
Biasanya masalah besar akan muncul ketika kita merasa semua terasa baik-baik saja
Anehhhh
Tidak biasanya semudah itu
(Indigo)
****
Semuanya terasa damai, tidak ada masalah berarti yang menerpa kehidupan rumah tangga mereka. Mengenai Reuni itu, akhirnya Jonathan tidak mendatanginya karena Ayana tidak mau ikut dengannya. Ia pun juga tidak bisa memaksa. Terlebih yang Jonathan baca di bebera artikel, Reuni bisa menjadi salah satu penyebab prahara rumah tangga. Dan ia tidak ingin hal itu terjadi, bukannya pesimis. Namun lebih baik mencegah daripada mengobati bukan.
Jonathan masih terpekur di mejanya, ia terngiang-ngiang Acara tujuh bulanan yang diadakan kemarin. Istrinya tampak cantik dengan balutan baju bernuansa pink.
Apa wanita hamil memang mengeluarkan aura yang bersinar ya.
Ahh dia jadi tak sabar untuk bertemu dengan istrinya.
"Bang Joooooooo." Teriak seorang gadis.
Huhhh, Jonathan mendengus kecil.
Ngapain adik kecil itu menganggunya, dan haruskah dia berulang kali mengingatkan kalau dia tidak suka dipanggil Bang Jo, seperti lampu merah saja.
"Ada apa?" tanya ketus.
"Jangan ketus-ketus dong, mau jadi bapak harus lemah lembut kayak kak Ayana, debay gimana nih kabarnya, sehat terus ya."
Nah, ngapain Airi malah berbicara tanpa henti. Tanya apa dijawab apa.
"Istri dan anakku sehat, kenapa?"
Airi tampak memikirkan sesuatu.
"Jangan disini deh bang Jo, aku takut ada yang nguping, pokoknya ini genting banget."
"Segenting apa sampai kamu panik seperti itu."
Aneh
Airi sangat jarang menampilkan ekspresi itu kalau tidak ada sesuatu, rekannya ini meskipun terlihat serampangan tapi kalau sudah serius ya serius.
"Nanti saja, kita bicarakan di cafe."
****
Jonathan masih memikirkan pertemuan tadi, tampaknya akan ada hal besar yang akan dia hadapi.
"Jo, dipanggil Pak Roy kebawah."
Sudah dimulai ya, batinnya.
Dia harus siap, karena dia tidak melakukan hal yang salah.
Pak Refian juga ikut diambil, tentu saja karena beliau adalah ketua Tim.
Sampai di ruangan dia mendapati wajah Pak Roy yang memendam amarah. Meskipun di rumah mereka masih menjadi tetangga yang baik, namun untuk urusan pekerjaan. Atasannya itu tidak pernah kehilangan wibawanya.
Jonathan dan Refian duduk setelah dipersilahkan.
"Jonathan, bapak benar-benar kecewa padamu."
"Apa maksudnya Pak, sungguh saya tidak mengerti."
"Pak Refian, bagaimana anggotamu bisa berbuat seperti ini, kalian telah menciderai negara."
"Saya tidak percaya sebelum ada buktinya, lagipula kami telah menandatangani Pakta Integritas umtuk selalu berbuat dan bertindak
sesuai dengan kode etik."
"Bukti apa lagi yang ingin kamu lihat, semua bukti telah ada, tinggal kita menunggu pengakuan saudara Jonathan."
Jonathan melihat foto-foto dirinya dengan Mr. Albert, dan tentu Mr. Albert telah memutar balikkan fakta jika melihat dari raut marah
atasannya.
"Saudara Jonathan mengaku sekarang atau kami adili, bisa saja hukumanmu ringan kalau kau mengaku sekarang."
Tidak, Jonathan tidak akan mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan. Hari itu Mr. Albert memang mencoba memberinya amplop yang berisi uang, tapi sungguh dia menolaknya. Meskipun uang yang diberikan 10 kali lipat dari gajinya dia tidak akan menerimanya. Karena dia tidak melukai bangsa ini.
"Saya memilih untuk diadakan sidang, dan saya akan membawa saksi bawa saya tidak melakukan semua itu."
"Baiklah jika itu yang saudara mau, kita akan
mendatangkan komite Pusat dan KPK, dan selama menunggu sidang itu anda dinonaktifkan sebagai auditor."
"Baik Pak."
"Sekarang kalian boleh pergi."
****
Ayana mengernyitkan dahinya saat melihat suaminya sudah pulang di jam segini.
"Kok sudah pulang Mas?" Tanyanya akhirnya saat suaminya duduk di ruang tamu.
Jonathan masih diam dia meneguk air putih yang ada di depannya. Lalu mendekap erat tubuh istrinya.
"Mas butuh kamu Dek."
"Ada apa Mas, cerita sama Ayana."
"Enggak, Mas nggak mau bikin kamu kepikiran, aku nggak mau kalian kenapa-napa."
Dug
__ADS_1
Sstt, Ayana meringis kecil saat bayinya menendang perutnya.
"Anak kita nendang lagi ya?" Tanya Jonathan
yang dibalas anggukan oleh Ayana.
"Iya Mas, sepertinya dia tahu kalau papanya sedang ada masalah."
"Hey jagoan Papa, jangan biki mama kesakitan Ya, kamu anteng disana do'akan Ayahmu bisa melewati semua ini."
Laki-laki itu mengelus perut istrinya dan berhasil, anaknya berhenti menendang.
"Anak kita kalau denger suaramu pasti langsung nurut."
"Iya dong, kan jagoan kita."
"Yakin banget kalau cowok?"
"Naluri Ayah tidak pernah salah."
"Huhh, kalau cewek gimana?"
"Ya nggak papa, pasti secantik ibunya, dann kita bisa buat lagi."
Jonathan tertawa, lalu mencium perut istrinya.
"Itu sih maunya kamu." Balas Ayana tersenyum lembut.
"Mas, beneran nggak mau cerita nih, Adek siap mendengarkan, kan katanya mas kita harus saling terbuka biar nggak salah
paham."
"Nanti ya Mas butuh waktu."
"Udah sekarang, kita bobok siang."
"Aaaaa."
Teriak Ayana, karena tiba-tiba suaminya menggendongnya.
****
Nyatanya sudah hampir sebulan, Jonathan tidak mau bercerita, dan suaminya terus dirumah tanpa berangkat ke kantor.
Ayana berualang kali menanyakan kepada suaminya sebenarnya apa yang terjadi tapi Jonathan selalu mengalihkan pembicaraan hingga dia tak membalasnya lagi.
Bik Nah juga tidak menceritakan apa pun padanya, mertuanya pun juga tidak tahu. Sebenarnya apa yang sedang ditutupi oleh suaminya itu.
Saat ini dia sedang duduk di beranda belakang, menikmati indahnya bunga bermekaran di taman belakang.
Iya dia membuat taman di halaman belakang, agar terlihat indah, dan bisa menyejukkan mata.
Airi
informan yang dapat diandalkan.
Apa aku Wa aja ya, kalau telpon takutnya dia sedang ada klien.
Ayana
"Airi, kakak boleh tanya nggak
Centang biru, cepat sekali gadis itu membuka pesannya
Airi
Apa kak?
Ayana
Emm, kamu tahu suamiku sedang terkena masalah apa?
Airi
Gimana ya kak ngomongnya, aku sebenarnya bingung mau jelasin,
Tapi kabar tentang suami kakak sudah menyebar di kantor.
Langsung saja rasa khawatir langsung menyergap hatinya,
ya Allah apa yang terjadi pada suamiku.
Airi
sedang mengetik,
Sepanjang apa yang dia tulis. Kenapa lama sekali.
Airi
Kak, aku harap kabar yang kukatakan tidak membuat kakak kepikiran, satu yang
pasti.
Kak Ayana harus percaya sama Bang Jo, dia tidak mungkin melakukan hal
itu.
Aku kirimkan rekaman suaranya saja ya, dan aku mohon kakak kuat. Allah
selalu bersama kita.
Dibawahnya ada sebuah rekaman yang berdurasi lumayan
panjang. Dia mendengarkannya secara seksama. Air mata langsung
__ADS_1
menggenang di pipinya.
Ya Allah, kenapa ini semua terjadi pada suamiku, lirihnya
dalam hati.
Mas, kenapa kamu memendamnya sendiri.
Hiks hiksss, tangis Ayana semakin menjadi-jadi.
Suaminya mendapat tuduhan yang sangat kejam. Padahal
Jonathan adalah laki-laki yang sangat jujur.
"Astaghfirullahaladzim." Seru Jonathan
panik saat mendapati istrinya menangis.
Ada apa ini apakah ada seseorang yang menyakitinya, kenapa dia menangis seperti ini. Ayana mengalihkan pandangannya ke arah suaminya.
"Hey, kenapa menangis?" Tanya Jonathan.
Perasaan saat tadi ditinggal semuanya baik-baik saja, kenapa saat kembali istrinya menangis.
"Mas, hikss hiksss."
"Udah cup cup, mau apa Mas beliin deh."
Akhirnya kalimat sakral itu dia ucapkan, istrinya kalau ngidam memang suka aneh-aneh tapi dia dengan senang hati menurutinya.
"Enggak, hiksss hikss hiksss."
"Jangan nangis, kasihan jagoan kita."
"Ayana sebenarnya nggak pengen nangis, tapi air mata ini memaksa untuk keluar."
Nah lo, Istrinya tidak salah makan kan tadi.
"Mas Nathan kenapa nggak cerita masalah itu ke Ayana."
Jonathan menghela napas lelah, karena harus membahas topik itu lagi.
"Mas cuman nggak mau kepikiran, apalagi dalam keadaan hamil seperti ini, Mas nggak mau kamu kenapa-napa."
"Tapi diemnya Mas, juga bikin Ayana kepikiran."
"Ssstt, sstt, iya iya Mas minta maaf."
"Mas akan cerita tapi nanti ya." Jonathan
mencoba membujuk istrinya.
"Nantinya Mas Nathan itu nggak pasti, besok-besok pasti lupa."
"Bukan begitu Ay, Mas janji besok akan cerita."
"Nggak perlu tunggu besok, karena sebenarnya Ayana sudah tahu semuanya."
Deg
Jonathan memandang ke arah istrinya dan dia tidak menemukan raut wajah berbohong.
"Darimana kamu tahu?"
"Tidak penting, darimana aku tahu soal itu Mas, yang jelas kenapa nggak mau membagi masalah kepadaku, aku merasa menjadi istri yang tidak berguna."
"Ssttt kamu tidak boleh ngomong seperti itu, Adek adalah pasangan terbaik yang diberikan oleh Allah SWT kepada Mas.
"Tapi Mas nggak percaya sama Adik. "
"Mas hanya takut kamu kenapa-napa."
Jonathan tidak berbohong, kalaupun dia bercerita dia takut Ayana dan bayinya bermasalah. Karena dulu Ayana sempat masuk rumah sakit. Apalagi yang dia alami sekarang bukan masalah sepele.
"Yakinlah, aku nggak mungkin memberi nafkah dirimu dengan rezeki yang tidak halal, percaya padaku okey, karena dengan begitu aku mampu menghadapi mereka semua."
Jonathan memegang erat tangan istrinya, sesekali dia mengusap dan mencium perut buncitnya.
"Aku selalu percaya padamu mas, kita berjuang bersama-sama."
"Aku dan Anak kita akan selalu mendo'akanmu."
"Terima kasih Dek, Mas bangga sama kamu, dan besok akan diadakan sidang di kantor, orang pusat juga dipanggil, Mas butuh
dukunganmu."
"Mas tenang saja, kebenaran pasti akan terungkap dengan sendirinya, kita pasrahkan semua ini kepada-Nya, Allah akan selalu
melindungi hamba-Nya."
Jonathan membawa kembali Ayana ke pelukannya, dengan begitu dia bisa tenang dan yakin kalau semuanya akan baik-baik saja.
****
Ruangan itu tertutup, tidak ada jendel di dalamnya. Hanya
ada satu pintu penghubung. Dan Cctv yang diletakkan di tempat tak terlihat.
Terlihat dua orang berjas dari pusat yang membawa berkas-berkas, Pak Roy selalu kepala kantor, Pak Refian sebagai ketua tim yang ikut andil dalam proses audit. Dan jangan lupakan Albert sebagai pelapor.
"Saudara Jonathan, Anda siap untuk kami
interogasi?"
"Saya Siap."
__ADS_1