini sudah sepi.

__ADS_1


Ayana mengalihkan pandangan ke gerobak penjual yang terlihat kosong, penjual pun tampak membereskan dagangannya.


"Ini Mas, silahkan."


Pelayan meletakkannya di atas meja, kemudian berlalu pergi.


"Terima Kasih." Balas Jonathan ramah.


"Ayo, Ay, sekarang kita makan, ingat jangan pakai sambal."


Bibir Ayana mengerucut sebal.


"Iya, iya Mas."


Wanita itu mulai menyedok kuah Soto Mie ke mulutnya.


"Hemm, masih sama seperti dulu." Ujarnya kemudian.


Jonathan tersenyum puas melihat Ayana yang tampak senang.


"Kamu pernah ke sini Ay?" Tanya Jonathan.


"Iya, waktu pertama kali ke Jakarta, Ibu mengajakku ke rumah saudaranya yang ada di sini, terus kita mampir makan disini. Suapan pertama langsung membuatku jatuh cinta. Dan entah kenapa tadi, Ayana ingin sekali makan ini Mas." Jonathan menanggapinya dengan tersenyum maklum, namanya juga ngidam.


"Oh ya Mas, ngomong-ngomong tumben tempat ini sepi?" Tanya Ayana penasaran.


Laki-laki itu hanya diam bingung bicara apa.


*****


"Hahahahaha."


Ayana tertawa saat mendengar suaminya. Astaga Suaminya memang sangat luar biasa.


"Sudah Ay, jangan ketawa terus, Mas Malu tahu."


Saat ini mereka sudah berada di rumah, sedang duduk-duduk santai di teras belakang sembari menikmati senja.


"Habisnya Mas lucu sih."


Ayana masih tidak menyangka, suaminya rela menjadi pelayan dadakan agar penjual mau menyisakan soto mie untuk mereka berdua, sembari menunggu dirinya bangun.


"Terima Kasih ya Mas, apa yang Mas Nathan lakukan sangat berarti untuk kami."


Ayana meraih tangan suaminya untuk berada di atas perutnya. Dengan spontan tangan Jonathan mengelusnya lembut. Sesekali dia mengecupnya.


"Apa pun akan aku lakukan demi kamu Ay."


"Mas, buat aku terharu, tapi maaf Ayana bukan istri yang sempurna buat Mas, apalagi nanti Ayana tidak bisa melahirkan normal." Ujarnya sedih.


"Jangan seperti itu Ay, sejak kapan tolak ukur istri sempurna dari itu?"


"Habis kemarin, aku baca Status Fb, yang tulisannya Istri yang Sempurna itu adalah istri yang melahirkan normal, dan istri yang sempurna itu bisa hamil dan punya anak."


Astaga.


Jonathan mendengus sebal, Sepertinya mulai saat ini dia harus mengawasi media sosial istrinya. AgarĀ  dia tidak membaca postingan yang tidak jelas seperti itu. Dan lagi siapa yang dengan teganya membuat postingan seperti itu, dasar.


"Dengarkan Mas Ay, tolak ukur istri yang sempurna bukan karena dia bisa punya anak atau tidak, bukan pula karena dia bisa melahirkan secara normal atau tidak melainkan dilihat dari sikap dan tindakan istri. Istri yang sempurna adalah istri yang taat beribadah dan penurut, istri yang selalu menjaga kehormatan suaminya. Dan bagi Mas kamu adalah istri yang sudah sangat sempurna karena telah hadir dalam hidup Mas."



Laki-laki itu mencoba memberikan pengertian pada Ayana, agar wanita itu mengerti.


"Kamu mengerti kan Ayana, diberikan keturunan adalah sebuah Anugerah, rezeki, sekaligus yang begitu luar biasa dari Allah, jadi kita harus lebih banyak bersyukur."


Ayana menganggukkan kepalanya.


Jonathan gemas dengan tindakan istrinya lalu mencuri sebuah kecupan.


"ihhhh Mas, jangan suka mesum deh." kesalnya.


Laki-laki itu hanya tersenyum kecil.


"Jadi Adek ikutin apa saran dokter Bunga ya, untuk melahirkan secara Caesar."


Ayana tampak berpikir.


"Tapi Mas, kan Minus Ayana belum lebih dari empat, tadi Adek sempat baca Artikel kalau yang harus melahirkan Caesar yang matanya minus lebih dari empat, kalau di bawahnya masih diperbolehkan." ia mencoba menawar.


"Kamu ini, dibilangin memang susah banget, nanti kita bicarakan lagi dengan dokter Bunga, oke."


"Huum."


Ayana menyenderkan kepalanya di bahu Jonathan.


"Mas, Ayana boleh upload foto Usg anak kita kan?"


Jonathan melirik Istrinya melalui ujung matanya.


"Boleh, kenapa tidak."


"Tapi pakai handphone Mas ya?" Pintanya.

__ADS_1


"Dasar kamu."


Laki-laki itu mencubit hidung istrinya dengan gemas. Ia kemudian memberikan gawainya ke istrinya. Ayana kemudian menerimanya dengan senang.


"Kata sandinya apa?" Tanyanya saat melihat gawai itu terkunci.


"Coba tebak?" Tanya Jonathan dengan sebelah alis yang terangkat.


"Emmmm, apa ya."


"Pasti angka satu sampai enam."


Jonathan tergelak, mana mungkin dia membuat sandi seperti itu.


"Yah kok salah sih mas, biasanya kan laki-laki kalau membuat sandi tidak pakai ribet."


"Siapa bilang, yang ada malah perempuan, kamu sama mamaku semua kata sandi sama dari pin ATM sampai handphone."


"Hehehe, habisnya malas ingat banyak-banyak." Ayana nyengir kuda.


Kalau bisa mengingat sedikit kenapa mengingat hal banyak, lebih baik slot memori di otaknya digunakan untuk mengisi hal lain. Begitu pikir Ayana.


"Ngeles aja bisanya." Jonathan tertawa kecil.


"Kata sandinya, hari ulang tahun kamu." Lanjutnya.


Ayana langsung mencobanya dan berhasil.


"Aku jadi curiga lo Mas, kalau dulu pas di tangga, saat Ayana tanya Mas tentang hari ulang tahun pak Refian, Mas sebenarnya hanya mengingat hari ulang tahunku saja."


Uhuk Uhuk.


Jonathan yang sedang minum langsung tersedak mendengar itu, dia jadi malu ketahuan istrinya.


"Mas, minumnya pelan-pelan."


Ayana tampak mengkhawatirkan suaminya. Dia memberikan usapan lembut ke punggungnya.


"Maaf-maaf, habis tebakanmu benar." Akunya malu.


Mata Ayana membola, tak menuangkan Jonathan mengakuinya dan sama sekali tidak menyangkalnya.


"Dasar Mas Nathan, sebenarnya ada berapa rahasia sih yang belum Mas ceritakan kepadaku."


"Banyak, tentunya banyak sampai kamu tidak bisa membayangkannya." katanya dengan nada serius.


Jonathan memandang insten ke arah wajah Ayana. Mereka bertatapan cukup lama, hingga Ayana terlebih dahulu memutuskan kontak matanya.


"Sudahlah, Ayana mau upload dulu di instagramnya Mas, biar feed-nya berwarna, masak isinya cuman foto pemandangan saja sih."


Instgram Jonathan memang hanya berisi hasil foto bidikannya, dia tidak suka memposting wajahnya ke dunia maya. Selain untuk menjaga privasi tentunya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, contohnya seperti disalahgunakan orang lain mungkin.


"Kamu juga sama saja dengan Mas, Ay."


Balas Jonathan, karena feed instagram Ayana tak jauh beda dengan dirinya.


"Tapi kan punyaku masih ada foto Ayana beberapa."


"Foto yang nggak kelihatan mukanya, itu sama saja Ayana."


Ayana tertawa menanggapi suaminya, karena begitu adanya.


"Oke waktunya Upload."


Jari-jari Ayana dengan lincah memposting unggahan foto USG-nya.



Like dan komentar langsung menyerbu postingan itu.


"Ayana nggak nyangka ternyata Mas banyak juga ya fansnya, baru satu detik upload sudah banyak yang like dan comment." gerutunya dengan nada tidak suka.


Itulah yang didengar oleh Jonathan.


"Mas tidak seterkenal itu sayang."


Ujarnya dengan menekankan kata terakhirnya.


Pipi Ayana langsung bersemu merah, suaminya memang sangat jarang memanggilnya dengan sebutan sayang.


Dia mengalihkan pandangannya ke handphone suaminya, alisnya mengernyit bingung saat mendapati sebuah komentar.


Clarissa patah hati


"Mas, siapa itu Clarissa?"


Jonathan terpaku dia hanya diam tanpa bersuara.


Mulai detik ini, dia tidak akan membiarkan istrinya bermain media sosial lagi. Dan sekarang harus dari mana dia menjelaskannya.


****


__ADS_1



__ADS_2