
Ayana merasakan kecupan di wajahnya. Dan hal itu membuatnya tak nyaman, hingga dia membuka mata.
Hal pertama yang dilihat adalah wajah Jonathan yang tersenyum lebar. Jadi Jonathan sudah memaafkannya?
Ayana mencoba bangkit dari pembaringan, dan Jonathan langsung membantunya.
“Kamu jangan banyak bergerak dulu.” Rengeknya dengan suara manja.
"Adek capek tidur terus." Jonathan mengulas senyum kecil.
Ayana mengernyitkan dahi, suaminya kenapa banyak tersenyum ya. Ada sesuatu yang tidak beres.
"Sekarang kamu makan bubur dulu ya, Mas suapi. Setelah itu minum obatnya. Sudah tahu sakit magh, tapi malah tidak makan semalam." Gerutu Jonathan, ia mengambil bubur dan menyuapkannya
pada istrinya.
"Kemarin Adek nunggu mas pulang, tapi mas nggak makan, yaudah Adek juga nggak mau makan."
Rasa bersalah kembali hinggap ke dalam dirinya.
"Maafkan Mas ya, marah sama kamu."
"Adek juga minta maaf ya Mas, Adek beneran gk ada hubungan apa-apa lagi sama Ali. Dia tiba-tiba mengangguku, tapi beruntung Mas Nathan datang tepat waktu."
"Iya, harusnya Mas mendengarkan penjelasan kamu dulu, namanya juga cemburu dik, mau gimana lagi. Sekarang habiskan makanannya ya, habis itu kita ke Rumah sakit."
"Loh mas, bukannya ini obat dari dokter?"
Jonathan tersenyum kecil.
"Tidak papa, Mas hanya ingin memastikan sesuatu, badan kamu sudah tidak lemas lagi kan?"
"Enggak, kalau ada Mas Nathan ayana udah nggak pusing lagi. Dan kalau makannya di suapi, Ayana nggak mual lagi."
Jonathan malah tertawa, sepertinya anaknya memang sudah berada di rahim istrinya. Semoga saja tebakannya benar.
****
"Mas."
Ayana memandang tak percaya kepada suaminya. Benarkah sekarang dia akan menjadi seorang ibu.
Dokter baru selesai memeriksanya, dan memberi kabar yang sangat mengejutkan. Bahwa dia telah mengandung, bahkan usianya sudah 4 minggu. Itu berarti anaknya sudah lama berada di rahimnya. Kenapa dia tidak menyadarinya.
"Iya, makasih sayang, kita akan jadi orang tua."
Jonathan mendekap erat istrinya lalu mencium dahi istrinya.
Dokter yang ada di depannya tersenyum maklum. Begitulah reaksi pasangan suami istri yang diberitahu tentang kabar kehamilan. Dan pasangan di depannya merupakan salah satunya, dan yang paling romantis.
"Terima kasih ya dok." ujar Jonathan.
"Sama-sama, saya resepkan vitamin, dan untuk Istri anda sebaiknya mengurangi aktivitas dan pikiran yang berat. Karena di trisemester pertama kehamilan sangat rentan." Jelas dokter.
"Baik Dokter."
__ADS_1
Ayana masih tersenyum, matanya berkaca-kaca, dia sangat bahagia sekarang.
Sebentar lagi dia akan melihat Ayana atau Jonathan kecil. Membayangkannya saja sudah membuat dia tersenyum.
"Emm, bolehkah saya bertanya Dok?"
Jonathan sebenarnya agak malu untuk menanyakannya, tapi daripada penasaran.
"Untuk hubungan suami istri apakah diperbolehkan?" Tanya Jonathan.
Pipi Ayana bersemu malu, suaminya ini otaknya masih saja isinya pasir.
"Boleh, asal dilakukan dengan lembut dan posisi yang nyaman untuk Ibu Hamil, dan jangan terlalu sering."
"Baik Dok, terima kasih, kalau begitu kami pamit dulu."
"Sama-sama."
****
"Kamu nggak ngidam apa-apa nih Dek, biasanya kan orang hamil suka ngidam." Tanya Jonathan di dalam mobil.
"Belum Mas, maunya cuman deket Mas Nathan terus."
"Istriku bisa manja juga, Oh ya dik, kita kabari kehamilanmu ke keluarga besar ya, pasti mereka senang, Apalagi ibuku yang sudah lama minta cucu."
"Terserah Mas saja, la Mas sih nggak nikah-nikah."
"Maskan nunggu kamu siap."
Ayana sebenarnya bukan sekali dua kali diberi kata-kata manis, tapi dia masih tetap saja tersipu malu jika diberi gombalan dari suaminya. Tapi hal itu semakin membuat Jonathan gemas saja.
"Beneran nih, nggak pengen apa-apa?"
Ayana tampak berpikir sejenak sebelum berkata.
"Pengen makan yang pedes-pedes."
"Jangan yang itu Ay, kan kata dokter nggak boleh makan yang pedas dulu, nanti anak kita ikut kepedasan."
Ayana tersenyum kecil, ada-ada saja alasan Jonathan.
"Tapi Adek pengen, ya boleh ya boleh." bujuk Ayana.
Membayangkan makanan pedas membuat dia meneteskan air liurnya.
"Iya tapi dikit aja ya, kita ke blok M saja gimana?"
"Emang ada apa?"
"Mumpung hujan gini mending makan bakso, disana ada bakso pedas mau kan?"
"Mau, makasih Ayah." dengan suara anak kecil
****
__ADS_1
"Pelan-pelan Dek makannya." Pinta Jonathan karena melihat Ayana makan sangat cepat.
"Ha.. Bissnya enak." Balasnya dengan mulut penuh.
"Telan dulu baru bicara, udah mau jadi ibu makan masih belepotan."
Jonathan mengambil tisu lalu mengusap bibir ayana yang terkena saus.
"Hehehe." Ayana tertawa kecil lalu segera menghabiskan makanannya.
Entah dia lapar atau doyan tapi sudah dua mangkuk bakso yang telah dia habiskan.
"Mas, mau nambah lagi?"
Hah, Jonathan tentu saja kaget, dia melihat dua mangkok bakso yang telah kosong. Apa semua ibu hamil mudah lapar ya.
"Tapi mau yang kuah taichan boleh ya, kayaknya enak."
"Jangan, itu pedas banget dek, nanti perutmu sakit."
"Tapi Adek pengen."
Nah lo sekarang pandangan istrinya sudah berkaca-kaca.
"Dek, jangan nangis, Mas hanya nggak mau kamu sakit perut, Mas takut anak kita kenapa-napa."
Ayana masih diam, dia sangat tahu itu. Tapi dia tidak bisa menghentikan keinginannya.
"Ya sudah, tapi sedikit saja ya, biar Mas yang pesankan. Setelah ini adek nggak boleh makan makanan pedas lagi, oke."
"Iya." Balas Ayana antusias.
Sekarang makanan sudah tersaji di hadapannya.
Tapi Ayana sudah kehilangan selera makannya, dia malah ingin Jonathan yang memakannya.
"Kenapa gk dimakan?"
"Udah nggak mau, sekarang malah pengen liat Mas Nathan makan ini."
"Hahhh." Bagai petir menyambar dirinya, oke mungkin Jonathan terlalu lebay.
Tapi sungguh dia tidak bisa memakan makanan pedas, bukannya apa-apa, tapi perutnya tidak kuat.
"Tapi Dek. . . .
Belum selesai berbicara, pandangan mata Ayana kini kembali berkaca-kaca. Dia sebenarnya juga tidak mengerti kenapa dia jadi sensitif begini.
"Iya iya mas makan, tapi jangan menangis ya, Mas nggak sanggup lihat air matamu keluar."
"Makasih mas."
Ya nggak papalah demi Ayana semua akan dilakukannya.
*****
__ADS_1