After Tomorrow

After Tomorrow
Celaka


__ADS_3

Seringkali image seseorang terbentuk karena label katanya


Lantas bagaimana kamu bisa menilai


Jika kamu tidak pernah mengenalnya?


 


****


"Lihat deh buk, dia masih punya muka ya untuk datang ke kantor."


"Iya, nggak tahu malu banget."


Ayana mengernyit bingung, entah hanya perasaanya saja atau memang ibu-ibu di kantor ini sedang membicarakannya.


Tapi dia masih acuh tak acuh, barangkali bukan dia yang dibicarakan.


Tapi kenapa saat berjalan, banyak orang yang memandang sinis ke arahnya.


Ada apa lagi ini? Kenapa dia selalu salah di mata mereka. Padahal ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun.


Ayana duduk di kubiklenya dengan perasaan tak nyaman.


"Kak Ayana." Teriak seseorang.


Itu pasti Airi, batin Ayana.


Airi Palipur Lara, staff baru yang ditempatkan di divisinya. Dia orangnya terlampau ceria. Ya sangat sesuai sih dengan namanya yang berarti penghibur hati. Tapi orang tua mana yang menamainya dengan nama seperti itu. Ada dan itu orang tua gadis di depannya.


Dia tersenyum lebar, seolah tidak ada beban. Tapi bukankah orang yang sering tersenyum lebih banyak menyimpan luka, entahlah Ayana sendiri tidak tahu akan hal itu.


"Apa?" Tanya Ayana.


Pasti Airi akan menceritakan semua hal yang dialaminya, dia memang baru dan banyak bertanya.


"Huhh, sebel sama Bang Jo."


What, Airi manggil Jonathan dengan sebutan Bang Jo, panggilan yang sangat tidak disukai suaminya karena mirip dengan sebutan rambu lalu lintas. Tapi dia mencoba menahan tawanya, karena melihat muka Airi yang cemberut.


"Tahu nggak kak, kan kemarin aku disuruh closing kan sama klien, dan coba tebak, si Alvaro yang sayangnya ngganteng menolak semua kesepakatan, habis itu dia usir aku dari kantornya."


Agak berlebihan kalau memang benas Ayana di usir, karena setahu Ayana klien mereka kali ini bisa diajak bekerja.


Owh jadi itu sebabnya, Jonathan pamit untuk keluar, karena mengurus kliennya itu. Tampaknya memang ada masalah yang serius begitu pikir Ayana.


"Kok bisa? Memang kamu ngapain?"


"Aku, emmmm tapi jangan bilang Bang Jo ya, aku kemarin terlambat, habisnya gara-gara Kak Anggit yang nggak ngingetin aku."


Tahu namanya di sebut, Anggit langsung bangkit.


"Ya Maaf, Airi, lupa hehe."


"Huhhh." Ayana bersungut kecil.


"Hahaha, kamu lucu banget."


"Kak Ayana jangan ketawa dong, huhuhuhu aku lagi sebel nih."


Ayana mengernyitkan keningnya, sepertinya ada kejadian lagi yang menimpanya.


"Apa lagi?"


"Dia sebel sama aku, gegara aku telat terussss."


Airi menghela napas,


"Aku nabrak dia sampai jatuh, tapi kan aku nggak sengaja. Dan aku udah minta maaf, masa dia nggak maafin aku."


"Udah, udah nggak papa, pasti Mas Nathan bisa mengatasinya."


"Ya semoga saja, kalau nggak bisa gimana kak? Lagian itu si Alvaro tinggal setuju aja apa susahnya sih."


"Ya namanya orang punya hak untuk berpendapat, jadi ya kita harus terima, mungkin ada data baru yang mau dia kasih ke kita."


"Tapi, aku takut Bang Jo marah, padahal kan aku udah susah payah pergi kesana, mana berkasnya banyak, terus pulang karena nggak diterima statement kita, pokoknya ini semua gara-gara Alvaro Setan."


"Siapa yang Setan?"


Sebuah suara membuat Airi meringis diam, Oh Tuhan dia dalam masalah lagi. Karena saat menolehkan kepalanya dia bisa melihat sosok yang membuat dia sebel seharian.


Ayana sebenarnhya sudah ingin mrnghentikan ocehan Airi karena melihat suaminya dan klientnya yang bisa dia tebak adalah sosok yang dibicarakan oleh gadis di depannya, tapi terlambat. Karena Alvaro sudah berdiri di samping gadis itu.

__ADS_1


"Emmm, itu pak, kemarin saya liat film, setannya serem banget, iya kan kak Ayana?" Airi mencoba mencari pembelaan.


Sementara Alvaro Zachary masih memandang tajam dirinya.


"Eh, Iya iya kok, bener setannya serem banget."


Ayana memandang ke arah suaminya yang sedang menghela napas.


"Mr, silahkan masuk ke ruangan audit terlebih dahulu."


Ruangan audit adalah ruang diskusi antara auditor dan klien apabila mereka berbeda pendapat.


"Baiklah." Alvaro segera melangkahkan kakinya.


Sekarang tinggal Airi yang tersenyum canggung.


"Bang Jo, bantuin aku, huwaaaa."


Jonathan mengernyit, dia tidak suka dipanggil Bang Jo. Mau menegur tapi gadis di hadapannya sedang dalam keadaan kondisi yang tidak baik.


"Emmm, kamu selesaikan sendiri, lagipula karena kamu closing kita batal."


"Tapi kan, kemarin aku udah datang, salah siapa Bang Jo nyuruh aku yang nggak tahu apa-apa."


Ayana jadi tak enak hati, secara nggak langsung itu karena kemarin dia merengek pulang.sehingga membuat Jonathan memasrahkan pekerjaannya ke Airi. Tapi biasanya berjalan lancar, mungkin lagi apesnya aja.


"Iya ya, saya minta maaf."


Airi masih diam.


"Tapi klien kita ingin bicara empat mata denganmu, katanya ada sesuatu hal penting terkait kemarin."


"Hah, seruangan sama dia. Airi nggak mau, kak Ayana tolongin aku."


"Kamu mau kan closing cepat selesai?"


"Mau." Balas Airi mantap, sungguh dia sudah muak bertemu dengan Alvaro.


"Ya sudah temui dulu, oke."


Airi mau tak mau setuju, dengan langkah gontai dia masuk ke ruangan itu. Yang terlihat seperti ruang penyiksaan.


Dia merekam baik-baik memorinya selama ini, mungkin ini terakhir kalinya dia akan melihat dunia.


"Hahaha, Airi lucu banget, mukanya udah kayak mau hukuman mati aja pucat banget." Tawa Ayana.


Jonathan hanya terkekeh lalau duduk di depan Ayana.


"Emang ada apa sih Mas,  kok sampai gitu?"


"Mas juga nggak tahu, tapi Alvaro Zachary memang pengusaha yang penuh perhitungan, susah banget ada kata setuju dari dia, karena dia merasa benar. Padahal mas sudah tampilkan semua datanya, tapi dia nggak percaya. Karena data yang dia terima dari karyawan sangat amat berbeda dengan milik Mas. Padahal Mas kan nerimanya juga dari karyawannya."


"Loh kok bisa gitu?" Tanya Ayana heran.


"Entahlah, Oh ya Mas mau masuk dulu, kasihan Airi nanti dia dimakan hidup-hidup."


"Haha, ya masuk sana, takut diapa-apain itu anak."


Jonathan lalu melangkahkan kakinya masuk, karena Alvaro hanya meminta waktu 15 menit. Tapi saat pintu dibuka, dia membelalak kaget saat melihat Airi dan Alvaro berciuman.


Tanpa babibu lagi dia langsung berbalik pergi, sementara dua orang itu segera melepaskan diri dan tersenyum canggung seolah tidak terjadi apa-apa.


Ayana yang melihat suaminya kembali hanya bisa mengedikkan bahu, tanpa bertanya.


Lalu keluar Alvaro dengan wajah datarnya, dan terakhir Airi dengan wajah yang tidak bersahabat.


Loh sebenarnya ada apa ini?


****


"Yana."


Sebuah suara menghentikan langkah Ayana di tangga.


Ayana baru saja kembali dari masjid usai melakukan ibadah Sholat.


"Yana aku nggak nyangka ya kamu nekat berbuat seperti itu."


Ayana bingung, memang apa yang dia lakukan. Mau tak mau dia berbalik.


"Apa maksudmu Ali?" Tanya Ayana.


Lakk-laki itu terlihat marah.

__ADS_1


"Kamu jangan munafik Ayana, semua orang di kantor ini, tahu kamu seperti apa?"


Ayana semakin bingung, maksudnya apa.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, sekarang menyingkirlah karena aku tidak mau meladenimu, hingga membuat suamiku kembali salah paham."


Ayana sengaja menekan kata suami agar laki-laki di depannya sadar dan menyingkir dari hidupnya.


"Hah suami kamu bilang, kalau cara itu bisa aku tempuh untuk memilikimu, kenapa aku tidak melakukannya dari dulu."


"Apa maksudmu Ali, aku benar-benar tidak mengerti."


Plak, sebuah tamparan melayang di pipinya. Ali menamparnya, dan Ayana merasakan sakit di pipinya. Dia ingin menangis.


Ya Allah, dimana suaminya?


"Bagaimanapum caranya aku harus memilikimu, kamu saja bisa melakukannya dengan dia, kenapa aku tidak bisa."


Ayana melihat ancaman dari mata Ali, hingga dia beringsut mundur.


"Pergi Ali, menjauhlah dariku."


"Kenapa apa kamu takut, kamu berani melakukannya dengannya hingga membuatmu hamil di luar nikah."


Seperti ada petir yang menyambarnya, Ayana tentu saja kaget mendengar hal itu. Siapa yang menfitnahnya seperti itu. Ya Allah.


"Kamu salah Ali, aku tidak mungkin melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah."


"Kamu jangan menyangkal, semua bukti sudah tersebar."


Apa maksud Ali, bukti Apa, sungguh Ayana tidak mengerti. Sadar akan ada bahaya, dia meringset mundur.


"Kamu jangan macam-macam ya Ali, aku akan teriak minta tolong."


"Silahkan saja dan tentunya mereka akan lebih percaya kepadaku, daripada anak haram sepertimu, dan buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Kamu dan ibumu sama saja."


Sakit, itu yang Ayana rasakan betapa jahatnya Ali berbicara seperti itu. Sebegitu hinakah dia di mata Ali, orang yang dulu pernah ada di hatinya.


"Ya Allah, istighfar Ali." Ayana mencoba menyadarkan Ali.


Tapi Ali tetap tidak goyah, dia terus melangkah maju.


"Tolong, . ."


Ayana mencoba berteriak, tapi Ali membekapnya.


Dia sangat ketakutan, kenapa tidak ada orang lewat, dan kemana suaminya.


"Diam Ayana, atau aku akan menyakitimu, kamu hanya pelu menikmatinya."


"Emmh, lepas lepaskan."


Ayana mencoba melepaskan diri, dia sangat takut. Air matanya sudah bercucuran.


"Mas Nathan." Panggilnya dalam hati.


"Bugh."


Sebuah pukulan mendarat di pipi Ali, hingga membuat Ayana bisa lepas dari rengkuhannya.


Ia bernapas lega saat melihat suaminya datang.


"Mas Nathan." Panggil Ayana lirih.


Jonathan melihat keadaan istrinya yang tampak memprihatinkan. Seketika amarah kembali menguasai dirinya.


Dia memukul Ali secara membabi buta. Laki-laki yang sudah membuat istrinya terluka dan ketakutan.


"Habislah kau." geram Jonathan.


Ayana masih tergugu, tiba-tiba pusing menderanya. Dan rasa sakit menjalar dari perutnya.


"Mas, Mas Nathan." Panggilnya lirih.


"Mas Nathan."


"Ayana."


Suara suaminya lamat-lamat masih bisa dia dengar, sebelum kegelapan menderanya.


*****


Kalau ada yang mau baca kisah Airi dan Alvaro bisa buka lapak Dear Tomorrow

__ADS_1


MInta tolong untuk di vote, like dan favorit ya, :) terima kasih semuanya


__ADS_2