
Pernikahan tidak selalu manis seperti cerita dongeng
Kadangkala ada pahitnya
Siapkah kamu untuk menjalaninya
----
Jonathan terpaksa menebalkan mukanya untuk meminta tolong pada Airi, semua ini dia lakukan demi Ayana.
Airi yang masih kaget belum menjawab permintaan seniornya.
"Tunggu Bang Jo, maksudnya apa nih?" Tanyanya kemudian.
"Kamu tahu kan kalau Ayana sedang hamil kan?"
Airi mengangguk, tentu saja dia tahu. Dan semua orang tahu. Mereka masih ingat bukan dengan segala drama yang disebarkan pegawai lantai dua.
"Nah, Ayana ingin masakan darimu, jadi kamu harus memasak untuknya."
Airi bengong, ini beneran apa tidak. Begitu pikirnya.
"Bagaimana?" Tanya Jonathan dengan nada datarnya.
Airi membatin, Bang Jo itu niat minta tolong apa tidak. Karena nada yang dia gunakan sama datarnya seperti Alvaro Setan.
Mau tidak membantu, tentu saja tidak bisa. Ayana adalah orang yang paling baik dengannya.
"Siap Bang Jo, itu mah gampang. Mau dimasakin apa memang ya?" Tanya Airi.
"Terserah, asal jangan masakan yang pedas dan bersantan banyak." Jawabnya.
Jonathan memang melarang Ayana untuk memakan masakan pedas dan bersantan. Mengingat istrinya mempunyai penyakit magh. Kedua makanan itu bisa membuatnya sakit. Bahkan mungkin terkena GERD alias asam lambung.
" Oke siap Bang Jo, nanti istirahat ke rumah Bang Jo, aku masakin makanan enak." Janjinya.
"Oke terima kasih Airi."
Jonathan akhirnya bisa bernapas lega, saat pulang nanti dia tidak perlu mendapati raut wajah istrinya yang memelas. Yahh meskipun terlihat menggemaskan namun dia tidak tahan mendengar rengekannya.
Bisa-bisa dia disuruh tidur di luar.
Setidaknya dia bisa menghindari semua itu hari ini.
****
Nyatanya malamnya, Jonathan benar-benar tidur di luar.
Sedari tadi dia mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada sahutan di dalamnya. Istrinya benar-benar marah kepadanya.
"Ayana, Mas mau masuk nih, kamu nggak kasihan sama suamimu tidur di luar." Bujuknya pelan sembari terus mengetuk pintu.
"Mas Nathan Jahat, pokoknya Ayana nggak akan membuka an pintu."
Terdengar suara teriakan dari dalam.
"Sial, Ayana benar-benar marah." Batin Jonathan.
Semua ini karena Airi yang tidak menepati Janjinya, dia menghilang saat istirahat siang. Bahkan sampai jam pulang kantor, dirinya tak kunjung datang. Jonathan sudah mencoba menghubungi nomornya, tapi tidak bisa. Sebenarnya kemana Airi.
"Mas minta maaf Dek, beneran Airi nggak bisa dihubungi, padahal tadi pagi dia meyanggupi permintaanmu."
Dari balik pintu Jonathan mencoba menjelaskan pelan-pelan.
Dalam pernikahan memang tidak selalu manis, ada kalanya pahit. Contohnya saat istrinya ngambek seperti sekarang ini.
Tidak ada sahutan dari dalam, Jonathan mengira mungkin istrinya sudah tidur. Jadi dia memutuskan untuk duduk menyandar di pintu kamar.
Padahal sebenarnya, Ayana sedari tadi memberengut kesal sambil mengomel pada boneka beruang pemberian suaminya yang dia beri nama Nathan.
"Pokoknya aku kesel sama Mas Nathan, Mas Nathan pembohong."
Dia memukul-mukul boneka itu sampai lelah sendiri.
"Biarkan saja dia tidur di luar, biar kedinginan." Bibirnya masih mengerucut sebal.
"Tapi kalau nanti Mas Nathan sakit bagaimana?" Tanyanya panik.
"Hiks hiks hiks." Tanpa bisa dicegah air matanya keluar.
Dia sedih membayangkan suaminya jatuh terbaring sakit.
Tangisannya semakin menjadi-jadi sampai terdengar keluar.
Jonathan yang terduduk langsung sigap berdiri karena mendengar tangisan Ayana.
Dia khawatir dan serba salah. Dia ingin masuk ke dalam sana, tapi takut istrinya marah.
Namun saat mendengar Tangisannya lagi, dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamarnya.
Ceklek.
Pintu langsung terbuka begitu dia membuka handle pintu. Ya dia memang tahu kalau Ayana tidak mengunci pinnya, tapi dia tidak ingin membuat Ayana semakin marah jika tadi nekad masuk. Akan tetapi saat mendengar tangisan Ayana, dia bergegas memasuki kamar ini.
__ADS_1
Di hadapannya, terlihat Ayana menangis tersedu-sedu sembari memeluk boneka beruang pemberiannya.
"Mas Nathan, nggak boleh sakit, hikssss." Lirihnya.
Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Perlahan dia mendekat ke Ayana. Kemudian duduk di sampingnya.
"Sttt, Ayana kamu kenapa menangis."
Dia membawa tubuh Ayana ke dalam pelukan ya.
"Nggak Mau Mas sakit, tadi Mas pasti kedinginan di luar, huaaaa." Tangisannya semakin menjadi-jadi.
"Mas nggak kedinginan kok, Mas sehat, nggak sakit." Ujarnya mencoba menenangkan.
Ayana mendongakkkan wajahnya ke arah suaminya. Matanya sebab dengan lelehan air mata di kedua pipinya.
"Mas beneran nggak sakit kan?" Tanyanya pelan.
"Pegang dahi Mas, nggak panas kan?"
Ayana menyentuhkan tangannya ke dahi suaminya, dan dia bisa merasakan suhu tubuh yang normal.
"Maafkan Ayana, tadi menyuruh Mas tidur di luar, lalu saat membayangkan Mas nanti sakit karena kedinginan, Ayana jadi sedih."
Wanita itu meremas tangannya takut-takut.
"Mas, nggak marah kok, justru Mas yang minta maaf karena tidak bisa menuruti ngidammu, adek bayi pasti sedih tidak bisa makan masakan ontinya."
Tangannya beralih memegang perut istrinya yang kini terlihat sedikit menonjol.
Ada anaknya yang sedang tumbuh di sana.
"Hi Baby Boy, maafkan Ayah ya, kamu jangan buat Bundamu kesusahan dan sedih ya, baik-baik di sana. Kami sangat menantikan kehadiranmu."
Jonathan menyingkap pakaian tidur Ayana untuk mencium perutnya.
"Aww." Rintih Ayana.
"Kenapa Ay, ada yang sakit?" Tanya Jonathan khawatir.
"Entahlah mas, aku merasakan gerakan di perutku."
Jonathan mengusap-uap tangannya di permukaan perut itu. Ajaib, rasa sakit di perut Ayana perlahan menghilang.
"Sudah lebih baik?" Tanyanya.
"Iya Mas, sepertinya, adek bayi suka di dekat Ayahnya." Balas Ayana.
"Jadi Airi sebenarnya kemana Mas?" Tanyanya tiba-tiba.
"Itulah Ay, Mas tidak tahu, dia tiba-tiba menghilang entah kemana."
Jawabnya.
Ayana melepaskan pelukannya lalu mengambil handphone di atas nakas.
"Dia juga tak bisa kuhubungi Mas, aku jadi khawatir dengannya."
"Airi pasti baik-baik saja Ay, sudah lebih baik kita tidur daripada kamu kepikiran."
"Nggak bisa Mas, terus kerjaan dia siapa yang menghandle?" Tanyanya kemudian.
Di divisi itu hanya ada satu staff yaitu Airi, jika dia tidak berada di sana otomatis tidak ada yang mengerjakan.
"Hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan, dan entah kenapa pak Refian tidak terlihat marah saat mendapati Airi tak ada di tempat duduknya."
"Sepertinya beliau akan menambah staff di divisi kita."
"Baguslah Mas, Semoga pekerjaan Airi bisa terbantu, aku sangat tahu bagaimana banyaknya pekerjaannya."
Ayana menerawang ke masa ketika dia menjadi staff auditor. Pekerjaan yang dilakukannya sangat banyak. Apalagi jumlah klien yang semakin meningkat membuatnya semakin kewalahan saat harus menyiapkan dokumen yang diminta auditor.
" Pantas dulu mukamu jutek terus." Ledek Jonathan.
"Mana ada ya Mas, aku juteknya cuma sama Mas Nathan dan..."
Ayana tidak melanjutkan ucapannya. Dia malas menyebut nama orang itu apalagi di hadapan suaminya. Jonathan seakan tahu siapa yang di maksud hanya menghela napas kecil. Dia tahu siapa orang itu, tapi dia tidak mau membahasnya.
Laki-laki itu dipindahkan ke cabang dan diturunkan jabatannya. Hukuman yang menurut Jonathan belum setimpal dengan apa yang diperbuatnya.
"Sudahlah, sekarang kita tidur."
Jonathan membawa Ayana ke dalam pelukannya hingga mereka jatuh tertidur melalang buana ke alam mimpi.
****
Sementara itu di sisi lain tampak perempuan yang tengah menangis meratapi nasibnya. Suaminya sama sekali tidak menganggapnya walaupun dia sudah menyerahkan harta berharganya.
Dia wanita yang hanya butuh untuk dicintai, sayangnya semua itu sangat sulit dia dapatkan.
Ceklek
__ADS_1
Suara pintu terdengar, seseorang masuk tanpa menyapa dirinya.
Wanita itu bangkit untuk menyambutnya.
"Kamu sudah pulang Mas?"
Lelaki itu tidak menggubris, dia mendengus sebal.
"Aku siapkan air hangat ya, Mas mandi dulu."
Netra hitam itu berkilat marah, dia sangat tidak suka dengan apa yang dilakukannya.
"Stop Raina, berhenti sok peduli padaku. Semua ini salahmu, kalau kamu tidak mengacaukannya aku pasti sudah bahagia dengannya."
Tangannya mendorong Raina untuk menyingkir dari hadapannya hingga terjatuh.
Tapi dia tidak peduli dan terus melangkah sembari mengumpat.
" Punya istri bisanya cuman nyusahin."
Raina terduduk lemas, matanya berkaca-kaca. Sampai kapan Ali akan bersikap seperti itu kepada dirinya. Lelaki itu tak pernah memandangnya dan selalu menyalahkannya atas semua yang terjadi.
Kalau bisa memilih tentu dia tidak ingin terjebak dengan orang yang sama sekali tidak mencintainya. Namun apa daya, perjodohan ini tidak bisa dia hindari karena perjanjian orang tua mereka.
Awalnya dia mengira akan bahagia jika menikah dengan Ali, apalagi ibu mertuanya yang terlihat menyayanginya. Namun semua itu hanya bayangan semu. Ali tidak pernah melupakan cintanya kepada Ayana. Dan ibu mertuanya sedikit tidak menyukainya karena tak kunjung hamil.
"Ya Allah, jika waktu bisa diputar tentu aku tak ingin terbelenggu dalam situasi ini. Namun aku bisa apa, semua sudah terjadi, dan mau tidak mau aku harus menjalaninya."
Raina mencoba bersabar meskipun hatinya teriris-iris. Ini juga salahnya, harusnya dia sadar bahwa cinta Ali memang tak pernah ada untuknya apalagi, lelaki itu memang sudah berencana menikah dengan Ayana. Namun entah kenapa dia berubah pikiran untuk menikah dengannya.
Ali yang sedari tadi di kamar, masih terlihat kesal dan marah. Dia sangat amat membenci Raina. Baginya wanita itu adalah perusak masa depannya.
Kalau saja, wanita itu tidak muncul. Pasti dia bisa bersama Ayana. Wanita yang sedari dulu dia cintai.
Waktu pertama kali dia bertemu Ayana, dia langsung terpesona dengannya. Ayana wanita yang mandiri dan ramah. Dia baik kepada siapa pun, dia bisa diajak berdiskusi apa pun dengannya. Awalnya memang sangat sulit mendekatinya. Karena dibalik sikap ramahnya dia juga dingin kepada lelaki yang mencoba dekat dengannya. Namun hal itu sama sekali tidak mematahkan semangatnya.
Setiap hari dia naik ke lantai tiga hanya untuk bisa berbincang dengan Ayana, dan berhasil lambat laun Ayana mau menerima dirinya. Cafe di mana dia dengan teganya memutuskan Ayana, adalah Cafe favorit mereka.
Andai waktu bisa diputar dia tidak akan menuruti ibunya, dan kekeh dengan pilihannya. Awalnya dia pikir, Raina akan menyerah dengan pernikahan ini, tapi nyatanya tidak. Sebanyak apa pun dia menyakiti wanita itu, dia tetap bertahan. Dan hal itu semakin menyulutkan emosinya.
Seharusnya dia langsung menyerah dan meminta cerai, jadi dia bisa bersatu dengan Ayana.
Namun kabar pernikahan Ayana dengan auditor baru membuat dia sangat marah, apalagi dengan desus Ayana yang hamil di luar nikah membuatnya buta dan melakukan perbuatan itu.
Sekali lagi dia menyakiti Ayana, padahal dia tahu betul wanita itu tidak mungkin melakukan perbuatan itu. Sayangnya rasa cemburu, amarah dan frustrasi membuat dia mengambil langkah salah.
Ayana tidak mungkin memaafkannya, dia pasti sangat membencinya. Tapi Ali tidak menyerah, dia yakin cepat atau lambat Ayana akan kembali kepadanya. Tak peduli bahwa wanita itu kini sedang mengandung.
Sialan, Jonathan
Dia membuatku jauh dari Ayana. Umpatnya marah.
Ditambah dia dipindah ke kantor cabang yang otomotis semakin jauh dari wanita itu.
"Mas, mau mandi? Sudah aku siapkan air hangatnya."
Suara itu semakin membuat Ali kesal, bisakah Raina tidak mencampuri urusannya.
"Mass, airnya sudah..."
"Diam Raina, ucapanmu membuatku muak, sudah berulang kali aku katakan jangan sok peduli, kamu pasti senang kan dengan apa yang kualami, kamu pasti bahagia di atas penderitaanku."
Raina meremas kedua tangannya.
"Bukan begitu Mas, aku hanya menjalankan kewajibanku."
Lagi, selalu kata itu yang diucapkan oleh Raina, saat di memarahinya.
Ali sudah sangat muak dengan semuanya.
"Raina, jangan kau pikir kejadian malam itu akan mengubah semuanya, malam itu adalah kesalahan yang tidak akan merubah apa pun."
Deg,jantung Raina rasanya seperti diremas kuat. Ucapan suaminya sangat menyakiti hatinya. Air matanya mulai bercururan.
"Bukan begitu Mas, aku hanya...
Ucapnya tersendat-sendat.
" Hanya apa, hanya peduli? Kau terlalu banyak mencampuri urusanku, dan jangan pernah masuk ke kamar ini tanpa seizinmu, aku benar-benar tidak butuh itu. Kehadiranmu sungguh membuatku muak."
Bentaknya marah.
Raina sudah tak sanggup lagi mendengarkan semuanya, dia berlari keluar untuk menuju kamarnya. Ya sejak mereka menikah, meraka memang tidak pernah sekamar kecuali malam itu. Yang pagi saat dia terbangun, Ali dengan tanpa perasaannya langsung mengusir ya tak peduli kakinya yang terasa sakit saat berjalan.
Luka batin dan fisiknya yang semakin bertambah setiap hari. Apakah dia harus peduli pada Ali yang jelas-jelas membencinya.
Namun Raina tidak bisa, jauh dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Dia sudah mencintai suaminya, jadi dia tidak mungkin meninggalkannya. Bodoh memang, tapi hanya bersama dengan Ali bisa membuat dia bahagia, meskipun hal itu harus berderai air mata.
Raina masih punya harapan, jika suatu saat nanti Ali akan melihatnya. Entahlah sampai kapan dia bisa bertahan,
Kalau dia sudah tidak bisa bertahan lagi, mungkin dia akan pergi dari hidup laki-laki itu.
__ADS_1
****