
Pagi ini, Jonathan datang lebih pagi dari
biasanya, karena banyak laporan perusahaan yang harus dia audit. Mendekati
bulan April, mereka berbondong-bondong memberikan lapran keuangan perusahaan. Hal itu tak lain karena mendekati batas waltu pelaporan SPT Tahunan Badan, Sering
kali terjadi miss pemahaman antara fiskus atau pegawai pajak dengan perusahaan.
Di sinilah tugasnya dibutuhkan, sebenarnya perusahaan tersebut bisa konsultasi
dengan Account Representative kantor pajak, namun mungkin karena mereka malas
atau bagaimana. Banyak perusahaan menggunakan jasanya. Karena mereka tidak
ingin terjadi kesalahan yang berujung dengan membanyar sanksi dengan jumlah
yang tidak sedikit.
Ia dengan fokus mengamati General Ledjer atau Buku Besar kemudian mencocokkannya dengan bukti transaksi yang ada. Beruntung perusahaan sekarang sudah mendigitalisasi laporan keuangan bukan dengan manual lagi. Tidak terbayang jika masih manual, butuh berapa lama dia akan menyelesaikannya.
Setelah itu ia mencocokkan dengan peraturan perpajakan yang terbaru. Sebenarnya Undang-undang perpajakan sudah lama tidak diperbarui, namun undang-undang seringkali
dilengkap dengan Surat Edaran maupun Peraturan dari Menteri Keuangan.
Saat asyik dengan pekerjaannya, tiba-tiba ada
sura mengintrupsi, siapa lagi yang punya suara cempreng kecuali Airi tentunya.
Kadang ia heran, istrinya yang dulu cenderung kalem dan tidak banayk bicara
bisa akrab sekali dengan gadis satu itu.
“Bang Jo.” Teriakan itu jelas menganggu aktivitas Jonathan.
Nah benar kan dugannya, gadis itu sudah ada di depannya. Semoga saja kali ini bukan tentang Pak Alvaro lagi, rekan kerjanya
ini memang suka berselisih paham dengan laki-laki itu.
“Ada apa Airi?” tanyanya Malas.
Mau tak mau ia meladeninya, daripada lihat anak orang menangis, Sebelum itu ia memastikan pekerjannya ter save terlebih dahulu.
Airi langsung mengambil kurusi dan duduk di
depannya. Kepalanya menoleh kanan dan ke kiri, setelah melihat situasi aman dia
bersuara.
“tahu nggak kak Clarissa itu, pokoknya Airi
sebal, dia sebenarnya niat bekerja apa enggak ya.”
Tebakannya meleset, ternyata Airi sedang
membicarakan tentang temannya.
“kenapa memangnya?” Tanyanya penasaran.
“Masak semua pekerjaan tetap Airi yang handle terutama arsip audit kan seharusnya dia, padahal pendidikannya lebih tinggi
dari aku.” Keluhnya.
Jonathan mau membalas ucapannya, namun gadis itu keburu menyela,
“Terus kalau antar berkas ke kantor pos, dia
tidak mau, sering nggak ada di kubikle. Huwaaaaaa kalau kayak gini sama aja aku
kerja sendiri, jadi kangen kak Ayana.”
‘Ssttt, heyyy jangan berisik kamu itu sudah
bekerja masak kelakuan seperti anak kecil ,akalu benar apa yang kamu ucapkan
lebih baik kamu laporkan saja kepada pak Roy.”
Airi langsung diam, sepertinya ia agak segang
dengan atasan mereka.
“Iya benar juga ya.” Ia langsung tersenyum
lebar.
Perubahan mood yang cepat pada gadis di
hadapannya kadang membuatnya tak habis pikir.
__ADS_1
“Lagipula pak Roy kan tetanggamu.” Tambahnya.
Mata Airi langsung membelalak, karena mendengar Jonathan mengatakan hal itu.
“Darimana Bang Jo tahu kalau Airi sama Pak Roy bertetangga.” Selidiknya, raut wajahnya tampak takut-takut.
“Pak Roy sendiri yang cerita tentang kalian.”
“Pak Roy nggak cerita yang aneh-aneh kan.”
Jonathan menaikkan sebelah alisnya emang ada cerita apa tentang Airi, atasannya saja hanya bilang kalau satu kampung halaman
dengan Airi.
“Enggak kok, kamu tenang saja.”
“Oke deh, aku mau ketemu Pak Roy dulu mau
laporin kak Clarissa biar dipecat saja, sebellllll, makasih bang Jo, kalau gini jadi kelihatan baiknya, salam ya buat kak Ayana.”
Nathan memutar bola matanya malas, tapi dia pun hanya mengedikkan bahu saat Airi berlalu dari hadapannya.
Kemudian dia kembali fokud kepada pekerjaannya, suasana kantor tampak sepi. Karena beberapa auditor sedang survei lapangan. Termasuk Anggit yang hari ini ada surat tugas keluar.
Mengenai Clarissa, temannya itu memang sudah bekerja beberapa minggu di sini, dan seperti yang dibilang oleh Airi. Clarissa
memang jarang ada di tempatnya entahlah kemana dia. Walaupun ia sendiri juga
tidak terlalu peduli akan hal itu. Tapi kasihan juga Airi kalau kerja sendiri, mengingat pekerjaannya sangat banyak. Bagaimana ia bisa tahu, karena Ayana dulu saat bekerja seirngkali lembur untuk mengadministrasi banyak dokumen, apalagi harus emnata sendiri di dalam gudang.
“Jo, makan siang bareng yuk.” Tiba-tiba Clarissa berada di depannya.
Clarissa memang sering mengajaknya untuk makan siang, namun tentu saja dia menolaknya.
“Ayolah Jo, sekali saja, ajak Anggit sama Airi
juga nggak papa.”
Gadis itu memaksa.
Jonathan berpikir sejenak, Ayana sudah
menyiapkan makan siang untuknya di rumah, jadi tentu saja dia tidak bisa
menerima ajakan itu.
setiap makan siang aku pulang.” Tolaknya halus.
Raut kecewa langsung muncul di wajah wanita itu.
“Yahhh, nggak asyik nih, habisnya bosan makan di kantin terus.” Keluhnya.
“Btw, tumben kantor sepi, pada kemana anak-anak, terus Airi kemana?’ Tanyanya kemudian.
Gadis itu baru menydari kalau di lantai itu
sangat sepi hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang.
“Pada keluar, kalau Airi dia turun ke bawah
tadi.” Balasnya
“Terus ini siapa dong yang ngurus berkas itu,
mana aku nggak tahu.”
Tunjuknya pada beberapa dokumen yang ada di atas mejanya.
“Makannya belajar, masa kamu kalah sama Airi, dia bisa handle semuanya sendiri.”
Perkataan Jonathan yang menurutnya biasa terasa tajam nagi Clarissa.
“Aku mana tahu berkas seperti itu, bukan
passionku.” Keluhnya.
“Sudah tahu bukan passionmu kenapa malah ke sini. Bukannya memilih bekerja di perusahaan yang lebih besar.”
“Males ah, ujung-ujungnya di suruh kerja di
perusahaan Ayahku, semuanya diatur olehnya kadang aku merasa tidak memiliki
hidupku sendiri.”
Laki-laki tu menghela napas kecil, setahunya
Clarissa adalah anak perempuan satu-satunya di keluarganya, wajar jika orang
__ADS_1
taunya sering mengaturnya.
Semoga saja nanti jika dia menjadi orang tua,
dia tidak akan berbuat speerti itu kepada anaknya, biarkan anaknya memilih
sendiri apayang dia suka. Selama itu baik dan tidak melanggar agama dan
peraturan.
“Kamu kan sudah memilih bekerja di sini, suka atau tidak suka kamu harus melakukannya, kasihan Airi dia bekerja sendiri.”
“Kok kamu tahu sih Jo, jangan-jangan Bocil itu ngadu ya sama kamu.”
Jonatha menggaruk kepalanya yang nggak gatal.
“Du du dududu.”
Suara senandung Airi terdengar, sepertinya gadis itu sudah selesai dengan urusannya yang ia bilang tadi.
“Hi kak Clarissa tumben masuk.” Sindir gadis
itu.
Ia sudah kesal sekali dengan rekan kerjanya yang satu ini karena sering menghilang.
Sementara Clarissa hanya menringis kecil, ia
sendiri sebenarnya juga tidak enak namun mau bagaimana lagi ia juga tidak tentang pekerjaannya.
“Oh ya Kak, dipanggil sama Pak Roy ke bawah.” Beri tahunya.
Airi memang melaporkan keluhannya kepada
atasannya, dan Pak Roy langsung menyuruhnya untuk memanggil Clarissa apabila gadis itu ada di tempat.
“Memangnya, ada apa?” tanyanya takut-takut.
“Nggak tahu mungkin mau dikasih SP.”
“What.” Pekiknya kaget.
“Oke-oke deh, aku kesana, makasih Airi.”
Clarissa pun berlalu untuk memenuhi panggilan atasannya.
Setelah melihat seniornya menghilang dari
pandangan, Airi memekik senang.
“Yess, senengnya Pak Roy mendengarkan keluhanku, ternyata nggak seburuk yang aku kira.”
“Pak Roy kan memang seperti itu, ia bukannya galak tapi peduli pada bawahan, kamu itu jangan suka berprasangka buruk kepada orang lain.”
“Iya-iya, btw Pak Roy udah nikah belum sih kak?” Tanya Airi penasaran.
Jonathan menggelengkan kepalanya, ia sendiri pun tidak tahu dengan kisah asmara atasannya. Lagipula itu bukan urusannya.
“Sudahlah lebih baik kamu kembali bekerja,”
“Iya-iya bang JO, wekkk.”
Gadis itu kemudian berlalu dari hadapannya.
Sebuah pesan masuk ke gawainya, dan ternyata dari istrinya yang menanyakan apakah dirinya pulang atau tidak.
Ayana
Assalammu’alaikum, Mas nanti pulang kan?”
Jonathan
Insya Allah dik, doa’akan pekerjaan Mas cepat
selesai ya, nanti Mas kabari lagi.
Ayana
Oke mas, selamat bekerja ❤️
Jonathan kemudian meletakkan gawainya kemudian melanjutkan pekerjaanya. Setelah berkutat beberapa saat ia menemukan banyak koreksi semoga saja client mau menerimanya. Karena tidak semua client mau
menerima koreksinya,contohnya seperti perusahaan Alvaro yang membuat mereka
berdebat panjang. Walau akhirnya ia menyetujui apa yang ia kemukakan, dan
berakhir dengan ditemukannya pegawainya yang berbuat curang. Semenjak peristiwa
__ADS_1
itu ia dan Alvaro berteman baik.