
Jonathan POV
Pertanyaan Ayana membuatku tertegun untuk menjawab apa. Karena hubungan denganku dengannya hanya sebatas teman tidak lebih, rasanya hal itu tidak perlu aku jelaskan padanya. Walaupun dulu aku sempat merasakan kagum kepadanya. Setidaknya hal itu yang aku pahami sekarang.
Pagi ini seperti biasa, Ayana menyiapkan pakaian untukku. Hanya saja hari ini, aku sangat ingin dipakaikan dasi oleh istriku.
Istriku
Menyebut Ayana sebagai istri kadang membuat hatiku berdebar tak karuan. Meskipun di awal-awal kami selalu terlibat pertengkaran, tapi tampaknya Tuhan begitu baik karena mempersatukan kami.
"Ay, tahu dari Mas dimana?"
Aku berteriak, karena saat ini berada di lantai dua, dan Ayana tentu saja berada di bawah sedang memasak.
"Ada di lemari bawah Mas." Kudengar sahutannya dari arah dapur.
Aku kemudian membuka lemari pakaian kami yang terlihat sangat rapi dan tersusun. Ayana bahkan menatanya sesuai urutan warna dan corak. Benar-benar sangat luar biasa. Pantas saja dulu aku selalu melihat meja kerjanya yang begitu rapi, semua peralatan ATK tersusun sesuai tempatnya dan dinamai pula. Aku jadi ingat, dulu seringkali aku meminjam ATKnya padahal jelas-jelas ada semua alat tulis kantor tersimpan di lemari divisi. Hanya saja melihat wajahnya yang cemberut karena tidak ikhlas meminjami ATK miliknya membuatku gemas. Aku juga sering tidak mengembalikan apa yang kupinjam darinya, karena memakai barang milik memberikan rasa senang tersendiri dalam hatiku.
Kembali ke lemari ini, aku sudah mencoba mencarinya dengan teliti tidak ketemu.
"Nggak ada Ay." Laporku padanya kemudian aku duduk di ranjang menunggunya.
Kudengar pintu terbuka, Ayana masuk ke dalam kamar. Dia terlihat sedikit terengah-engah, karena habis menaiki tangga. Sepertinya aku harus memindah kamar kami ke bawah, agar dia tidak kelelahan.
Ia menuju lemari kami yang terletak di sudut ruangan. Matanya mengamati satu persatu benda yang ada di sana.
"Ini apa Mas, kalau bukan dasi." Tangannya memperlihatkan sebuah dasi.
Aku hanya menyengir tanpa raut wajah bersalah.
"Beneran Ay, tadi aku sudah mencarinya, tapi nggak ketemu, aku yakin sekali tadi nggak ada tapi kenapa bisa tiba-tiba ketemu ya."
Padahal tadi aku benar-benar mencarinya dengan sangat teliti, lagipula aku seorang auditor ketelitian tidak perlu dipertanyakan lagi. Banyak laporan perusahaan yang berhasil aku audit dengan sangat tepat sesuai dengan aturan yang berlaku.
"Makannya Mas, cari dengan benar jangan asal teriak."
Ayana sepertinya kesal karena ulahku, wajar memang dia masih harus menyiapkan sarapan untukku dengan perut hamil, apa aku minta Bik Nah bantu disini saja? Begitu pikirkan. Bik Nah adalah salah satu pembantu di tempat ibuku. Dia yang sudah mengasuhku sejak kecil.
Aku mendekat ke arahnya untuk meredakan amarahnya
"Maaf Ay, tapi beneran tadi aku cari nggak ketemu, kamu jadi persis mamaku kalau nyari barang pasti ketemu." Elakku berharap dia tak marah, namun nampaknya sia-sia. Wajah Ayana terlihat cemberut.
Aku mencoba memelukku, tapi Ayana menolaknya karena masih kesal.
"Dasar, sudah ya Mas, Ay mau balik ke dapur dulu, sarapannya belum siap soalnya." Ia berpamitan ke dapur, aku langsung mencegahnya
__ADS_1
"Jangan, pasangkan ini dulu." Pintaku sembari menyerahkan dasi kepada Ayana. Aku memberikan isyarat kepadanya untuk memasangkan dasi di kerah bajuku tak lupa dengan mata puppy eyesku.
"Manja benar, Ayah ini." Gurau ya dengan suara anak kecil.
Yess, Ayana sudah tidak kesal lagi.
"Hehe, kan kamu tahu sendiri Mas tidak bisa memakai dasi." Elakku sembari tertawa kecil.
Ayana pasti mau memenuhi permintaanku apalagi di buku yang dia tinggalkan, dia jelas-jelas ingin memasangkan dasi kepada suaminya. Dan suami yang beruntung itu adalah aku. Tinggi Ayana hanya sebatas bahuku, jadi dari sini aku bisa melihat hitung kecilnya dan bibir kecilnya yang merekah seolah minta untuk dicium. Mata teduhnya selalu berhasil menenangkanku.
"Nah, sudah selesai, Ayana lanjut ke dapur dulu ya Mas."
Suaranya membuyarkan lamunanku, aku bahkan tak sadar dia sudah selesai memasang dasi. Kupandangi wajahnya yang tak akan pernah bosan kulihat. Bibirnya seolah memanggil-manggil untuk dicium.
Kuanggukkan kepalaku, lau dengan cepat aku mencuri kecupan kecil di bibirnya.
"Mas ihh." gerutunya.
"Habis bibir manyunmu ini membuat Mas gemas Ay, kalau nggak ingat hari ini kerja. Lebih baik menghabiskan waktu denganmu di kamar saja."
Ayana hanya diam tanpa membalas ucapanku, dia lalu berbalik arah untuk kembali ke dapur. Aku pun tidak mencegahnya, karena masih harus bersiap-siap.
Saat turun dari tangga kulihat Ayana yang duduk di meja makan dengan sarapan yang sudah tersedia di atas meja. Kali ini dia memasak nasi goreng kesukaanku dengan teri di atasnya.
Pasti sangat enak,
"Kamu nggak makan Ay?"
"Belum lapar Mas." Jawabnya sedikit enggan.
Apa dia mengalami morning sickness jadi tidak berselera makan, kasihan kalau perutnya kosong nanti Ayana bisa sakit lagi. Jadi aku berusaha membujuknya untuk makan.
"Jangan gitu Ay, nanti kasihan adik bayi jadi kelaparan, kan kamu makan buat dua orang. Sini Mas Nathan suapi."
Aku mulai menyendokkan makanan ke arahnya, dan aku mau tak mau, akhirnya Ayana menerimanya.
"Gimana enak kan?" Tanyanya.
Ayana mengangguk.
Sebenarnya pertanyaanku sangat amat konyol, jelas-jelas masakan ini enak karena tentu Ayana yang memasaknya. Namun bukankah wanita hamil kadang tidak bisa merasakan rasa enak dari makanan.
"Lagi?"
Aku menawarinya saat melihat suapan tadi sudah ditelannya
__ADS_1
"Sudah Mas, eneg," tolaknya.
"Lagi ya, nanti kamu lemes, mana kamu baru makan satu suap gitu," bujuknya padaku.
"Atau kamu makan buah saja gimana, Mas kupasin?"
Kucoba tawarkan opsi lain agar dia mau makan.
"Boleh, tapi buah apel saja ya Mas."
Aku bisa bernapas lega karena dia akhirnya mau.
Kuletakkan sendok lalu membuka kulkas dan mengambil buah apel. Kukuci sebelum mengupasnya, harus sebersih mungkin karena aku tak ingin Ayana sakit. Setelah itu dipotong-potong dan diletakkan di piring kecil.
"Ini Ay, dimakan ya, mau disuapin atau makan sendiri?"
"Makan sendiri aja Mas." Jawabku.
Aku meletakkan piring yang berisi apel itu di hadapannya kemudian melanjutkan makanku. Kuamati Ayana yang mulai menyuapkan potongan apel itu ke mulutnya sampai habis tak bersisa. Aku bersyukur walaupun bukan makanan berat, setidaknya dia mau makan dan tak ada makanan yang dia muntahkan lagi.
"Mau lagi?"
Aku kembali menawarkan makanan kepadanya, karena apel yang dimakan sebenarnya masih dalam porsi kecil.
"Sudah cukup Mas, tapi nanti kalau pulang beliin apel ini lagi ya, rasanya enak."
Kuanggukkan kepalaku tanda mengerti kemudian kuacak rambutnya dengan gemas. Kalau sedang di rumah dia memang tidak menggunakan kerudung. Rambut panjangnya terurai dengan indahnya. So beautiful
"Iya Apel yang kamu makan itu jenisnya Apel Fuji dek, jadi rasanya sangat manis berbeda dengan buah Apel biasanya," jelasku padanya.
"Ayana baru tahu, hehe."
"Sudah jam 7, Mas berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa telpon ya."
Aku melihat jam di tanganku yang sudah menunjuk ke angka 7, segera kuambil tas kerjaku.
"Iya Mas, Ayana antar sampai depan ya."
"Nggak usah, nanti kamu mesti ambil kerudung di kamar.”
Aku menolaknya karena tidak tega dengan Ayana yang harus bolak-balik ke kamar untuk memakai kerudung jika dia mengantarku keluar. Sebagai gantinya aku memberikan sebuah kecupan di keningnya. Ia kemudian meraih tanganku dan menciumnya.
"Hi Baby boy, jaga Bunda di rumah ya, jangan nakal ya, buah Bunda nyaman, Ayah berangkat kerja dulu." Ucapku seraya mengelus perutnya kemudian mengecupnya.
Aku sangat yakin kalau anak yang dia kandung adalah laki-laki, Ayana hanya tertawa kecil menanggapi gurauanku. Dia sepertinya sudah lelah mendebatku tentang jenis kelamin anak kami nanti. Kuberikan senyum terbaik untuk istriku sebelum masuk ke dalam mobil kemudian melaju ke arah kantor.
__ADS_1