
Bayangkan saja, kamu sudah memasak dengan sepenuh hati kemudian menunggu orang yang sebenarnya tidak perlu ditunggu. Mana makan siang dengan perempuan lain, sementara istrinya merana di rumah sendiri.
"Nah itu dia Nathan datang."
Jonathan muncul di rumah orang tuanya dengan penampilan yang bisa dikatakan kurang baik, lihat saja kemejanya yang terlihat kucel dengan lengan yang tergulung ke siku. Keringat membasahi bajunya.
"Astaga Nathan, kamu habis dari mana, kenapa penampilan kamu seperti ini, huhh pasti belum mandi nih, nggak kasihan sama istrimu." Omel Mama Grace saat melihat penampilan Jonathan yang jauh dari kata baik.
"Maaf Ma, habisnya tadi buru-buru." Sahutnya tanpa melepaskan tatapannya ke arah istrinya.
Akhirnya setelah dia kelimpungan, Jonathan bisa bertemu dengan istrinya.
Ayana hanya bisa menunduk tak berani menatap suaminya langsung.
Jonathan berjalan mendekat ke Ayana, sungguh saat ini ia sangat ingin memeluk istrinya dengan sangat erat. Namun sebelum hal itu terjadi sebuah pekikan muncul dari mulutnya.
"Arghhhhh Ma, jangan jewer kupingku."
Nah benar, Mama Grace memang menjewer telinga anaknya.
"Habisnya kamu ini, di bilangin Mama ngeyel, mandi dulu sana sebelum menyentuh istrimu, Astaga Nathan."
"Mandinya nanti dulu Ma, mau peluk Ayana dulu nih." Elaknya.
Jonathan memprotes perkataan Mamanya.
"Nggak ada ya peluk-peluk sebelum kamu rapi dan wangi lihat istrimu, sedari tadi terus menunduk karena tak tahan dengan bau keringatmu."
Telak ucapan itu membuat Jonathan membeku, istrinya sedari tadi memang terus menunduk. Antara memang tidak suka bau tubuhnya atau saat ini sedang marah dengan dirinya.
"Iya-iya Ma, Nathan akan mandi dulu, tapi Ayana jangan diumpetin loo."
"Iya-iya, istrimu aman di sini."
Jonathan terpaksa menuruti perintah Mamanya, namun sebelum itu dia mencuri satu kecupan kecil di pipi Ayana.
"Cup."
Kemudian dia lari terbirit-birit karena tidak ingin mendengar omelan Mamanya.
"Astaga Anak itu."
Mama Grace memegang kepalanya pura-pura pusing.
Sementara Ayana hanya diam membeku.
Wanita paruh baya itu lalu menepuk lembut pundak menantunya.
"Mama sudah mengulur sedikit waktu kalian, selesaikan masalah kalian, jangan biarkan sampai berlari-larut."
Nah kan bener Ayana bilang, mertuanya memang tahu apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Benar-benar insting seorang ibu.
****
Jonathan memasuki kamarnya yang dulu adalah tempat melepas penatnya. Barang-barangnya masih sama dan tertata rapi. Bedanya tadi saat di lemari dia mendapati beberapa pakaian wanita yang ia yakini bukan milik istrinya melainkan memang telah disiapkan oleh kedua orang tuanya. Mamanya memang sangat perhatian sekali.
Tadi saat tidak mendapati Ayana di rumah, dia panik sekali. Apalagi dengan ponsel istrinya yang tidak aktif bagaimana dia tidak khawatir. Kemudian saat Mamanya mengabari kalau Ayana ada di rumahnya dia menjadi teramat lega. Dan tanpa ba bi bu lagi langsung menuju rumah mamanya. Yah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan kalau kata mamanya.
Kemejanya acak-acakan, rambutnya juga, pasti istrinya langsung ilfil saat melihatnya, eh tapi kan mereka sering terlihat berantakan saat di tempat tidur.
Oke lupakan sejenak pikiran itu Nathan.” Perintahnya dalam hati.
Ketika mendapati kondisi Ayana yang baik-baik saja dia bisa menarik napas lega. Namun Jonathan bingung karena perubahan istrinya yang sepertinya terlihat marah dengannya.
Apa Ayana marah karena aku tidak mengabarinya ya?” pikirnya.
Dulu istrinya bukan orang yang suka merajuk seperti itu, namun semenjak hamil sering terjadi perubahan mood yang sangat drastic, ia pun harus memakluminya, Lagipula salahnya juga kenapa tidak mengabari kalau ia tidak pulang ke rumah. Namun siapa amun siapa yang bisa menebak kalau handphonenya ketinggalan tidak dibawa?
Jonathan mulai melepas pakaiannya dan mencari handuk di lemari, saat ini ia hanya menggunakan boxer saja.
“Mas, pakai baju dulu.” Pekik seseorang yang tiba-tiba datang.
Pipinya langsung bersemu merah saat mendapati keadaan suaminya yang sedang toples, terlihat pahatan yang sempurna dari tubuh laki-laki itu apalagi ditambah tetesan keringat yang menambah kesan seksi mungkin.
“Kenapa Dek, Mas mau mandi nih?” Tanya Jonathan tanpa raut wajah bersalah.
Lagipula dia suka sekali melihat ekspresi lucu istrinya, dengan pipi menggembung yang merona dan bibir yang mengerucut kecil.
“Iya iya, ni Mas tutupin pakai anduk, lagian kamu looo, kita kan sudah saling melihat satu sama lain, bahkan tidak ada satu inci pun tubuhmu yang terlewat dari pandanganku, namun kau masih malu saja.” Kekehnya geli.
“Sudah ya Mas mau mandi dulu, Adek mau ikut juga.”
“Enggak, Ayana mau tunggu di sini saja.” Balasnya.
Jonathan kemudian masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara air yang mengalir.
Sementara Ayana kini duduk di sisi ranjang sambil sesekali melihat ke arah pintu kamar mandi menantikan kemunculan Jonathan. Ia sebenarnya masih marah tapi kenapa saat melihat wajah suaminya, kemarahannya menjadi mereda.
“Nak, kamu nggak mau lama-lama marah ya sama Ayah.”
Ucapnya pada perut buncitnya.
Ayana merutuk bisa-bisanya dia menggunakan babynya sebagai kambing hitam, tapi kan dia malu kalau harus mengaku secara gamblang.
“Ngelamunin apa?”
Suara Jonathan mengagetkan Ayana,
‘Cepat sekali mandinya.” Pikirnya.
“Nggak ada apa-apa Mas.”
__ADS_1
Ayana menolehkan kepalanya ke arah suaminya namun ia cepat-cepat menutup matanya karena ternyata Jonathan hanya menggunakan boxer saja. Tangannya memegang handuk yang digosokkan ke kepalanya yang sedang basah. Terlihat seperti iklan K-Men.
“Kenapa?” selidik Jonathan dengan sebelah alis terangkat ketika melihat Ayana malah menutup mata. Kemudian ia menyadari kalau istrinya itu malu melihatnya dengan keadaan seperti ini.
Laki-laki itu jadi tertarik untuk menggoda istrinya.
“Dek bantuin mas buat ngeringin rambut.”
Ia menyodorkan handuknya kea rah Ayana.
“Hah, kan Mas bisa sendiri.” Elak Ayana.
Kalau dia membantu Jonathan posisi mereka bisa berdekatan dan itu akan semakin membuat dia agak canggung mungkin.
“Mas lagi pengen nih, kayaknya Mas ngidam gara-gara baby kita deh.”
Oke Jonathan sebenarnya hanya mencari alasan.
“Maafkan Papa ya nak, terpaksa menggunakan kamu.” Batinnya.
Tanpa mereka sadari kedua pasangan itu suka sekali menggunakan anak mereka yang masih dalam kandungan sebagai kambing hitam.
“Oke baiklah Mas sini, Mas nggak ada hairdriyer kah biar bisa lebih cepat?” Tanya Ayana matanya menelusuri seluruh kamar namun sayangnya Nihil.
“Mas mana ada benda seperti itu Dek, sudah pakai handuk saja biar praktis.”
“Ya sudah sini Mas."
Ayana akhirnya mau menerima handuk itu dan mengisyaratkan suaminya untuk duduk di sampingnya. Ia kemudian mulai menggosok rambut itu sambil sesekali menekannya agar airnya terserap.
"Mas, memang dari sananya berambut coklat ya?" Tanyanya tiba-tiba penasaran dengan warna rambut Jonathan.
"Iya dek, dapat dari Papa Lucas, kenapa kamu ingin anak kita punya rambut sepertiku ya?"
Dengan cepat Jonathan membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Istrinya.
Ayana yang masih fokus mengeringkan rambut Jonathan kemudian menjawab.
"Iya Mas, soalnya kalau lucu hehe, tapi Ayana nggak mau ya nanti anak kita nakal seperti Mas Nathan waktu kecil."
Mendengar hal itu membuat Jonathan jadi keki, sebenarnya Mamanya sudah bercerita apa saja kepada istrinya itu. Kenapa kenakalan masa kecilnya ikut diceritakan. Dia jadi malu sendiri. Berkurang sudah poinnya menjadi suami sempurna di mata Ayana.
Tapi bukankah semua orang pernah nakal saat kecil, tapi sepertinya belum ada yang senakal dirinya.
Yang suka menaruh katak di sepatu orang lain termasuk sepatu pasangan takdirnya ini.
****
__ADS_1