After Tomorrow

After Tomorrow
Curiga


__ADS_3

Ayana POV


Kediaman Mas Nathan membuatku kesal. Sampai pagi ini, dia tidak mencoba menjelaskan siapa Clarisa itu. Aku jadi curiga, jangan-jangan dia adalah masa lalu suamiku yang masih belum bisa dia lupakan.Karena jujur saya sebenarnya aku memang belum terlalu mengenal suamiku. Ada berapa banyak rahasia yang dia sembunyikan dariku. Sepertinya aku harus lebih banyak mencari tahu siapa Mas Jonathan sebenarnya. Mungkin ke rumah mertua adalah pilihan yang tepat. Kalau senggang aku ingin ke rumah Mama Grace.


"Ay, tahu dasi Mas ada di mana?" 


Teriak Mas Nathan dari dalam kamar. Mas Nathan sekarang sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja. 


Sementara aku yang sedang berada di dapur  untuk menyiapkan sarapan, mendengus sebal mendengarkan teriakannya. 


Seingatku tadi aku sudah menyiapkan pakaian di atas tempat tidur. Memang minus dasi, karena Mas Nathan sangat jarang menggunakan dasi, katanya terlalu formal. Dan di kantor kami, dasi hanya digunakan oleh Supervisor. 


"Ada di lemari bawah Mas." Teriakku. 


Nasi goreng yang kubuat belum selesai, jadi tanggung jika harus menuju kamar. Lagipula semua pakaian sudah kususun dengan rapi sesuatu jenisnya. Jadi akan sangat mudah untuk mengambilnya. Celana aku letakkan dengan celana, lalu kaos dengan kaos. Sementara kemeja aku memilih menggantungnya. Kemudian kesemuanya aku susun berdasarkan warna dan corak dari paling gelap ke terang. 


"Nggak ada Ay." Balasnya frustrasi. 


Dasar, Mas Nathan. Ia pasti tidak benar-benar mencari. Jelas-jelas aku menaruhnya di lemari bagian bawah. Terpaksa aku mematikan kompor dan meninggalkan nasi goreng yang belum matang. 


Dengan perlahan aku menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar kami berada. Di sana aku melihat Mas Nathan yang duduk dengan raut wajah frustasi. Mas Nathan memang sangat payah dalam mencari barang. Semoga kebiasaannya yang satu ini bisa berubah. 


Astaga. 



Aku menggeleng pelan, lalu menuju lemari kami yang terletak di sudut ruangan. Mataku mengamati satu persatu benda yang ada di sana. Akhirnya aku menemukan apa yang dia cari. 


"Ini apa Mas, kalau bukan dasi." Tunjukku padanya. 


Mas Nathan hanya menyengir tanpa raut wajah bersalah. 


"Beneran Ay, tadi aku sudah mencarinya, tapi nggak ketemu, aku yakin sekali tadi nggak ada tapi kenapa bisa tiba-tiba ketemu ya."


"Makannya Mas, cari dengan benar jangan asal teriak." kesalku. 


Mas Nathan yang tahu aku marah langsung mendekat ke arahku. 


"Maaf Ay, tapi beneran tadi aku cari nggak ketemu, kamu jadi persis mamaku kalau nyari barang pasti ketemu."


Sering orang bilang kalau seorang ibu pasti akan langsung menemukan barang yang hilang. Sebenarnya bukan karena cenayang, tapi karena semua ibu hapal kebiasaan keluarga mereka dalam menaruh barang. 


Dia mencoba memelukku, tapi aku menolaknya karena masih kesal. 


"Dasar, sudah ya Mas, Ay mau balik ke dapur dulu, sarapannya belum siap soalnya." 


"Jangan, pasangkan ini dulu." Pintanya kepadaku, sembari menyerahkan dasinya kepadaku. Wajahnya memohon dengan ekspresi lucu, dan aku tak kuasa menolaknya 


"Manja benar, Ayah ini." Gurauku dengan suara anak kecil. 


"Hehe, kan kamu tahu sendiri Mas tidak bisa memakai dasi." elaknya sembari tertawa kecil. 


Mau tak mau aku murutinya. Lagipula memasangkan dasi untuk suami masuk dalam salah satu whislist saat aku menikah, tapi kadangkala aku kerepotan juga karena harus membantu menyiapkan sarapan. 


Karena tinggiku yang tak setinggi dirinya. Aku meminta mas sedikit menundukkan kepalanya. Dengan telaten aku memasang dasi di lehernya. Beruntung dulu waktu sekolah aku belajar memakai dasi dari temanku. Tentu kalian saat SMA diwajibkan memakai dasi bukan waktu sekolah. Dan saat itulah keahlian itu aku dapat. 


"Nah, sudah selesai, Ayana lanjut ke dapur dulu ya Mas."


Mas Nathan mengangguk, dia mencuri kecupan kecil di bibirku. . 


"Mas ihh." gerutuku. 


"Habis bibir manyunmu ini membuat Mas gemas Ay, kalau nggak ingat hari ini kerja. Lebih baik menghabiskan waktu denganmu di kamar saja. 


Aku tidak membalas ucapannya dan memilih kembali ke dapur untuk melanjutkan masakanku. Saat selesai menghidangkan makanan di atas meja, Mas Nathan sudah turun dari lantai dua. 


Dia kemudian duduk dan mulai menyantap makanannya. 


"Kamu nggak makan Ay?" Tanyanya karena melihatku tak makan. 


"Belum lapar Mas." Jawabku. 


Pagi ini, memang selera makanku menghilang apalagi kalau mengingat si Clarissa itu, semakin membuat mood-ku bertambah jelek saja. Lagipula kenapa sih Mas Nathan tidak mau menjawab pertanyaanku.


"Jangan gitu Ay, nanti kasihan adik bayi jadi kelaparan, kan kamu makan buat dua orang. Sini Mas Nathan suapi."


Dia mulai menyendokkan makanannya ke arahku, dan aku mau tak mau menerimanya. 

__ADS_1


"Gimana enak kan?" Tanyanya. 


Aku hanya mengangguk menanggapinya. 


Mas Nathan ini lucu, jelas-jelas aku yang memasaknya jadi tentu saja enak, begitulah menurutku. Karena selama ini Mas Nathan pun tidak pernah protes terhadap masakanku. 


"Lagi?" 


Mas Nathan bertanya saat aku selesai menelan suapan pertama. 


"Sudah Mas, eneg." Akuku padanya. 


Sepertinya Perutku memang belum bisa diajak kompromi untuk makan. Kalau dipaksakan aku takut malah memuntahkannya. 


"Lagi ya, nanti kamu lemes, mana kamu baru makan satu suap gitu." Bujuknya padaku. 


Mas Nathan terlihat sangat perhatian padaku, aku jadi sangsi dia masih mengingat tentang Clarissa itu. 


"Atau kamu makan buah saja gimana, mas kupasin?" Tawarnya karena tak kunjung mendapat balasan dariku. 


"Boleh, tapi buah apel saja ya Mas."


Mas Nathan meletakkan sendoknya lalu membuka kulkas dan mengambil buah apel. Ia kemudian mencucinya sebelum mengupasnya. Setelah itu dipotong-potong dan diletakkan di piring kecil.


"Ini Ay, dimakan ya, mau disuapin atau makan sendiri?" 


Sebenarnya aku ingin disuapi tapi Mas Nathan belum menghabiskan sarapan ya jadi aku memilih makan sendiri saja. 


"Makan sendiri aja Mas." Jawabku. 


Mas Nathan meletakkan piring yang berisi apel di depanku, kemudian dia melanjutkan makannya yang tertunda. 


Aku mulai mengambil irisan apel dan memakannya. Rasa apel ini sangat manis hingga membuatku tak berhenti makan sampai tak sadar yang berada di piring sudah habis. 


"Mau lagi?" 


Mas Nathan bertanya saat melihat apel dalam piringku habis tak bersisa. 


"Sudah cukup Mas, tapi nanti kalau pulang beliin apel ini lagi ya, rasanya enak."


"Iya apel yang kamu makan itu jenisnya apel Fuji dek, jadi rasanya sangat manis berbeda dengan buah Apel biasanya."


"Ayana baru tahu, hehe."


"Sudah jam 7, Mas berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa telpon ya."


Mas Nathan melihat jam di tangannya kemudian membawa tas kerjanya. 


"Iya Mas, Ayana antar sampai depan ya."


"Nggak usah, nanti kamu mesti ambil kerudung di kamar."


Cup


Dia memberikan kecupan di keningku, aku meraih tangannya untuk menciumnya. 


"Hi Babyboy, jaga Bunda di rumah ya, jangan nakal ya, buah Bunda nyaman, Ayah berangkat kerja dulu."


Aku tertawa kecil setiap dia berkata kalau anak di dalam kandunganku adalah laki-laki. Asal dia senang saja. 


Mas Nathan kemudian memberikan kecupan di perutku dan mengelusnya pelan. 


Dia tersenyum lembut ke arahku kemudian keluar rumah. 


Aku melihat Mas Nathan berangkat hingga hilang dari pandanganku. Saat suara mobil terdengar kemudian menjauh aku tahu kalau Mas Nathan sudah berangkat. 


Sekarang tinggal aku di rumah ini sendirian. Bosan tidak ada kegiatan yang kulakukan, padahal biasanya jam segini aku sudah duduk di kubikle lalu mengadministrasi surat masuk. Kadangkala ke tempat Isna untuk sekadar bercerita. Ngomong-ngomong tentang Isna aku sudah lama tidak berchat ria dengannya. 


Akhirnya aku mengirim pesan untuknya


Ayana


Isna apa kabar? 


Aku langsung melihat tulisan Isna Mengetik, ternyata dia masih fast respon juga. 


Isna

__ADS_1


Masih ingat aku, Yana, 🙄


Dasar Isna, semenjak menikah, aku memang jarang mengirim pesan padanya. Waktuku lebih banyak terforsir untuk Mas Nathan. 


Ayana


Maaf-maaf sis😂


Isna


Gimana Jonathan sis, dia dingin nggak sama kamu, atau malah Hot ya di ranjang.


Asem, ngapain Isna malah bahas hal itu sih. 


Ayana


Rahasia dong, dia baik kok, perhatian sama aku, nggak dingin emang dia sama kamu masih jutek ya. 


Aku memang tahu Mas Nathan memang jutek ke orang lain. Dulu saja dia juga seperti itu ke aku. Tapi setelah menikah, sifat itu berubah 180 derajat. 


Isna


Masih, kamu nggak tahu aja, dia itu juteknya minta ampun, apalagi kalau sama ibu-ibu lantai dua, seramnya minta ampun.


Aku tertawa membaca balasan darinya, Mas Nathan masih saja cuek bebek kepada mereka. Padahal aku sudah memaafkannya. Walaupun karena perbuatan mereka aku hampir kehilangan anak kami. Namun memaafkan jauh lebih indah bukan daripada menyimpan dendam. 


Isna


Berarti kalau nggak dingin, dia Hot banget dong ya. Secara punggungnya itu lebar banget bisa buat bersandar, Jonathan ada sepupu atau saudara nggak sih. Bolehlah aku dikenalin.


Isna mengirim balasan lagi


Ayana


Pacar kamu mau dikemanain?


Seingatku Isna masih punya pacar yang LDR itu, 


Isna mengetik cukup lama


Isna


Jangan bahas dia lagi, capek hati ini. 


Ayana, sudah dulu ya, aku mau persiapan buat nyambut STAFF baru di divisi auditor. Kita sambung nanti


Ayana


Siapa sis namanya? 


Tidak ada balasan dari Ayana. 


Sekarang aku ngapain lagi ya, bosen. Sepertinya aku harus mencari kegiatan lain untuk kehilangan kejenuhanku. Cucian dan Setrikaan sudah ada Laundry. Mas Nathan melarangku untuk bekerja yang berat-berat. Dia hanya mengizinkanku memasak saja. Sementara kalau memasak, waktunya terlalu awal untuk memulai. 


Ting


Pesan masuk di gawaiku, dan ternyata dari Mas Nathan yang mengabari dia sudah sampai di kantor. Aku membalasnya dengan emoticon lucu saja. 


Akhirnya aku memutuskan untuk berselancar di dunia maya saja. Mencari informasi apa yang terjadi hari ini. Mas Nathan sebenarnya sudah melarangku untuk memakai media sosial karena tidak mau aku terkontaminasi hal buruk. Tapi kan aku sudah dewasa jadi sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. 


Jari-jariku menggeser ke tampilan pakaian yang terlihat lucu setidaknya menurutku. Pakaian muslim dengan model hanbok korea, bisa digunakan untuk ibu hamil juga. Jadi pakaian hamil nggak melulu tentang daster bisa trendi dan tak ketinggalan jaman. Jadi pengen beli satu, nanti tinggal minta izin Mas Nathan untuk membelinya. 


Saat asyik berselancar sebuah pesan dari Isna Masuk. 


Ting


Isna


Namanya Clarissa


Deg 


Seperti ada sesuatu yang tak kasat mata meremas jantungku. Ada berapa banyak nama Clarissa di dunia ini. Dan semoga Clarissa yang dimaksud bukan Clarissa yang itu.



__ADS_1


__ADS_2