
Ayana terbangun dari tidurnya, ia mendesah kecewa saat mendapati ranjang sebelahnya kosong. Jonathan sepertinya belum memaafkannya. Tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit. Dan perutnya terasa perih. Mungkin karena kemarin di tidak makan seharian.
Ketika pusing belum mereda, rasa mual langsung hinggap di dirinya. Dia langsung berlari ke kamar mandi. Padahal tidak ada aroma bawang putih di sini.
Hoek hoek.
Dia ingin muntah, tapi hanya ada cairan bening yang keluar.
Setelah memuntahkan isi perutnya,dia terduduk lemas. Rasanya dia tak punya tenaga untuk berjalan. Tapi hari ini dia harus masuk kerja, mau tak-mau dia memaksakan dirinya untuk bangkit.
Matanya terbelalak kaget saat melihat jam dinding berada di jarum angka sembilan. Itu
artinya dia terlambat satu jam. Ya sudahlah, lebih baik dia tidak masuk. Kalau masuk pun dia tidak yakin bisa bekerja. Karena di tidak punya tenaga sama sekali. Saat duduk di ranjang, berbagai pertanyaan bersliweran di kepalanya.
Kenapa suaminya tidak membangunkannya?
Apa suaminya masih marah.
Tapi saat melihat ada roti di nakas dan segelas susu, yang dia yakin disiapkan oleh suaminya. Ayana yakin kalau amarah suaminya sudah mereda.
Tanpa pikir panjang Ayana langsung memakan makanan itu. Baru beberapa kunyahan, perut Ayana bergejolak mual lagi. Dia langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Sepertinya maghnya kambuh.
Perutnya terasa melilit, dan kepalanya semakin pusing.
Ayana berusaha bagkit dan mengambil gawainya untuk menelpon suaminya.
Drtt drt drrttt
Masih tidak
diangkat, padahal kesadarannya sudah menipis.
Dia mencoba
lagi.
Drrtt drttt drttt
Akhirnya panggilannya diangkat juga.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Sahut Jonathan di seberang sana.
"Mas, di mana?"
__ADS_1
suaranya terdengar sangat lemah di seberang sana, Laki-laki itu menjadi sangat khawatir dengan keadaan istrinya.
"Ayana kamu baik-baik saja?"
"Perutku sakit mas, kepalaku pusing, adek mohon mas cepat pulang."
Setelah itu Ayana sudah tidak bisa menahan lagi, kegelapan langsung menyergapnya.
"Ayana, Ayana, halo kamu masih disana."
Dan tidak ada balasan karena sang empunya sudah terjatuh pingsan.
****
Di sisi lain, Jonathan yang mendapat telpon dari istrinya. Tanpa babibu lagi langsung
membatalkan semua janji dengan klien dan pulang ke rumah.
Dia tidak peduli lagi dengan semua pekerjaan, fokus utamanya adalah istrinya.
Dia menyesal, harusnya saat meyadari tubuh istrinya demam, dia tidak berangkat
bekerja. Harusnya dia mendampinginya. Dan harusnya di tidak marah kepada
istrinya. Toh sebenarnya istrinya tidak salah.
Egolah yang membuat dia enggan untuk berbaikan.
membuat dia kalang kabut. Karena mencemaskannya.
"Maafkan Aku istriku."
Beruntung jalan Ciledug tidak serame biasanya, jadi dia dengan cepat bisa sampai ke
rumah. Sampai rumah, Jonathan langsung menuju ke kamar. Jantungnya berhenti berdetak saat meendapati Ayana jatuh pingsan di lantai.
Sudah berapa lama dia berada di sana.
"Astaga, Ayana." Teriaknya panik.
Tanpa babibu langsung membaringkan istrinya di atas ranjang.
"Ayana, bangun." Dia mencoba menepuk pelan pipi istrinya tapi masih tidak ada respon.
Lalu kemudian dia mencoba memberikan bebauan minyak kayu putih di hidung istrinya, dan sama saja istrinya tidak merespon. Akhirnya dia menelpon dokter keluarganya.
"Bagaiman Dok, apa yang terjadi dengan istri saya?" Tanyanya setelah dokter selesai memeriksa istrinya.
__ADS_1
Dokter Bunga hanya mengulas senyum tipis.
"Jangan terlalu formal padaku Jo."
Jonathan menghela napas, Dokter bunga sebenarnya adalah teman kuliahnya.
"Gimana, keadaan istriku. Dia baik-baik saja kan?"
Dokter bunga kembali tersenyum. Dalam pikirannya dia menerka nerka, sejak kapan, Jonathan
menikah. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba sudah punya istri. Kasihan teman-temannya pada patah hati semua.
"Tekanan darahnya rendah, dan perutnya mungkin kosong."
Jonathan tersentak, jangan-jangan kemarin malam Ayana tidak makan karena menunggunya pulang. Dan saat dia menolak untuk makan, istrinya juga tidak makan.
Ya Tuhan, betapa berdosanya dirinya.
"Tapi kenapa dia belum sadar."
"Emm, aku tidak bisa memastikannya, tapi sepertinya kau akan jadi Ayah."
Ayah
Tunggu apa dia nggak salah dengar.
Rasa bahagia langsung menjalar ke tubuhnya. Benarkah istrinya sedang mengandung, benarkah
sebentar lagi mereka akan jadi orang tua.
"nanti coba kamu beli alat testpack, dan ini aku berikan vitamin dan obat magh."
"Dan untuk memastikannya kamu bisa membawanya ke dokter kandungan."
"Terima kasih Bunga."
Jonathan sangat bahagia saat ini, didekati tubuh istrinya lalu dia merengkuhnya, dan memberikan kecupan di keningnya.
Bunga yang melihatnya memutar bola matanya malas. Sejak kapan Jonathan jadi lembut seperti itu. Oke mungkin sejak dia menikah, dan hal itu hanya dia lakukan kepada istrinya.
"Baiklah kalau begitu aku pulang."
Jonathan tidak menggubrisnya, dia masih sangat fokus dengan istrinya.
Dan hal itu membuat dirinya jengkel, biarlah. Wajar memang saat ini mungkin Jonathan sedang
bahagia.
__ADS_1
*****
Hi Guys, minta dukungannya untuk vote karya Airi ya, terima kasih :)