
Jonathan melangkahkan kakinya ke lantai dua, dimana Hesti berada. Sungguh keterlaluan wanita itu dengan tega menyebarkan fitnah tentang istrinya. Dan menyebabkan istrinya tergolek lemah di rumah sakit. Untung janinnya tidak apa-apa, kalau tidak. Ia akan membuat perhitungan, tak peduli wanita itu adalah bibi dari temannya kuliah.
Bisa-bisanya dia, yang notabene seorang ibu sanggup melontarkan fitnah seperti itu, dimana hati nuraninya.
Jangan tanyakan bagaimana ia tahu kalau Hesti dalangnya, karena dia benar-benar menginterogasi pegawai yang kedapatan menggosipkannya sampai ke akar-akarnya.
Sebenarnya Jonathan tak tega meninggalkan istrinya sendirian di rumah sakit, tapi dia ingin meluruskan semua kesalahpahaman ini demi kebaikan istrinya.
Dan Ali, laki-laki yang dengan tega menyakiti Ayana. Dia pastikan bahwa laki-laki itu akan diberi hukuman disiplin. Enak saja, perbuatannya sungguh tidak bisa ditoleransi lagi. Kalau perlu dia dipecat, tapi Jonathan masih memiliki hati nurani. Ali mempunyai keluarga dan dia tidak ingin istrinya yang tidak tahu apa-apa terkena imbasnya.
Dari kejauhan, ia bisa melihat Hesti yang tertawa tanpa beban dengan pegawai lain dan ia tahu yang menjadi objek pembicaraannya adalah istrinya.
"Berhenti membicarakan tentang saya" Bentaknya kepada mereka.
Mereka tentu saja diam, tanpa berkutik. Apalagi Hesti yang langsung berkeringat dingin.
"Kenapa kalian tega sekali menfitnah kami, yang bahkan kami tidak melakukannya. Dan apa kalian tahu karena perbuatan kalian, istri saya masuk rumh sakit, dia hampir keguguran."
Semuanya terkesiap mendengar penuturan Jonathan."
"Tapi kan ada bukti foto kalau kamu melakukan hal itu, jadi nggak salah kan?" Sangkal salah satu pegawai.
Tahu foto yang dimaksud, membuat Jonathan menghela napas sejenak.
Itu fotonya dengan Ayana saat di Tanpopo dan di RSIA, padahal hal itu mereka lakukan setelah menikah.
"Ya Allah, sungguh sebenarnya saya tidak ingin melakukan hal ini. Tapi saya ingin meluruskan semuanya demi istri saya. Foto itu diambil setelah menikah, dan wajar kalau istri saya sudah hamil karena kami sudah menikah 2 bulan, dan kandungan istri saya baru berumur 5 minggu."
"Saya bisa juga membawa bukti dari rumah sakit, kandungan istri saya lemah dan kalian tega melakukan hal itu. Apa salah istri saya, selama ini dia selalu berbuat baik tanpa pernah menyusahkan kalian."
Mereka semua terdiam, ucapan Jonthan memang benar. Ayana, gadis itu selalu berbuat baik. Selalu murah senyum dan sama sekali tidak pernah menyusahkan mereka. Bahkan selalu membantu kesulitan mereka.
Tapi selama ini mereka selalu membicarakan Ayana dengan pandangan buruk, ya tidak segera menikahlah, ditinggal nikahlah. Dan terakhir dengan tuduhan hamil di luar nikah.
"Jo, kami minta maaf." Ucap salah satu pegawai dan diikuti pegawai lainnya.
"Saya sudah memaafkan kalian, tapi maaf kalian tidak bisa membuat istri saya sembuh."
Mereka masih terdiam tanpa berani membalas.
"Kalau sampai terulang lagi, saya tidak akan tinggal diam. Ingat apa yang kita tanam itulah yang kita petik."
****
Jonathan sudah kembali ke rumah sakit. Samar-samar dia bisa mendengar suara tawa. Apakah istrinya sudah sadar, syukurlah.
Ia berulang kali mengucap kata syukur.
Sekarang tampak pemandangan istrinya tertawa dengan Airi, jadi gadis itu datang kesini. Bukannya masih ada pertemuan dengan Alvaro.
Dan dia kaget mendapati lelaki itu ternyata ada disini dengan pandangan datar.
__ADS_1
"Mas Nathan." Panggil Ayana saat menyadari keberadaan suaminya.
Jonathan langsung mendekat dan memeluknya, istrinya sudah sadar. Dia amat sangat lega.
"Mentang-mentang ada Bang Jo, Airi dicuekin."
"Dasar Adik kecil, makasih ya Airi sudah nemenin kakak."
"Siap bosquee, apa sih yang enggak buat kakakku, si kak Ali itu pengen banget aku bejek-bejek. Sumpah ya dia tega banget, parah
nggak sih."
Alvaro yang melihat Airi bicara hanya bisa mendengus kecil, gadis itu kalau bicara tidak ada titiknya.
"Mas." Ayana mencubit suaminya untuk menyambut kliennya. Jonathan langsung tersadar.
"Oh ya Pak Alvaro, terima kasih sudah menjenguk istri saya."
"No problem daripada anak kecil itu terus merengek."
"Hey siapa yang kamu panggil anak kecil, biarin kecil begini aku juga udah bisa bikin anak tahu."
Semua orang syok mendengarnya, Astaga Airi dengan segala tingkah absurdnya
Ayana menggeleng kecil, Airi kalau bertemu dengan Alvaro seperti Anjing dan kucing.
"Kamu nggak papa kan Dek."
"Adek nggak papa kok Mas, dan syukurlah anak kita kuat."
"Alhamdulillah."
Ia lalu mengecup sayang kening istrinya.
"Kata dokter kamu harus bedrest, jadi mulai besok kamu resign saja, Mas nggak tega lihat kamu capek."
"Kan kontrakku masih lama Mas."
"Tenang Mas sudah bicara sama atasan kita, kamu bisa ambil cuti melahirkan selama tiga bulan, dan itu selesainya tepat batas waktu kontrak berakhir. Kalau soal berkasnya biar Mas yang urus."
"Adek percaya sama Mas saja."
"Loh Kak Ayana beneran resign nih, yahhh Ang sendiri dong." Airi mencebik kesal.
"Nggak papa kan ada temennya masih ada Mas Nathan dan yang lain."
"Nggak mau, Bang Jo kaku banget orangnya, beda kalau sama Kak Ayana."
Ayana tersenyum kecil, melihat tingkah polos gadis ini.
****
__ADS_1
Sementara di sisi lain, seorang laki-laki sedang melempar botol-botol minuman keras. Sungguh baru pertama kali dia menyentuh barang haram itu, dan semua karena wanita yang dicintainya.
Kenapa sesakit ini melihatnya bersama dengan orang lain. Ia mencoba menenggak lagi minuman itu tapi sebuah seruan menghentikannya.
"Mas, berhenti meminum minuman haram itu."
Wanita itu lalu merebut paksa botol di dalam genggamannya.
"Jangan sok baik, aku tidak butuh perhatianmu." Balas laki-laki itu tak kalah tajam.
"Istighfar Mas, semuanya sudah takdir Allah, bukankah Mas yang memilih melepaskannya."
"Iya, aku memang bodoh melepaskan dia, dan malah terjebak denganmu. Sekarang kamu senang kan melihatku seperti ini."
"Ya Allah, sungguh aku tidak seperti itu."
"Ha. . .ha. .ha, istriku yang cantik dan baik hati."
Pria itu menegakkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah istrinya yang saat ini terlihat ketakutan.
Sadar akan adanya bahaya, wanita itu mencoba pergi. Tapi tangannya ditahan oleh suaminya.
"Lepaskan Mas." Mohon wanita itu dengan berderai air mata.
"Kenapa, bukankah kamu istriku, dan aku bebas melakukan apapun kepadamu."
Mata wanita itu membelalak kaget, dia memang ingin pernikahan ini sempurna, tapi bukan begini caranya. Apalagi dengan kondisi suaminya yang tidak sadar.
"Bukankah hal ini yang kau inginkan Raina?"
"Hentikan Ali, atau aku akan berteriak." Bentak Raina, dia sudah tidak tahan dengan tindakan suaminya.
"Teruslah berteriak, karena tidak ada seorangpun yang menolongmu."
Ali langsung menyergap tubuh istrinya dan membawanya ke ranjang.
Raina mencoba memberontak, tapi tentu tenanganya tak sebanding dengan tenaga suaminya.
"Aku mohon Mas, hentikan." ucapnya di sela-sela isak tangisnya.
Ali seolah tuli, dia hanya mencoba melampiaskan kemarahannya. Bibirnya membungkam bibir wanita di bawahnya. Tangannya bergerilya untuk melepaskan pakaiannya.
Raina sudah pasrah, dia tidak mempunyai tenaga untuk melawan.
"Srekkk."
Dan saat penghalang terakhir sudah disingkirkan suaminya, dia hanya bisa menangis.
Kehormatannya telah direbut paksa oleh suaminya.
*****
__ADS_1