After Tomorrow

After Tomorrow
Cerita


__ADS_3

Kalau ada masalah jangan pernah kamu pendam sendiri


Ada saatnya kita harus bercerita kepada orang lain


Tak perlu banyak orang, cukup satu saja tempatmu bercerita


-Ayana-


****


“Airi.”


Ayana kaget saat mendapati Airi ada di depan pintu rumahnya. Ditambah dengan raut wajah yang sembab. Dia tampak sangat kacau. Tidak biasanya gadis ceria itu menampilkan keadaan seperti ini.


“Kak Ayana.” Gadis itu langsung memeluk Ayana dengan erat.


“Kamu kenapa?”


Ayana bingung mau melakukan apa.


Sementara Airi tidak menjawabnya, dia malah menangis dengan deras.


“Sudah, jangan menangis, sekarang kamu masuk dulu.”


Ayana menuntun gadis itu untuk duduk di sofa ruang tamu.


“Kakak ambilkan minum dulu oke.”


Airi masih tergugu dan tidak membalasnya.


Ayana menghela napas, dia bergegas mengambilkan minuman untuk gadis itu. Airi sangat suka sekali dengan lemon tea, semoga dengan meminum ini, moodnya bisa menjadi lebih baik.


Di ruang tamu, sesekali isakan terdengar dari gadis itu. Entah apa yang terjadi kepadanya, tentunya sesuatu yang sangat berat. Bukankah orang yang selalu ceria di laur pasti memendam kesedihan yang paling mendalam. Dan jika orang itu sampai menangis, maka masalah yang dihadapinya bukanlah hal yang sepele


“Minumlah Ri.” Ayana menyodorkan gelas itu di hadapan gadis itu.


Airi memandang ragu namun kemudian meminumnya, kemudian hening di antara mereka.


“Berceritalah saat kamu siap.”


Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, dalam benaknya dia melarang dirinya untuk bercerita pada orang lain. Bahkan sekarang dia menyesali kenapa menunjukkan sisi rapuhnya kepada Ayana.


“Kau jangan takut, kalau ada masalah jangan pernah kamu pendam sendiri. Ada saatnya kita harus bercerita kepada orang lain. Tak perlu banyak orang, cukup satu saja. Dan kakak harap kamu bisa percaya dengan kakak untuk menceritakan semuanya. Walau bagaimana pun kamu sudah kakak anggap sebagai adik kandung kakak.” Jelas Ayana berharap gadis itu bisa sedikit merobohkan benteng dalam dirinya.


“Akuu . . . . .” Air matanya kembali mengalir.


“Tenang Ri.” Tangan Ayana mengenggam tangan gadis it mencoba


menenangkan


“Airi bingung mau cerita dari mana?” ujarnya dengan menahan


tangis.


“kamu bisa mulai dari mana saja, kakak siap mendengarkan.”

__ADS_1


Airi memandang dengan haru, dia meminum lagi lemontea-nya.


Ayana tersenyum kecil, sepertinya adiknya yang satu ini akan mulai untuk bercerita.


“Ayahku kak, dia datang ke sini dan mengancamku. Ayah memintaku untuk melunasi semua hutangnya. Kalau tidak, dia akan terus menerorku dan mengancam untuk bunuh diri di depanku. Aku takut Kak, hikss hikss Aku bahkan tidak berani untuk pulang ke kosan. Ayahku tadi mengirim pesan kepadaku. Bahwa dia menunggu di depan kosanku, aku harus gimana kak?” Dia mulai menangis lagi.


Ayana tersentak dengan apa yang dialami oleh gadis di hadapannya, dia baru 21 tahun dah harus mengalami cobaan hidup yang seperti ini.


“Kalau boleh tahu berapa hutang Ayahmu?” Tanya Ayana


hati-hati.


“Sangat banyak kak, aku bahkan tidak berani membayangkan angkanya.” Jawabnya


“Padahal, dari kecil, Ayah tidak pernah menafkahi kami. Hanya ibuku yang bekerja membanting tulang, bahkan aku mati-matian mencari beasiswa saat kuliah untuk meringankan beban ibu. Dan saat aku bekerja Ayah malah seenaknya berhutang, dan aku pun tidak tahu hutang itu untuk apa, tapi aku yang disuruh melunasinya. Kakak tahu sendiri, aku masih pegawai magang. Mana bisa punya uang sebesar itu.”


“Airi sepertinya tidak mau menyebutkan nominalnya.” Batin Ayana.


“Kamu yang sabar Airi, kalau kamu mau Kakak bisa minta bantuan kak Jonathan untuk melunasi hutang Ayahmu.”


“Nggak kak, aku nggak mau merepotkan kakak, Ayahku tidak akan pernah jera dengan apa yang dilakukannya, kejadian ini nggak hanya sekali namun berkali-kali.” Sahutnya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Lalu apa yang kamu lakukan?” Tanya Ayana, dia sangat paham bahwa gadis di depannya adalah orang yang mandiri yang tidak mau merepotkan orang lain.


“Aku nggak tahu kak, hiksss hikkssss, tapi setidaknya aku lega karena sudah bercerita, terima kasih kak.”


“Sama-sama,emmmmm bagaimana kalau kamu menginap di sini saja, mengingat Ayahmu tahu dimana tempat kosmu.” Ayana mencoba memberikan bantuan lagi


“Nggak usah kak, nggak enak sama Bang Jo.”


“Lalu kamu maunya gimana.” Tanya Ayana bingung.


“Setidaknya Ayahku tidak tahu di mana kantor kita, jadi sementara aku akan menunggu di sana.”


Ayana sedikit lega karena Ayah Airi tidak mengetahui di mana gadis itu bekerja, bisa-bisa lelaki paruh baya itu membuat keributan di kantir auditor.


“Kamu yakin Airi?”


“Iya kak, aku sungguh tidak enak merepotkan kakak, apalagi kakak sedang hamil.”


“Gimana kabar dedek bayi?” Tanya Airi dengan senyuman kecil, kini matanya fokus ke perut Ayana yang mulai terlihat  besar.


“Alhamdulillah sehat, lagi kangen sama Ontinya lama nggak main ke sini.” Ayana mencoba tersenyum, jangan sampai dia menunjukkan raut sedihnya takut AIri menjadi semakin sedih.


“habisnya kerjaan kantor banyak sekali, aku pusing di tambah sama Alvaro setan, dia suka ganggu aku.” Ujarnya frustasi.


Perempuan hamil itu tersenyum, setidaknya Airi bisa sedikit melupakan kesedihannya. Dia terkekeh kecil saat membayangkan Airi dan klien yang tak pernah akur.


“Hahahaha, semangat ya, ini baru awal, minta sama Pak Yos untuk menambah staff baru, kalau soal Mr. Alvaro mungkin nanti aku bisa minta bantuan Mas Nathan untuk membantumu.”


“Beneran ya kak, habisnya aku sebel banget sama dia, dan lagi di mana pun aku berada masak dia ada di dekatku. Airi curiga dia sengaja memata-mataiku.” Keluhnya.


“Nggak boleh berburuk sangka seperti itu, Jakarta itu sempit mungkin kebetulan kalian mempunyai keperluan di tempat yang sama.”


“Tidak ada yang namanya kebetulan kak, aku sudah lebih dari tiga kali berpapasan dengan dia di luar kantor.”

__ADS_1


“Aneh.” Batin Ayana, tapi dia tidak ingin memikirkan lebih jauh akan hal itu,


“Ya mungkin hanya kebetulan.” Lanjutnya dalam hati.


“Oh ya sudah jam makan siang nih, kamu mau makan nggak? Pasti laper karena habis nangis, kebetulan kakak masak masakan yang paling kamu sukai nih.”


“Wahhh apa kak, jadi penasaran jangan jangan. . . . “ Matanya kini berbinar-binar


“Ayo tebak apa?”


“Bebek goreng ya?” tebak Ayana tepat.


“Ya benar, ayo ke ruang makan.”


Airi mengikuti perempuan hamil itu ke ruang makan. Di meja sudah tertata nasi, sayur asam, tahu, tempe, dan tak lupa sambal. Gadis itu tak sabar untuk mencicipinya.


“Wahhh, Kakak yang masak semua ini?”


“Iya, kalau bukan kakak siapa coba.”


“Keren kak, emmm kak, ini sambal apa?”


Airi bertanya sembari menunjuk kea rah piring sambal.


“Sambal terasi, kakak nggak bisa makan pedas begitu pula dengan Mas Nathan, kamu nggak suka ya?” Tanyanya saat melihat raut wajah kecewa Airi.


“Suka kok, tapi lebih suka sambal korek.” Aku gadis itu.


“Kamu bisa buatnya nggak?”


“Bisa, kenapa kak? TAnyanya bingung.


“Ya sudah kamu buat sendiri ya, bahannya ada di dapur.”


“Beneran nih kak?”


Ayana menganggukan kepalanya, dia lalu memberi tahu dimana letak bumbu dapur. Gadis itu dengan semangat menuju tempat yang di tunjuk oleh seniornya.


Pertama-tama dia mengambil cabai rawit, kemudian bawang putih. Dia menguleknya di lemper, setelah halus ditambahkan garam dan sedikit penyedap rasa dan terakhir disiram dengan minyak panas.


“Taraaaa, this is it, Sambal Korek ala Airi Palipur Lara.”


Ayana melihatnya dengan tatapan berbinar, sambal itu meskipun sederhana tapi terlihat menggugah selera.


“Sepertinya enak, kakak boleh kan icip sedikit.”


AIri mau menjawab boleh, namun saat mau mengatakannya ada suara menginterupsi mereka.


“TIDAK BOLEH.”


Airi menolehkan kepalanya ke sumber suara, dan dia membelalak kaget saat melihat sosok itu berdiri di sana.


******


__ADS_1


__ADS_2