
Jonathan POV
Harusnya aku tidak memberikan izin kepada istriku. Jadi kami tidak terjebak di tengah kemacetan ini.
Sungguh aku tidak tega melihat dia meringis kesakitan. Kugengam tanga istriku untuk memberi kekuatan.
"Ayana, bertahanlah sayang."
Aku terus memberikan semangat kepadanya, walau kutahu hal itu sama sekali tidak mengurangi rasa sakit yang dia rasakan.
Ya Tuhan, kenapa macet ini tak kunjung usai.
Mataku menatap nanar jalanan di Ciledug. Kenapa macet ini tak kunjung hilang. Aku takut terjadi apa-apa dengan istri dan anakku.
Di tengah kekalutanku, tiba-tiba aku mendengar sirine mobil ambulance berbunyi. Mobil yang menutupi jalan perlahan minggir di tepi jalan, hingga membuat jalan di hadapanku menjadi kosong.
Suara mobil Ambulance itu semakin mendekat, aku masih terpaku diam tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Mobil itu seolah meembukakan jalan untukku.
"Sstt, Mas Nathan." Ringisan Ayana membuyarkan lamunanku.
Tunggu apa lagi, aku langsung menancapkan gas, dan bergegas ke rumah sakit terdekat. Sepertinya Rumah sakit Aminah adalah pilihan yang cocok.
Sampai Rumah sakit aku langsung menggendong istriku. Dan memanggil dokter. Petugas medis langsung sigap membawa istriku ke ruang bersalin.
Ayana dipindahkan ke ranjang, dan aku dengan setia selalu mendampinginya.
Ayana masih meringis kesakitan, peluh membanjiri wajah cantiknya. Hingga membuat kerudung yang dipakainya menjadi basah.
Raina, dokter kandungan istriku masuk ke dalam ruangan dan mengecek keadaannya.
"Masih bukaan empat pak, kita masih harus menunggu."
Ya Tuhan, menunggu lagi. Sungguh aku tidak tega melihat istriku kesakitan. Kalau tahu begini, seharusnya aku menyuruhnya melahirkan secara caesar. Tapi istri mungilku dengan lantangnya bilang. Dia ingin melahirkan secara normal, karena dia ingin menjadi ibu yang sempurna. Padahal menurutku baik caesar maupun tidak itu sama-sama membuatnya semakin terlihat sempurna di mataku.
"Kamu tenang ya sayang." Ucapku sambil mengusap kepalanya sayang.
Kubacakan do'a Yunus di dekat telinganya. Supaya dia merasa nyaman. Dan memberinya kelancaran selama proses persalinan ini.
"Mas Sakit...." Air mata istriku kembali bercucuran dari matanya.
Tentu saja dia merasakan kesakitan. Tubuh manusia hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 del. Akan tetapi saat melahirkan, ibu akan mengalaminya binggal 57 del. Rasanya sama seperti 20 tulang yang patah secara bersamaan. Miris rasanya melihat banyak orang di luar sana yang tega menelantarkan ibunya, padahal ibunya telah memberikan pengorbanan yang sangat banyak.
"Semangat sayang, berdo'a kepada Allah, supaya kita bisa melaluinya sama-sama."
Ayana yang dilanda kesakitan, sementara diriku dilanda kecemasan dan kekhawatiran. Tapi aku mencoba menampilkan ekspresi tegar. Agar istriku tidak semakin panik.
"Mas elus ya perutnya?" Tanyaku padanya.
__ADS_1
"Emmm." Ayana membalasnya dengan gumaman, dan hal itu kuanggap sebagai persetujuan darinya.
Kugerakkan tanganku untuk mengelus perutnya yang membuncit. Dimana anaknya telah berkembang di dalamnya dan sebentar lagi lahir ke dunia.
"Nak, jangan buat ibumu semakin kesakitan. Segeralah lahir, ayah dan bunda menunggu kehadiranmu."
Selesai mengucapkan kalimat itu, aku memberikan kecupan lembut di sana.
"Masss. " Pekik Ayana.
Raina yang mendengar teriakan Ayana langsung bergegas mendekat ke ranjang.
"Sudah pembukaan sepuluh, Ibu Ayana siap untuk melahirkan."
Suster langsung siaga di dekatnya, sementara aku terus memberikan dukungan kepada istriku.
"Tahan bu, tarik napas hembuskan."
Intruksi dokter diikuti oleh istriku dengan baik.
Air mata mengalir deras di pipinya. Tanganku menyekanya dan memberikan usapan kepadanya.
"Kamu bisa Ay." Bisikku lembut kepadanya. Tangan Ayana aku gengam dengan erat.
"Huhhhh, Hahhhh." Ayana mengambil napas.
"Iya bagus Ibu, kepalanya sudah kelihatan, doronggg."
Dan suara bayi langsung bergema di ruangan ini.
"Oekk, oekk, oekk."
Aku memandang haru ke arah istriku, mataku ikut berkaca-kaca. Karena akhirnya anak kami terlahir di dunia.
"Anak kita Ay."
Kucium kening Ayana berkali-kali, aku bahkan melupakan keberadaan dokter di sini saking bahagiaya.
"Mas." Hanya itu yang keluar dari bibir Ayana, tapi ekspresinya memancarakan rasa lega dan haru luar biasa.
Aku terpaku melihat wajah cantiknya, memang benar kata temanku. Wanita akan semakin terlihat bersinar setelah melahirkan. Dan aku melihatnya di istriku.
"Ya Allah, terima kasih atas nikmat dan karuniamu. Semoga hamba bisa menjadi imam yang baik, yang menjaga istri dan anak hamba untuk selalu berada di jalanmu." Do'aku dalam hati.
"Bayinya sudah dibersihkan pak, ngganteng seperti papanya."
Dokter Riani menyerahka bayi merah kepadaku. Laki-laki sesuai dengan dugaanku.
__ADS_1
Dia terlihat sangat mungil dan kecil. Wajahnya sama persis ketika aku masih kecil. Semoga saja Ayana tidak kesal karena anak kami benar seperti duplikatku. Aku lalu mengadzani putraku dengan berderai air mata.
"Anak kita Ay." ucapku padanya.
"Iya." dia membawa bayi kami ke dalam rengkuhannya.
Mulut anak kami bergerak-gerak mencari sumber makanannya.
Ayana yang melihatnya tidak bisa menahan haru.
"Mas anak kita... " Ucapnya lagi seolah hal ini tidak nyata.
"Iya." Yakinku padanya.
"Tapi kenapa dia mirip kamu semuanya, nggak ada satupun yang mirip aku." Kesalnya dengan bibir yang mengerucut.
Ahh, kalau tidak di rumah sakit, aku pasti akan mencium bibir mungil itu.
"Kan memang aku ayahnya." Balasku padanya.
"Tapi aku yang mengandungnya sembilan bulan."
Aku hanya diam tanpa membalas ucapannya, Ayana yang kesal seoerti itu malah terlihat menggemaskan di mataku.
"Mass, lihat matanya terbuka." pekik ayana saat melihat mata anaknya terbuka.
"Mas, matanya mirip aku." Ayana berubah senang.
Ya matanya sangat mirip dengan mata istriku yang berwarna coklat. Aku pun tidak mempermasalahkan hal itu, karena aku bisa melihat Ayana melalui mata putraku.
"Siapa Mas namanya?" tanya Ayana.
"Rahasia, nanti Mas kasih tahu kalau sudah sampai rumah."
"Yahh, Mas nggak asik." Gerutunya.
Cup
Akhirnya aku menberikan kecupan ke bibir mungil itu.
"Nanti sayang, Mas akan kasih tahu namanya, sekarang kalian istirahat dulu oke."
"Heem." Balas dia patuh.
Aku kemudian mendekapnya dan memberikan elusan sayang kepadaku putraku. Sungguh rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Terima kasih Ayana, karena kamu telah hadir ke dalam hidupku.
__ADS_1
End
****