After Tomorrow

After Tomorrow
Dimana


__ADS_3

Sebenarnya Jonathan agak kurang nyaman saat Clarissa duduk di sampingnya, padahal masih banyak meja yang kosong. Saat dia ingin pindah tempat duduk di samping Anggit, di sampingnya malah sudah ditempati orang lain. 


Ngomong-ngomong tentang jam makan siang, ia belum mengabari Ayana kalau hari ini dirinya makan siang di luar. Bisa-bisa Ayana menunggunya, kebiasaan istrinya ia tidak akan makan sebelum dirinya makan.


Jonathan mencari ponsel yang biasanya terletak di sakunya, sayangnya benda yang dicari tidak ada. Kepanikan langsung melanda dirinya, bagaimana cara ia mengabari Ayana. 


"Sepertinya seru ya kerja di sini, orangnya asyik semua." celetuk Clarissa. 


"Ya kau benar." Balasnya seadanya, fokusnya terpusat kepada istrinya yang sedang berada di rumah. 


"Kamu kenapa Jo?" 


Clarissa bertanya saat menyadari Jonathan terlihat seperti tidak nyaman. 


"Eh maaf Clarissa, aku teringat Istriku sebentar."


Jonathan kemudian menuju ke tempat Anggit.


"Anggit, bolehkah aku meminjam ponsel."


"Ada apa Bro?" 


"Ponselku ketinggalan dan aku belum mengabarinya kalau aku tidak pulang untuk makan siang."


Anggit segera memberikan ponselnya kepada Jonathan. 


Jonathan langsung mencari kontak Ayana dan meneleponnya. 


Status telepon berdering namun tidak ada yang mengangkat, raut kepanikan langsung muncul di wajahnya. Ia kemudian mencobanya kembali sayang hasilnya semua sama. 


"Kenapa Jo?" 


"Ayana tidak mengangkat telponku."


Jonathan menjawabnya dengan nada lesu. 


"Coba lagi siapa tahu dia sedang sibuk, atau chat dulu kalau centang biru berarti terbaca."


"Kamu seperti tidak tahu istriku saja Anggit, dia tidak pernah mengaktifkan centang birunya."


"Coba kamu telpon terus barangkali nanti diangkat.". 


Tidak ada opsi selain itu memang. 


"Masa sih Jo nggak diangkat, soalnya tadi aku masih bisa chat sama dia, Ayana fast respon kok." Celetuk Isna menghentikan gerakan Jonathan. 


"Benarkah?" Tanyanya untuk meyakinkan. 


Isna menganggukan kepalanya. 


"Hanya saja, chat terakhir yang kukirim ke dia tidak dibalas, dan itu sekitar jam 11 siang."


Tambahnya membuat Jonathan mengernyit bingung.


Ya Tuhan, apa yang terjadi pada istrinya, mana di rumah tidak ada orang. Ia sendirian di rumah, harusnya dia memang harus menyetujui usul mamanya untuk segera membawa Bik Nah. Apalagi dengan kehamilan Ayana yang semakin besar, tentu ia akan lebih mudah kecapean. 


"Memangnya kamu mengirim pesan apa?" 

__ADS_1


Jonathan penasaran dengan apa yang dikirimkan Isna kepada istrinya. 


Isna kemudian melihat kembali ponselnya untuk memastikan. 


"Hanya mengirim fotomu kalau kita makan-makan di luar." Jawabnya jujur. 


"Kamu menfotoku kapan?" 


"Saat kamu duduk disana." Tunjuk Isna ke bangku yang didudukinya. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan tempat duduk itu hanya saja karena bangku itu ada di dekat Clarissa yang menjadi masalah. 


Sial. 


Jika pikirannya benar, maka Jonathan harus segera pulang sebelum istrinya marah lagi. 


Ia bergegas menuju pintu keluar tanpa pamit dengan temannya. 


"Jo, Jonathan mau kemana?" Tanya Clarissa mengejarnya. 


Jonathan berbalik kemudian berkata. 


"Maaf Clarissa aku harus pergi, untuk menemui istriku."


Ia melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir, sementara gadis itu hanya diam terpaku. 


****


"Bang Jo kenapa Kak?" Tanya Airi ketika melihat Jonathan terburu-buru


"Nggak tahu tuh, tiba-tiba buru-buru pulang."


"Memang tadi kamu mengirim foto apa untuk Ayana." Pandangannya beralih kepada Isna yang kini sedang asyik menyantap makanan. 


"Lihat aja di ponselku." Dia menunjuk ponselnya yang tergeletak di atas meja. 


Anggit kemudian mengambilnya dan melihat isinya. 


"Astaga Isna, ngapain kamu ngirim foto ini ke Ayana."


"Lah memang kenapa, kan aku cuman mau ngabarin kalau kita sedang makan di luar, kangen tahu sama dia."


Anggit menepuk jidatnya pelan, Isna memang kadang-kadang berpikiran sangat luar biasa dalam artian terlalu polos. 


"Gimana kalau kamu mendapati suamimu bersama wanita lain?"


"Biasa aja." Jawabnya datar. 


"Astaga susah ngomong sama kamu, Adik kecil lihat, foto ini sepertinya akan membuat Ayana salah paham."


"Ya Tuhan, kak Ayana pasti sakit hati ini, wah parah kak Isna mengirim gambar seperti ini."


"Mana ada aku salah, kan tujuanku baik." bela Isna tak mau disalahkan.


"Tapi sayangnya Ayana melihatnya dari sisi yang lain Isna." Decaknya sebal. 


"Kenapa sih Mas, di matamu aku selalu salah."


"Bukannya begitu Isna, apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut orang lain, tergantung dari sisi mana kita melihatnya."

__ADS_1


"Tahu ah, kamu bikin nafsu makanku hilang."


Anggit merasa bersalah, dia lalu mencoba membujuk Isna untuk kembali makan.


Airi mengamati interaksi dua orang di deppanya sembari berpikir, karena merasakan ada yang aneh dari mereka berdua. 


"Ngomong-ngomong kok bisa ya kak Anggit tahu password ponselnya kak Isna?" Tanyanya menyelidiki. 


Mereka hanya terpaku saat mendengar pertanyaan itu. 


****


Secepat mungkin ia melajukan mobilnya menuju rumah. Sayangnya karena sedang jam makan siang, perjalanan yang harusnya hanya 30 menit membengkak menjadi 1 jam. Saat perjalanan, Jonathan hanya bisa berharap Istrinya tidak akan salah paham. Mana ponselnya masih di kantor jadi dia benar-benar tidak bisa menghubungi Ayana.


Sampai di rumah, Jonathan langsung menuju ruang baca dimana istrinya biasa berada di sana kalau sedang marah. Namun nihil, tak hilang akal ia menuju kamar mereka sayangnya sama-sama kosong. 


"Ayana, Ayana." Teriaknya namun tidak ada sahutan. 


Sekilas ia melihat makanan yang tertata rapi di meja makan. Tampaknya Istrinya tadi memang memasakannya dan sempat menunggunya. Akan tetapi dimana ia sekarang.


Jonathan tak putus asa memanggil-manggil nama istrinya. Suasana rumah terasa hening, ia takut apa yang dipikirkannya terjadi. 


Ia bergegas untuk kembali ke kamar dan menuju lemari. Saat membuka lemari, Jonathan langsung terduduk lemas ketika melihat lemari bagian Ayana kosong. Koper yang biasanya terletak di sudut kamar pun menghilang. 


"Tidak, tidak Ayana tidak boleh meninggalkannya."


Kemana perginya istrinya itu. 


****


Wanita itu masih berdiam diri di dalam taksi bingung akan pergi kemana. Karena dirinya memang tidak mempunyai sanak saudara yang ada di Jakarta.


Ia sesekali melirik ke arah tas kecil yang tergantung di pundaknya. Tangannya gatal untuk melihat isi ponselnya. Namun sekuat tenaga ia mencegahnya.


"Mau kemana Mbak?"


Sopir taksi menanyai penumpangnya, karena sedari tadi mereka hanya berkeliling saja tanpa arah tujuan.


"Sebentar ya pak, saya lupa alamat kerabat saya."


Wanita itu berpura-pura terlihat berpikir, karena dia memang tidak punya tujuan.


Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya kenapa tidak ke alamat itu aja.


"Ke Arah Simprug saja ya Pak." pintanya.


Sudah lama memang ia tak mengunjungi tempat itu.


Semoga masih sehangat dan senyaman dulu. Salahkan suaminya yang jarang mengajaknya untuk kesana, jadi ia berinisiatif sendiri. Semoga laki-laki itu tidak kelimpungan mencarinya.


Wanita itu hanya bisa tersenyum kecil dengan luka di hatinya.


****



__ADS_1


__ADS_2