After Tomorrow

After Tomorrow
Salah Paham


__ADS_3

Karena dalam sebuah hubungan butuh komunikasi


Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.


Kata-kata Jonathan kini terngiang-ngiang di kepala Ayana.


Harusnya dia menjelaskan semuanya dari awal, sehingga suaminya tidak salah paham begini.


"Mas Nathan, tunggu."


Tapi Jonathan tidak menggubris ucapannya.


Ya Allah, suaminya tidak pernah marah seperti ini. Dia selalu bersikap lembut padanya.


Perlahan air mata mengalir deras di pipinya.


"Puas kamu Ali." Bentak Ayana pada laki-laki yang sedari tadi tidak beranjak dari tempat berdirinya.


"Aku akan lakukan apa pun asal kamu mau kembali kepadaku, kalau perlu. aku akan menceraikan Raina."


Ayana beristighfar dalam hati, kenapa Ali menjadi berubah seperti ini.


"Ali, kita sudah selesai, kamu suami orang, dan aku juga sudah memiliki suami. Dan kalaupun kita sama-sama single aku tetap tidak akan memilihmu. Aku tidak butuh laki-laki pengecut sepertimu."


Perkataan itu menyentak Ali.


"Kamu tidak takut akan murka Allah, sadar Ali, kalau yang kamu lakukan salah. Dulu kamu bukan orang yang seperti ini."


"Semua ini karena kamu tidak mau kembali kepadaku."


Ayana terdiam sejenak.


"Kamu pikir siapa yang telah memulai semua ini. Kamu Ali, kamu yang dengan seenaknya membatalkan pernikahan kita. Apa kamu pikir waktu itu aku tidak sedih, aku hancur ali. Kamu mematahkan kepercayaanku. Dan


sekarang kamu dengan seenaknya kembali kepadaku. Ingatlah Riani, jangan sampai kamu menyesal telah melepaskannya."


Ali terpaku sejenak, ya semua ini memang salahnya. Andai dia tidak bertindak gegabah saat itu. Mungkin saat ini dia sudah bahagia bersama wanita yang dicintainya.


"Dinginkan kepalamu Ali, aku tekankan sekali lagi, keputusanku tidak akan pernah berubah. Aku mencintai suamiku, dan aku harap kamu tidak mrngusikku lagi."

__ADS_1


Ayana lalu melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu.


****


"Udah Ay, jangan nangis terus." Hibur Isna.


Sekarang mereka sedang berada di Mushola. Ayana menceritakan kejadian tadi kepada Isna.


Flashback On


Pagi ini Pak Refian memberikan tugas kepada Ayana untuk mencari berkas yang menjadi temuan BPK.


Dan sialnya lagi, berkasnya tahun lama, sudah sepuluh tahun yang lalu. Saat itu tentu saja belum ada digutalisasi dokumen. Jadi mau tak mau dia harus mencarinya di gudang.


Tanpa dia sadari ada seseorang yang mengikutinya.


"Mana ya berkasnya, tahun 2012 itu dimana?"


"Aku saja belum ada di sini."


Ayana terus mencari-cari di penyimpanan gudang.


Sebuah suara mengagetkannya.


Ayana tersentak kaget saat melihat orang itu.


"Kamu ngapain disini?" tanya Ayana waspada, apalagi mereka hanya berdua di gudang ini.


"Tentu saja, untuk membuatmu kembali kepadaku."


"Pergi Ali, aku tidak mau."


Ali tidak peduli dia terus mendekat ke Ayana, jika dilihat dari pintu merka tampak seperti orang berpelukan.


Sementara di sisi lain.


"Anggit, kamu lihat istriku?" Tanya Jonathan, dia ingin mengajaknya makan siang di luar.


"Emm, tadi sih dia buru-buru ke gudang, katanya mau cari berkas."

__ADS_1


"Okey, makasih."


Jonathan berlalu pergi, saat ke gudang dia samar-samar mendengar suara istrinya berbicara dengan orang lain jadi siapa.


Dia lalu membuka gudang yang untungnya tidak dikunci.


Tapi seketika matanya terbelalak saat melihat adegan di depannya, istrinya sedang berduaan dengan laki-laki lain dan itu adalah Ali.


Ayana yang melihat Jonathan berusaha mengejarnya, tapi Jonathan yang terlanjur marah langsung bergegas pergi.


Flashback Off


"Kamu sudah menjelaskan semuanya ke suamimu?" Tanya Isna.


"Bagaimana aku bisa menjelaskan, kalau dia langsung pergi begitu saja, hikss hikss hikss." Jelasnya.


"Coba bilang baik-baik lagi." Sarannya kepada sahabatnya.


"Pesanku aja nggak dibalas, kata Anggit dia udah pulang ke rumah."


Ayana malah semakin menangis.


Isna menghela napas, sahabatnya memang sangat mudah menangis. Nah setelah itu dia pasti akan mengantuk.


"Aku harus gimana?" Tanya Ayana lagi.


"Lebih baik kamu izin pulang. Lagipula kamu juga sudah tidak fokus lagi kalau bekerja."


Ayana menghetikan tangisannya sejenak.


"Soal izin itu urusan nanti, ada hal yang lebih penting daripada pekerjaan. Mau ya pulang aku pesenin aplikasi Go Pek ya?"


"Iya, makasih ya Isna." Ucapnya di sela-sela tangisannya.


Ayana sedikit lega, setidaknya ada sahabatnya yang bisa mengurangi keresahan hatinya.


Bukankah seperti itu sifat seorang sahabat


Selalu ada baik suka dan duka

__ADS_1


****


__ADS_2