After Tomorrow

After Tomorrow
Fin


__ADS_3

"Berdasarkan bukti-bukti, bahwa saudara Jonathan, terbukti bersalah karena menerima suap dari Mr. Albert."


"Dan berdasarkan keterangan dari Mr. Albert,


Jonathan yang memaksanya."


Ucap salah satu ketua komite.


Jonathan masih diam, tidak menyahut ucapan ketua komite.


"Jika saudara Jonathan mengakuinya, hukuman yang dikenakan akan jauh lebih ringan, dan jika menyangkal padahal sudah ada bukti yang terlampir, anda akan dipecat dari kantor auditor. Bagaimana saudara


Jonathan."


"Keberatan ketua, bolehkah saya memanggil saksi untuk saya?" Jonathan mencoba menegoisasi.


"Baiklah, Anda boleh memanggil saksi."


"Perlu saksi apalagi Jonathan, foto itu sudah bisa membuktikan semuanya." Albert tiba-tiba bersuara.


Dalam hati dia mengejek pria itu, yang dengan mudahnya dia bodohi.


"Saudara Albert saya minta untuk diam jika tidak diminta bicara."


"Dan Jonathan siapa saksi yang akan kamu


hadirkan?"


"Alvaro Zachary."


Semua orang tercengang mendengar nama itu, tak mungkin seorang CEO meluangkan waktunya untuk datang ke sini. Terlebih Albert yang semakin memandang rendah Jonathan.


"Tap tap tap."


"Saya disini ketua."


Semua orang semakin terkejut melihat sumber suara itu.


Alvaro Zachary dengan setelan kerjanya, muncul di dalam ruang sidang.


Ketua segera menghilangkan keterkejutannya dan mempersilahkan Alvaro untuk duduk.


Sementara Jonathan dia bisa sedikit bernapas lega saat mendapati Alvaro datang. Sepertinya dia harus berterima kasih dengan Airi.


Alvaro segera membuka laptop, dia menampilkan data dan video cctv saat Albert berusaha menyuap Jonathan. Dalam video itu terlihat Jonathan menolaknya mentah-mentah.


"Penipu, kalian pasti mengeditnya."


"Apalagi yang kau sangkal Albert, semuanya sudah jelas. Aku masih berbaik hati tidak memenjarakanmu. Tapi sepertinya kau memang tak pantas kukasihani."


Albert memandang tajam atasannya, pantas saja Jonathan terlihat santai. Jadi mereka sudah merencanakan semuanya.


Flashback On


Sekarang disinilah mereka berada, Jonathan mengernyit bingung saat ada Alvaro di depannya.


Sebenarnya ada apa ini, bukankah auditnya telah selesai, atau kliennya ini ingin mengajukan keberatan, tapi kenapa tidak memberitahukan sebelumnya.


"Ada apa?" Pertanyaan Jonathan memecah


keheningan.


Alvaro tampak berpikir sejenak, dia mengeluarkan semua dokumen di tas kerjanya. Tak lupa Laptop dia nyalakan, setelah beberapa saat Alvaro menunjukkannya kepada Jonathan.


"Ya ampun, laptopnya merek apple, beliin satu dong Alvaro ngganteng."


Airi bersuara tanpa disangka-sangka, Alvaro memandang tajam. Harusnya Airi tidak usah diajak menganggu saja. Eh tapi kalau tidak


mendengar celotehannya kok ada yang kurang ya.

__ADS_1


Jonathan tidak menggubrisnya dan langsung membaca data yang ada di laptop. Semua grafik dan laporan keuangan perusahaan itu.


Dia mengernyit bingung, laporan ini sangat berbeda dengan koreksinya.


"Seperti yang anda lihat, laporan yang ada terima sangat jauh berbeda dengan yang saya tampilkan, saya menduga bahwa General Manager saya, Mr. Albert memanipulasinya."


Jonathan hanya melirik sekilas tanpa menanggapi, dia masih memahami data di depannya. Memang sangat jauh sekali. Pajak yang dikeluarkan disini terlihat wajar tidak seperti data yang ditampilkan Mr


Albert. Dimana jumlah penjualan dikecilkan dan biaya yang seharusnya tidak


dibebankan malah dibiayakan.


"Bukankah sudah ada kata setuju diantara kita?"


"Ya anda benar, dan terima kasih berkat audit dari anda saya bisa menyingkirkan tikus-tikus perusahaan."


"Tapi. . . "


Alvaro menghentikan kalimatnya sejenak, dia


mengisyaratkan matanya ke arah Airi untuk meninggalkan mereka.


"Iya iya deh, dasarr." Airi menghentakkan


kakinya kesal lalu memberi waktu untuk mereka. Padahal yang sesungguhnya di


sudah meletakkan hapenya dalam posisi merekam.


"Huuu Airi mau dibohongin, mimpi kali."


Akhirnya Airi memutuskan untuk membeli gula kapas di luar, karena dia sangat


ingin memakan hal itu.


Kembali lagi keoada kedua pria itu.


"Kenapa kau mengusirnya keluar?" Tanya Jonathan heran.


"Aku memecat Albert, ya kau tahu, aku paling tidak suka dikhianati. Tapi dia tidak ingin hancur sendiri, dia ingin menyeretmu


dalam kasusnya. Sebenarnya aku tidak terlalu ingin campur urusan orang lain


bila tidak menyangkut diriku. Tapi untukmu pengecualian. Yahh kau sangat


membantuku untuk mencari akar masalah perusahaanku. Dan ternyata karena ada


yang berkhianat."


Jonathan mengangguk paham, laporan keuangan perusahaan Alvaro memang sangat aneh, dan untuk skala Internasional masa mengalami cashflow yang negatif itu sangat tidak mungkin.


"Mr Albert mencoba menjebakmu dengan membuat skenario, kalau kamu dibalik semua ini."


Jonathan membelalak kaget bagaimana bisa, hey dia hanyalah auditor tidak punya kewenangan untuk memanipulasi data. Ia tidak mungkin melanggar sumpahnya kepada Negara dan Tuhan.


"Kamu pasti kaget, tapi dia mempunyai bukti foto kamu menerima amplop dari dia."


Amplop, kapan dia menerima amplop dari Mr Robert?


"Kamu pasti kaget?" Tanya Alvaro kemudian.


"Aku percaya kamu tidak melakukannya, dan akupun mempunyai bukti akan hal itu, tapi aku ingin sedikit bermain-main dengan


Albert. Biarkan dia tertawa puas merasa di atas awan, baru kita hancurkan,


boom." Alvaro tersenyum Jahat.


Jonathan begidik ngeri, laki-laki di depannya menyimpan sisi gelap, ia jadi khawatir dengan Airi. Walau bagaimanapun dia sudah seperti


adiknya sendiri yang mesti dia jaga, apalagi Airi sangat dekat dengan istrinya.

__ADS_1


Alvaro melihat raut mengkhawatirkan yang ditampilkan wajah Jonathan, dia bisa menebak. Pasti tentang Airi.


"Anda tenang saja, saya tidak akan melibas orang yang tidak merugikan saya, jika itu yang anda khwatirkan."


"Begini Alvaro, jika itu yang anda katakan, bukankah sekarang Mr. Albert sedang melaporkan saya ke atasan saya."


"Ya kau benar, tapi kau tenang saja, aku ada di


belakangmu. Seperti kataku. Buat dia merasa menang lalu kita jatuhkan."


Flashback Off


****


Albert marah, dia merasa tak terima karena rencananya gagal. Dan itu karena bosnya, ralat. Mantan atasannya yang ikut campur dengan urusannya.


Padahal tinggal sedikit lagi, maka Jonathan akan hancur. Hey dia tidak ingin jatuh sendirian, dan lagi semua kecurangannya terungkap karena audit yang dilakukan Jonathan.


Polisi masuk ke dalam ruang sidang dan langsung menyergap Albert.


Albert meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri.


"Alvaro tunggu pembalasanku." Teriaknya membabi buta sebelum dipaksa keluar dari ruang sidang.


"Terima kasih Alvaro, karena mau membantuku."


"No problem, berkatmu juga, aku bisa membuat dia jera."


Ketua komite dan atasan Jonathan, lalu segera meminta maaf kepadanya. Mereka langsung membuat berita acara bahwa pria itu tidak bersalah.


****


"Ayana." Teriak Jonathan saat sampai ke rumah.


"Mas Nathan, kenapa teriak-teriak."


Mendapati istrinya muncul dari arah dapur, Jonathan langsung berlari memeluknya.


"Mas, Mas lepaskan, kamu kenapa?"


"Alhamdulillah Ayana, Mas bebas dari tuduhan."


Mendengar hal tersebut, Ayana langsung mengucap syukur.


"Alhamdulillah, Adek ikut seneng dengarnya."


"Ini semua berkat do'amu dan anak kita, terima kasih istriku."


Blusshh


Pipi Ayana memerah malu, saat mendengar kata istri.


Jonathan terkekeh lucu.


"Kamu ini, sudah mau jadi ibu masih saja malu-malu kucing."


"Biarrr."


"Untung sayang." Pria itu semakin merengkuh erat istrinya.


Sementara Ayana dia terlihat nyaman di dalam pelukan semuanya.


Dia tersenyum, akhirnya kebahagiaan datang kepada dirinya. Awalnya ragu, apakah dia bisa merasakan apa arti bahagia. Setelah


hatinya tersakiti, kepercayaannya dikhianati. Sampai Tuhan memberikan keindahan


melalui suaminya.


Cinta memang akan selalu menemukan rumahnya

__ADS_1


***


__ADS_2