
Hidup Berumah tangga
Tentang menyatukan dua pikiran dan dua karakter
Apakah bisa saling memahami
Atau malah menjadi perbedaan yang sangat besar
****
“Kamu ngelamunin apa Mas?”
Ayana bertanya saat melihat Nathan yang
sepertinya tengah melamun.
Suaminya seperti sedang berimajinasi terlihat
dari bola matnya yang berada di posisi atas. Memangnya siapa yang
diimajinasikan oleh Nathan samapi seperti itu.
“Eh enggak kok Ay.”
Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Jangan bohong deh, pasti lagi mikirin si Clarissa Clarissa itu kan.”
“What.” Batin Jonathan
Buat apa coba dia memikirkan tentang Clarissa. Begitu pikirnya,
dan kenapa istrinya tiba-tiba menyebut nama temannya.
“Enggak, mana ada dik, di pikiran Mas itu cuman ada kamu seorang.” Godanya.
“Ya siapa tahu kan kamu sekarang sekarang
sekantor sama dia.” Balas Ayana ketus.
Jonathan mengernyitkan dahinya bingung, karena seingatnya dia belum menceritakan tentang adanya staff baru disana,
“Kamu tahu dari mana dik, kayaknya Mas belum cerita deh.”
Ayana langsung gelagapan, masak dia harus bilang yang jujur. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Mas pasti lupa deh, tadi kan Mas yang cerita
sendiri.” Balasnya bohong.
Berbohong demi kebaikan kan diperbolehkan.” Belanya dalam hati.
“Oh iya ya, Mas lupa.” Akunya mengalah, daripada melihat raut kesal dari wajah istrinya lebih baik ia mengalah. Bukankah membuat istri senang bukankah akan mendatangkan pahala.
“Masih mudah udah pelupa Mas, yang penting nggak lupa sama anak dan istri.” Ketusnya.
Nah, Jonathan mendadak heran, kenapa hari ini sepertinya Ayana sering mengeluarkan kata-kata yang bernada ketus. Apakah dia
melakukan kesalahan yang membuat istri cantiknya itu terus bermuka masam.
Ayana sebenarnya merasa bersalah karena terus membalas ucapan suaminya dnegan nada seperti itu, namun sekarang dia benar-benar sedang merasa kesal dan terancam.
“Sudahlah, mending sekarang kita turun ke bawah, Mama dan Papa sudah menunggu kita di bawah untuk makan malam."
__ADS_1
Ayana mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Benar di meja makan sudah duduk Mama Grace dan Papa Lucas yang menunggu mereka untuk makan malam.
Wanita itu lalu mengambilkan nasi dan lauk ke piring kemudian memberikannya kepada suaminya. Hal itu juga dilakukan oleh
kedua orang tuanya. Makan malam terasa hening, karena Papa Lucas memnag
menerapkan peraturan tidak boleh berbicara saat makan. Jika ada hal yang ingin
dibicarakan maka harus dilakukan di ruang keluarga selepas makan malam.
Papa Lucas menyelesaikan makannya lebih dulu daripada yang lain, matanya menatap ke arah anaknya sebelum bersuara.
"Nathan, bisa nanti setelah ini ke ruang kerja Papa." ujarnya dengan nada serius.
Nathan menatap heran ke arah ayahnya, apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya sepertinya bukan hal yang main-main.
"Baik Pa."
Ia menyanggupi permintaan ayahnya.
"Dek, Mas ikut Papa dulu ya, habiskan makananmu Ya." pamitnya ke Ayana yang dibalas dengan anggukan samar.
"Titip Ayana ya Ma." ucapnya ke Ibunya.
Grace hanya berdecak kecil mendengar keposesifan anaknya, padahal mereka hanya terpisah beberapa ruang bagaimana kalau terpisah jauh pasti Nathan akan sangat cerewet mengenai istrinya.
****
"Papa hanya berpesan, kamu harus siapa menghadapi hal itu."
Kata-kata Papanya kembali terngiang di kepala Jonathan, ia yakin bisa menghadapi semuanya hanya saja bagaimana dengan orang tercintanya. Kemudian pandangannya mengarah ke Ayana yang kini sedang duduk berjauhan dengannya dan menampilkan raut wajah kesal.
Yang di mata Jonathan, wajah cemberut Ayana itu sangat lucu dan menggemaskan.
Jonathan bertanya kepada istrinya, saat ini
mereka sedang duduk di ruang keluarga. Kedua orang tua Jonathan sudah masuk ke
dalam kamar.
Ia duduk agak jauh dari Ayana, karena wanita itu masih terlihat kesal.
“Dekk, gimana?” tanyanya dengan nada lembut,
Jurus kalau istri marah adalah berkatalah dengan lembut, karena wanita itu pada dasarnya suka diberikan perhatian dan kasih
sayang.
Benar tidak pembaca?
“Kalau menginap saja gimana Mas, sekali-kali
kita menginap di rumah Mama.”
Akhirnya Ayana menjawab.
“Baiklah, oh ya Mas mau bertanya kenapa kamu tidak pamit sama Mas kalau mau ke sini?”
Tanyanya penuh selidik, akhirnya ia menanyakan sesuatu yang mengganjal di benaknya.
Ayana tergagap, cepat atau lambat Jonathan pasti akan menanyakan hal ini.
“Habisnya Adek kesal, Mas Nathan nggak bisa dihubungi dan malah makan malam sama teman Mas itu.” Sungutnya.
__ADS_1
“Ya Tuhan, maaf Ay bukan maksud Mas melakukan hal itu, tapi handphone mas ketinggalan di kantor, aku kan sudah mengabarimu lewat Anggit.”
“Tapi Mas kan bisa makan siang nggak harus di sampingnya dia.”
Jonathan paham kenapa Ayana kabur-kaburan seperti ini. Sepertinya dia cemburu pada Clarissa, padahal sungguh dia tidak punya perasaan apa pun pada Clarissa. Sewaktu kuliah dulu mereka hanya berteman
biasa. Mungkin ini karena pengaruh hormon kehamilannya, padahal dulu Ayana bukanlah orang yang pecemburu.
“Mas minta maaf dek, Mas nggak bermaksud, kamu jangan cemburu begitu, nanti jadi jelek lo.”
“Biarinnn, habis kesel, mana kemarin pas aku Tanya siapa dia, Mas diem aja lagi kan nambah curiga.”
Jonathan tidak mengira kalau kediamannya membuat istrinya berprasangka yang tidak-tidak, memang apa yang mau dijawab coba, kalau ia dan Clarissa hanya sebatas teman tidak lebih.
“Lain kali jangan bertindak gegabah seperti itu, Mas jadi ingat dulu pernah cemburu juga sama kamu, pas kejadian di gudang itu,
padahal kan kalian nggak ngapa-ngapain. Mengenai Clarissa, maaf ya Dek jika sikap Mas malah membuatmu salah paham. Sungguh Mas dan dia hanyalah teman tidak
ada hubungan lebih.”
“Bener Mas, nggak bohong.”
“Mas benar-benar tidak berbohong.” Ia kemudian duduk mendekat kea rah istrinya, dan alhasil Ayana tidak menolaknya.
“satu sama dong.” Balas Ayana.
Jonathan mengernyitkan dahinya, apa yang
dimaksud oleh istrinya ituu.
“Ihh Mas Nathan, maksudnya kita sama-sama pernah melakukan kesalahan.” Jelasnya kemudian.
Ayana jadi mengingat kejadian itu, waktu itu
Nathan mendiamkannya dan membuatnya khawatir. Mungkin hal itu juga yang dirasakan oleh suaminya saat dia tidak berada di rumah.
“Dengar Ay, dalam hubungan dibutuhkan
kepercayaan, Mas sudah berjanji pada orang tuamu dan pada Allah SWT. Tanggung
jawab yang mas pegang nggak main-main, jadi Mas tidak akan pernah mengkhianati
kepercayaan kamu, Oke.”
“Kerikil dalam rumah tangga itu sangat banyak, tinggal bagaimana cara kita menyikapinya dan Mas berharap kita bisa terus bersama till Jannah.” Tambahnya.
Ayana yang mendengarnya menjadi terharu.
“Hikss hikss.”
Salahkan hormone kehamilannya yang membuatnya mudah tersentuh.
“Kenapa malah menangis.”
Lelaki itu menarik istrinya ke dalam pelukannya.
“Habis kata-kata Mas so sweet sekali.”
“Sudah jangan menangis lagi, kasihan adik bayinya nanti dia ikutan sedih.”
Ayana mencoba menghalu air matanya, ia pun mengangguk tanda menuruti ucapan Jonathan.
****
__ADS_1